Kekacauan terjadi di banyak tempat. Tapi, bisa dibilang kalau sebagian besar sudah ditangani oleh Laskar yang kebetulan sedang ada misi di sekitar sana. Aku, Wira, dan Nata terus melanjutkan perjalanan kami sampai kami menemukan sesuatu di luar ekspektasi kami.
“Loh, Arakata! Kamu mau ke mana?” sapa Paman Hayam yang nyaris mendahului kami. Ia menaiki sebuah siluman tingkat tinggi yang anehnya siluman itu menuruti paman, mengingat sifat siluman tingkat tinggi yang sedikit memandang rendah manusia.
“Eh, Paman. Kok bisa naik siluman rajawali?” tanyaku heran. Aku, Wira, dan Nara berhenti melaju, begitu pun paman. Kami berhenti tanpa mendarat.
“Bisa, dong. Kenalin, namanya Indrabumantara. Dia adalah siluman kontrakku,” jelas Paman Hayam.
Indrabumantara mengangguk menghormatiku. Mungkin ia sudah merasakan kalau aku adalah anak dari Maharaja mereka.
“Maksudnya, Paman? Bukannya Siluman nggak bisa masuk ke Swarnanusa ya? Selain itu, siluman sama manusia juga nggak mungkin bersama,” sahut Nara. Wira terdiam mengamati kami.
“Ini karena aku mengikat kontrak dengan siluman. Memang ada beberapa penyihir yang bisa mengikat kontrak dengan siluman. Tapi, mungkin hanya ada satu dari sepuluh ribu penyihir. Dengan kata lain, sihir untuk mengikat perjanjian dengan siluman tingkat tinggi itu nyaris sulit untuk dipelajari dan masuk dalam sihir suci yang berbalikan dengan sihir terlarang. Maka dari itu nggak banyak yang tahu tentang sihir ini layaknya orang yang nggak banyak tahu tentang sihir terlarang,” jelas Paman Hayam
“Sihir terlarang?” tanyaku bingung.
“Di dalam dunia ini, ada ilmu sihir umum yang bisa dikuasai siapa pun dan juga ilmu sihir yang dirahasiakan. Biasanya yang dirahasiakan adalah sihir suci dan sihir terlarang. Alasan kenapa dirahasiakan adalah karena sihir suci memiliki tingkat kesulitan yang tinggi dan memiliki risiko kematian yang tinggi untuk pengamalnya. Sementara sihir terlarang, selain tingkat kesulitannya yang tinggi, risikonya pada pemakai dan juga akibat setelah sihir itu berhasil dikuasai cukup tinggi. Biasanya juga sihir terlarang bertujuan buruk dan mampu menyebabkan bencana besar, berbalikan dengan sihir suci yang biasanya tidak berefek besar pada sekitar. Kesamaan mereka adalah tingkat kesulitannya yang tinggi,” jelas Wira. Kali ini lelaki itu yang angkat suara. Tapi, begitu ia mengeluarkan suaranya, isinya penjelasan panjang nan lebar. Untung saja level kepedasannya masih level nol. Alias masih belum berkata pedas.
“Kok kamu tahu, Wir?” tanya Nara yang menurutku memancing.
“Ya tahu, lah. Aku bukanlah orang bodoh seperti kalian yang bisanya hanya bertanya,” jawabnya.
“Malu bertanya sesat di jalan,” jawabku singkat. Wira terdiam sambil melirikku. Paman Hayam tidak bereaksi. Padahal biasanya ia akan tertawa dengan recehnya.
“Ada masalah apa memangnya, Om? Kenapa ada pancaran mana hitam yang tak biasa dari Majapahit? Bahkan Lembah Hitam seolah kehilangan keseimbangannya dan menghancurkan pertahanan alami mereka dan membuat semua mana hitam yang sudah terakumulasi akhirnya berpencar.” Kini aku berganti topik menanyai Om Hayam.
“Ada yang menggunakan sihir terlarang untuk membuka gerbang dan memanggil entitas gelap yang sudah dikurung di sana selama ribuan tahun. Kamu pasti sudah tahu ini, kan? Karena ini semua berkaitan dengan nasibmu sebagai penyelamat dunia.”
Aku terkejut. Bagaimana bisa dia tahu?
“Kok Paman bisa tahu?”
Paman terkekeh. Ia mengarahkan Indrabumantara untuk mendekati Sembraniku. Ia menepuk-nepuk kepalaku, sebelum kemudian merangkulku dari atas Indrabumantara.
“Karena aku adalah pamanmu. Kakak dari Fyneen Charity Kishika. Seorang pangeran yang dikatakan diusir dengan tuduhan membantu pemberontak dan meracuni raja,” jawab Paman Hayam membuatku tertegun.
“Maksudnya, Paman?” Aku masih tidak memahami maksudnya. Paman Hayam menghela napasnya. Ia sudah melepaskan pelukannya sejak ia mengaku kalau dirinya adalah pamanku tadi.
“Nanti paman jelasin. Sekarang, kita berangkat dulu. Keadaan makin kacau. Kalau sampai kita terlambat, bisa-bisa gerbangnya benar-benar terbuka.”
Aku, Nara, dan Wira sepakat pada perkataan Paman. Kami juga berpikir kalau ada hal lain yang lebih mendesak untuk diurus. Aku memacu Sembrani untuk maju. Yang lainnya mengikutiku dengan kecepatan yang sama. Kami berangkat dengan kecepatan penuh menuju ke Majapahit.
“Berhenti kalian!”
Sepertinya memang semua ini sudah direncanakan. Kami dicegat oleh sekelompok penyihir yang menaiki sapu terbang mereka. Gayanya berpakaian layaknya penyihir dalam kisah fiksi di bumi, memakai baju terusan hitam dan topi lancip khasnya. Total mereka ada lima orang.
“Apa mau kalian? Kalian itu yang harusnya minggir!” sentak Nara. Mereka malah maju ke depan dengan angkuh.
“Kami tidak akan biarkan ada hama lolos yang mengganggu kebangkitan tuan kami. Jadi, kalian sebaiknya putar balik dan jangan berpikir untuk ikut urusan ini!” Salah seorang dari mereka melarang kami dengan bentakannya. Sebenarnya, kami sama sekali tidak takut pada mereka. Tapi, kupikir merepotkan harus mengurusi mereka.
“Udah, biar aku yang urus mereka. Kalian bertiga lanjutin perjalanan ini!” ucap Wira. Lelaki itu membawa Sembrani sedikit maju dan menghadapi kelima penyihir yang ada tanpa ekspresi.
“Kamu yakin, Wir?” tanyaku. Wira mengangguk.
“Cecunguk kaya mereka nggak pantes disebut musuh saking lemahnya. Kalian berangkat aja duluan. Nanti aku susul kalau sudah selesai.”
Kami sepakat menuruti permintaan Wira. Kami bertiga langsung melaju meninggalkan Wira yang mengurus beberapa cecunguk itu. Sepertinya mereka sama sekali bukan lawan yang tangguh.
***
Tanpa harus diukur dengan saksama, Wira bisa menyimpulkan kalau lawannya sama sekali bukan lawannya. Hal ini karena Wira merasakan kalau sihir yang berada dalam tubuh pengadang itu sama sekali dalam tahap yang tidak mengkhawatirkan. Bahkan cenderung memprihatinkan. Wira bisa merasakan banyaknya kontaminasi mana hitam dalam diri mereka, yang harusnya bisa menjadi jalan berkembangnya mana murni mereka.
“Kalian itu nunggu siapa? Tuan kalian? Kalau memang kalian mau membangkitkan tuan kalian, perhatikan dulu diri kalian. Bagaimana bisa kalian begitu lemah sampai-sampai aku sendiri tidak yakin menganggap kalian ini penyihir?” tanya Wira. Lelaki itu masih terdiam menatap kelima kelompok itu yang sama sekali bergerak.
“Tugas kalian Cuma mengulur, kan? Kayanya kalian gagal,” ledek Wira karena kesal dikacangin.
“Setidaknya kami mengurangi musuh kami,” jawab salah satunya. Wira tersenyum smirk. Ia jelas tahu kalau sebenarnya lawannya juga sadar kalau mereka gagal menjalankan peran mereka.
“Mau duel sekarang? Saya orang sibuk, bukan pengangguran kaya kalian!”
“Berisik kamu! Sini maju daripada berisik saja. Menggonggong terus seperti anjing!” Seorang yang lain dari mereka mulai marah.
“Oh, kalian udah mau nyerang? Sini, serang satu persatu. Keroyokan juga boleh,” ledek Wira seraya tersenyum mengejek. Kesal karena provokasi Wira, seorang dari mereka langsung melayangkan sihir petir ke arah Wira. Lelaki itu langsung membentuk rajah tanpa banyak mengumpulkan mana. Baginya, mana memang seolah menjadi bagian tubuhnya.
“Eits, nggak kena,” ejek Wira lalu memeletkan lidahnya. Karena provokasi ini, kelimanya menyerang bersamaan. Tapi, itu semua bukan masalah berarti bagi Wira. Lelaki itu dengan mudah mengalahkan semuanya. Kini, hanya tinggal dirinya yang terbang di langit. Penyihir lainnya sudah tergeletak di bawah tanpa luka berarti.
Saat Wira hendak berangkat ke Majapahit, sesosok manusia yang menaiki sapu terbang juga menatapnya dengan tajam.
“Kali ini, akulah lawanmu, anak muda,” tantang lelaki kekar itu.
Mendengar tantangan dari lelaki itu, Wira langsung memasang wajah dingin dan serius.
Sepertinya yang ini bukan lawan yang mudah.