Pelajaran sekolah kali ini tidak terlalu padat karena menjelang Ujian Nasional banyak siswa dan siswi yang akan melakukan simulasi sebelum melanjutkan ke ujian yang sesungguhnya. Anna dan teman-teman sekelasnya sekarang sedang menunggu giliran dipanggil oleh guru untuk tahu di mana tempat duduk mereka dan kelas yang akan mereka jadikan tempat simulasi. Banyak yang hanya tiduran di lantai, baca buku, atau sekedar untuk bercerita tentang pengalaman mereka atau apapun itu untuk mengusir rasa bosan sembari ditunggu oleh guru. Para murid kelas 10 dan kelas 11 juga pada saat ini sedang jam kosong karena sebagian para guru masih melakukan rapat mengenai ujian tengah semester untuk anak kelas 10 dan 11.
"Gue rekomendasiin, deh, tempat wisata yang paling keren yang bisa kalian datangin apalagi pas kalian banyak pikiran karena tempat itu memang selain estetik tapi juga menyejukkan," kata Mirna, sahabat sekelas Anna yang duduknya Anna dan Agneus.
"Di mana?" tanya Anna. Sebenarnya dia hanya bertanya untuk formalitas saja karena belakangan ini keuangannya sangat sangat menurun dan bahkan untuk makan saja dia sudah terancam. Gama hanya meninggalkan sedikit uang di dalam lemari dan itu untuk keperluan dirinya beberapa hari lagi sebelum ia mencari pekerjaan paruh waktu. Sebab, kalau dia tidak memiliki pekerjaan itu akan mengancam kehidupannya kelak. Bisa-bisa dia tidak makan lagi nanti.
"Katanya sih Ranca Upas. Kalau di Bandung paling enak tuh emang ke Ranca Upas. Gue kalau sama pacar gue tiap malam juga sering kesana. Eh, gak tiap malam juga sih. Bisa-bisa gue di gorok nyokap sama bokap," kekeh Mirna. "Palingan pas gue lagi suntuk suntuk nya karena belajar terus. Dan, kebetulan pacar gue sendiri juga udah mahasiswa. Jadi, ya, aman lah untuk jalan-jalan. Lagian jug ague gak aneh-aneh lah. Tau batasan juga.”
“Ya lo enaklah kalau kemana-mana ada yang anterin atau lo mau main kesana-kemari ada yang rela nungguin lo lama-lama demi sang terkasih. Lah, gue? Gue gak ada ya. Gue hanya wanita mandiri yang hanya bisa kemana-mana sendirian tanpa orang lain. Alias anjing banget sedihnya,” kata Chika. Teman sebangku Mirna.
Anna hanya tertawa mendengar teman-temannya yang berceloteh kesana-kemari menceritakan tentang mereka yang jalan kemanapun dengan adanya uang dan pacar yang selalu stand by mau kemanapun sang terkasih. Sebenarnya Anna bisa saja merasakan hal itu karena. Ya, Virzha mau ke bulan saja kalau ada Anna dia mau saja. Bahkan kalau di ajak menikah sekarang dia akan secepat itu mengatakan iya. Anna tau kalau Virzha memang seroyal itu padanya. Anna sangat suka dengan kebaikan Virzha namun untuk paham kalau dia bisa menerima kebaikan itu dengan lapang d**a memang tidak bisa semudah itu. Dia tidak terbiasa untuk di belanajakan oleh Virzha karena memang dari awal dia hanyalah gadis sederhana yang kebetulan bertemu dengan pemuda kaya.
“Lo gak mau ajak Virzha, Ann? Virzha pasti mau kok,” celetuk Mirna di sela bengong Anna.
“Emmm, nggak deh. Lagian gue mau fokus ujian biar bisa masuk kampus pilihan gue,” kata Anna.
“Ah elah, Ann. lo tuh jangan fokus belajar mulu , belajar mulu. Lo mesti tau kalau lo juga harus bisa senang-senang sebelum lo memasuki masa dewasa. Masa dewasa itu sulit, Ann. Capek banget. Lo bakalan fokus sama masalah lo yang gak tau ujungnya gimana sampai-sampai lo stress dan akhirnya apa? Lo sakit dan tumbang. Gimana? Dewasa emang keliatannya enak. Tapi, kalau udah dewasa rasanya mau balik lagi jajan di sekolah tanpa mikirin beban. Belajar di sekolah tanpa mikirin besok harus bersikap kayak gimana. Begitulah.”
"Tau dari mana? Lo mungkin dari segi satu sisi aja. Atau, emang lu pernah merasa kan jadinya dewasa? Lo pernah merasakan dapat masalah waktu dewasa?" tanya Chika yang penasaran. Gadis dengan wajah yang sangat polos dan selalu saja di juluki ratu lemot.
"Hei, Chika! Kalau lo mau lari, lo bukannya harus jago lari. Kalau lo mau bisa memasak bukan berarti lo harus jadi Chef. Atau, kalau lo misalnya pengen jadi penulis, bukan berarti Lo harus jual buku-buku lo dan menerbitkan setiap karyamu dalam bentuk fisik ataupun digital. Lo bisa jadi apapun tanpa harus menjadi ahlinya. Kayak gue, gimana bisa tahu kalau dunia dewasa itu terlalu menyibukkan dan terlalu memusingkan. Ya, karena gue punya kakak yang selalu aja gue dengerin apapun curhatan dia. Gue juga selalu menjadi telinga buat dia mendengarkan segala curhatan dia tentang masa dewasa dia yang mungkin sedikit berantakan. Lo tau, kakak gue aja sampai sampai dia stress banget dan pengen balik lagi jadi remaja yang bisa jajan gorengan kemanapun tanpa mikirin hal-hal lainnya. Kita lihatnya mungkin dewasa pakai baju bebas, bisa pergi kemanapun, atau mau mau jajan ke mana aja tanpa mikirin besok mau gimana. Nah, begitu kira-kira teman-teman." kata Mirna yang di angguki oleh 3 orang yang ada di depannya.
Mirna memang mempunyai kakak laki-laki yang bekerja sebagai salah satu engineering di bidang pembuatan rumah. Dan, mereka selalu saja di tinggal berdua oleh orang tuanya sehingga keduanya menjadi sosok dewasa tanpa orang tua yang selalu mendampingi mereka. Namun, keduanya selalu saja saling menguatkan dan saling mengerti satu sama lain bahwasanya mereka hanya memiliki satu saudara yang bisa mereka rangkul di saat sedih maupun di saat senang. Mirna dan kakaknya memang selalu kompak dalam hal apapun sehingga mereka menjadi kakak beradik yang sangat harmonis walau kadang-kadang ya bertengkar. Biasakan dalam hubungan kakak adik pasti ada pertengkaran di dalamnya dan kalau tidak ada mungkin itu adalah persaudaraan yang sangat canggung karena tidak ada drama di dalamnya.
"Anna, lo harus menjalani kehidupan seperti sekarang dengan senang senang dan kesana kemari. Jangan mengurung diri lo sendiri di dalam menara yang bahkan lo sendiri nggak tahu setinggi apa itu. Lo mesti menjadi sosok yang kuat ya santai dikit lah. Lo bukannya robot yang selalu aja bisa kesana kemari tanpa santai sekalipun. Ann, emang hidup cuman sekali tapi lo dikasih kebahagiaan pasti berkali-kali."
"Ya masalahnya, gue sendiri juga nggak punya duit kalau mau kesana kemari. Gue nggak punya apa-apa selain diri gue sendiri doang. Gue hanya punya diri gue dan harga diri gue yang tersisa."
"Loh, emang kenapa? Apa lo dan keluarga lo punya masalah yang cukup susah untuk dituntaskan sampai-sampai kau bilang kayak gitu?"
"Yaa, bisa dibilang begitu. Gue punya sedikit masalah di keluarga gue sehingga untuk memikirkan kebahagiaan itu nomor sekian deh dalam pikiran gue. Gue kaya lebih memilih untuk mendiamkan diri gue sendiri dan menenangkan diri gue supaya gue bisa berpikir jernih karena masalah keluarga gue juga ya walaupun sedikit tapi terlalu mengerikan menurut gue. Ya, maka dari itu gue belum siap untuk bahagia kesana kemari dan memilih untuk menjadi diri gue sendiri dengan tidak merepotkan orang lain juga."
Ketiga teman Anna menatap gadis itu dengan tatapan yang sedih. Mereka seperti tahu luka yang ditorehkan oleh orang-orang terhadap nya begitu menyakitinya sampai-sampai dia sendiri tidak tahu cara mengantisipasi rasa sakit itu bagaimana lagi. Anna adalah sosok hebat.