“Wir, aku punya ide,” ucapku pada Wira. Remaja itu sedikit menengadahkan kepalanya untuk melihatku yang ada di atas pohon.
“Ide apa?” tanyanya singkat. Ia masih menjadi support untuk Nara yang ada di depan.
Aku meloncat turun dari dahan lalu membisikkan sesuatu pada Wira. Remaja itu berpikir sejenak, mungkin ia masih memikirkan garis besarnya juga.
“Oke, aku setuju. Tapi, siniin anak panahmu. Tapi, aku cuma bisa bikin paling banyak tiga. Bikin hal itu bukannya remeh temeh. Bahkan kesulitannya jauh lebih besar dari yang kubuat sebelumnya,” papar Wira.
“Iya, aku paham. Tapi kamu bisa, kan?”Aku bertanya untuk memastikan.
“Kamu pikir aku ini kamu, nggak bisa diandalin?” sinisnya. Aku mencubit perutnya begitu saja karena kesal dengan jawabannya.
Salah satu anak panahku kuserahkan padanya. Wira kemudian berteriak, “Nara, kamu coba tahan dia sebentar. Ada yang mau aku lakuin.”
“Ya, ya. Lakukan sesuka kalian. Aku petarung rasa tameng di sini. Selama kalian bisa menemukan cara untuk mengalahkannya, seberapa lamanya akan kuusahakan. Tapi jangan terlalu lama. Staminaku bukannya tidak terbatas.” Nara menjawab di sela-sela pertarungannya. Ia masih bisa menjawab dengan lantang walaupun Gandarewa menyerangnya membabi buta adalah tanda kalau ia sangat terampil.
***
Nara mengayunkan bilah pedangnya ke arah Gandarewa. Setelah ledakan dari Arakata dan tusukan mana dari Wira tadi, makhluk siluman itu semakin membabi buta. Seolah dia merasa harga dirinya terluka karena dilukai oleh makhluk yang kekuatannya tak lebih hebat darinya. Para siluman mungkin lupa kalau salah satu kelebihan manusia adalah memiliki akal dan kecerdikan. Setidaknya bertarung dengan manusia itu tidak hanya mengandalkan otot, bertumbuk siapa yang kuat, tapi juga adu strategi dan ketangkasan.
Raungannya yang memekakkan telinga sering ia lakukan karena geram. Raut wajahnya jauh lebih seram dari sebelumnya. Nara mati-matian menghadang tiap serangan yang mengenainya. Bisa ia lihat dari ekor matanya kalau kedua teman setimnya masih sibuk merancang strategi. Karena di antara mereka bertiga yang kurang pintar dalam merancang strategi hanya dirinya, maka Nara dengan senang hati menjadi bagian utama dalam setiap adu fisik.
“Nara, kamu coba tahan dia sebentar. Ada yang mau aku lakuin,” teriak Wira ke arah Nara. Awalnya remaja itu memilih untuk diam saja dan hanya memberi sinyal setuju. Tapi, sepertinya lebih baik langsung menjawab. Setidaknya itu menandakan kalau dirinya ‘sangat’ baik-baik saja dan temannya mempercepat rencana mereka. “Ya, ya. Lakukan sesuka kalian. Aku petarung rasa tameng di sini. Selama kalian bisa menemukan cara untuk mengalahkannya, seberapa lamanya akan kuusahakan. Tapi jangan terlalu lama. Staminaku bukannya tidak terbatas.”
“Kenapa? Mau menyerah sekarang anak muda? Setidaknya kalau kamu menyerah saat ini, aku akan membuat kematianmu mudah.” Gandarewa tertawa dengan angkuhnya setelah meledek Nara. “BA COT!” Karena sudah sangat kesal, ia meneriakkan kata-kata yang sering dipakai Arakata kalau ia kesal karena ada yang berisik. Menurut pengakuan Arakata, kata itu berarti ‘banyak cocot atau banyak kata’ dalam bahasa yang kasar.
Kaki dan tangannya sudah menjerit kelelahan. Sejak tadi, Wira di belakang memberikannya sihir penyembuhan untuk memulihkan 50% stamina dan menyembuhkan luka-lukanya. Tapi, saat ini ia harus bertahan tanpa sihir penyembuhan. Bertarung layaknya ksatria tanpa bantuan penyihir.
Nara sadar ia tidak mampu bertahan lebih lama dari ini. Semakin lama ia bertarung, semakin bahaya keadaannya. Jarak antara kekuatannya dengan musuh akan semakin melebar karena ia terus mengalami kemunduran sementara Gandarewa tidak berubah banyak.
Hantaman datang dari samping kanan Nara yang langsung ditahan dengan pedangnya. Belum selesai postur tubuhnya, hantaman tiba dari kiri Nara. Remaja itu dominan pada tubuh bagian kanan, jadi penyebrangan serangan seperti tadi lumayan menyulitkannya di saat kondisi yang sudah sangat lemah ini. Karena responnya yang terlambat itulah, Nara akhirnya terpental dan terjatuh. Ia batuk darah. Gandarewa mendekati Nara dengan perlahan sambil mengangkat tangannya dan berkata, “Kamu terlalu angkuh, Anak Muda. Seandainya kamu mau menyerah dari tadi, kamu tidak akan merasakan penderitaan seperti ini.” Nara sudah pasrah. Ia menutup matanya menanti sebuah hantaman menggepengkan dirinya. Tapi, sebuah raungan justru terdengar begitu memekakkan telinga. Nara membuka matanya dan melihat apa yang terjadi. Rupanya sebuah anak panah berbentuk es menancap di samping tubuh Gandarewa tepat di bagian betisnya.
Nara menoleh ke arah Arakata. Gadis itu sudah mempersiapkan busur es ke duanya. Wajar kalau anak panah pertamanya mengenai samping tubuh Gandarewa karena posisi Gandarewa itu berdiri memang menyampingi tempat Arakata. Melihat adanya serangan mendadak, Gandarewa seolah lupa pada Nara dan berbalik ke arah Arakata.
Paatsss ....
Tepat sekali. Busur kedua berada di d**a kiri Gandarewa. Tapi sepertinya itu masih belum memberikan efek yang banyak. Gadis itu kembali memosisikan panah ketiga dan ....
Paatsss ....
Tepat di tengah dahi.
Gandarewa sempat meraung untuk terakhir kalinya sebelum kemudian ambruk. Ia tewas.
***
Nara sepertinya paham dengan ucapan Wira tadi. Kami terpaksa menghentikan sihir penyembuhan untuk sementara waktu karena Wira butuh banyak sihir untuk membentuk panah es atau panah mana.
“Jangan terlalu lama, kasian Nara.” Wira melirikku sinis. “Aku paham nggak perlu dikasih tahu.”
“BA ... COT! BANYAK COCOT!" Aku tersentak kaget. Anak itu berani juga nyolot sama siluman. Seandainya di dunia ini udah ada kata itu, mungkin tambah panas si siluman itu.
“Nara ketularan kamu,” celetuk Wira tiba-tiba. Kini, giliran aku yang melirik sinis.
“Nggak ikutan sekalian?” tanyaku kemudian. Ia memutar bola matanya.
“Maaf, nggak minat. Aku nggak mau jadi aneh.” Wira langsung menutup matanya setelah kata-kata itu selesai ia ucapkan. Ia baru saja selesai mengumpulkan mana alam kembali dan mulai membentuk anak panah sesuai dengan yang kuminta.
Ya, itulah rencanaku. Manaku yang kupasang di ujung busurku tidak memberikan efek apa pun pada kulit siluman itu. Kan percuma untuk kami terus menyerang kalau Gandarewa tidak terluka sama sekali. Aku mendapatkan ide ini saat melihat Nara menyerang dengan mana yang dipadatkan dan diubah menjadi es. Saat itu bisa kulihat kalau mana milik Wira bisa melukai Gandarewa. Atau lebih tepatnya mana yang Wira pinjam dari alam atau mana alam. Remaja itu juga baru menyadari saat aku beritahu. Jadilah ia mendapat tugas baru, yaitu memampatkan mana sedemikian mungkin hingga sangat padat. Nanti masalah menembak, berikan padaku. Walaupun Wira hanya bisa membuat tiga buah, tapi itu benar-benar berarti untukku.
Sebuah hantaman terdengar dari arah Nara bertarung. Sahabatku itu sudah terlempar dan menghantam tanah dengan begitu keras. Ia bahkan sampai muntah darah.
“Wira, udah belom?” Aku semakin panik. Gandarewa berjalan mendekati Nara dengan sedikit lambat. Saat jaraknya dan Nara sudah dekat, ia mengangkat tangannya untuk menghantam tubuh Nara. Tepat sekali, Wira juga sudah selesai.
Aku mengambil salah satu anak panah yang disodorkan Wira. Aku masih sedikit ketakutan kalau-kalau aku terlambat dan Nara sudah lebih dulu dihabisi makhluk jelek itu. Di saat keraguanku memuncak, tanganku tanpa sengaja melepaskan anak panah dari busurku. Beruntung masih mengenai target walaupun hanya bagian kaki. Tapi setidaknya pandangannya teralihkan. Gandarewa itu menatapku tajam sambil meraung marah. Ia perlahan mendekatiku yang sedang menenangkan diriku untuk kembali memanah.
“Tenanglah diriku. Jangan gemetar,” ucapku pada diri sendiri.
Saat ketenanganku mulai kembali, kulepaskan untuk kedua kalinya dan menghantam dadanya. Isi dari jantung dan hatinya hanya amarah yang buruk. Padahal amarah tidak sepatutnya hanya dipendam. Kalau meledak kan bahaya.
Paattss ....
Tepat di d**a kiri. Kini, rasa ragu dan takutku sudah sepenuhnya hilang dan aku bisa dengan percaya diri kalau keakuratanku mencapai 100%.
Pattss ....
Anak panahku tepat berada di tengah dahinya. Gandarewa akhirnya terjatuh dengan anak panah menancap tepat di tengah dahi. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari ke arah Nara yang sudah kehilangan kesadarannya. Kondisi mana Wira juga belum pulih. Terlalu lama menunggu Wira mengais-ngais mana alam di tengah kumpulan mana hitam ini. Aku mencoba mengobati Nara dengan sihirku yang masih terlalu lemah. Ramuan penyembuh sudah jelas-jelas tidak manjur untuk kondisi Nara yang sudah sedemikian parah ini.
Seraya mengingat-ingat ajaran bibi, aku merasakan mana di sekitarku dan juga di dalam diriku. Kapasitas manaku masih terlalu kecil, sepertinya aku akan meminjam mana di luar juga. Aku memejamkan mata, membiarkan aliran energi ini berputar dan mengalir. Sementara mana dari luar seolah masuk ke pori-poriku, disaring dengan pembuluh darahku, lalu bergabung dengan mana asli yang ada di dalam tubuhku. Lalu perlahan, pendar lembut berwarna biru toska keluar dari tanganku, menyelimuti tubuh Nara dengan kerlip berwarna emas layaknya debu halus Tingker Bell.
“Kumohon. Bergunalah, manaku. Jangan hanya berguna untuk siluman saja.” Mataku sudah memerah dan berkaca-kaca. Aku ketakutan saat melihat bagaimana keadaan Nara saat ini. Kugigit bibir bawahku agar tidak menangis. Tanganku juga sudah gemetaran karena rasa takur ini.
Beruntungnya, pendarahan dari luka-luka Nara perlahan berhenti, lalu lukanya seolah disulam oleh sebuah benang halus dan menutup dengan sempurna. Bibirnya yang tadinya pucat membiru karena mungkin adanya pendarahan di dalam tubuhnya juga kembali memerah. Ini pertama kalinya untukku menggunakan sihir sebanyak ini. Tapi, aku harus melakukannya.
“Tolong, bertahanlah, Nara. Jangan mati,” pintaku dengan air mata menetes. Rasanya dadaku sudah sangat sesak karena sepertinya mana yang kuambil dari mana hitam yang kemudian dimurnikan dengan tubuhku sendiri. Beruntung sihir penyembuhanku bisa berlaku pada manusia juga. Karena sihir penyembuhan membutuhkan kecocokan antara mana penyihir dengan pasien, maka proses pelaksanaannya cukup sulit. Kecuali kalau sudah pernah mengobati sebelumnya, maka mudah untuk melakukannya lagi.
Nara sudah mulai membaik. Napasnya juga sudah beraturan. Sebenarnya, niatku menunggu Nara siuman. Tapi sepertinya aku harus pingsan kembali karena kelelahan dan rasa aneh di tubuhku. Benar saja, pandanganku menggelap dan aku pun terjatuh pingsan.