Anna menggeleng kuat. Ia langsung berlari ke luar gudang. Wajahnya pucat saat pintu tidak bisa di buka. Namun, dengan cepat dia menendang kunci pintu tersebut kemudian berlari secepat mungkin berusaha pergi sejauh mungkin dari pria gila yang sebentar lagi pasti akan ikut mengejarnya juga. Anna menatap ke belakang kemudian berlari sekuat tenaga kembali tanpa ia pedulikan tatapan orang-orang yang kini mengarah kepadanya. Anna sudah tidak punya nyali lagi untuk menghadapi orang-orang di sekitarnya dan memilih untuk menuju gerbang dengan sepatunya yang sudah hilang sebelah. Anna yakini bahwa sepatu itu masih berada di gudang saat ia berusaha menyelamatkan diri dari Noel.
Tangan Anna bergetar hebat dan dirinya merasa sudah kotor dan tidak bisa diselamatkan lagi dengan apapun itu. Anna seakan sudah mati rasa tanpa peduli bahwa kakinya sudah berdarah-darah karena dia menginjak banyak kaca saat ia berlari tadi. Anna sudah sungguh kecewa dengan dirinya tidak bisa menyelamatkan harga dirinya dari orang yang sangat ia benci namun terkadang ia mencarinya. Anna ingin sekali memotong seluruh tubuhnya karena orang itu adalah katanya seseorang di masa lalunya, tetap saja dia memperlakukan Anna seakan dirinya adalah seorang wanita yang memang seharusnya dinikmati bukan hanya untuk dilihat saja. Anna benar-benar sangat membenci pria itu dan ingin sekali membunuhnya sekarang juga.
"Anna!" panggil seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Virzha. Virzha sebenarnya tadi sangat kaget karena ia melihat bahwa Anna berlari begitu kencang seakan takut bahwa dirinya akan diburu oleh seseorang. Virzha tanpa pikir panjang meninggalkan ujian basketnya dan memilih untuk menghampiri kekasihnya sekarang sudah bergetar menatapnya. Tidak, ini bukan tatapan cinta ataupun tatapan teduh seperti biasanya. Ini adalah tatapan seseorang yang sangat takut seakan ia menemui monster yang akan memakannya tanpa memberikan apa-apa apapun. Virzha bisa melihat nyali gadis itu sudah menciut seakan ia adalah gadis yang sangat penakut dan membutuhkan perlindungan dari orang-orang di sekitarnya.
"Sayang," panggil Virzha lagi. Anna menatap nanar kekasihnya kemudian memukul pipinya berkali-kali sampai tamparan itu berbekas dan meninggalkan jejak tangan dan juga bekas air mata dari pelupuk mata yang indah itu.
"Anna, aku ada disini untuk kamu. Kamu Jangan pernah merasa sedih dan jangan pernah merasa ada yang mendukung kamu satupun karena itu ada satu hal yang tidak mungkin terjadi dalam hidup kamu. Kamu kado terindah dari Tuhan yang dititipkan untuk aku. Dan, sekarang kamu maju kesini karena itu adalah jalan raya. Kamu nanti bisa-bisa ketabrak sama orang di sana. Dan, sekarang kamu maju perlahan karena tangan aku siap untuk menampung kamu dengan segala kesedihan dan segala kesulitan yang kamu rasakan di saat kamu merasa diri kamu sendirian."
Anna menangis begitu histeris kemudian berlari menggapai tangan Virzha. Anna bahkan langsung menangis histeris dalam pelukan Virzha dan ingin sekali membunuh dirinya sendiri saat tangan itu merengkuh dirinya yang sudah kotor dan ternodai karena jejak dari pria yang sangat ia benci itu masih ada di dalam dirinya. Anna sudah tidak bisa lagi berpikir jernih sehingga ia memeluk tubuh orang yang ingin ia jadikan sandaran itu. Virzha membalas pelukan itu tak kalah erat bahkan ia mencium kening pacarnya untuk menghilangkan sedikitnya kesedihan yang dirasakan oleh Anna.
"Anna, kamu punya aku yang bisa kamu andalkan dan kamu banggakan. Atau, kamu memang pengen merasakan dicintai aku yang siap untuk mencintai kamu bahkan sampai aku nggak bisa apa-apa lagi aku bakalan selalu ada disamping kamu dan selalu menjadi tumpuan dalam hidup kamu. Anna, aku harap setelah kita masuk ke dalam UKS nanti, kamu harus kasih tahu aku apa yang terjadi sebenarnya. Kamu nggak akan aku biarkan lari dari semua yg terjadi sama kamu."
Virzha kemudian menggandeng tangan pacarnya dan menuntunnya ke dalam UKS. Anna sendiri hanya menatap kosong ke arah depan karena dia sudah tidak sanggup lagi untuk berteriak maupun melakukan sesuatu apapun itu. Anna sudah seperti bagian dalam hidupnya sendiri. Jika dia melihat bagaimana gadis itu tersakiti, dia hanya bisa membisu sembari menguatkan.
Setelah membersihkan luka yang ada di tangan dan kaki Anna, Virzha menangkup wajah itu kemudian ia selami emosional yang ada di dalam matanya. Virzha bisa melihat bahwa Anna sudah cukup katakan selama ini oleh orang-orang yang ada disekitarnya yang selalu menganggap bahwa dia adalah orang yang perfect dan tidak akan melakukan kesalahan apapun sehingga dia tidak bisa melakukan gegabah dan mau saja dibohongi oleh orang lain. Virzha mengusap kedua pipi itu dengan ibu jari yang menempel dengan sempurna di kedua pipi gadisnya.
"Anna, kalau memang kamu enggak mau cerita apa pun yang terjadi dalam hidup kamu, aku bakalan nunggu sampai kamu baik lagi. Kamu gak usah khawatir. Dan sekarang kalau kamu belum mau cerita, Kamu tiduran aja dan aku bakalan bawain kamu makanan supaya kamu makan dan minum obat setelah itu tidur," kata Virzha. Dia membaringkan Anna di ranjang UKS.
"Tadi, saat aku pergi ke toilet, aku merasa diikuti oleh seseorang." adu Anna, "Dia perawakan yang tinggi dan memakai baju hitam, celana hitam. Aku beneran takut banget sama dia sampai-sampai aku muter banyak arah supaya nggak ketemu sama dia." alibi Anna karena dia tidak mau kalau Virzha tau hal yang sebenarnya. Itu tidak akan berakhir dengan baik nantinya.
"Kamu dikejar-kejar sama orang asing yang pakai baju serba hitam sampai-sampai kamu muter ke banyak arah karena dia terus-terusan ngikutin kamu?"
"Iya, aku beneran enggak tahu dia siapa apa maksudnya mengejar aku. Aku nggak tahu lagi harus bicara apa sampai-sampai tangan aku gemetaran dan tangan aku seperti mati rasa. Aku beneran takut sama dia karena aku takut nyakitin aku ataupun orang-orang di sekitar aku. Awal aku kenal dia, dia enggak berperilaku seperti setan kayak gini. Aku nggak percaya kenapa dia bisa melakukan hal ini sama aku padahal aku nggak pernah macam-macam sama dia. Virzha, aku mau kamu percaya sama aku kalau aku nggak bakalan melakukan tindakan selingkuh atau apapun itu dan kamu harus percaya itu sama aku. Suatu hari nanti, kalau kamu denger aku deket sama orang lain atau melakukan tindakan buruk sama orang lain yang bisa menyakiti hati kamu, kamu harus percaya kalau itu adalah bohongan. Aku cinta sama kamu dan sayang sama kamu tulus apa adanya tanpa aku bohong sama perasaan itu. Jadi, aku harap kamu harus percaya sama aku karena banyak orang yang bakalan menghancurkan hubungan kita."
Anna menangis ketika Virzha merengkuhnya. Dia masih gemetaran dan tidak bisa berpikir jernih kembali sebelum semuanya selesai.