Ruang takhta ini lumayan luas dengan sebuah kursi takhta tepat di ujung ruangan, segaris lurus dari pintu dengan karpet merah yang tergelar dari pintu sampai tangga menuju ke kursi. Ada beberapa kursi kecil juga di satu tingkat lebih rendah dari tempat raja. Aku tahu itu adalah kursi milik permaisuri dan anak-anaknya. Sisanya, sepanjang pinggir karpet dari pertengahan ruangan sampai ke bagian ujung yang menempel anak tangga, juga terdapat kursi-kursi kecil berbentuk bundar dengan bahan luarnya terbuat dari beludru.
“Di mana pintunya, Paman?” tanyaku saat kami sudah masuk ke dalam ruangan.
“Ayo, ikut aku!” ajak Paman. Aku mengekor saja di belakangnya. Ah, untuk informasi, dua orang penjaga yang masih tersadar tadi sudah kulumpuhkan dengan rantai mana. Sekarang, keduanya sedang terikat di depan pintu dengan kondisi pingsan karena dibuat pingsan oleh Paman Hayam.
Kami berjalan ke arah kursi takhta. Di belakangnya hanya ada dinding saja. Tapi, Paman malah mendorong dindingnya dan membuat dinding itu terdorong sedikit. Beliau lalu menarik tuas yang tersembunyi di antara selipan kedua potong dinding dan membuat bagian dinding yang terdorong itu terangkat ke atas. Sebuah lubang dari bekas dinding tercipta dengan ukuran yang tidak terlalu luas, tapi cukup untuk dilewati orang dewasa.
“Ayo, masuk!”
Aku mengangguk dan mengikuti langkah Paman.
Jalan masuknya memang sempit. Tapi, kami disambut tangga yang mengarah ke sebuah ruangan remang-remang yang berukuran luas. Paman Hayam berjalan di depanku beberapa langkah, aku memegangi bajunya dari belakang.
Sejak awal kami membuka pintunya, aroma amis dan busuk tercium samar-samar. Aku yakin ini sudah sempat dibersihkan, karena aku merasakan beberapa aliran mana di udaranya.
Benar saja. Meskipun ruangan ini luas, sekatnya tidak banyak. Begitu turun dari tangga, kami langsung disambut dengan sebuah lingkaran pemanggil yang terlukis di lantai. Beberapa siluman mati dan mayatnya diletakkan di tengah lingkaran itu.
“Mahanta, Kakak ke mana? Mereka siapa?” tanya seorang laki-laki yang mungkin berusia 20-an tahun. Ia bertanya pada orang yang dipanggilnya Mahanta, yang mungkin jarak usianya tidak jauh darinya. Keduanya memakai jubah hitam dan kulitnya kelihatan pucat. Seperti tidak pernah terkena sinar matahari.
“Tidak tahu, Bhre. Tapi, Kakak itu siapa?” tanya Mahanta.
“Kalian bahas siapa, sih! Lebih baik kalian hentikan ritual ini baik-baik. Kalian tahu apa yang akan kalian panggil nanti bukanlah hal yang baik?” sergahku saat melihat mereka kebingungan. Mendengar suara bentakanku, keduanya terdiam. Seorang lagi keluar dari sebuah ruangan dengan wajah bingung.
“Kalian ini ribut kenapa, sih? Cepat selesaikan ritualnya! Kamu tidak tahu berapa banyak kerugian yang aku keluarkan untuk proyek ini, kan? Kalau kamu mau hidup, lebih baik selesaikan ini! Atau kubunuh kalian!” hardiknya. Aku dengan jelas tahu siapa dia. Dia adalah Yasodana Sri Rajasanagara, atau nama lainnya Yasodana Sri Widipa. Raja yang mengudeta pemerintahan sebelumnya. Raja yang merupakan anak dari selir dan mengambil alih pemerintahan.
“Wuruk?” kaget Yasodana. Ia terkejut melihat orang yang sudah diusir itu kembali ke istana dan memergoki dirinya yang sedang melakukan hal jahat.
“Aku sudah menduga dari lama, Yasodana! Jelas ini adalah ulahmu!” sentak Paman Hayam.
“Ba-bagaimana kamu bisa ada di sini? Bukannya kamu sudah tidak diperbolehkan ke sini lagi?” tanyanya dengan nada gugup. Paman Hayam tersenyum miring. Kuperhatikan lagi, sekalipun mungkin usianya sudah berkepala tiga, ia masih sangat tampan. Apalagi dengan senyum smirknya yang membuatnya makin terlihat tampan.
“Bagaimana, hm? Biar bagaimanapun, ini adalah rumahku. Jelas aku akan pulang saat ada yang hendak merusak rumahku!” jawab Paman Hayam dengan nada sarat emosi.
“Tutup mulutmu! Ini istanaku, ini rumahku! Jangan kamu seenaknya mengakui begitu saja!” pekik Yasodana yang menurutku seperti orang kehilangan akal.
“Kata Paman, Paman nggak bakal diusir sampe kemudian Paman menyelidiki tentang Yasodana. Tapi, dari reaksinya kaya dia tipe orang yang akan langsung mendepak Paman. Secara Paman adalah pewaris takhta yang sah. Jadi, reaksinya seperti orang ketakutan, takut kalau paman akan merebut takhta darinya,” bisikku ke Paman Hayam.
“Ya, kamu nggak salah. Dia adalah salah satu orang yang juga hendak mendepakku dari istana. Tapi, para sepuh tidak menyetujuinya. Terlebih saat kudeta itu terjadi, beberapa daerah juga memberontak dan membuatku dipertahankan karena aku terbukti kompeten. Tapi, karena orang di belakang Yasodana jauh lebih kuat dari orang yang mendukungku, aku hanya menjadi panglima perang saja,” jelas Paman Hayam.
Aku mengangguk paham. Sepertinya aku mulai paham sedikit banyaknya.
“Hei! Berhenti berbicara! Matilah kamu dan jangan ganggu ritualku!” pekik Yasodana. Ia mengacungkan pedang dengan tangan gemetar. Beliau adalah seorang Ksatria, jelas pedang adalah senjata utamanya, di samping senjata lain. Tapi, entah kenapa kulihat sepertinya ia sedikit asing dengan pedang di tangannya. Padahal, kalau memang ia Ksatria, seharusnya ia dan pedang sudah menjadi satu.
“Kalian berdua, kenapa berhenti? Cepat selesaikan ritual ini! Aku tidak mau ritual yang sudah kupersiapkan sejak lima belas tahun yang lalu harus berantakan! Cepat!”
Mahanta dan Bhre kebingungan dengan semua yang terjadi. Seolah pikiran mereka linglung dan tidak paham apa yang terjadi. Yasodana makin marah dan menampar keduanya dengan keras sampai terjatuh. Aku menatap mereka dengan tatapan kasihan.
“Sialann! Kalian mau apa, sih? Kenapa nggak becus gini. Pengawal! Mana pengawal? Kenapa nggak ada yang ke sini? Hei! Awas kalian ya! Kurang ajar!!”
Melihat Yasodana yang makin panik, Paman Hayam langsung menangkapnya dengan mengikat lelaki itu dengan rantai mana. Yasodana makin memberontak bingung. Sementara Mahanta dan Bhre yang juga nyaris kehilangan kewarasannya diikat di kedua tangannya.
“Paman, ini gimana? Kita tetap harus menyelesaikan ritual ini,” tanyaku bingung. Tiba-tiba saja pintu rahasia itu terbuka dan masuklah Ayah beserta beberapa siluman tingkat tinggi.
“Loh, Ayah? Kok bisa ke sini?” tanyaku bingung.
“Ayah sudah meminta izin pada beberapa sesepuh dan juru kunci yang ada di Swarnanusa untuk mengizinkan Ayah masuk. Termasuk salah satunya juga Nek Adya kalau kamu ingat. Ayah dan beberapa anak buah Ayah bisa menghentikan ritual ini, tapi tidak untuk mana hitam yang terlanjur menyebar ke seluruh benua. Jadi, Ayah mau minta bantuan kamu untuk menarik kembali semua mana hitam yang sudah berpencar. Kamu bisa kan, Nak?” Ayah berjalan ke arahku sambil menepuk bahuku. Rasanya, seolah sebuah beban berat langsung ditimpakan di pundakku.
“Akan kucoba, Yah,” jawabku sambil tersenyum. Aku memegang tangan ayah yang ada di bahuku. Pegangannya makin mengerat seolah ia merasa bahwa aku tidak harus melakukan ini.
Kupikir, Ayah sudah sangat tabah dengan yang namanya kehilangan. Ia menatapku dengan tegar, meyakinkanku untuk melakukan apa yang harus kulakukan.
“Paman, ayo ikut aku. Masalah bawah biar diserahkan ke Ayah. Paman bantuin jaga aku dari orang-orang yang mungkin akan menghalangiku. Karena aku yakin prosesnya tidak akan sebentar,” ajakku ke Paman Hayam.
“Oke, ayo! Kemungkinan Nara dan Wira juga sudah selesai dengan urusan mereka. Panggil saja sekalian dan suruh untuk bantu aku menjagamu. Kemungkinan besar kelompok yang akan menghalangimu tidak hanya satu.”
Aku langsung menghubungi Nara dan Wira lewat telepati. Mereka berdua memahami maksudku dan bergegas ke arahku. Sementara aku dan Paman Hayam keluar dari ruangan ini dan berlari menuju Sembrani yang diparkir di depan.
“Indrabumantara!” panggil Paman ke siluman peliharaannya yang ia ‘simpan’ di ruang miliknya. Siluman rajawali itu keluar dari dalam diri Paman dan langsung mewujud ke bentuk rajawali dengan empat sayap. Paman Hayam menaiki Indrabumantara ketika aku sudah terbang lebih dahulu.
“Paman, aku coba narik mana hitamnya di sini saja. Kalau terlalu jauh dari sumbernya, mungkin akan lebih sulit. Mohon bantuannya, ya?”
Paman Hayam mengangguk. Aku memulai untuk menarik mana hitam yang ada di luar. Beruntung aku sempat memperbesar wadah manaku. Tapi, aku tidak yakin apakah akan cukup dan dibawa ke mana sisa mananya.
“Ayo, lakuin aja!” ucapku memberi semangat diriku sendiri sambil menepuk kedua pipiku agak keras.
Saat ketinggianku sudah cukup, aku mulai berancang-ancang mengambil napas. Bisa kulihat Nara dan Wira sudah tiba. Nara tadi sudah memberi tahu kalau Chandra akan ikut membantu, jadi aku tidak terkejut dengan tambahan anggota.
Aku mulai merasakan semua mana yang ada di sekitarku. Sedikit sulit memisahkan antara mana alam dan mana hitam, apalagi mana hitam yang diambil.
Tapi, rasanya tubuhku mulai terbiasa. Sepertinya ia mengingat bagaimana cara melakukannya seperti di gunung Salak waktu itu. Perlahan tapi pasti, tubuhku ibarat vakum yang menyedot semua mana hitam yang ada di sekitarku. Para siluman dan manusia yang sudah terkontaminasi mana hitam kehilangan kesadarannya. Ibarat spons, aku menyerap semuanya dengan cepat dan tanpa celah. Jujur saja, dadaku rasanya penuh sesak dan panas. Seluruh tubuhku juga ikut panas. Tapi anehnya, layaknya gelas yang bocor, perlahan penuhnya dadaku seolah terisap oleh sebuah lubang yang memiliki daya isap kuat.
Sampai kemudian aku menyadari sesuatu, gelang giok ungu yang ada di pergelangan tanganku terasa berat dan panas. Saat mana hitam yang ada di udara sudah semakin menipis, gelang giok ungu ini tiba-tiba pecah. Seingatku gelang ini gunanya untuk menyaring mana, siapa sangka juga menjadi ‘wadah’ untuk mana hitam.
Aku sedikit optimis dengan sisa mana hitam yang ada. Setidaknya aku masih bisa mengatur sisanya agar bisa masuk ke dalam wadah di dalam tubuhku.
Benar saja, tepat tetes terakhir mana hitam itu, wadahku penuh dan aku nyaris terjatuh dari ketinggian karena kelelahan. Beruntung Sembrani mampu menjaga keseimbangannya dan berhasil membawaku turun dengan selamat. Di bawah, orang-orang yang melindungiku sedang berdiri dengan beberapa mayat tergeletak di bawah. Tapi, aku tidak bisa bereaksi banyak karena mataku semakin berat dan kesadaranku perlahan menghilang.
Sepertinya, badai ini telah selesai berlalu.