“Kamu serius bisa makan saat kaya gini?” Nara bertanya dengan nada sinis. Aku menyodori sebuah kue di depan mulutnya, tapi ia langsung memundurkan kepalanya.
“Yeee, gamau ya udah. Buat aku aja.” Aku memakan begitu saja kue yang kutawari ke Nara.
“Minta, Nar.” Wira menyodorkan tangannya. Aku mengambil sebuah dan langsung kusuapi ke mulutnya. Wira mengunyah tanpa banyak kata.
“Astaga. Aku serius tanya, emang kamu nggak kerasa jijik gitu? Atau enek? Atau takutlah minimal. Kita lagi di sarang musuh, loh!” Remaja itu mendesah lelah. Aku tertawa dan membungkus kembali kue yang kumakan tadi.
“Ah, kuenya agak hancur karena kebanting beberapa kali. Lagian juga mereka nggak mungkin keluar kalo kita nggak lengah, kenapa nggak dipancing aja?” jawabku pada pertanyaan-pertanyaannya tadi.
“Ya tapi nggak lazim, Arakata. Masa iya langsung makan habis berantem. Nggak cuci tangan dulu, lagi. Nggak higienis, tau, nggak!” ocehnya kemudian.
Wira menyambar, “Sebenarnya yang kamu permasalahkan itu, karena Arakata makan di sarang musuh atau karena dia nggak cuci tangan?” Sepertinya ia juga sudah jengah dengan ocehan Nara.
“Yaa, dua-duanya. Intinya aneh aja, tahu! Masa habis bertarung langsung nyemil?”
“Apa kamu lupa gimana Arakata? Kalo nggak aneh, itu malah bukan Arakata.”
“Heh, kapan aku aneh? Aku biasa-biasa aja, tuh!” protesku kesal.
“Keanehan pertama, satu-satunya manusia di dunia ini yang memiliki dua lambang, Lengkung Sabit dan Pendar Intan sekaligus. Keanehan kedua, Cuma kamu satu-satunya manusia yang bisa melakukan sihir penyembuh kepada siluman. Karena biar bagaimana pun, frekuensi gelombang antara manusa dan siluman itu berbeda. Keanehan ketiga, kamu sering ngucapin kata-kata asing kalau lagi marah atau kesal. Keempat, kamu bisa ngomong sama siluman, padahal itu cuma siluman rendah yang nggak bisa ngomong. Sisanya, Nara yang lebih tahu dari aku,” papar Wira panjang kali lebar. Nara mengangguk-anguk setuju sepanjang Wira menjelaskan poin demi poin. Benarkah aku seaneh itu.
“Ya udah, sebodo aja dah. Lagian kalau aku nggak aneh, nanti nggak ada yang jadi badutnya kalian.” Aku pasrah saja. Wira dan Nara malah berpandangan satu sama lain.
“Badut? Bahasa aneh mana lagi, itu? Astaga.” Nara menggaruk kepalanya yang tak gatal. Aku lupa, bagaimana bisa ada kata badut di sini.
“Badut itu orang yang bikin orang lain ketawa atau seneng. Dah, gitu aja pembahasanku.”
Baru Nara hendak membuka mulutnya, sebuah gumpalan mana yang ditembakkan dalam intensitas yang cukup tinggi mengarah ke arah kami dengan cepat. Karena deteksi mana milik Wira masih aktif dari tadi, ia bisa segera menyadarinya dan membuat perisai dengan cepat. Sebelum keberangkatan ini, sebenarnya kami sudah sering bertanding. Dan aku tahu kecepatan pelepasan mana dari sihir milik Wira itu termasuk dalam kategori cepat. Bahkan mungkin secepat sebuah refleks layaknya menggerakkan bagian tubuh sendiri. Aku juga sempat memberi saran ke Wira untuk membuat tameng berbentuk segitiga alih-alih setengah lingkaran dengan sudut menghadap ke tengah serangan saat mendapatkan serangan mendadak. Karena, dari apa yang kuketahui, gaya yang diterima dari benda yang berpemukaan kecil menjadi lebih kecil dengan usaha yang kecil pula. Dengan bentuk segitiga itu, aliran mana yang menghantam akan dibelokkan dalam sudut yang tidak terlalu jauh, jadi tameng mana tidak akan menerima gaya dan kerusakan lebih banyak. Kami sudah mencobanya beberapa kali dan hasilnya benar-benar memuaskan. Selesai tembakan mana yang menyerang kami, sebuah siluman berbentuk monyet besar berbulu lebat keluar dari balik pohon. Ah, itu Gandarewa. Di belakangnya, ada beberapa siluman rendahan lainnya. Sepertinya Gandarewa itu merupakan sosok ‘pemimpin’ yang memimpin kumpulan siluman ini. Hanya saja, satu sifatnya yang membuatku keki. Dia sangat sombong dan angkuh. Selain itu, dia juga suka menyetu-buhi manusia, terutama perempuan yang ia suka dengan menyamar menjadi manusia. Ia termasuk salah satu siluman yang di-black list dari Swarnanusa. Entah bagaimana caranya dia bisa masuk ke sini. Bahkan menguasai sebuah gunung tanpa ada yang mengetahuinya.
Satu fakta tambahan tentangnya, Gandarewa adalah termasuk dalam siluman peringkat menengah. Benar-benar menengah, bukan menengah bawah atau menengah atas. Dalam siluman juga ada pengklasifikasiannya. Tingkat pertama yaitu tingkat rendah. Biasanya mereka banyak ditemui dan tidak memiliki kekuatan yang besar, bahkan cenderung mudah mati. Tapi tidak perlu khawatir, mereka akan tetap ada karena perkembangbiakan mereka tidak memakan waktu lama. Yang kedua ada tingkat menengah rendah. Tingkat ini jauh lebih kuat dari tingkat rendah. Mungkin setara dengan tingkat rendah yang dicekoki mana hitam seperti yang baru kami lawan tadi. Ketimpangan kekuatannya sudah sangat jauh. Apalagi untuk tingkat ketiga atau tingkat menengah. Tidak ada jaminan menang, tapi juga tidak berarti akan kalah. Tingkat keempat yaitu tingkat menengah atas. Kekuatannya nyaris setara dengan veteran-veteran di negeri Swarnanusa. Tapi, jumlahnya tidak terlalu banyak. Yang terakhir dan yang sangat langka, tahap kesempurnaan, tingkat atas. Untuk saat ini, hanya ada satu siluman di tingkat ini yang menjadi pemimpin negeri siluman. Hanya saja, siluman itu tidak pernah keluar dari tahtanya.
“Jadi dia yang mengganggu kalian? Kenapa kalian diam saja? Kalian tidak akan kalah melawan manusia rendahan seperti mereka. Tapi, karena aku adalah pemimpin yang baik, maka biarkan aku yang menemani kalian bermain. Lagi pula aku sudah bosan, sudah lama tidak bertarung dengan musuh yang kuat.” Gandarewa memutar-mutar lengannya seolah pemanasan. Aku yakin, akan ada pertarungan hidup-mati sebentar lagi.
“Karena kalian kelihatannya lemah, kalian boleh langsung bertiga menyerangku. Mau berapa pun jumlahnya, selama kalian pecundang, maka kalian hanya akan menjadi makan malamku saja.” SIIAAL! Kesombongannya membuatku ingin muntah!
“Eneg gua denger bacotanlu,” gerutuku kesal. Nara dan Wira tidak berekspresi atau pun memberi respon apa pun. Mereka sudah amat sangat tahu bagaimana anehnya aku.
“Udah, mending kita siap-siap aja. Aku rasa dia bukanlah lawan yang mudah.” Nara mencoba menenangkanku.
“Bukan hanya sekadar perasaan. Tapi dia benar-benar bukan lawan yang mudah. Semoga saja kita masih bisa bernapas sampai besok.” Oh, sepertinya garam yang biasa bertaburan dari ucapan Wira sedang mencair. Tapi anehnya, aku malah merasa tambah gugup.
“Tumben kalo ngomong bener,” sahutku pada Wira.
“Apa aku pernah bilang omong kosong? Mungkin kalau kamu yang tong kosong, aku bisa memahaminya.” Akhirnya. Bukannya merasa kesal, aku dan Nara justru terkekeh pelan. Ya, sepertinya rasa kepercayaan diri kami kembali. Nara maju dengan pedangnya yang siap terhunus, sementara Wira mulai membayangkan menggunakan sihirnya. Untuk tambahan informasi, sihir di sini secara tidak langsung bermaksud prosesnya. Ada yang memakai rapalan mantra, ada yang bisa langsung mengendalikannya. Sementara mana di sini dimaksudkan sebagai energi yang dibentuk oleh sihir. Mana sudah ada dalam diri setiap penyihir, tapi, penyihir juga harus mampu meminjam mana dari alam. Mana milik alam bisa dibilang tak terbatas, sementara mana milik diri sendiri ada batasannya. Walaupun mana alam tak terbatas, tidak semua orang bisa memanfaatkannya. Kalaupun bisa, setiap tubuh memiliki kapasitas penyimpanan mana masing-masing.
Sebuah sulur akar keluar dari tanah dan mengikat kaki Gandarewa yang hendak terbang menghindari pedang Nara. Akhirnya, ia memilih untuk memantulkan serangan pedang Nara dan membuat remaja itu terpental. Aku nasih di tempat awal, di samping Wira. Gandarewa yang gerakannya terbatas karena belitan akar itu menggeliat. Aku menembakkan anak panahku dengan ujungnya kuberi sihir peledak.
“Mundur!” Aku memberi aba-aba ke arah Nara. Lelaki itu sudah paham dengan yang kumaksud, ia langsung loncat ke belakang. Sebuah ledakan cukup besar mengenai tubuh Gandarewa, yang anehnya hanya menggoresnya sedikit. Seberapa jauh jarak kekuatan kami?
Nara mundur semakin mendekatiku. Ia lalu berbisik, “Gimana, nih. Kulitnya udah kaya kulit kuda nil, tebel banget.”
“Serang aja dulu. Aku masih mikir.” Hanya jawaban itu yang dapat kupikirkan.
Nara kembali maju untuk bertarung lagi. Asap dari ledakan panahku sudah berkurang soalnya.
Pertarungan jarak dekat kembali terjadi, bedanya kini Gandarewa sepenuhnya bebas karena sulur akar milik Wira sudah dirusakkan. Alasan lainnya juga karena mana di tubuh Wira sudah mulai habis, jadi dia butuh transfer dari mana alam. Aku melompat ke arah salah satu dahan pohon dan mulai melancarkan serangan dari sana. Setiap kali aku memanah, anak panahku selalu terpental begitu saja. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara mengalahkannya.
Wira sudah berhasil mengumpulkan mana alam. Eksistensi mana hitam yang terlalu pekat membuat mana alam menjadi sulit didapatkan. Wira harus menelusuri tiap jengkal tanah untuk energi sihirnya.
Wira mengumpulkan beberapa mananya dan mengubahnya menjadi es batu. Mana-mana yang berubah menjadi es itu ia bentuk menjadi beberapa tombak sebelum akhirnya dilemparkan ke arah Gandarewa. Siluman itu berhasil menghindari dengan refleks, tapi yang terakhir ia telat merespon dan menyebabkan tergoresnya pipi kanannya.
“Wir, aku punya ide!”