Di dalam mobil, Acha duduk sambil memandangi lampu jalan yang berlari mundur di balik kaca. Lina mengemudi tanpa banyak bicara. Ryo berada di kursi penumpang depan karena mereka harus mengantarnya kembali ke apartemen untuk mengambil mobil.
Sejak meninggalkan rumah Dariel, Ryo hampir tidak bersuara. Acha beberapa kali melihat bayangannya melalui kaca tengah. Rahang pria itu mengeras dan pandangannya lurus ke depan.
“Pak Ryo sakit gigi?” tanya Acha akhirnya.
“Tidak.”
“Terus kenapa mukanya ditekuk begitu?”
“Biasa saja.”
Acha mendengus. “Kalau mau marah karena rencana tadi, bilang aja. Jangan bikin udara mobil jadi dingin.”
Lina melirik keduanya, lalu berpura-pura sibuk memperhatikan jalan. Ryo masih bertahan dalam diam sampai mereka tiba di basement apartemen. Ia turun, tetapi bukannya menuju mobil sendiri, ia justru membukakan pintu belakang untuk Acha.
“Kita bicara sebentar,” katanya.
Acha mengangkat alis. “Di sini?”
“Di tempat yang tidak didengar Lina.”
Lina langsung menundukkan kepala. Acha turun dan mengikuti Ryo ke sudut parkiran yang sepi. Suara mesin pendingin gedung berdengung di antara mereka.
“Saya tahu Mbak Acha harus menjalankan pekerjaan dari Bu Sarah,” ujar Ryo. “Tapi apa semua itu harus dilakukan sampai menangis di depan Pak Dariel?”
“Ya, kalau perlu.”
“Air mata Mbak bukan alat.”
Acha tertawa pendek, meski tidak merasa lucu. “Sejak kapan Pak Ryo boleh menentukan apa yang bisa aku pakai buat kerja?”
“Sejak saya melihat Mbak benar-benar terluka setiap harus mengingat agensi itu.”
Ucapan tersebut tepat mengenai bagian yang berusaha disembunyikan Acha. Tangisnya di depan Dariel memang dimulai sebagai sandiwara, tetapi kenangan tentang lima tahun bersama Big5 membuat air matanya berubah sungguhan.
“Aku baik-baik aja,” katanya.
“Mbak selalu bilang begitu.”
“Karena memang begitu.”
Ryo menatapnya dalam-dalam. “Saya tidak cemburu karena Pak Dariel menyentuh pundak Mbak.”
Acha tersentak karena lelaki itu menyebut kata yang sedari tadi sengaja mereka hindari.
“Siapa yang bilang Pak Ryo cemburu?”
“Saya sendiri.” Ryo menarik napas. “Saya cemburu. Tapi saya lebih marah karena Mbak terus membuat diri sendiri seolah tidak punya perasaan.”
Acha kehilangan jawaban. Pria di hadapannya biasanya tenang, sopan, dan selalu memanggilnya dengan jarak yang aman. Pengakuan itu merobohkan batas yang selama ini mereka pura-pura tidak lihat.
“Pak Ryo lupa ya, aku ini apa?” tanyanya pelan. “Aku dibayar buat merebut perhatian laki-laki. Jangan menaruh perasaan pada orang seperti aku.”
“Pekerjaan itu bukan seluruh diri Mbak.”
“Pak Ryo gak kenal aku.”
“Mungkin. Karena setiap kali saya mendekat, Mbak menjadikan semuanya lelucon.”
Acha memalingkan wajah. Ada dorongan untuk membalas dengan candaan, tetapi kali ini tidak satu pun terasa cukup kuat.
“Kalau perasaan Pak Ryo mengganggu pekerjaan, mundur aja,” katanya. “Tante Sarah bisa cari asisten lain.”
Ryo tampak terluka, namun ia tidak pergi. “Saya akan tetap menyelesaikan tugas saya. Hanya saja, saya tidak akan membantu kalau rencana Mbak membahayakan diri sendiri.”
“Aku gak butuh perlindungan.”
“Baik. Anggap saja itu batas kerja saya.”
Ryo mengeluarkan kartu akses cadangan milik Acha yang selama ini disimpannya untuk keadaan darurat. Ia meletakkannya di telapak tangan perempuan itu.
“Saya juga mengembalikan ini supaya Mbak tidak merasa saya memakai pekerjaan untuk mendekat,” katanya.
Acha menutup jemarinya pada kartu tersebut. Benda kecil itu mendadak terasa berat. “Aku gak pernah bilang Pak Ryo memanfaatkan pekerjaan.”
“Tapi saya perlu memastikan batasnya jelas. Kalau suatu saat Mbak meminta saya masuk lagi, saya ingin itu karena Mbak percaya, bukan karena saya kebetulan punya akses.”
Ryo berjalan menuju mobilnya. Acha berdiri mematung sampai suara mesin kendaraan pria itu menghilang dari basement.
Ketika kembali masuk ke mobil, Lina tidak menanyakan apa pun. Sikap itu justru membuat Acha kesal.
“Kamu gak penasaran?”
“Kalau Mbak mau cerita, Mbak pasti cerita.”
“Kalian kompak banget bikin aku kesel malam ini.”
Lina tersenyum tipis. “Pak Ryo orang baik.”
“Aku gak bilang dia jahat.”
“Mbak takut sama orang baik?”
Acha menatap asistennya tajam, tetapi Lina telah memusatkan perhatian pada jalan. Pertanyaan itu mengikuti Acha sampai ke kamar.
Keesokan paginya, sebuah pesan dari Dariel sudah menunggu. Ia mengirim rancangan kontrak agensi baru dan meminta Acha membacanya. Tidak ada jebakan denda, pembagian keuntungan jauh lebih adil, dan artis diberi hak menentukan pekerjaan yang mereka terima.
Acha membaca setiap halaman dua kali. Dariel benar-benar berusaha membuat tempat yang lebih baik untuknya dan Melati. Rasa bersalah muncul saat ia mengingat tugas dari Sarah: membuat Dariel melihat wajah asli kekasihnya, sekalipun untuk itu Acha harus tampak seperti perempuan ketiga.
Pesan lain masuk, kali ini dari Sarah.
‘Bagaimana semalam? Dariel mulai dekat?’
Acha mengetik jawaban, menghapusnya, lalu mengetik lagi.
‘Dia percaya sama saya. Tapi saya butuh bukti soal Melati. Saya gak mau menghancurkan hubungan orang hanya karena dugaan.’
Sarah menelepon seketika.
“Tante punya bukti,” katanya tanpa salam. “Tapi belum cukup membuat Dariel percaya. Melati pandai membalikkan keadaan.”
“Bukti apa?”
“Datang ke kantor Tante sore ini. Jangan bawa Dariel.”
Telepon ditutup. Acha menatap layar dengan perasaan tidak enak. Ia menyadari permainannya bukan lagi sekadar membuat seorang lelaki cemburu. Ada rahasia yang membuat Sarah rela membayar tujuh miliar, dan rahasia itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkannya.
Sebelum bersiap pergi, Acha menerima pesan dari akun tanpa foto. Ia membaca kalimat tentang ibu Melati berkali-kali. Ketika dibalas, akun tersebut tidak menjawab. Acha memeriksa daftar pengikut dan waktu pembuatannya, tetapi tidak menemukan petunjuk.
Ia menunjukkan pesan itu kepada Lina. Asistennya menduga pengirim ingin memancing Acha agar menyelidiki Sarah. Acha mempunyai dugaan lain: seseorang sedang menguji tindakannya.
“Jangan bilang Tante Sarah dulu,” pesan Acha.
“Mbak curiga sama beliau?”
“Aku curiga sama semua orang yang bayar tujuh miliar cuma buat mutusin pacaran anaknya.”
Lina mengingatkan bahwa menyimpan rahasia dapat dianggap melanggar perjanjian. Acha tetap pada keputusannya dan menyimpan tangkapan layar. Sesaat kemudian, akun misterius itu mengirim foto koran lama mengenai penggelapan dana yang tidak pernah sampai ke pengadilan. Di bawah foto terdapat nama yang dikenal Acha dengan sangat baik: Firza Mahendra.