Benar saja perkiraan Wira kalau Arakata tidak akan kuat menyembuhkan Nara secara langsung. Hal ini dikarenakan kondisi sihir Arakata yang masih sangat lemah dan sama sekali belum pernah dilatih dengan benar. Melihatnya mati-matian menggunakan sihir itu hingga Nara sembuh adalah sebuah keajaiban bagi Wira.
Tersisalah tiga siluman lain yang sepertinya baru saja pindah ke sini. Mereka tidak seganas Ulo Ijo dan siluman kera putih yang tadi mereka temui. Meskipun begitu, Wira sendiri tidak terlalu yakin bisa menyelesaikan ketiganya. Remaja itu akhirnya memilih membentuk kubah mana untuk melindungi dirinya dan kedua temannya setelah sebelumnya berhasil mengikat ketiga siluman rendah yang sudah kehilangan semangat bertarungnya karena melihat pemimpin mereka telah mati. Ia mengeluarkan ramuan penyembuh dari tas untuk diberikan pada Nara karena luka fatal Nara sudah diobati Arakata. Setelahnya, ia memeriksa aliran mana Arakata.
“Sial, dia kena banyak racun dari mana hitam,” gumamnya sendiri. Untuk saat ini, ia belum memiliki kemampuan penyembuhan yang hebat. Yang bisa ia lakukan hanyalah memberikan pencegahan sederhana untuk mencegah meluasnya efek racun mana hitam.
Nara tersadar tak lama setelahnya. Remaja itu perlahan membuka mata dan melihat Wira yang masih mengobati Nara. Di luar sana, tiga siluman itu masih menggeliat dengan tubuh terikat sebuah rantai mana. Bisa dibilang pengendalian mana Wira sangat hebat. Sulit untuk seorang penyihir menciptakan sesuatu dari mana, bahkan hingga berbentuk fisik. Tapi, nampaknya Wira lumayan mahir akan hal itu.
“Arakata kenapa?” Nara mendekati Nara dan sahabatnya. Ia yakin dirinya tadi nyaris sekarat. Tapi, kenapa semua lukanya menghilang dam diganti dengan Arakata yang ambruk seperti itu? Tapi, seolah menjawab pertanyaannya sendiri, ia dengan sangat yakin kalau sahabatnya mengorbankan diri untuknya.
“Habis ngobatin kamu. Penggunaan dan penguasaannya pada mana masih belum mahir, bahkan masih terlalu awam. Jadi, menggunakan sihir dalam skala besar bisa membahayakan dirinya. Tapi dia masih melakukannya walaupun sebenarnya dia tahu resiko dan konsekuensinya, tapi dia tidak peduli,” jelas Wira. Nara merasa sangat menyesal karena membahayakan sahabatnya. Ia hanya terdiam memandangi gadis itu tergeletak dengan bibir yang pucat.
Sebuah pukulan mengenai kepalanya lumayan keras. Nara yang saat itu sedang melamun langsung terkejut begitu saja.
“Jangan menyesali keputusan yang Arakata buat. Karena kamu sudah sehat, lebih baik kita urus ketiga siluman sisa itu. Kita bawa mereka turun gunung. Kamu yang bawa mereka, biar aku yang gendong Arakata,” perintahnya. Nara memandangi Wira dari atas sampai bawah sebelum kemudian menyeletuk, “Memangnya kamu kuat?”
“Kalo nggak kuat, tinggal aku jatuhin atau gelindingan sampe bawah. Gitu aja repot,” jawab Wira santai. Nara langsung melotot tidak terima. Belum sempat ia melayangkan protesannya, Wira langsung memotong dengan mengatakan, “Aku nggak sejahat itu. Jadi, lebih baik kamu buruan bawa tiga siluman jelek itu turun. Lagian silumannya bukan siluman yang besar. Cuma siluman macan akar, siluman ular putih, sama siluman kera putih. Jadi nggak bakal berat. Ayo, cepat! Arakata butuh pertolongan dengan cepat.” Sudah tidak ada alasan bagi Nara untuk mendebat. Remaja itu mengambil ketiga siluman yang sudah diikat menjadi satu dengan mulut dan cakar diberi ikatan tersendiri agar tidak menyerang Nara. Sementara Wira membopong Arakata dengan diberikan sihir manipulasi berat agar menjadi terasa lebih ringan. Untuk turun, mereka melakukan dengan cepat. Hal ini karena mereka sudah tahu tujuan mereka ke mana. Mereka perlu ke desa Jenggala dulu untuk melapor pada kepala desa mereka kalau mereka berhasil menyelesaikan misi sambil mengambil kereta kuda mereka. Sebelum kemudian pergi ke kantor administrasi misi untuk laporan secara resmi, menyerahkan siluman sebagai bukti dan untuk diteliti, lalu segera menuju ke tabib kenalan Wira untuk mengobati Arakata.
Matahari sudah tenggelam sejak mereka hendak menuruni gunung. Pencahayaan berasal dari sihir cahaya yang dibuat Wira untuk dirinya dan Nara agar lebih mudah menuruni gunung ini. Ketika naiknya membutuhkan waktu dua jam, mereka turun dalam kurun waktu satu jam. Warga desa terlihat masih berpatroli di dekat pintu masuk gunung. Melihat adanya samar-samar cahaya yang bergerak mendekat, mereka memasang kesiagaan mereka. Antara kawan atau lawan. Apakah harus disambut dengan serangan karena merupakan lawan, ataukah disambut sedih karena gagal, atau justru disambut haru karena berhasil. Semakin mendekat cahaya itu, semakin terlihat siapa pelaku yang membawanya. Raut khawatir dan tegang itu berubah sedikit semringah saat rombongan Nara terlihat.
“Itu mereka! Itu mereka! Apa mereka berhasil? Tapi kenapa gadis itu di gendongan?” salah satu warga mengajukan pertanyaan yang mungkin juga pernyataan. Semua warga ikut bingung. Nara dan Wira tiba di kumpulan orang-orang itu.
“Bagaimana? Apakah kalian berhasil?” tanya Pak Airlangga yang ikut ke dalam euforia warga lain.
“Ya, kami berhasil. Pemimpin mereka adalah Gandarewa. Tiga dari enam siluman sudah berevolusi dan berhasil kami kalahkan. Satu siluman Ulo Ijo dan dua siluman kera putih. Tapi, karena Arakata terluka, jadi kami mau izin untuk langsung menuju kantor administrasi untuk melaporkan misi dan segera mencari tabib untuk menyembuhkan Arakata.” Nara menjawab kepala desa itu dengan nada yang sedikit cepat.
“Gadis itu kenapa? Ia tidak terlihat terluka, tapi terlihat sangat buruk. Apakah terkena racun Ulo Ijo?” Pak Airlangga bertanya kembali. Mereka terkejut saat mendengar ada Gandarewa di gunung itu. Tapi mereka tidak bisa bertanya lebih jauh. Rasanya seolah tidak pantas menanyakan hal ini pada orang yang sudah mempertaruhkan nyawanya untuk warga desa ini.
“Dia terkena racun dari mana hitam yang masuk ke dalam tubuhnya. Jadi kondisinya buruk saat ini.” Wira gantian menjawab. Ia yakin Nara tak mungkin sanggup menjawab tanpa menyalahkan dirinya sendiri.
“Bagaimana bisa? Astaga. Baiklah, kalian bisa segera berangkat untuk mencari tabib. Sayangnya tidak ada tabib atau penyembuh yang andal di sini. Kami biasa menyembuhkan penyakit dengan ramuan dan sihir penyembuh yang dilakukan Nenek Adya. Tapi untuk kondisinya ini, aku yakin Nenek Adya tidak bisa berbuat banyak. Kami juga khawatir pada kesehatan beliau.” Raut wajah Pak Airlangga terlihat ikut sedih karena tidak bisa berbuat banyak. Mereka akhirnya membantu Nara dan yang lainnya untuk menuju kereta kuda dengan cepat karena khawatir dengan kondisi Arakata.
“Tunggu dulu sebentar.” Bu Lurah menghentikan mereka yang sudah mulai masuk kereta. Wira dan Nara kembali turun setelah meletakkan Arakata dan siluman itu ke dalam kereta untuk mendekati Bu Lurah.
“Ada apa, ya, Bu?” tanya Nara.
“Kami tahu kalian tidak akan sempat untuk makan. Tapi, kalian harus makan karena kondisi kalian yang kelelahan. Ini, kami bawakan makanan untuk kalian makan di jalan. Setidaknya kalian bisa makan bergantian di atas kereta. Selain itu, Nek Adya juga ingin bertemu dengan Arakata sebentar.” Di samping Bu Lurah, Nek Adya mengangguk-angguk mendengarkan kata-kata istri dari pemimpin desa itu. Wira menerima bungkusan makanan yang dibungkus dengan daun jati dan daun pisang dalam sebuah wadah anyaman bambu. Mereka berdua lalu menemani Nek Adya untuk melihat Arakata. Wanita sepuh itu memegang tangan Arakata seraya memejamkan matanya. Sebuah cahaya berwarna ungu keluar dari tangan wanita sepuh itu dan masuk ke dalam tubuh Arakata dalam beberapa saat. Kemudian, ia memakaikan sebuah gelang giok berwarna ungu di tangan gadis itu.
“Dia baru saja kuberikan mana murni milikku untuk menekan penyebaran racun mana hitam. Giok yang ada di tangannya berguna untuk menyaring mana yang masuk ke dalam tubuhnya sampai ia bisa mengendalikan mana sepenuhnya. Karena dia spesial, dia bisa mengambil mana dari mana pun. Jadi akan bahaya tanpa adanya penjagaan untuk gadis itu.” Nek Adya keluar dari kereta setelah menjelaskan garis besarnya pada Nara dan Wira. Kedua remaja itu memang melihat Nek Adya dengan pandangan heran dan bertanya-tanya apa yang dilakukannya. Bedanya, Wira juga menatap dengan pandangan takjub dan tak percaya.
Di dunia ini, warna mana murni hanya dibedakan menjadi tiga bagian. Warna mana murni itu sudah dibawa dari lahir sampai mati. Hampir 90% penyihir di dunia ini memiliki warna mana hijau. Besar kecilnya kapasitas mana maupun bakat antar individu dalam satu warna berbeda-beda, tapi mereka punya batasan pasti yang tidak bisa diubah. Warna kedua adalah warna ungu. Warna itu merupakan warna yang dimiliki hanya 9,9% penyihir. Meskipun begitu, jika penyihir bermana ungu tidak memiliki latihan yang tepat, ia bisa dikalahkan dengan mereka yang memiliki mana hijau. Maka dari itu pembedaan mana tidak terlalu diperhitungkan di dunia ini.
Yang terakhir, mana yang hanya dimiliki 0,1% penyihir di dunia ini, yaitu mana dengan warna diluar warna hijau dan ungu. Salah satunya adalah biru toskanya Arakata. Namun, karena Arakata belum terlatih, maka belum memiliki pengaruh besar. Walaupun Wira dengan sangat sadar melihat potensi yang luar biasa dari Arakata. Dengan kapasitas mana yang sebegitu kecilnya, ia bisa menarik seseorang yang sudah hampir menari dengan malaikat maut.
Di luar kereta, Bhanuresmi menatap Arakata tanpa berani mendekat. Ia mengagumi kegigihan Arakata dan juga ketulusan gadis itu. Maka dari itu ia tidak berani mendekat karena takut hatinya akan sakit melihat seseorang yang ia kagumi tergeletak tak berdaya.
Selesai sudah pamit-pamitan pulang ini. Nara segera mengambil alih kusir untuk membiarkan Wira makan di dalam. Karena sudah gelap dan Wira tidak terlalu hafal jalan, maka Nara membuat mana dari sihir cahayanya untuk menerangi bagian depan kereta sekaligus memandu Nara. Remaja itu bisa dengan mudah mengendalikan mananya.
“Kira-kira bakal makan waktu berapa lama, Wir?” tanya Nara dari bangku kusir. Ia tidak berniat untuk bertukar posisi pada Wira karena dirinya sama sekali tidak lapar. Lebih tepatnya ia tidak mungkin bisa makan saat ini.
“Sebelum tengah malam kita sudah sampai.” Wira menjawab santai.
“Aku butuh jawaban pasti, Wira! Sebelum tengah malam itu panjang. Masih ada tiga jam sebelum tengah malam.” Nara protes dengan nada yang agak marah. Wira malah terkekeh.
“Jangan tegang-tegang. Keburu tua. Sejam lagi kita sampai kantor administrasi. Kebetulan tabib kenalanku ada di dekat kantor administrasi itu. Kita ke sana aja.” Wira akhirnya berkata dengan benar. Nara tidak menjawab apa-apa lagi. Ia hanya mempercepat laju keretanya dan terus berdoa semoga sahabatnya baik-baik saja.
Ya, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini.