“Calon persembahan yang kita simpan di gunung Salak sudah dihancurkan. Sekarang kita harus apa, Kak?” Laki-laki berjubah hitam dengan helai rambut berwarna hitam itu memandang seorang dari mereka takut-takut. Orang yang dipanggilnya kakak adalah orang yang mengerikan. Ia bisa membunuh seseorang dalam kondisi tertawa, tanpa ada perubahan apa pun pada ekspresinya sekalipun percikan darah menghiasi wajah dan kulit putihnya.
“Kamu cuma ternakin di sana aja?” tanyanya tanpa mengubah ekspresi. Ia sedang memperhatikan lingkaran sihir mereka. Waktu pengorbanan hanya tinggal seminggu lagi sebelum semua usaha yang sudah mereka lakukan selama hampir lima belas tahun ini menjadi sia-sia.
“Tidak, Kak. Ada beberapa yang kami ternakkan di perbatasan, ruang kosong antara Swarnanusa dan Negeri Siluman,” jawab seseorang yang lain. Laki-laki ini juga mengenakan jubah hitam, hanya saja rambutnya tidak senada dengan jubahnya. Rambutnya berwarna ungu tua.
“Ya sudah. Salah satu kalian ada yang sudah menguasai sihir teleportasi, kan? Besok kalau sudah mau waktunya baru kita ambil mereka. Sekarang yang harus kita lakukan adalah menjaga simbol ini dan segera membacakan mantranya saat energi yang ada di dalamnya melemah. Aku mau naik dulu. Ada beberapa yang harus aku kerjakan.” Lelaki itu melepas jubahnya saat mendekati pintu dan menggantungkannya di gantungan khusus baju di samping pintu. Rambut panjang yang diikat berwarna biru mudanya bergoyang seirama dengan langkah kakinya. Ia keluar ruangan tanpa ragu.
“Mahanta, kamu ngerasa kalau kakak hari ini lagi dalam mood yang bagus, nggak, sih?” tanya seseorang yang berambut hitam.
“Ya, kayanya gitu, Bhre. Entah ada berita baik apa. Tapi, syukur, deh, dia lagi bagus moodnya. Coba kalo jelek, bisa ditebas jadi dua kamu.” Lelaki berambut ungu menimpali.
“Tapi, mungkin, nggak, sih, dia ngebunuh salah satu di antara kita?” tanya Bhre kemudian.
“Maksudmu?” Mahanta tidak paham maksud Bhre, mungkin lebih tepatnya berusaha menanyakan apa maksud pasti pertanyaan Bhre.
“Ya gini. Sihir Mlaku ing Peteng ini, kan, bukan sihir sembarangan. Nggak semua orang bisa menggunakan sihir ini. Bahkan kita aja nyaris mati cuma gara-gara menyempurnakan ilmu ini sampai akhirnya kita bisa bebas menggunakannya. Konsekuensinya juga bukan main. Jadi, kalau salah satu dari kita mati, maka terpaksa kakak harus mencari orang lain untuk mengisi kekosongan. Tapi kupikir untuk mencari juga bukan hal yang mudah. Mengingat kakak yang masih saja bergabung dalam Telu Sedulur untuk membuka gerbang ini. Seharusnya kakak cuma duduk dan memastikan semuanya berjalar lancar. Kaya si emmphh ....” Mahanta langsung membekap mulut Bhre sebelum lelaki itu membicarakan semuanya. Kan nggak lucu kalo spoiler :v. Nggak, maksudnya, kita tidak pernah tahu apa dan siapa yang lagi mendengar mereka. Apalagi di dalam wilayah itu, semua memiliki telinga, bahkan dinding juga memiliki telinga.
“Aku paham sama apa yang kamu maksud. Tapi, nggak sebaiknya kamu mengatakannya di sini. Bisa-bisa besok kepalamu ada di tiang gantungan. Kamu mau?” omel Mahanta yang dijawab gelengan Bhre. Lelaki itu akhirnya melepaskan bekapan mulut Bhre.
“Udah, nggak usah bahas yang lain. Kita jalanin aja tugas utama kita. Lagian cuma ini yang bisa kita lakuin.” Bhre lagi-lagi mengangguk tanpa kata.
***
Fajar mulai menyingsing, cakrawala menyemburatkan jingga kekuningan. Embun menguap bersamaan dengan mulut-mulut orang yang baru bangun tidur, menguap seraya mengulet untuk kemudian bangun dari kasur tempatnya menghabiskan malam. Pagi baru dimulai, pekerjaan juga dimulai.
Di sebuah kamar berisikan lima ranjang kapasitas satu orang yang berjejer, ketiga anak manusia masih tertidur dengan lelapnya. Mereka kelelahan fisik dan mental setelah bertarung dengan siluman-siluman yang menggila sekaligus mengkhawatirkan seseorang wanita yang nyaris sekarat. Tabib Janu sengaja tidak membangunkan mereka, bahkan beliau masih belum membuka kliniknya untuk pasien rawat inap sampai ketiga remaja itu bangun. Ia tahu pasti kelelahan yang dirasakan oleh anak usia lima belas tahun yang bergelut dengan kematian.
“Mereka nggak dibangunin, Bib?” tanya Laksmi, seorang wanita yang menjadi asisten Tabib Janu sekaligus perawat di sana.
“Biarkan dulu. Lagi pula habis tidur, saya yakin seratus persen mereka akan langsung melanjutkan perjalanan mereka. Kita jangan ganggu sampe tenaga mereka pulih. Mungkin tengah hari nanti ketiganya terbangun.” Laksmi mengangguk mematuhi perintah Tabib Janu.
Benar saja, saat matahari nyaris sampai di atas kepala, Arakata yang pertama kali membuka matanya. Ia menatap sekelilingnya dengan pandangan penuh tanya. Tabib Janu masuk ke dalam ruangan dengan senyum manisnya.
***
Semalam, badanku rasanya nyaris terbakar dengan rasa panas dalam tubuhku yang tidak terkira. Semua indraku masih berfungsi saat aku baru ambruk semalam. Aku bisa merasakan Wira yang membopongku seraya membisikkan harapan agar aku bertahan sampai bawah. Mananya saat ini masih belum bisa mengurangi dampak apa pun dari racun mana. Saat sampai di kaki gunung, aku bisa mendengar dengan jelas warga yang mengelilingiku, keributan yang ditimbulkan dari warga-warga yang panik. Meskipun begitu, aku terpejam seolah tidak sadarkan diri. Kendati bagian dalamku serasa terbakar oleh aliran darah yang mengalir, panas, menyakitkan. Meskipun rasa sakitnya tidak sesakit saat aku mendapatkan tanda Pendar Intan di tanganku.
Rasa sakit itu mereda bersamaan dengan kesadaranku yang menghilang perlahan saat Nek Adya menyentuh tanganku dan memberikan mana murni ke dalam tubuhku. Setelah itu aku merasa bisa tertidur dengan nyenyak tanpa rasa sakit.
Lalu pagi ini, seorang lelaki dengan jenggot dan kumis tipis khas om-om masuk ke kamar yang sedang kutiduri dengan senyum manisnya. Aku memeriksa kamar ini dengan saksama. Lima ranjang berbaris layaknya kamar inap di rumah sakit. Nara tepat di sampingku, lalu Wira di sebelah Nara. Aku di pinggir tepat di samping dinding.
“Apa yang kamu rasain sekarang?” tanya lelaki itu. Mungkin dia dokter di sini.
“Nggak ada, Dok. Semuanya terasa sehat,” jawabku. Dokter itu mengernyitkan dahinya.
“Dok?” tanyanya mengulangi perkataanku. Ah, aku lupa. Di dunia ini, pelayan kesehatan dipanggil tabib, bukan dokter.
“Ah, itu, maksudku Dokja. Aku sempat belum sepenuhnya sadar tadi. Tiba-tiba teringat seseorang bernama Dokja yang kutemui saat aku tidak sengaja tersesat di hutan.” Jawaban macam apa itu! Ah, sial. Jawaban konyol itu meluncur begitu saja dari bibirku. Tak kupungkiri, meskipun sudah berumur, lelaki yang menjadi tabib ini termasuk dalam jejeran lelaki tampan. Rasanya tidak adil, kenapa semua laki-laki di dunia ini diciptakan tampan? Perempuannya juga tidak ada yang menjadi ‘produk gagal’, benar-benar semuanya unggul dalam kondisi fisik.
“Oh, Dokja. Nama yang unik. Omong-omong kita belum saling berkenalan, ya? Aku Janu Paramartha. Aku tabib di klinik ini. Kalo kamu?” Seraya memperkenalkan namanya, tabib itu juga memeriksa aliran manaku kembali. Ia memegang tanganku dan memeriksanya lewat denyutan nadi serta aliran darah untuk mencari jejak-jejak racun mana hitam setelah memeriksa aliran nadiku lewat dahi.
“Namaku Arakata Ratnaduhika Paramesti. Biasa dipanggil Ara, Raka, atau Arakata. Aku seorang ksatria pemula yang sudah berada di tingkat dua.” Demikianlah perkenalan singkat ala aku. Aku yakin, ia mungkin sedikit mempertanyakan tentang bagaimana aku bisa memiliki aliran mana untuk melakukan sihir padahal aku adalah seorang ksatria. Tapi, ia tidak mungkin menanyakannya langsung. Biar bagaimanapun, dalam kesehatan mungkin juga ada kode etik untuk tidak kepo pada pasien di luar hal-hal yang diperlukan untuk kesehatan. Nggak salah, kan, tebakanku?
“Waw, itu nama yang bagus. Kalau sudah bisa bangun, kamu bisa ambil makan di ruang tengah. Bangunin aja Wiranya buat bantuin kamu. Atau temenmu Nara. Sekarang biarin tubuhmu menstabilkan diri dulu. Racun yang diterima semalam lumayan hebat sialnya.” Aku mengangguk saja mendengarkan arahan dari tabib itu. Lagi pula aku juga masih malas makan. Tabib Janu keluar saat seorang wanita memanggilnya untuk memeriksa pasien yang baru datang. Aku menatap wajah Nara yang kebetulan menghadap ke arahku.
“Syukurlah, seenggaknya kamu masih hidup sekarang,” gumamku pada diriku sendiri. Nara membuka matanya tiba-tiba dan membuatku terkejut begitu saja.
“Asem. Kamu ngagetin.” Jantungku rasanya mau loncat karena terkejut. Nara langsung turun dari ranjangnya dan mendekatiku dengan raut wajah kaku layaknya orang menahan amarah.
“Hahaa. Kurang ajar ya, kamu? Kamu hampir mati semalam! Kamu, orang paling bodoh yang pernah aku tahu, yang dengan tidak berpikir panjang langsung mengorbankan diri gitu aja. Kamu pikir aku nggak panik saat sadar kamu sudah tergeletak dalam keadaan nyaris sekarat, ha? Aku panik! Aku juga takut, Arakata. Aku takut! Kamu dan Bi Heera satu-satunya alasanku bertahan hidup.* Sialan kamu, *sialan! Aaahh, aku pengen marah, aku pengen ngamuk, aku pengen ngelepasin semua emosi ini. Tapi aku nggak bisa. Aku nggak bisa ....” Aku langsung meraih tubuh Nara yang bergetar karena menahan tangis. Sesaat setelah aku mendekapnya, ia menangis dengan keras. Tak peduli kalau dirinya sudah nyaris dewasa, tak peduli walaupun ia seorang laki-laki, tak peduli sekalipun orang satu kampung menontonnya. Ia hanya ingin menangis dan aku tahu itu. Dia adalah orang yang pernah punya segalanya lalu kehilangan segalanya, sementara aku sama sekali tidak punya apa-apa untuk merasakan kehilangan. Aku paham sekaligus tidak paham bagaimana rasanya. Tapi, hatiku juga ikut sakit. Aku ikut mengeluarkan air mata saat mendekapnya. Aku menangis dengan suara lirih yang tertutup oleh tangisan Nara. Dan kami tetap berdiam seperti itu sampai Nara bisa mengambil kendali lagi emosinya.
Aku, Nara, dan Wira sudah selesai bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Mata Nara masih agak sembab, begitu pun denganku. Tapi anehnya, kenapa tadi saat Wira terbangun dengan alasan suara Nara berisik--tapi ia bangun saat Nara sudah berhenti menangis, sempat kulihat matanya juga memerah seperti orang habis menangis. Saat kutanya, ia beralasan itu semua karena kurang tidur akibat menjagaku semalaman. Hmm, aku tidak terlalu yakin.
Selesai kami menyantap hidangan yang disiapkan Kak Laksmi, kami berpamitan dengan Tabib Janu untuk melanjutkan perjalanan kami kembali. Sebelum itu, kami harus mengambil satu misi rank A sebelum berangkat.
Semoga perburuan kali ini tanpa adanya korban lagi.