Melati masih menatap unggahan Acha ketika suara pembawa acara memanggil namanya dari balik tirai. Ia buru-buru mematikan layar ponsel, lalu berdiri agar penata busana dapat merapikan gaun yang dikenakannya. Namun, pikirannya tetap tertinggal pada foto sepiring ayam goreng dan keterangan yang sengaja ditulis Acha.
Rumah yang punya restoran.
Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa ChicKING's Chicken berada di bawah Hardiansyah Group. Acha bukan hanya berhasil masuk ke rumah keluarga Dariel. Perempuan itu juga terlihat cukup nyaman untuk memotret makanan dan mengunggahnya seolah sudah menjadi bagian dari keluarga tersebut.
“Mbak Melati, sebentar lagi giliran Mbak,” ujar seorang kru.
Melati mengangguk. Senyum profesional langsung terpasang ketika ia melangkah ke panggung. Sorot lampu menyambutnya, begitu pula kilatan kamera yang biasanya mampu membuatnya melupakan segala masalah. Malam ini, tepuk tangan penonton terdengar jauh. Yang terbayang olehnya justru Sarah sedang tertawa bersama Acha di meja makan.
Seusai peragaan, Melati mengurung diri di ruang ganti. Ia menelepon Dariel, tetapi panggilannya tidak dijawab. Pesan yang dikirimnya hanya mendapat tanda terkirim.
“Masih makan bersama mereka?” gumamnya.
Pintu terbuka sebelum Melati sempat menyimpan ponsel. Vino masuk tanpa mengetuk. Wajah pamannya tampak lebih kusut daripada saat mereka bertemu pagi tadi.
“Kamu sudah putuskan soal agensi Dariel?” tanyanya.
“Belum.”
“Jangan bilang kamu mau ikut.”
Melati menatap pantulan wajah Vino melalui cermin. “Dariel membangun agensi itu untuk masa depan kami. Kalau saya menolak, dia akan curiga.”
“Kamu pikir aku tidak curiga?” Vino menurunkan suaranya. “Sarah tidak pernah menyukaimu. Sekarang tiba-tiba Acha masuk ke rumah mereka, lalu Dariel membeli kontrak kalian berdua. Semua itu terlalu kebetulan.”
Jari Melati mencengkeram tepi meja rias. “Mungkin Acha cuma memanfaatkan kesempatan.”
“Atau dia disuruh Sarah.”
Kemungkinan itu telah berputar di kepala Melati sejak melihat unggahan tadi. Namun, mendengarnya langsung dari Vino membuat kegelisahannya terasa nyata.
“Untuk apa Tante Sarah menyuruh Acha?” tanyanya, meski ia sudah mengetahui jawabannya.
Vino mendekat. “Untuk memisahkanmu dari Dariel sebelum mereka menemukan siapa kamu.”
Melati langsung menoleh. “Jangan bicara begitu di sini.”
“Kalau takut didengar orang, seharusnya dari awal kamu tidak melakukan kebodohan.”
Melati berdiri dan menghadap pamannya. “Saya melakukan semua itu juga untuk menyelamatkan Big5. Paman jangan bertingkah seolah hanya saya yang diuntungkan.”
Mereka saling menatap dengan kemarahan yang sama besar. Vino akhirnya mundur lebih dahulu ketika suara kru terdengar di lorong.
“Dekati Acha,” perintahnya. “Cari tahu perjanjiannya dengan Sarah. Jangan sampai dia lebih dulu membuka mulut.”
“Bagaimana caranya?”
“Itu urusanmu. Kamu yang selama ini mengaku bisa membuat Dariel percaya pada semua perkataanmu.”
Vino keluar, meninggalkan Melati dengan dada sesak. Kalimat terakhir pamannya menimbulkan rasa sakit yang aneh. Dariel memang selalu memercayainya. Pria itu bahkan menyembunyikan hubungan mereka demi melindungi kariernya. Di antara banyak kebohongan yang ia bangun, kasih sayang Dariel adalah satu-satunya hal yang terasa nyata.
Ponselnya bergetar. Nama Dariel muncul bersama sebuah pesan.
‘Maaf tadi makan sama Mama dan yang lain. Kamu sudah selesai acara?’
Melati menekan tombol panggilan video. Dariel segera menjawab. Pria itu terlihat berada di kamarnya dengan rambut masih agak basah.
“Kamu sudah pulang?” tanya Melati.
“Baru aja. Kamu masih di lokasi?”
“Iya.” Melati berusaha tersenyum. “Tadi Acha ke rumah kamu?”
Dariel mengangguk tanpa curiga. Ia menceritakan bahwa Acha datang untuk membicarakan tawaran agensi dan meminta maaf karena sempat menyalahkannya. Menurutnya, Sarah terlalu bersemangat menyambut Acha sampai memaksa mereka makan malam bersama.
“Kalian kelihatannya cepat dekat,” komentar Melati.
“Dia orangnya aneh, tapi asyik. Kayak punya adik yang lebih tua.” Dariel terkekeh.
“Adik yang lebih tua?”
“Cerita panjang. Kamu kenapa tanya-tanya Acha?”
Melati menggeleng. “Aku cuma lihat unggahannya. Tante Sarah kelihatannya suka sekali sama dia.”
Dariel tidak langsung menjawab. Ia tahu mamanya tidak pernah memberi sambutan serupa kepada Melati. “Mama memang sudah kenal Acha lebih lama. Jangan dipikirin, ya. Nanti aku bicara lagi sama Mama soal kita.”
“Jangan!” sergah Melati terlalu cepat.
Dariel mengernyit.
Melati segera melembutkan nada suaranya. “Maksudku, jangan sekarang. Agensi baru saja mau dibangun. Aku tidak mau hubungan kita malah bikin berita buruk.”
Alasan itu berhasil. Dariel mengangguk dan kembali membicarakan kontrak. Ia berharap Melati bersedia bergabung agar mereka tak perlu terus berada di bawah kendali Vino.
“Aku akan ikut,” jawab Melati akhirnya.
Keputusan itu membuat Dariel tersenyum lebar. Melati ikut tersenyum, meski pikirannya bekerja cepat. Jika ia berada di agensi yang sama, ia dapat mengawasi Acha dan menjaga Dariel tetap berada di sisinya.
Setelah panggilan berakhir, Melati membuka profil Acha sekali lagi. Jempolnya berhenti pada sebuah foto lama yang memperlihatkan Acha dan Firza di luar negeri.
Ia memperbesar wajah pria yang disebut sebagai ayah angkat Acha itu. Ada sesuatu yang terasa akrab, tetapi ia tidak berhasil mengingatnya.
Melati mengambil tangkapan layar dan mengirimkannya kepada Vino.
‘Cari tahu hubungan mereka. Aku akan masuk ke agensi Dariel.’
Balasan Vino datang tak lama kemudian.
‘Bagus. Jangan percaya siapa pun, terutama Acha.’
Pesan itu bukannya menenangkan, malah membuat Melati merasa semakin sendirian. Ia teringat ibunya yang dahulu selalu memintanya menjauhi urusan Vino. Larangan itu tidak pernah disertai penjelasan, hanya tatapan takut setiap kali nama Big5 disebut. Setelah ibunya meninggal, Vino datang sebagai paman yang mengurus biaya sekolah dan membuka jalan menuju dunia model. Melati membalasnya dengan kepatuhan, setidaknya sampai dirinya mengenal Dariel.
Dariel berbeda dari orang-orang yang mendekatinya karena wajah atau popularitas. Pria itu pernah menunggunya berjam-jam di ruang gawat darurat dan tidak membiarkan wartawan mengambil fotonya saat sakit. Melati memang mendekatinya atas permintaan Vino, tetapi rasa cintanya tidak sepenuhnya palsu.
“Aku gak akan kehilangan kamu,” bisiknya pada foto Dariel di layar.
Ia kemudian membuat akun baru tanpa nama dan mengirim pesan kepada Acha. Isinya hanya satu kalimat: ‘Kalau kamu ingin tahu alasan Melati mendekati Dariel, tanyakan siapa yang menghancurkan ibunya.’ Melati ingin melihat apakah Acha akan membawa pesan itu kepada Sarah. Jika iya, kecurigaannya benar. Jika tidak, mungkin Acha memiliki permainan sendiri.
Melati mengunci ponselnya. Ia tidak tahu bahwa pada malam yang sama, di dalam mobil yang meninggalkan kediaman Hardiansyah, seseorang lain juga sedang berjanji untuk tidak mempercayai sandiwara Acha begitu saja.