Aku, Nara, dan Om Hayam memacu kendaraan kami dengan kecepatan maksimal. Wira sudah menghadang gangguan yang berada di belakang kami agar kami bisa secepatnya menuju ke Majapahit. Perjalanan ini masih sangat jauh. Maklum saja, kami dari ujung terluar Swarnanusa dan sedang menuju ke pusat negeri ini. Meskipun dikatakan pusat, sebenarnya Majapahit tidak benar-benar di tengah.
Gambaran kasarnya, Negeri Siluman berada di barat daya benua ini. Benua Atlanta ini. Bentuk benua ini memanjang layaknya pulau Jawa dengan posisi satu ujungnya berada di timur laut dan ujung lainnya berada di barat daya. Posisi Negeri Siluman berada di barat daya benua Atlanta. Benua ini juga dikelilingi laut dan masih belum diketahui apakah di seberang laut sana ada pulau lainnya atau tidak.
Nara mendadak berhenti begitu saja membuatku dan Om Hayam ikutan berhenti mendadak.
“Kenapa, Nar?” tanyaku heran.
“Desa di bawah diserang. Belum ada Laskar di sekitar sini,” jawab Nara seraya menunjuk sebuah desa yang sedang diporak-porandakan oleh siluman ulo ijo.
“Sebentar, aku panggil bantuan.”
Aku memejamkan mataku, mencari gelombang siluman terdekat. Sampailah pada gelombang seekor kera putih yang sedang bersembunyi di balik pepohonan. Ia tidak mendapatkan efek dari mana hitam itu karena ia bisa membaca aliran mana dan menghindarinya. Hanya ada beberapa siluman yang bisa melakukan ini.
“Hei, kamu!” panggilku
Siluman kera putih yang kupanggil langsung menoleh kebingungan. Ia mencari-cari asal suara yang tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya.
“Eh, kamu. Iya, kamu. Keluar dari persembunyianmu dan bantu aku usir ulo ijo dari desa di dekatmu!” perintahku. Kera itu makin kebingungan.
“K-kamu siapa? Kok bisa masuk ke pikiranku? Mau apa kamu?” Siluman itu tergagap. Mau tak mau aku malah menahan tawaku.
“Aku Arakata Ratnaduhika Paramesti. Kenal?” jawabku santai.
“Nggak usah bohong kamu. Aku tahu Tuan Putri Arakata sudah kembali. Jangan membawa-bawa namanya kalau kamu tidak mau dihukum!” ancamnya. Aku salut, sekalipun tidak ada yang tahu pembicaraan ini, ia masih menjaga nama baik anak dari pemimpinnya.
“Ini benar aku. Kamu nggak percaya? Mau aku sambungkan ke ayahku juga?” ancamku. Siluman kera itu terdiam, seolah sedang berpikir.
“Baik, aku percaya. Sekarang aku harus apa?”
“Kamu masih nggak percaya, tapi sudahlah. Sekarang kamu pergi ke desa yang ada di dekatmu. Aku sudah membagikan sihir pelindung untuk melindungimu dari mana hitam. Jadi, kamu bisa bebas. Jangan sakiti manusia. Kamu cukup usir atau amankan siluman itu agar tidak menyerang desa lagi. Paham?”
“Siap, paham, Yang Mulia.” Sepertinya ia sudah mempercayaiku.
“Aku serahin yang di sini ke kamu. Aku udah pasang pelindung biar mana hitam nggak bisa mengacaukanmu. Aku masih perlu mengurusi bagian utamanya. Aku pergi dulu.”
Aku, Nara, dan Paman Hayam langsung menuju ke Majapahit setelah memastikan bahwa siluman kera itu menjalankan tugasnya.
Di dunia ini, hewan biasa juga ada. Kera biasa, babi biasa, bukan siluman. Biasanya, cara pembedaan di antara mereka dari bentuk tubuhnya. Seperti siluman celeng yang mempunyai leher sementara babi hutan tidak, atau siluman kera yang memiliki dua ekor sementara kera biasa hanya satu. Kadang perbedaan juga dilihat dari warnanya.
Sepanjang perjalananku, semua desa sudah mendapatkan pahlawannya masing-masing. Asap membumbung dari banyak titik, nyaris di semua desa atau kota yang diinvasi siluman yang mengamuk. Sampailah kami di gerbang Majapahit. Dua orang lelaki dengan pakaian yang sama dengan yang menghadang Wira tadi berdiri menantang kami. Hanya saja, kalau kulihat sepertinya ia lebih hebat dari keroco yang mencegat Wira. Bedanya, topi yang ia kenakan berwarna ungu.
“Paman Hayam dan Arakata, kalian berdua masuk dan hentikan ritual mereka. Hanya Paman Hayam yang tahu letaknya dan Arakata yang mampu menghentikannya.”
Aku menoleh ke arah Nara yang sudah siap bertarung. Tapi, aku khawatir. Ia adalah ksatria, sementara lawannya adalah penyihir.
“Kamu yakin? Mereka penyihir, loh. Sementara kamu ksatria yang jelas kesulitan buat pertarungan jarak jauh.” Aku mengkhawatirkannya.
“Nggak usah khawatir. Aku tahu apa yang kulakukan.” Nara mencoba menenangkanku. Karena kondisi dan situasi, aku hanya bisa mempercayai sahabat baikku itu.
“Okelah. Nanti kalau semuanya selesai, kamu yang dapet jatah pjitin Bi Heera,” ucapku. Nara tertawa.
“Oke, nanti aku pijitin Bi Heera. Kamu juga sekalian,” kekehnya. Inilah salah satu cara kami saling berdoa dan berharap agar kami sama-sama selamat.
Kami langsung berpisah jalan. Nara langsung mencegat kedua penyihir yang mau menghadangku dan Paman Hayam.
***
Wira terpelanting sesaat sebelum sihir perlindungannya siap. Sepertinya lawannya yang kali ini adalah lawan yang sangat tangguh. Bisa Wira lihat kalau sepertinya ia mampu memanfaatkan mana hitam dengan sangat baik, makanya bisa menjadi lebih hebat dari yang sebelumnya. Dari ciri fisik, ia lebih kekar dengan topi lancipnya yang berwarna ungu, berbeda dengan yang sebelumnya.
“Tadi kamu berkoar-koar, kenapa sekarang loyo kaya burung nggak kuat berdiri?” ledek penyihir bertopi ungu itu. Sebenarnya, Wira kesal dengan manusia yang suka melawak dengan lawakan kotor seperti itu. Polusi suara.
“Tutup mulutmu! Berisik,” sergah Wira dengan nada kesal. Penyihir bertopi ungu itu tertawa terbahak-bahak seolah menikmati kekesalan Wira.
“Kalo mau aku diam, bungkam aku sini,” ledeknya dengan nada meremehkan. Sepertinya lawannya lupa kalau tidak baik meremehkan lawan saat masih di medan perang hanya karena berhasil melayangkan satu pukulan saja. Wira tersenyum miring. Ia masih memiliki satu serangan andalan. Jika mengadu kecepatan pemrosesan sihir, untuk saat ini dirinya masih unggul. Ia hanya lengah saja sampai-sampai berhasil terkena serangan. Tapi, dengan begitu ia bisa mengukur sebesar apa kekuatan lawannya.
“Kamu yang minta. Jangan merengek kalau ternyata kamu berhasil kukalahkan.”
Belum sempat penyihir bertopi ungu itu bereaksi, sebuah ledakan meledak di sebelah kanan dan membuatnya langsung terbang ke arah kiri untuk menghindari ledakan. Tapi, karena terkejut karena ledakan tadi, ia tidak menyadari sebuah rantai mana sudah mengikat kakinya yang mengincar dari belakangnya. Salahkan dirinya yang tertawa meremehkan dan lupa sekitar sampai-sampai tidak menyadari adanya sebuah rantai mana yang sudah menantinya di belakang.
Akibat dari rantai mana yang mengikat kakinya itu, ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari sapu terbangnya. Wira mengarahkan Sembrani untuk mengikuti lelaki itu terjatuh sampai bawah. Sebelum dirinya menyentuh tanah, Wira sudah menyiapkan jebakan di tanah berupa lumpur isap di bawahnya. Seketika setelah penyihir itu menyentuh lumpur isap, tubuhnya langsung terisap ke dalam dan tenggelam. Wira dengan sigap mengembalikan kembali menjadi tanah biasa dan mengubur penyihir itu hidup-hidup.
“Baik, yang di sini selesai. Tinggal berangkat ke Majapahit dan melihat, apakah mereka bisa menyelesaikannya tanpa aku,” gumam Wira narsistik. Ia sebenarnya tidak sungguh-sungguh mengatakan itu. Karena, sehebat-hebatnya dirinya, ia bisa dengan yakin berkata kalau Arakata jauh lebih hebat dalam segala hal.
***
Sekali lihat saja Nara sudah bisa mengetahui kalau lawan di hadapannya tidak bisa dikatakan mudah. Terlebih dirinya spesialis jarak dekat. Rasanya sulit untuk mempersempit jarak saat lawannya adalah spesialis jarak jauh.
“Udah mainnya keroyokan, beda profesi juga,” keluh Nara. Bukannya ia tidak ingin melawan, ia hanya merasa kesal saja. Otomatis dirinya harus berjuang beberapa kali lipat untuk kemenangan mutlak.
Baru saja dirinya ancang-ancang, sebuah serangan sihir sudah menyerangnya. Lelaki itu langsung menghindar. Beruntung Sembrani memiliki kepandaian yang tinggi. Sebelum diperintah, kuda terbang itu sudah mampu menghindari serangan.
Nara mengeluarkan pedang yang masih ada di sarungnya. Ia masih memilah bagaimana cara menyerang yang efektif untuk mengalahkan salah satu dari mereka. Dari apa yang diamatinya, hanya satu yang agresif menyerang, seorang penyihir dengan rambut berwarna merah muda. Sementara satu yang lain, penyihir dengan rambut berwarna merah, hanya mengamati dan menghindar untuk tidak melancarkan serangan. Atau mungkin memang dia tidak bisa menyerang?
Nara langsung memacu Sembrani untuk mendekati mereka, saat ia sudah sampai pada jarak serang, Nara langsung menukik ke atas dan bermanuver menuju belakang penyihir berambut merah muda. Ia nyaris menebaskan pedangnya, tapi gagal karena penyihir berambut merah muda itu langsung berteleportasi mendekati penyihir berambut merah yang berada agak jauh tadi. Nara terheran, padahal ia sudah menyerang dari titik buta.
Setiap serangan yang ia lancarkan setelahnya selalu gagal begitu saja. Entah lawannya, atau justru dirinya yang malah berpindah lokasi saat menyerang. Ia masih belum menemui polanya sampai sebuah tepukan menepuk bahunya.