Misi rank-A bukan hanya pemburuan siluman saja. Terkadang, membasmi bandit juga masuk rank-A. Aku membaca lembaran kertas yang tadi kami ambil dari papan misi.
“Bajing Loncat itu sarangnya di Alas Roban, kan? Bukannya udah jelas tahu di mana markasnya? Kenapa nggak ada yang bisa nangkep mereka?” tanyaku heran. Kan bisa aja, tuh, kerajaan ngirim pasukan buat ini. Kurang lebih itu yang kupikirkan.
“Seandainya semudah itu. Alas Roban itu luas banget. Belum lagi medannya berbahaya dan kita nggak pernah tahu jebakan apa yang dipasang di sana. Secara itu daerah teritori mereka. Mereka yang paling tahu segala lekuk bentuk tempat itu.” Nara yang menjawab pertanyaanku.
“Kenapa kerajaan nggak basmi mereka? Bukannya kerajaan juga rugi gara-gara mereka?” Aku kembali bertanya. Wira yang sudah kesal mendengar pertanyaanku akhirnya menyahut, “Astaga, Ara. Jadi orang jangan b**o banget, bisa? Buat apa kerajaan bikin sistem Laskar kalo mereka mau ngurusin hal remeh temeh kaya gini? Lagian, mereka bisa muter cari jalan lain kalo mau bepergian. Asal mereka bisa menghindari kerugian yang lebih besar, menambah waktu bukanlah masalah untuk mereka.”
“Ya, ya. Maaf deh. Apalah, kamu pintar sedangkan aku bodoh.” Aku pura-pura merajuk. Wira malah berdecih melihat aktingku yang menurutnya aneh, sedangkan Nara tertawa terbahak-bahak.
“Udah, udah. Ayo ke petugasnya. Kita laporan misi, sekalian ngambil pembayaran misi kemaren. Kita dikasih bonus katanya, soalnya kita berhasil selesaiin dalam waktu yang sangat singkat dan bahkan juga membawakan bukti hidup untuk diinvestigasi lebih lanjut. Ada kemungkinan kita cuma menjalankan dua misi aja buat naik tingkat,” jelas Nara. Aku baru teringat kalau setelah misi, kami pasti akan mendapatkan bayaran dari pemerintah. Besar kecilnya bayaran ditentukan dari tinggi rendahnya rank misi. Terkadang, kalau kita bisa menyelesaikan dengan sangat baik, kita bisa dapat bonus. Seperti yang kami lakukan kemarin.
“Okelah. Ayo kita buruan serahin misi dan ambil uangnya. Matahari udah hampir tenggelam lagi. Aku butuh untuk membeli beberapa anak panah dan perlengkapan lainnya. Badanku juga rasanya lengket banget. Aku pengen mandi dulu di pemandian umum. Habis itu baru kita lanjut jalan. Gimana?” Aku menawarkan sebuah pendapat. Yang lain berpikir sejenak kemudian mengangguk. Selain untuk beli anak panah, kami memang butuh berbelanja dulu untuk membeli berbagai perlengkapan misi.
Sebenarnya, mau siang atau malam, kebanyakan tempat perbelanjaan di dekat kantor administrasi misi selalu buka 24 jam. Kantornya sendiri juga buka selama itu, jadi, penjual barang di sekitar sana memilih untuk membuka toko setiap waktu. Kebutuhan Laskar tidak sedikit dan selalu tiba sewaktu-waktu.
Aku melirik langit. Bulan sudah lewat tengah-tengah nyaris condong ke barat sementara kami sudah berjalan selama lima jam. Kedua pria ini belum ada yang mengantuk. Maklum, mereka tertidur selama setengah hari. Lagi pula agenda kita memang berjalan malam hari dan istirahat siang hari. Jarak dari desa terakhir ke Alas Roban lumayan jauh. Dua hari berkereta. Alasan kami memilih malam, tidak ada. Ya, tidak ada alasan. Kami hanya berjalan semau kami sampai ke Alas Roban. Lagipula, kalau kami bertamu ke desa lain saat pagi atau siang hari kan rasanya pantas gitu.
“Wir, kamu ngantuk?” tanyaku dari dalam kereta. Bentuk kereta kami memang tertutup dengan pintu di samping kanan dan kiri serta model lesehan. Tapi, dinding arah kusir duduk diberi semacam jendela geser yang bisa dibuka tutup sesuai kebutuhan. Dan kami lebih sering membukanya. Hitung-hitung menemani siapa pun yang menjadi kusirnya.
“Kalo aku ngantuk, kamu mau gantiin?” sarkasnya. Kini gantian aku yang berdecih.
“Pertanyaanku termasuk pertanyaan ya atau tidak. Bukan ganti nanya. Heran deh aku.”
Wira menarik napas panjang sebelum kemudian diembuskan perlahan. Ia lalu menjawab, “Nggak. Aku nggak ngantuk. Kalo aku ngantuk, pastinya aku udah panggil Nara buat gantian.”
“Nah, gitu jawabnya kan enak,” ucapku sambil tertawa ringan.
Kini, Nara ikut bergabung dalam obrolan ini. “Wir, kami belum tahu apa-apa tentang kamu. Kamu nggak pengen cerita?”
“Apa harus?” tanyanya singkat.
“Nggak harus, sih. Tapi antara aku dan Ara, kami kan udah cerita sedikit tentang kami ke kamu. Kalo kamu mau, kamu bisa cerita. Toh kita ini teman. Seenggaknya kami juga pengen tahu tentang teman kami.”
Wira tidak protes atau menyanggah apa pun. Ia masih terdiam, berbaur dalam hening malam. Ia mengentakkan tangannya untuk menjaga laju RJ.
“Oke, aku bakal cerita sedikit. Kalian tahu, kan, aku dari desa Pasai?” tanyanya. Kami berdehem mengiyakan.
“Desa Pasai itu masuk dalam desa perbatasan. Sebelum Negeri Siluman, ada sebuah tanah kosong tanpa kepemilikan antar dua negara ini. Tempatnya lumayan luas dengan sebuah gunung dan area kosong yang lebar. Alasan kenapa tempat itu tidak menjadi rebutan antara dua negara adalah karena adanya konsentrasi mana hitam yang sangat pekat di sana. Terutama di gunung itu, gunung tak bernama. Bahkan, tak jarang ada badai mana hitam di gunung itu. Karena itulah baik siluman maupun manusia tidak menginginkan tempat itu.
Hingga kemudian suatu hari, mereka tidak bisa melewati rute utama keluar-masuk Negeri Siluman dan Negeri Swarnanusa. Karena itulah beberapa siluman akhirnya memaksa lewat daerah terlarang itu. Tapi, karena mereka adalah siluman rendahan, mereka akhirnya gila karena terkontaminasi mana hitam dan mengamuk. Desaku diserang sampai rata dengan tanah. Banyak anak menjadi yatim piatu, orang tua kehilangan anaknya, istri menjanda, suami menduda. Hanya sepertiga dari kami yang berhasil lolos dari maut. Itu pun banyak yang terluka. Saat itu, aku selamat karena ibuku menyuruhku sembunyi di dalam ruang bawah tanah khusus. Beliau memintaku untuk di sana sampai ada orang yang membukakan pintunya. Karena siluman itu bodoh, ia tidak bisa membaca tulisan manusia. Ayahku sempat menuliskan kalau ada anak di dalam sana dengan darahnya, dengan harapan ada Laskar atau relawan lain yang datang menolong saat siluman sudah pada ditangani atau pergi. Dari situlah aku mengenal Tabib Janu. Dan yeah, aku bertahan dua hari hanya dengan air sekendi di dalam sana.”
“Aku turut berdukacita. Sekarang, kamu nggak sendiri, kok. Kan ada kami. Aku jadi agak paham sama alasanmu ingin pergi ke Negeri Siluman untuk membalaskan dendammu. Sekarang, kita ada di jalan yang sama. Jadi aku mohon bimbingannya.” Aku mencoba menanggapi Wira. Biar bagaimana pun, kami sama-sama tidak memiliki orang tua sekarang. Ya, kecuali aku yang masih memiliki ayah walaupun tak tahu di mana rimbanya.
“Ya, tenang aja. Aku udah nggak terlalu sedih. Cuma benci aja kalo lihat siluman.”
“Terus, kalung yang waktu itu dicuri siluman celeng? Itu punya ibuku?” tanya Wira penasaran.
“Yap. Hal terakhir yang beliau kasih sebelum akhirnya memasukkanku ke dalam ruang bawah tanah dan menyelamatkanku.” Nada Wira menjadi datar. Mungkin memori itu tiba-tiba kembali ke ingatannya.
“Maaf kalo aku mengingatkanmu kembali pada kenangan burukmu.” Aku mencoba meminta maaf karena takut membuatnya semakin sedih. Ia menggeleng. “Nggak, nggak papa. Justru aku sekarang ngerasa lebih baik karena bisa cerita langsung ke kalian.” Ah, remaja itu sudah berubah banyak dari pertama kali kita bertemu. Sekarang, ia bisa lebih terbuka kepada kami. Lebih sering menggarem dan menyambeli omongannya sehingga pedas dan perih didengar. Awal kami bertemu, ia tidak banyak kata. Aku sempat berpikir ia mirip Sasuke dari anime legendaris semasa aku di bumi, Naruto. Rupanya ia adalah Tsukishima Kei dari anime Sport Haikyuu!! Yang mulutnya tak lepas dari sindir menyindir. But, I like this person.
“Udah, ya? Aku udah ngedongengin kalian sebelum tidur. Sekarang kalian bisa tidur kalo ngantuk,” celetuk Wira tiba-tiba. Aku langsung menyahut, “Itu bukan dongeng yang pantes diceritain buat anak lucu kaya saya. Ganti dongeng lain yang berakhir bahagia, gitu.”
“Lucu? Ayam pakai topi periuk mungkin lebih lucu dari kamu,” balasnya kemudian. Aku belum sempat berkata, Nara tiba-tiba menimpali, “Arakata itu lucu, kok. Tapi kalo lihat dia sambil merem. Nanti lucu banget.” Terkejutlah aku. Seringnya bergelud, sekali akur kok buat bully aku.
“Ya, ya. Lakuin sesuka kalian. Aku mau tidur aja. Bay.” Aku pura-pura merajuk. Tapi, lama kelamaan mataku benar-benar berat dan kesadaranku perlahan menipis. Aku akhirnya jatuh dalam buaian mimpi. Sebelum aku tertidur, aku sempat mendengar suara berkata, “Selamat tidur, Cantik. Kamu masih butuh banyak istirahat.”
***
Dua hari sudah kami berkendara. Sampai juga di Alas Roban yang terkenal akan bandit sakti bernama Bajing Loncat. Menurut informasi, sudah banyak Laskar yang mencoba mengambil misi ini, namun gagal. Rencananya, ini terakhir kali misi ini nangkring di misi rank-A dengan imbalan kontribusi layaknya rank-S sebelum akhirnya benar-benar dimasukkan dalam kategori rank-S. Sebelum kami sampai ke alas ini, kami sempat menitipkan RJ ke Desa Batang yang berada tak jauh dari sini. Terlalu berisiko kalau membawa mereka ke mari. Selain berbahaya untuk mereka, juga untuk kami. Aku dan Nara berjalan mendekat seraya bersembunyi di antara pepohonan dengan lincah. Sementara Nara memilih untuk berpindah dari satu dahan ke dahan lain dengan sihir manipulasinya yang membuatnya tidak disadari oleh musuh.
Di dalam dunia ini, semua jenis sihir bisa dipelajari oleh semua penyihir. Akan tetapi, mereka memiliki batasan ‘kemahiran’ kalau mereka tidak punya bakat di sihir itu. Seperti sihir penyembuh yang bisa digunakan semua penyihir. Tapi, mereka hanya bisa mengobati luka ringan atau sekadar menghentikan pendarahan. Tapi, untuk mereka yang punya bakat di sihir penyembuhan, ia bisa gabung dalam akademi kesehatan dan menjadi tenaga medis yang dapat menyelamatkan orang lain lewat sihir penyembuhnya.
Gerakan kami masih mulus ke dalam hutan. Tadi, kami sempat briefing sebelum memulai. Ada sebuah peta umum tentang alas Roban. Kami hanya meraba-raba lewat informasi yang kurang karena biar bagaimanapun, peta itu tidak terlalu jelas.
“Sekarang, mulai tugas masing-masing. Usahakan jangan tertangkap,” bisikku lewat telepati. Aku berhasil menerapkan ini pada manusia setelah berpikir kalau rupanya sihir penyembuhku juga bisa berguna untuk manusia.
Belum, kami belum ingin berpesta. Kami hanya lah singa yang sedang memburu mangsanya.