Kematian. Sebuah kata yang sudah sangat melekat pada setiap manusia yang hidup. Semua orang pasti akan mati, Nara percaya itu. Tapi dia tidak akan pernah rela jika sahabat, adik, sekaligus temannya yang mengalami itu. Ia sudah kehilangan orang tuanya beberapa tahun yang lalu. Diadopsi oleh Bi Heera, lalu tinggal dan hidup bersama dengan kedua wanita itu. Baginya, tak ada yang lebih penting baginya di dunia ini selain mereka berdua.
Melihat Nara yang tergeletak tak berdaya membuat hatinya sakit. Tiap detik waktu yang bertambah rasanya seperti detik bom waktu yang menghitung waktu mundur untuk kemudian meledak menghancurkan segalanya. Rasanya, ia menyesal sudah terluka parah dan membahayakan nyawa gadis itu. Kalau bisa, ingin rasanya remaja itu memberikan seluruh hidupnya untuk menyembuhkan Arakata.
“Kira-kira bakal makan waktu berapa lama, Wir?” Di tengah kekalutan hatinya, ia mencoba memastikan seberapa lama ia akan merasa khawatir.
“Sebelum tengah malam kita sudah sampai.” Wira menjawabnya dengan santai. Rasanya, gemuruh emosi yang sudah terakumulasi di dadanya nyaris meledak saat itu juga. Ia butuh jawaban pasti, bukan ambigu seperti itu. Sebelum tengah malam masih ada tiga jam lebih. Apakah sejauh itu? Seingatnya kantor administrasi terdekat berada tak terlalu jauh dari desa Jenggala.
“Aku butuh jawaban pasti, Wira! Sebelum tengah malam itu panjang. Masih ada tiga jam sebelum tengah malam.” Nara akhirnya mengeluarkan unek-uneknya yang ada di dalam d**a. Wira akhirnya menjawab dengan serius, “Jangan tegang-tegang. Keburu tua. Sejam lagi kita sampai kantor administrasi. Kebetulan tabib kenalanku ada di dekat kantor administrasi itu. Kita ke sana aja.” Setidaknya, Nara bisa sedikit bernapas lega.
Perjalanan terjadi dalam hening. Gelapnya hutan sedikit dikurangi oleh cahaya rembulan dan juga sihir cahaya milik Wira. Remaja itu bisa melihat dengan jelas dalam radius tujuh meter, sementara sisanya hanya remang-remang oleh cahaya rembulan.
“Sial-an, sebentar lagi daerah rawan bandit,” umpat Nara emosi. Saat kedatangan mereka, kondisi mereka masih bugar. Selain itu, tadi matahari sudah mulai bersinar, jadi bandit-bandit itu memilih untuk menghindari pembajakan.
Benar saja. Sebuah anak panah nyaris mengenai dirinya. Ia langsung menoleh ke arah Wira yang sudah bersiaga di dalam.
“Wir, kamu jaga kereta ini, baik RJ maupun Arakata. Biar aku yang urus bandit-bandit itu. Aku tidak akan menahan diri, jadi kuharap kamu melindungi mereka dengan seluruh kekuatanmu.” Remaja itu langsung melesat setelah memberikan amanah untuk Wira. Ia sendiri cukup mengakui kehebatan Nara. Mampu menahan Gandarewa dalam waktu yang cukup lama adalah salah satu bukti bagaimana kuatnya Nara. Ia akhirnya memasang sihir pelindung di sekitar kereta hingga beberapa lapis dan mengambil posisi untuk duduk di kusir. Ini ia lakukan untuk menjaga agar RJ tidak lari atau bergerak tiba-tiba karena terkejut. Membuat RJ pingsan adalah opsi buruk karena keseimbangan kereta akan hilang dan membahayakan Arakata di dalam kereta.
Benar saja. Wira yang melesat dengan kecepatan penuh langsung menebas tiap bandit tanpa kenal ampun. Remaja itu memang butuh pelampiasan emosi untuk menenangkan dirinya kembali. Setelah setengah dari mereka ambruk, Nara berseru lantang, “Kalian yang tersisa, silakan segera pergi dari hadapanku dan jangan ganggu perjalananku. Atau kupastikan kepala kalian akan terpisah dari tubuh kalian. Aku yakin kalian cukup pintar untuk menilai situasinya.” Nara langsung meloncat kembali kereta. Meskipun ia tidak bisa langsung masuk sampai Wira membuka semua mana pelindungnya.
“Kamu balik lagi aja ke belakang. Biar aku yang bawa keretanya,” suruh Nara pada Wira. Remaja itu menggelengkan kepalanya untuk menolak.
“Nggak. Kamu aja yang di dalam. Dinginkan kepalamu sambil temani Arakata. Aku tahu melihat gadis itu tak sadar seolah jadi hukuman buatmu. Tapi kamu nggak bisa terus melarikan diri. Tenang, aku sudah memasang sihir pelindung untuk RJ. Setidaknya kita akan aman sampai kantor administrasi misi. Jaraknya hanya tinggal sekitar tiga puluh menit lagi saja. Kalo kamu yang bawa keretanya, aku khawatir daripada kita ke tabib untuk mengobati Arakata saja, justru malah kita ikut gabung. Oke?” Nara tak memiliki alasan untuk menolak. Ia naik ke dalam keretanya dan duduk di dekat Arakata ditidurkan. Model kereta ini bukan seperti kereta kerajaan yang memiliki kursi di dua sisinya. Mungkin mirip gerobak yang diberi atap. Tapi, kereta ini jauh lebih nyaman dengan sebuah batu sihir yang bisa menyala dalam gelap dan alas kereta yang diberi kain berudu berwarna hitam. Kalau ada kotoran atau debu, bisa langsung dibersihkan oleh Wira, jadilah kereta ini nyaman untuk digunakan tidur. Nara mengelus rambut Arakata dengan lembut. Mengingat suka dukanya dengan gadis ini sangat banyak.
“Kamu makan aja dulu. Isi sedikit perutmu. Kita makan terakhir pas mau berangkat misi. Kamu udah kehabisan banyak energi. Tubuhmu juga butuh asupan,” ucap Wira dari tempat kendali kuda. Sebenarnya Nara hendak menolak. Tapi perutnya mendadak terasa perih. Ia akhirnya mengambil sedikit nasi dan sayur di daun jati yang sudah dipersiapkan dan mulai makan dengan perlahan. Wira yang sempat menoleh untuk melihat hanya tersenyum kecil.
Kereta mereka tiba di kantor administrasi. Nara dan Wira langsung turun dari kereta. “Kamu di sini aja. Jagain Arakata. Mana sini kertas misi kemarin sama lencana kalian? Kita bisa pake perwakilan buat laporan misi selesai. Kecuali untuk mengajukan misi, harus seluruh personil lengkap. Nanti kita bawa Arakata setelah laporan kita resmi selesai.” Nara hanya menuruti saja apa yang dikatakan Wira. Toh ia tidak punya ide lain selain itu, dan lagi tabib yang akan mengobati Arakata adalah kenalannya Wira. Jadi ia tidak bisa ikut campur terlalu banyak.
“Oke, aku serahin sama kamu. Tolong jangan terlalu lama. Aku nggak bisa nunggu lama.”
“Iya, kamu bisa percayain ini sama aku.”
Wira langsung masuk ke dalam kantor administrasi yang untungnya sudah mulai sepi itu. Tak sampai lebih dari sepuluh menit, ia sudah keluar dengan langkah tergesa-gesa. Ia lalu menyerahkan lencana yang tadi ia pinjam dan langsung menuju ke tempat kusir untuk mengendalikan RJ. Wira benar-benar mahir mengendarai kereta kuda, buktinya ia bisa dengan mudah berbelok-belok dan mengendalikan RJ di jalan kota yang lumayan sempit ini.
Wira menghentikan kereta kudanya di sebuah rumah kayu dengan papan bertulisan 'Tabib Janu' di atas pintu. Nara langsung turun sambil membopong Arakata untuk segera masuk ke dalam rumah tabib.
“Maaf, kami sudah tutup,” ucap seorang pria berusia sekitar 40-an tahun yang sedang mengurutkan berbagai tanaman herbal di dalam stoples.
“Ini penting, Paman. Ada pasien yang kritis di sini.”
Merasa kenal akan panggilan dan suara itu, Tabib Janu menoleh dan melihat Wira yang berdiri di depan pintu yang terbuka dengan seorang laki-laki yang tengah menggendong seorang gadis.
“Eh, Wira? Kamu ngapa di sini?” Tabib Janu terkejut melihat kenalannya datang pada malam yang nyaris larut dengan seorang lain menggendong seorang gadis.
“Tanyanya nanti saja, Paman. Ini temanku terkena racun mana hitam. Dia butuh segera diobati agar tidak mati.” Wira mencoba meyakinkan lelaki pemilik tempat itu dan juga merupakan tabib utama di sana.
“Baiklah-baiklah. Bawa dia masuk ke dalam. Kita perlu segera mengobatinya.”
Wira segera masuk ke dalam ruangan rawat mengikuti Tabib Janu, Nara mengekor di belakangnya sambil masih menggendong Arakata. Tubuh gadis itu lumayan dingin. Nara hanya bisa berharap dan berdoa dalam hati agar sahabatnya dapat diselamatkan.
Nara segera membaringkan tubuh Arakata ke atas ranjang pasien. Tanpa tunggu lama, Tabib Janu langsung memeriksa denyut nadi dan aliran darah Nara. Ia juga memeriksa aliran mana yang ada di tubuhnya serta seberapa banyak racun terakumulasi di dalamnya.
“Dia sempat dikasih mana murni?” tanya Tabib Janu.
“Iya, Paman. Dia sempat dikasih mana murni dari Nek Adya di desa Jenggala,” jawab Wira.
“Syukurlah. Beruntung ada Nek Adya di sana. Jadi tidak akan menjadi fatal. Mana murni milik Nek Adya melindungi organ dalamnya dari racun mana hitam. Jadi yang bisa kita lakukan sekarang adalah mengeluarkan racunnya dan mengobati organ yang sudah terlanjur terkena mana racun itu. Kalian harus bersyukur karena teman kalian tidak mengalami hal fatal.” Tabib Janu mulai kembali mengalirkan mana miliknya. Ia memiliki kelebihan dalam sihir penyembuh sejak kecil, sehingga ia memutuskan untuk masuk ke akademi kesehatan yang mendidik tabib-tabib muda agar bisa mengabdi pada masyarakat.
Saat Tabib Janu mengobati Arakata, Wira mengajak Nara keluar agar tidak mengganggu konsentrasi beliau. Awalnya Nara menolak karena ia ingin dekat dengan sahabatnya, tapi, Wira yang kesal akhirnya menarik kerah baju Nara agar keluar.
“Apaan, sih? Nggak usah tarik-tarik baju bisa, kan?” protes Nara kesal.
“Nggak bisa. Kamu diajak pelan nggak mau nurut. Ya paksa lah. Udah, serahin aja sama Paman Janu. Beliau adalah lulusan akademi kesehatan terbaik. Berbagai tawaran kerja beliau dapatkan dari kaum bangsawan, tapi beliau menolak.”
“La kenapa?” tanya Nara penasaran.
“Karena beliau mau ngabdi sama masyarakat kecil. Bukannya nyari harta dan tahta, apalagi kedudukan.” Dari cara bicaranya, Nara bisa menyimpulkan kalau Wira mengagumi sosok itu.
“Kamu kenal beliau dari mana?” Karena penasaran, Nara mencoba mengajukan pertanyaan.
“Dulu, desaku pernah diserang sekelompok siluman yang terkena mana hitam. Beberapa macam siluman menjadi satu, kampungku luluh lantak. Hanya sepertiga orang yang selamat karena ini, salah satunya aku. Saat itu, Paman Janu ikut dalam rombongan relawan untuk merawat kami yang terluka. Dari situlah aku menjadi dekat dengan beliau. Lalu, beliau memilih mengembara ke berbagai tempat. Tapi karena kami sama-sama penyihir, kadang kami saling mengabari posisi lewat hewan sihir yang kami buat sebelumnya agar mudah berkomunikasi. Bagiku, beliau seperti ayahku sendiri,” jelas Wira. Siapa sangka ternyata ada kisah seperti ini di balik kesinisan Wira. Sebenarnya ia ingin bertanya banyak, tapi rasanya ini belum waktu yang pas untuk menanyakannya.
“Baiklah, baiklah. Aku akan mempercayai Tabib Janu. Lagi pula aku di dalam juga nggak akan bantu apa-apa.” Nara akhirnya pasrah dan menyerah. Ia memilih untuk duduk di sebuah kursi yang ada di depan kamar rawat.
Lima belas menit sudah Tabib Janu di dalam mengobati Arakata. Kedua remaja ini menanti dengan khawatir. Bahkan Nara terang-terangan mengetuk-ngetukkan kakinya sambil bergerak gelisah. Beruntunglah tak lama kemudian Tabib Janu keluar dari kamar rawat.
“Gimana kondisi Arakata, Paman.” Wira langsung menembakkan pertanyaan begitu saja.
“Syukurlah bukan masalah besar. Kalian harus berterima kasih pada Nek Adya karena sempat memberikan pertolongan pertama untuk gadis itu. Tapi, gadis itu unik. Meskipun dia ksatria, tapi dia punya aliran mana dalam tubuhnya. Darahnya juga terlihat berbeda dari manusia biasa,” jelas Tabib Janu.
“Tapi, kapan dia bakal sadar, Pak?” Kini Nara memberanikan diri untuk bertanya.
“Tenang saja, besok pagi dia sudah sadar. Sekarang kalian boleh Istirahat di kamar bareng Arakata. Ada banyak ranjang kosong. Lagian malam ini juga lagi nggak ada pasien.” Baru saja Tabib Janu pergi ke kamarnya, Wira mencegahnya dengan bertanya, “Kok paman kenal sama Nek Adya?”
“Kamu lupa aku siapa? Mantan Tabib pengembara. Sekarang, aku ingin menetap di sini dalam waktu lama. Setidaknya sampai suntinganku diterima oleh gadis pujaan hatiku. Aku kenal Nek Adya waktu mengobati wabah muntaber di desa Jenggala. Itu pun Nek Adya yang menemukanku dan memanggilku lewat mimpi. Makanya aku kenal beliau.” Wira dan Nara mengangguk paham dan setuju. Ya, setuju kalau ternyata Nek Adya itu sangat hebat.