Beberapa hari ini Anna tidak melihat keberadaan Noel. Gadis itu merasa heran karena tiba-tiba Noel menghilang entah ke mana. Anna bahkan merasa aneh juga belakangan ini selalu saja ada yang membuntuti dirinya dari sekolah sampai pulang. Dan jujur saja itu membuatnya sangat takut karena hal tersebut membuatnya teringat masa lalu ketika waktu kecil dia sering dibuntuti oleh orang lain. Bahkan, ketika dia pergi bermain dengan teman-temannya di lapangan depan rumahnya, dia tetap saja merasa diintai sehingga membuatnya terkadang gemetaran namun dirinya urung mengatakan hal itu ke orang tuanya. Dia hanya bisa diam namun dia akan memberontak dan memukul orang-orang yang menyakitinya sebab dari kecil pelajaran bela diri selalu ditanamkan oleh kedua orang tuanya kepada kedua anak mereka.
Anna mengalihkan pandangannya kearah jalanan yang sedikit sepi tidak seperti biasanya. Sebenarnya, keterangan ini ia sudah berencana untuk mencari pekerjaan paruh waktu karena Gama sama sekali tidak diketahui keberadaannya. Ia sudah sendirian di dunia ini karena kakaknya sendiri mungkin saja sudah memilih hidupnya dan sudah malas untuk mengurusi Anna. Terbukti ketika ia melihat bahwa lemari yang biasanya terisi pakaian dengan penuh itu tiba-tiba mendadak tidak ada satupun pakaian bahkan sepatu juga beberapa aksesoris yang biasa kakaknya pakai sudah tidak ada di tempatnya lagi. Jawabannya adalah? Kakaknya sudah pergi meninggalkan dirinya yang selalu saja menyusahkan dan tidak bisa membantu apapun. Anna sudah tidak peduli lagi dengan hal apapun dan dia memilih untuk menjaga dirinya sendiri tanpa dia harus mati-matian melihat keberadaan orang-orang yang menyakitinya. Ia sepertinya memang ditakdirkan untuk sendiri di dunia ini karena Tuhan tahu bahwa dia kuat menjalaninya walaupun Anna sendiri juga tidak yakin akan hal itu.
Anna sepertinya sudah kelelahan karena berjalan beberapa meter sebelum ke rumah karena tadi sebentar ia membeli bahan makanan untuk yang pakai seminggu ini. Anna sendiri sebanyak masih banyak beberapa makanan yang berada di dalam kulkas nya namun sepertinya dia memang harus tetap membuat stok makanan agar uangnya tidak habis begitu saja. Bagaimana cara Anna mendapatkan uang? Ia semuanya sudah mengikuti beberapa event kepenulisan dan mendapatkan hadiah yang sebenarnya tidak terlalu banyak namun cukup untuk dirinya pakai selama satu bulan penuh. Dan, sudah ada beberapa yang ingin menerbitkan buku-buku miliknya karena naskah yang dikirimkan Anna sudah mereka approve dan tinggal di terbitkan.
"Ini gimana caranya ya gue bisa makan seblak yang udah lama nggak buka itu. Dulu, kata Mama itu sering buka deh. Kenapa sekarang udah nggak pernah buka lagi ya warung seblaknya? Apa jangan-jangan karena teknologi sudah semakin canggih dan banyak anak tongkrongan yang sekarang mempunyai sinar laser membuat makanan mereka sendiri, jadi para pedagang kecil seperti ini udah kurang diminati oleh orang-orang? Memang ya, para pembuat teknologi ini kayaknya menghancurkan beberapa warung untuk kepuasan mereka sendiri juga sih. Tapi, kalau dipikir-pikir juga nggak mungkin kan negara ini stay dengan teknologi yang cuma itu-itu aja."
Anna mulai bicara sendiri karena itu juga menjadi kebiasaan nya ketika ia merasa tidak ada yang bisa diajak bicara atau bertukar pikiran. Anna memang suka sekali berbicara sendiri ketika ia merasa bingung terhadap sesuatu dan akan memilih untuk memecahkan sesuatu juga dengan cara dia berbicara sendiri. Yang terkadang lucu nya bisa saja disalahartikan oleh orang-orang dengan menganggap dirinya sedikit bisa karena berbicara sendiri bahkan ketika jalan mau kemanapun arahnya dan jika dia punya pemikiran yang perlu dituntaskan dia akan berbicara sendiri. Sebenarnya, itu adalah sesuatu yang menyenangkan karena tidak semua orang bisa diajak berbicara dan bertukar pikiran. Dan, bicara sendiri seperti salah satu pemecahan masalah yang bisa saja mengurangi tingkat stress atau ketidakpercayaan diri terhadap masalah yang kita punya. Pembicaraan yang terkadang menurut kita menyakitkan kemudian kita katakan kepada orang lain belum tentu mereka menerimanya dengan baik. Dan berbicara sendiri kemudian menyelesaikan masalah sendiri salah satu keuntungan yang bisa didapat tanpa menyakiti perasaan diri sendiri.
"Mang, aku mau beli telur gulung nya 10.000 ya," ucap Anna pada salah satu pedagang yang masih saja berjualan di dekat rumahnya. Jam yang biasanya para penjualan sudah tutup dan pulang ke rumahnya masing-masing.
"Siap, neng. Bentar ya. Mamang masak lagi soalnya udah pada abis tadi." Mamang kembali mengocok telur kemudian memasak telur gulung tersebut.
"Mang, mau nanya."
"Apa tuh?" jawab Mamang dengan tangan yang masih sibuk memasak.
"Itu yang tukang seblak ke mana sih sekarang? Dulu teh sering kan ada di sana sekarang udah gak ada lagi. Jualannya juga tutup dimana-mana."
Si Mamang awalnya diam saja. Kemudian dia membasuh tangannya selepas memasukkan telur ke dalam wajan. "Oh, dulu teh katanya mereka tuh aslinya bukan jualan seblak. Sebenarnya mereka itu adalah agen dari suatu lembaga yang ditugaskan untuk memata-matai sebuah keluarga gitu. Trus, ada beberapa orang yang tahu hal tersebut dan kayaknya sih tukang jualan seblak nya nya agak takut karena lembaga yang mereka naungi nggak boleh ketahuan siapa mereka sebenarnya. Trus, nggak lama mereka pindah dan menutup semua hal yang berkaitan dengan mereka bahkan mereka katanya mengubah identitasnya karena takut ketahuan oleh pemburu agen lainnya. Sama atuh kayak salah satu warga di sini yang juga agen. Ya jadi begitu, neng," jelas si Mamang.
"Mamang kok tau?"
"Ya jelas atuh, neng. Mamang itu suka ke sana ke mari sambil jualan. Lagian mamah udah jualan sampai 5 tahun masa Mamang nggak tahu hal-hal seperti ini apalagi di kampung yang memang tempati udah lama ini." ucap Mamang dan Ann menganggukkan kepalanya mendengar penuturan dari si Mamang. Sebenarnya, apa yang terjadi di lingkungannya sampai-sampai dia tidak tahu bahwa Mamanya juga mempunyai rekan agen. Atau, sebenarnya mereka adalah agen yang memata-matai Mama dan Papa? Atau mereka adalah sahabat yang selalu bersama namun karena mama dan papa meninggal mereka tidak lagi mengikuti menjadi agen dan memilih mengundurkan diri karena takut jika benar sih sama seperti mama dan Papanya? Banyak sekali kejadian yang terlewatkan sehingga perlahan ia ingin memecahkan satu per satu permasalahan tersebut.
"Neng, nggak perlu mencari apa yang nggak perlu kamu cari. Kamu hanya perlu menjadi orang yang nggak tahu apa-apa daripada nyawa kamu terancam. Zaman sekarang mah semuanya itu mengerikan. Manusia bahkan udah bolak-balik dijadikan bahan eksperimen oleh orang-orang supaya mereka mencapai tujuan yang bisa mereka jual nantinya. Neng tau nggak dulu nggak pernah loh kayak gini. Zamannya Mamang mah semua orang-orang yang pengen kaya tapi nggak sampai melakukan tindakan mengerikan pada manusia lainnya. Apalagi, dengan observasi mayat yang sudah lama meninggal. Astaga, Mamang kayak melihat monster kalau begitu mah. Kayak mikir mereka tuh nggak pakai perasaan. Walau mayat itu udah meninggal seharusnya teh mereka menghargai bukan malah mengobservasi."
"Mamang ini kayak peneliti udah lama dan memilih untuk mengundurkan diri karena proses penelitian yang Mamang lakuin itu ilegal."
"Hahaha, emang atuh neng. Mamang sama tukang seblak itu sebenarnya dulu agen yang sama di bagian pusat penelitian negara dan ditugaskan untuk menyelidiki beberapa penelitian para ilmuwan yang sudah merajalela dengan mengambil mayat manusia yang sudah dikubur atau manusia yang masih hidup kesana kemari diambil dan dibunuh untuk dijadikan bahan penelitian. Kebayang nggak, Mamang sama tukang seblak di sana udah enggak tahu lagi deh mikir gimana. Mama sama papa Neng juga salah satu agen di pusat penelitian negara tapi jabatannya itu tinggi banget nggak kayak kami. Ibarat kami itu bagian jaga pos ronda. Ibaratnya gitu deh. Soalnya kalau dijelasin susah banget. Dulu, memang sukarela ikutnya karena anak Mamang juga jadi korban dari pelaku penelitian illegal itu. Anak Mamang yang masih umur 9 tahun disuntik dengan cairan yang Mamang sendiri juga nggak tahu apa. Rasanya dunia terlalu kejam sama orang-orang miskin seperti kami. Semakin bertambah tahun semakin bertambah juga teknologi tapi toleransi manusia terhadap manusia lainnya. Manusia memanusiakan manusia lainnya juga udah nggak ada. Mamang hanya berharap neng jauh-jauh deh dari orang-orang yang meneliti dengan cara ilegal atau menghidupkan orang mati atau sebagainya dalam bentuk apapun karena itu sama saja mereka melawan kehendak Tuhan."
Anna menganggukan kepalanya dan memilih untuk berterima kasih atas makanan yang telah diberikan. Setelah ia memberikan uang kepada Mamang, kakinya beralih untuk pulang ke rumah guna mencairkan isi otaknya yang sekarang tak bagaimana bentuk emosional yang terdapat di dalamnya. Anna kembali memutar pikirannya saat ia mengingat bahwa salah satu orang terdekatnya melakukan tindakan ilegal seperti yang dikatakan oleh Mamang. Ternyata, peneliti yang katanya bisa memberikan segalanya kepada masyarakat bisa juga melakukan tindakan pembunuhan untuk merencanakan kepuasan mereka. Anna bahkan sudah tidak tahan dengan pikirannya yang berdenyut nyeri.
Noel melakukan tindakan yang sama dengan observasi tubuh dari mayat yang katanya adalah miliknya terdahulu. Noel adalah profesor yang yang sangat berdedikasi tinggi bahkan hampir seluruh dunia menyukai dengan kinerja kerja yang dimiliki oleh Noel. Namun, ternyata semua itu itu mempunyai kejahatan di baliknya. Menggunakan manusia lain adalah tindakan terjahat dan menjijikkan yang pernah ia dengar.
Anna membuka pintu rumahnya dengan scan dari jari tangannya. Perlahan pintu itu terbuka lalu Anna melepaskan sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu. Ia berjalan menuju dapur mencuci kaki dan tangannya kemudian wajahnya. Tangannya berani membuka kulkas dan mengambil minuman dingin dari sana. Ia melihat sekeliling rumahnya yang terlihat sepi dan itu membuatnya rindu pada orang-orang yang seharusnya masih berada di sini bersamanya. Sial, apakah memang nasibnya akan terus begini? Menjadi seseorang yang menyedihkan tanpa ada yang mau memeluknya seperti dulu. Ia sangat merindukan kedua orang tuanya dan kakaknya. Ia tidak suka dengan kesendirian namun disitu sisi ia juga tidak bisa bertingkah egois dengan meminta mereka selalu ada bersamanya.
Dalam acara tangisnya itu, matanya menangkap seseorang yang duduk di sofa sambil menatapnya dengan tatapan sendu.
"Mama?"