Langit seolah menjadi cerah setelah huru-hara yang menyerang satu benua. Unik, ‘kan? Benua ini sendiri luasnya bukan main, tapi digonjang-ganjing oleh sebuah kasus layaknya pandemi.
Arakata sendiri masih memejamkan matanya tak sadarkan diri. Entah berapa kali ia pingsan dan nyaris mati. Kalau hanya jantungan, mungkin jantung Nara sering kali nyaris loncat dari tempatnya. Lelaki itu menanti di sebelah Arakata sejak semalam sembari memegangi tangan gadis itu erat. Omkara, Hayam Wuruk, dan beberapa orang-orang lain bolak-balik masuk ke kamar gadis itu untuk melihat apakah ia sudah terbangun atau belum. Nek Adya juga ikut datang ke istana untuk membantu mengobati Arakata agar efek dari mana hitam yang masuk ke dalam tubuhnya tidak semakin memburuk.
“Udah, tenang aja. Kondisi Arakata nggak mengkhawatirkan, kok. Bahkan gadis itu sepenuhnya sehat. Dia hanya kelelahan saja,” ucap Nek Adya sembari menepuk pelan bahu Nara dari belakang remaja itu. Wira dan Chandra juga ikut membantu yang lain untuk membereskan kekacauan yang telah terjadi.
“Tapi, Nek. Aku takut Arakata sampai pergi. Nggak sekali dua kali dia sampe terluka parah dan nyaris mati,” sanggah Nara. Lelaki itu habis menangis semalaman, jadi hanya tersisa matanya yang sembab.
“Kamu nggak percaya sama Nenek?” rajuk Nek Adya sembari cemberut.
“Y-ya bukan gitu, Nek. Aku cuma takut aja,” cicit Nara. Ia menundukkan kepalanya.
“Berarti kamu nggak percaya sama Arakata?”
“Enggak. Bukan gitu juga. Aku cuma takut, Nenek. Takut kalau dia tiba-tiba pergi.” Nara kembali menangis.
“Astaga. Masa pelindungnya Arakata cengeng gini, sih? Padahal ini juga bukan sekali dua kalinya kamu ngerasain ini, harusnya kamu terbiasa. Selama ini, apa pernah Arakata ninggalin kamu nggak balik lagi?” tanya Nek Adya sembari memutar tubuh Nara agar menghadap ke arahnya. Tangan keriput itu menghapus air mata Nara yang menetes begitu saja.
“Nggak, Nek,” lirih Nara.
“Nggak, kan? Kalo gitu kenapa kamu masih takut? Kamu cuma perlu percaya sama gadis itu. Dia juga pasti percaya kalo kamu nungguin dia. Daripada kamu nangis kaya gini, mending kamu senyum dan tanamkan kepercayaan dalam hati kalau Arakata bakal menepati janjinya dan membuka matanya. Tugasmu saat ini adalah melindungi Arakata. Jadi, jalankan tugasmu dengan benar. Paham?” nasihat Nek Adya.
“Pa-paham, Nek.”
Nek Adya menepuk pundak Nara dua kali. Setelah itu beliau tersenyum.
“Bagus. Jaga gadis itu dengan baik. Pertaruhkan nyawamu untuknya. Tapi, untuk sekarang, kamu tidak perlu memikirkan apa pun tentang gadis ini. Saya berani bersumpah kalau dia tidak kenapa-kenapa. Arakata hanya kelelahan karena mengisap mana sebegitu banyaknya. Ia sama sekali tidak terluka karena hampir semua mana hitam ditampung di dalam giok ungu pada gelang yang ia pakai.”
Ekspresi wajah Nara mengendur. Seolah beban yang ada di pundaknya terangkat semua. Ia akhirnya bisa menghela napasnya lega.
Seorang wanita dengan paras ayu sedang menangis di kamarnya. Ia menangis seolah sedang patah hati, tangisan yang menyayat hati. Karena penasaran kenapa ia menangis, aku mendekati gadis itu. Jujur saja aku merasa asing dengan tempat ini. Begitu pun gadis yang menangis itu. Tapi, aku membuang segala prasangkaku.
“Kak, kenapa nangis?” tanyaku. Tapi, gadis itu tidak menggubrisku sama sekali. Saat hendak menyentuh wajahnya, aku baru menyadari kalau ternyata tanganku menembus dirinya. Aku belum mati dan jadi arwah, kan? batinku.
“Shinta, mau sampai kapan kamu mengurung diri, Ngger. Biyung dan romomu khawatir sama kamu,” seorang wanita mengetuk pintu kamar gadis yang dipanggil Shinta ini. Sepertinya, sekalipun tidak dikunci, ibunya masih menjunjung tinggi privasi untuk anak. Tapi, omong-omong biyung dan romo, kedua panggilan itu adalah sebutan ibu dan ayah pada zaman dahulu. Apa aku jadi time traveler? Lompat ke tahun berapa aku ini?
“Tidak mau, Biyung! Aku tidak mau keluar. Kenapa biyung dan romo malah menjodohkanku dengan lelaki itu? Aku tidak mencintainya. Hanya Kanda Wana yang kucinta,” rengek Shinta. Gadis itu masih terduduk dan menangis dengan pilu.
“Apa kamu lupa kalau Wana itu bukan manusia? Dia siluman, Ngger. Manusia dan siluman tidak mungkin bersama. Kamu jangan pernah lupakan ini,” tutur ibunya dengan amarah yang ditekan. Karena aku hanyalah sosok gaib, aku mencoba untuk menembus pintu untuk melihat apa yang terjadi di luar. Tapi gagal. Seolah aku hanya bida tahu apa yang ada di sekitarku saja.
“Aku tahu, Biyung. Tapi ada beberapa yang bisa hidup dengan siluman sampai akhir hayatnya,” bantah Shinta lagi. Sepertinya gadis itu benar-benar mencintai sosok yang dipanggil Wana itu.
“Sudahlah, Biyung! Anak pembangkang sepertinya seharusnya dicambuk agar mengerti! Wong mau dinikahi sama priayi kok malah menolak. Malah maunya sama siluman yang nggak jelas asal usulnya. Udah, seret saja dia keluar!” Sang ayah terdengar marah dari luar. Sepertinya masalah perjodohan ini menjadi masalah yang sangat rumit untuk orang-orang zaman dahulu. Bahkan rasanya perjodohan selalu menjadi tema utama dalam setiap kehidupan rumah tangga.
“Romo, sudah, Romo. Hentikan! Kasihan anak kita. Shinta anak kita satu-satunya. Jangan hukum dia, Romo!” cegah sang ibu. Sepertinya adegan drama di luar adalah adegan saling menahan antara suami dan istri untuk tidak mendobrak pintu anaknya.
“Tapi dia harus diberi pelajaran, Biyung! Biar tidak kurang ajar. Romo tidak tahu harus diletakkan di mana muka kita ini kalau sampai anak kita menolak lamaran seorang priayi.”
“Tapi bukan begini caranya, Romo!” kekeh sang ibu.
“Terus yang bagaimana? Membiarkan anakmu kabur dengan laki-laki tidak jelas itu dan bunting?” Emosi sang romo memuncak.
“Nyebut, Romo. Nyebut. Ya Tuhan. Bukan itu maksudnya. Anak kalau dikerasin bakal makin menjadi. Sudah, Romo. Biarkan anak kita itu sendiri. Jangan terlalu paksa dia,” isak si ibu. Sepertinya, romo mulai melunak. Terdengar dari helaan napasnya yang panjang.
“Baiklah. Kita biarkan sampai besok pagi. Kalau sampai dia masih tidak mau keluar, Romo akan paksa dia.”
“Baiklah, biyung setuju.”
Setelah itu, diriku tiba-tiba terasa tertarik oleh sebuah pusaran yang kuat. Ketika aku membuka mataku, wajah Nara yang sedang tertidur dalam posisi duduk tegak yang terlihat. Tangannya memegangi tanganku erat. Aku mencoba membalas genggamannya. Nara langsung membuka mata dan terlihat bahagia saat melihatku tersadar.
“Syukurlah. Syukurlah kamu sadar, Nara. Sebentar, aku panggil Nek Adya. Biar dia periksa kamu dulu.” Remaja itu langsung berlari keluar dengan girangnya.
Sepertinya tadi memang hanya mimpi. Tapi, siapa Shinta itu? Entahlah, semakin kupikirkan, justru kepalaku semakin sakit.
Nek Adya ikut berlari mengekor Nara yang antusias. Mereka nampak bahagia layaknya anak sekolah yang mendengar bel pulang.
“Tenang saja, Nar. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Arakata sepenuhnya sehat. Hanya perlu memulihkan tenaganya saja,” ucap Nek Adya setelah memeriksaku. Aku juga tidak merasakan sakit apa-apa, hanya tenagaku saja yang melemah. Aku baru sadar kalau ruangan yang kutempati ini sangat asing. Lalu, ketika aku menoleh ke arah jendela, di luar terlihat gelap seolah malam.
“Aku di mana, Nek?” tanyaku dengan suara lirih. Nek Adya dan Nara menoleh ke arahku.
“Kamu di istana di Majapahit, Na,” jawab Nek Adya.
“Aku khawatir. Kamu udah nggak sadar dua malam, Arakata,” sambung Nara. Aku sedikit terkejut. Siapa sangka kalau aku sudah selama itu tidak sadarnya? Kupikir aku baru saja pingsan beberapa jam yang lalu.
“Yang lain mana? Ayah juga ke mana? Ayah nggak kenapa-kenapa, kan?” cecarku. Nara dan Nek Adya saling memandang membuatku ketar-ketir. Aku khawatir kalau ada terjadi sesuatu padanya.
“Ayah kenapa, Nar? Jangan bikin aku jadi berpikir berlebihan!” seruku dengan suara yang agak serak.
“Tenang, Arakata. Ayahmu dan yang lainnya ada di kamar lain. Mereka kelelahan karena mengurusi semua yang harus diurusi. Jadi, kamu tidur saja. Besok pagi aku panggilkan beliau ke sini,” ucap Nara menenangkanku. Nek Adya juga mengangguk setuju.
“Okelah. Lagian ini masih malam. Nenek dan Nara istirahat juga. Aku juga masih merasa ngantuk. Bahkan badanku masih lemas semua,” ucapku.
“Baiklah. Nenek kembali ke kamar nenek dulu, ya? Ayo, Nar. Kamu juga harus istirahat. Masih ada satu kamar kosong di samping kamar nenek,” ajak Nek Adya. Tapi, Nara menggeleng. Lelaki itu malah duduk kembali ke kursinya dan menelungkupkan kepalanya ke samping ranjangku.
“Jangan ngadi-ngadi lu, ya! Keluar, nggak!” bentakku. Nara malah cemberut.
“Kamu nggak dengar Arakata bilang apa?” Nek Adya menjewer telinga lelaki itu.
“Aw, sakit, Nenek. Biarin aku di sini nemenin Arakata,” rengeknya.
“Aku berani sendiri, Nara!” ucapku kesal.
“Tuh, kan! Arakata berani sendiri. Jadi, kamu harus keluar. Ayo, keluar.” Nek Adya masih menjewer telinga Nara dan membawanya keluar kamar. Nara sendiri masih merengek meminta dilepaskan karena sakit. Aku terkekeh lemah. Tubuhku benar-benar lemas rasanya.
***
Setidaknya, tidurku semalam cukup untuk memulihkan sebagian tenagaku. Buktinya aku sudah bisa bangkit dari tempat tidurku dan pergi ke ruang makan. Pagi-pagi buta tadi, Ayah masuk ke dalam ruanganku dan memastikan aku telah sadarkan diri. Setelahnya, beliau memelukku erat sambil menitikkan air mata. Menurutnya, saat aku tak sadarkan diri, ia ketakutan kalau-kalau aku tidak bangun lagi.
“Kenapa kamu tidak bilang kalau mau ke ruang makan, Nak?” tanya Ayah khawatir. Beliau langsung menghampiriku dan memanduku ke salah satu kursi. Paman Hayam sudah duduk di salah satu sisi, berseberangan dengan ayah pada meja oval ini. Beberapa orang yang sudah lumayan berumur duduk di masing-masing sisi. Termasuk Nek Adya. Aku celingukan mencari Nara dan Wira, tapi keduanya tidak ada.
“Kamu nyari Nara dan Wira?” tanya Paman Hayam.
“Iya, Paman,” jawabku.
“Mereka tidak ada di sini. Ini hanya untuk orang-orang penting Swarnanusa saja,” jelas Paman. Aku langsung merasa tidak enak. Sepertinya aku salah masuk ke sini.
“Baiklah, Paman. Aku izin keluar. Maaf mengganggu waktu kalian,” pamitku.
“Eh, tunggu,” cegah paman. Aku menghentikan langkahku.
“Katanya cuma orang penting aja, Paman?”
“Kamu juga orang penting, Arakata. Kamu anak dari Maharaja negeri siluman dan Tuan Putri Swarnanusa. Kurang penting gimana coba?” tanyanya.
Aku akhirnya kembali lagi ke kursiku. Jamuan pertamaku dimulai.
“Omong-omong, untuk penghargaan pada teman-temanmu, kami berniat untuk memasukkannya ke akademi untuk mendalami bidang mereka. Sementara kamu, Arakata, masuk akademi adalah kewajibanmu. Terlebih sudah banyak yang tahu kalau kamu adalah orang dengan dua kemampuan. Sebelumnya kamu sudah melatih sihirmu dengan cara bangsa siluman. Kini, kamu harus mempelajarinya juga sihir bangsa manusia,” titah Paman Hayam. Mau tak mau aku mengangguk setuju saja, toh memang sudah waktunya untukku mengumumkan kehadiranku pada dunia. Menyuruhku masuk akademi dan mempelajari sihir berarti Paman Hayam hendak mendeklarasikan keberadaanku ke masyarakat luas.