Ningsih mengembalikan serangan pedang Nara dengan menciptakan sebuah serangan kejut yang menahan bilah pedang Nara. Remaja itu loncat ke samping untuk menghindari efek serangan lebih besar. Ia lalu berlari zig-zag untuk menghindar saat Ningsih menembakkan bola api ke arahnya. Nara berhasil mendekat ke jarak serangnya dan melakukan sebuah salto. Salto itu berhasil mengenai membuat Ningsih kehilangan keseimbangannya karena menghindari bagian kepalanya agar tidak terkena serangan Nara. Akibatnya, Nara bisa dengan mudah menyerang kaki kiri Ningsih yang tidak memiliki penjagaan sebelum mendarat dengan kedua kakinya. Ningsih berteriak kesakitan. Darah mengucur deras karena dalamnya sabetan pedang mengenai bagian pahanya. Ningsih berdiri dengan terhuyung sambil menggigit bibirnya menahan perih.
Nara tidak menunggu waktu lama. Ia kembali melancarkan serangan. Berbeda dengan serangan awalnya yang banyak ditangkis atau dibalikkan, saat ini ia banyak mendaratkan serangan ke tubuh Ningsih. Akibatnya, luka sabetan pedang tergores di setiap sudut tubuh Ningsih. Mana hitam yang ia gunakan juga perlahan melemah dan menghilang. Akibatnya, Ningsih tidak bisa menggunakan sihir penyembuhannya.
“Mau nyerah sekarang? Kalau kamu nyerah, aku pastikan kamu tetap hidup. Apalagi kalau kamu bertobat dan tidak lagi melakukan kejahatan. Kupikir kurungan penjara akan cukup untukmu,” ucap Nara sembari mengacungkan pedangnya ke arah Ningsih yang sudah tergeletak dengan darah yang merembes dari setiap sayatan di tubuhnya. Nara memang sengaja tidak menyerang Ningsih karena musuhnya sudah nyaris sekarat. Tapi, kalau lawannya masih kekeh untuk memuja entitas yang akan dibangkitkan itu, maka mau tak mau Nara harus membunuhnya.
“Buat apa aku harus mendengarkan omonganmu? Aku yakin tuanku akan menyelamatkanku. Bunuh saja aku! Tuanku yang agung pasti akan bangkit dan meluluhlantakkan semuanya. Saat itu tiba, ia pasti akan menghidupkan kembali pemuja-pemujanya. Aku yakin itu,” ucap Ningsih yakin.
Nara semakin heran. Padahal napasnya sudah terdengar sangat berat. Luka sayatan di tubuhnya juga tidak sedikit, jelas saja sangat sakit. Tapi, wanita itu masih saja percaya pada harapan yang nyaris jelas tidak mungkin terjadi. Entitas yang sedang disegel itu bukanlah entitas rendah yang peduli pada pemujanya. Bisa dibilang justru malah ia tidak peduli sama sekali.
“Baiklah kalau itu maumu!”
Nara menebaskan pedangnya tepat di leher Ningsih. Darah memercik ke segala tempat. Ningsih sempat kejang-kejang dulu beberapa saat sebelum kemudian benar-benar mati setelah kepalanya terpisah dari tubuhnya.
Di sisi lain beberapa waktu sebelumnya, Chandra masih bergulat dengan Dyah. Sepertinya Dyah adalah tipe pembantu yang jarang maju ke garis depan. Ia biasa mensupport kawannya dari belakang dan selalu menjaga jarak dari pertarungan. Buktinya, saat ini ia hanya bermain kejar-kejaran dengan Chandra.
“Kamu nggak capek apa? Dari tadi main kejar-kejaran terus. Aku capek ngejar kamu!” keluh Chandra yang berasa seperti orang bodoh karena berlarian ke sana kemari. Dyah masih tidak menanggapinya karena ia merasa kalau Chandra hanya berniat untuk membuatnya teralihkan.
“Hei, aku serius! Aku capek!” Chandra berhenti mengejar karena lelah. Dyah yang masih berada di luar jangkauan serang Chandra juga ikut berhenti karena ia sendiri juga lelah. Persediaan mana di tubuhnya nyaris habis. Pandangan Dyah mendadak teralihkan saat melihat Ningsih sudah tergeletak dengan posisi pedang menghunus ke arahnya. Belum sempat ia berteriak, Nara sudah memenggal kepala Ningsih. Dyah tidak tahu apa yang mereka bicarakan sebelum pedang Nara membelah leher Ningsih. Tapi, satu fakta tak terbantahkan adalah bahwa pedang Nara yang menghabisi hidup Ningsih.
Dyah yang emosi hendak berteleportasi ke arah Nara dan berniat memenggal kepala Nara. Tapi, mungkin karena emosinya meledak atau karena memang mananya sudah sisa sedikit sementara jaraknya lumayan jauh, Dyah terlalu lama mengaktifkan sihirnya. Rasa dingin sekaligus panas menyambar lehernya. Dyah kemudian sadar ketika apa yang ia lihat seperti terjatuh, sementara tubuhnya masih berdiri dengan hanya menyisakan leher yang menyemburkan darah dengan deras. Otaknya baru mencerna apa yang terjadi sebelum akhirnya ia benar-benar kehilangan nyawanya.
***
Beruntung Nara tadi yang meladeni penyihir saat di gerbang tadi. Karena, aku merasakan eksistensi mana hitam yang makin terasa jahat dan kelam. Berisi dendam, amarah, dan juga kesepian.
“Paman tahu di mana tempat ritualnya?” tanyaku. Paman mengangguk.
“Ya, Paman tahu. Paman sudah menyelidiki semuanya sebelum diusir dari istana. Mungkin alasan Paman juga ikut diusir dari istana adalah karena fakta bahwa Paman berhasil menemukan rahasia terbesar sang pengudeta.”
“Kok bisa Paman bilang kalau Paman ‘ikut diusir’? Berarti ada kemungkinan Paman tidak diusir dari istana kalau paman tidak menemukan rahasia ini?” tanyaku bingung.
“Pintar! Sebenarnya, di dalam istana hanya Paman yang memiliki kemampuan dalam mengatur pasukan. Mengingat beberapa daerah ada yang sering melakukan pemberontakan, hanya Paman yang berhasil menyelesaikan permasalahannya. Paman juga yang menjadi pelatih setiap pasukan dan berhasil membuat pasukan Majapahit menjadi pasukan terhebat dan mampu mempertahankan gelar ibukota yang menjadi pusat pemerintahan,” jelas Paman Hayam panjang lebar. Jujur saja, aku bingung dengan sistem pemerintahan di dunia ini. Bukannya terdiri dari beberapa negara, tapi justru hanya terdiri dari kota. Entahlah, aku masih belum paham.
“Terus, Paman nemuin lokasi bust buka gerbangnya?”
“Yap. Ada di ruang bawah tanah,” jawab Paman singkat.
“Lebih jelasnya?” tanyaku kemudian.
“Letaknya di bawah tanah ruang takhta. Pintunya berada di belakang ruang takhta yang hanya dimasuki oleh raja untuk mengerjakan tugas pemerintahan dan sesekali petinggi dari tiap kota untuk melaporkan laporan tahunan mereka. Selebihnya, biasanya hanya digunakan untuk acara penting.”
“Lainnya?” tanyaku karena merasa penjelasan Paman Hayam sangat tidak spesifik.
“Ruangannya luas. Katanya ruang itu merupakan salah satu tempat suci yang hanya boleh dimasuki raja dan orang yang diizinkannya. Selebihnya tidak boleh masuk.”
“Bukan itu, Pamaaan! Maksudnya kaya mekanisme penjagaan, berapa banyak penjaganya, seperti apa bentuknya. Bukannya hal yang kurang spesifik kaya gitu!” protesku kesal. Pemberitahuannya sama sekali tidak membantu.
“Eh, bilang dong dari tadi. Kan paman nggak paham sama yang kamu maksud.” Paman ikut protes.
“Ya udah, jelasin aja yang aku maksud tadi, Paman,” pintaku mengakhiri obrolan kosong ini. Jarak kami semakin memendek dari istana.
“Ruang takhta itu bukan tempat spesial. Cuma salah satu ruangan dengan luas yang lebih besar dari kamar lain dan memiliki dua prajurit penjaga di depan pintu. Tidak ada sistem keamanan lain untuk menghindari kecurigaan. Jadi, kita bisa dengan mudah masuk,” jelas Paman. Aku mengangguk paham.
“Oke, ayo kita masuk. Kasihan prajuritnya karena terlalu lama terpapar mana hitam. Bisa-bisa dia gila kalau kelamaan.”
Paman dan aku mempercepat perjalanan kami. Sesampainya di istana, hampir semua prajurit tergeletak lemas karena kontaminasi mana hitam yang sangat pekat di udara. Beruntung kebanyakan prajurit adalah Ksatria, jadi efek yang mereka alami tidak separah Penyihir yang memang bermain-main dengan mana. Bisa dibilang ini sangat fatal. Beruntung sebelumnya aku sempat memasang sihir pelindung untukku dan Paman Hayam agar tidak bisa dengan mudah diterobos mana hitam.
“Ayo, Paman! Situasinya makin kacau,” ajakku. Kami langsung menuju ke ruang takhta. Bedanya dengan prajurit lain, dua prajurit ini masih sadar dan menatap kami yang datang dengan tajam.
“Kok mereka bisa nggak kena mana hitam?” bisikku ke Paman. Mereka berdua masih menatap kami meskipun tidak beranjak dari tempatnya.
“Mungkin karena mereka dikasih resistensi terhadap mana hitam,” jawab Paman To the point.
“Bisa jadi. Kita tetep masuk, Paman?”
“Jelas itu. Kamu siap gelud?”
...
Aku terdiam. Mana mungkin aku tidak siap saat nasib seluruh dunia sedang dipertaruhkan.
“Oke, ayo kita masuk dan serang dalamnya!”