"Anak-anak, beberapa hari ini kalian akan diberi bed nama untuk nanti masuk ke dalam ruangan untuk menjalani simulasi sebelum kita mengadakan try out. Ibu harap, kita semua bisa menjalani hal ini dengan baik-baik saja tanpa kecurangan sedikitpun. Ibu, dan para guru tidak akan membiarkan kalian melakukan tindakan itu dan akan langsung mengeluarkan kalian dari sekolah tanpa memikirkan masa depan kalian karena kalian sendiri tidak memikirkan masa depan kalian. Kalau kalian memikirkan masa depan kalian, Kalian pasti bisa memikirkan bagaimana supaya kalian tidak mencontek ataupun mencari jawaban dari berbagai tempat karena kalian tau kalau belajar itu menentukan masa depan kalian.Memang, nilai-nilai kalian yang yang tertoreh di dalam raport itu bukan sesuatu yang bisa dianggap bagus karena apa, karena bisa saja nilai-nilai yang kalian dapatkan itu adalah sesuatu yang curang. Dan, ketika kalian sudah memasuki dunia pekerja kemudian bertemu dengan orang-orang banyak, kemudian kalian ditanyakan dengan beberapa materi dari kampus kalian dan kalian sendiri tidak tahu jawabannya, bagaimana?" tanya Ibu guru dengan wajah lembut itu.
"Nggak bakalan dapat apapun Bu." celetuk salah satu murid kelas 11.
"Benar, kalian tidak akan mendapatkan apapun dan mungkin bisa saja kalian akan ditolak oleh berbagai perusahaan karena perusahaan di zaman sekarang itu benar-benar sangat menimalisir orang-orang yang tidak bisa bekerja. Kalian akan dites bolak-balik untuk benar-benar direkrut oleh perusahaan. Mungkin, di sekolah yang kita cintai ini banyak anak-anak dari keluarga yang sangat kaya raya ataupun sederhana namun masih bisa punya sesuatu yang mahal, kalian bisa mempunyai perusahaan dari keluarga kalian. Namun, apa kalian bisa memimpin perusahaan tersebut sampai di masa kejayaannya? Apa ilmu tidak bisa diperlakukan dengan baik sehingga kalian mencapai kepuasan yang baik juga? Jadi, Ibu harap kalian tidak melakukan tindakan yang akan merugikan diri kalian sendiri dan jujur saja saya ingin kalian mendapatkan nilai yang benar-benar murni dari otak kalian sendiri. Kalian mengerti apa kata saya?"
"Mengerti, Bu," ucap murid dengan serempak lalu mereka mengistirahatkan kembali tangannya ke belakang.
"Baik, maka dari itu ibu akan memanggil nama kalian satu persatu dan kalian harus masuk ke dalam kelas untuk mengikuti simulasi sebelum kita mengadakan ujian sesungguhnya."
-/-
Ada beberapa murid dari kelas lain selain kelas Anna yang di masukkan ke dalam ruangan yang sama dengannya. Bahkan, Virzha yang bukan dari kelasnya saja bisa-bisanya duduk di sampingnya dengan senyuman yang melintas di wajahnya. Anna tersenyum kemudian memegang pipi yang agak tirus itu.
“Kamu jarang makan, ya?” tanya Anna dengan wajah yang sendu menatap kekasihnya yang seperti mengantuk.
“Hm, soalnya kesayangan aku gak makan. Dia bohong sama aku katanya udah makan padahal belum makan sama sekali. Aku gak tau salah aku apa sampai-sampai dia bohong sama aku masalah itu,” lirih Virzha.
“Aku? Oh, aku gak makan juga bukan di sengaja juga sih. Eh, sengaja apa nggak ya? Aku mau diet maksudnya.”
“Bohong lagi. Mau sampai kapan kamu bohong sama aku masalah yang kamu punya? Kamu mau pakai cara apa lagi mau bilang kalau kamu baik-baik aja padahal aku sangat tau bagaimana keadaan kamu. Apa kamu gak percaya sama aku sampai kamu bilang hal seperti itu sama aku?” kata Virzha dan membuat Anna menggeleng.
“Nggak sayang, aku gak mau bohong sama kamu tapi di satu sisi aku mau kamu kasih aku jeda agar aku bisa memikirkan masalah aku sendiri. Aku banyak masalah yang aku hadapi tapi di satu sisi aku juga gak bisa menceritakan sama kamu masalah yang aku punya. Masalah aku adalah sampahku. Aku gak mungkin membawa sampahku ke orang lain padahal aku tau sampah ini bisa aku letakkan di mana tanpa bertanya.”
“Tapi kalau sampah itu keberatan, apa kamu akan sanggup membawa dia ke tempat yang seharusnya?” ucap Virzha dan membuat Anna terdiam. “Sayang, kamu gak perlu sungkan untuk bicara sama aku apa yang terjadi sama kamu karena aku gak merasa berhak tau, tapi seenggaknya aku bisa di percaya oleh kamu untuk membantu kamu menyelesaikan masalah kamu. Mungkin, aku gak bisa kasih solusi yang tepat, tapi aku bisa kasih kamu bahu dan pelukan hangat hanya untuk kamu. Aku bisa kasih banyak waktu aku sama kamu. Aku gak minta banyak hal asal kamu mau bilang sama aku apa masalah yang kamu hadapi,” kata Virzha.
Anna menghela nafasnya panjang kemudian tersenyum lembut pada Virzha, “Nanti kalau aku nggak kuat sama apa yang ada di hidup aku, aku mau minta tolong sama kamu boleh?” tanya Anna dan membuat Virzha gemas.
“Bolehhh sayang akuuu. I love you,” bisik Virzha dan membuat Anna gemas dengan mencubit pipi pemuda itu.
Noel yang berada di pintu ruangan membelakangi posisi duduk kekasihnya membuatnya bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah itu dengan senyuman yang sangat bahagia. Anna memang sangat cantik dan membuatnya berdebar selalu. Dia bisa membuat Noel yang dulunya tidak bisa mencintai orang lain dengan tulus mendadak mencintai wanita yang dulunya adalah kekasihnya di masa lalu. Reinkarnasi yang mereka lalui sekarang mendadak menjadikan dirinya dan Anna bertemu kembali dengan kisah yang rumit karena sedari awal memang Tuhan tidak mengizinkan kisah cintanya kali ini baik. Dia mendadak mempunyai tali merah yang menghubungkan mereka hingga pada hari ini. Hari di mana mereka memberikan jeda atas apa yang mereka rasakan. Saling membohongi perasaan masing-masing dengan senyuman yang terpaksa menutupi kesedihan.
Anna yang merasakan ada seseorang yang menatapnya membuat dia mengalihkan pandangan ke arah orang tersebut. Matanya menatap sendu pada pria yang sekarang terlihat sedikit kacau dari terakhir mereka bertemu. Anna hanya memandangnya saja sedangkan Virzha merebahkan kepalanya di atas meja dengan telapak tangan Anna yang menjadi bantalnya. Anna memegang kepalanya seperti mendadak pusing. Namun ia menggelengkan kepalanya dengan pelan lalu menatap ke depan arah dinding lebih tepatnya. Anna membuang nafasnya perlahan kemudian kembali menariknya.Gadis itu tampak berusaha mengatur nafasnya dan dengan cepat ia meminum air mineralnya dan menghadap ke arah komputer. Anna jelas melihat pantulan dari komputernya yang masih mati, ia melihat Noel masih memandangnya dengan tatapan nanar. Ia menahan tangisnya saat dadanya sesak bukan main saat melihat pemuda tersebut.
Rasanya ia ingin membunuh pria itu namun di satu sisi ia ingin memeluknya dan memberikan kenyamanan pada pria itu. Anna rasanya ingin sekali mengatakan kalau dia lelah dengan semua hal yang di sembunyikan oleh Noel dan mengatakan lebih baik jujur saja padanya karena untuk apa berbohong?
“Baiklah, anak-anak. Ibu akan memantau kalian dari layar proyektor. Jadi, jika kalian melakukan kesalahan atau kecurangan dalam bentuk apapun, itu akan terlihat dengan jelas dan mungkin saja akan menjadikan kenang-kenangan yang baik untuk adik-adik kelas kalian. Dan, anak-anak, kalian harus semangat dan bawa kembali piala sebagai juara ujian nasional yang paling bagus nilainya. Kita akan ujian dengan tenang dan kalian saya harap bisa memberikan contoh yang baik buat adik-adik kalian. Saya harap kalian bisa melakukannya ya. Karena ini adalah salah satu cara. Agar kalian sukses dan mendapatkan nilai yang memang hasil usaha sendiri."
“Baik buuuu,” jawab serempak para murid. Ujian di mulai dengan diam dan senyap karena para murid sudah fokus ke dalam ujiannya masing-masing. Anna bahkan terkadang mengetuk tab nya dan memikirkan jawaban dari pelajaran yang ia pelajari tadi malam. Walau banyak pikiran yang melanda dirinya, Anna tidak akan membiarkan nilainya jatuh lagi dan membuat dia bisa kalah dari simulasi ini. Mungkin ini hanya simulasi saja yang mana hasil dari apa yang mereka lakukan ini belum tentu menjadi nilai membantu di ujian nasional. Namun, dari pelajaran-pelajaran tersebut bisa dijadikan pedoman untuk ujian nasional yang sesungguhnya. Dan, Anna tidak akan kaget dengan hal itu.
"Saya hanya menginginkan kalian jujur dengan apa yang kalian tulis dan jangan mencontek kemanapun karena itu akan membuat kalian semakin pusing dan itu akan memperlambat kalian untuk mengerjakan soal yang diberikan. Jadi, fokus terhadap masing-masing dan jangan mencontek kesana kemari karena kami akan langsung mematikan sistem kalian tanpa berpikir ulang."
Peraturan di SMA Negara memang sangatlah ketat. Mungkin ada sebagian siswa yang memang masih nakal namun mereka mempunyai kepintaran yang bagus walau tidak terlalu. Cara mereka untuk belajar mungkin terkesan barbar dan tidak beraturan namun mereka tahu cara memasukkan memori ke dalam otak mereka itu bagaimana caranya. Dan, para siswa dan siswi di SMA Negara tidak akan melakukan tindakan yang merugikan diri mereka sendiri ketika ujian karena untuk keluar dari sekolah yang sangat bagus ini adalah tindakan bodoh yang akan merugikan diri mereka sendiri. Karena, sekolah ini adalah sekolah yang memiliki wawasan yang bisa saja seluruh sekolah di Indonesia belum mempunyai kurikulum yang sama seperti di SMA Negara. Kurikulum mereka bahkan sudah sampai di internasional yang kadang untuk siswa dan siswi baru akan mengalami rasa kaget atas pelajaran yang mereka pelajari.
Simulasi berjalan dengan khidmat dimana para murid seperti sedang mengalami ujian nasional seperti biasanya. Mereka mengikuti apapun yang dikatakan oleh gurunya agar nama sekolah tidak terlalu tercoreng akibat banyak yang melakukan tindakan curang. Anna sendiri juga sangat fokus terhadap apa yang ia kerjakan karena ini adalah kesempatan dirinya untuk mencapai tujuan agar mendapat beasiswa di universitas negeri impiannya. Ia harus bisa masuk universitas negeri dan bebas dari segala biaya yang ada didalam Universitas tersebut agar dia bisa kuliah dengan tenang dan hanya fokus mencari uang untuk membeli buku atau beberapa praktek yang mungkin akan dilaksanakan nantinya.
-/-
“Gue mau ke kantin-TUTUP?!”
“Yahhh, “ rengek Anna kemudian ia menatap ke Noel yang tiba-tiba memegang tangannya erat.
"I want to talk to you."
Anna di tarik menjauh menuju salah satu koridor yang tidak ada siapapun yang lewat karena menuju gudang. Anna bisa melihat tatapan mata Noel yang berwarna biru membuat dirinya terpukau. Anna memalingkan wajahnya saat Noel memojokkan dirinya ke dinding dan memiringkan wajahnya mengecup bibir Anna. Lama-lama semakin intens dengan lumatan-lumatan manis dan memabukkan. Anna secara tidak langsung ikut terbuai dengan cara Noel mencium dirinya. Ia kaget setengah mati saat tangan itu menangkup payudaranya dan memegangnya dengan keras.
"Ahh, Noel," desah Anna saat ciuman itu turun ke lehernya. Anna benar-benar seakan lupa berpijak. Ia mendesah tanpa bisa di tahan. Hingga suara ponsel memecah konsentrasi mereka. Anna langsung segera menarik dirinya dari Noel. Ia menarik nafasnya dengan memburu. Ia melihat nama Vera tertera di sana. Gadis itu mengatakan meminta tolong pada Anna untuk membawa kursi dari gudang. Anna kemudian menutup ponselnya dan menatap lekat pada pria yang membuatnya hampir lupa diri itu.
"Saya mau ngambil kursi pak," kata Anna kemudian memasuki gudang. Noel pergi dari tempat itu meninggalkan Anna sendirian. Anna hanya menghela nafasnya karena bingung dengan kelakuan Noel. Katanya ingin mengatakan sesuatu namun tiba-tiba menciumnya begini. Ah, sial, Anna juga terbuai.