Sarah menunggu Acha di ruang kerja yang berada di lantai dua gedung utama Hardiansyah Group. Kali ini tidak ada keramahan berlebihan atau makanan di atas meja. Sebuah map cokelat terletak di hadapannya.
Ryo berdiri di dekat jendela. Ia menyapa Acha secara formal, seolah percakapan di basement tidak pernah terjadi. Sikap itu seharusnya memudahkan, tetapi justru membuat Acha tidak nyaman.
“Duduk, Cha,” perintah Sarah.
Acha mengambil kursi di seberangnya. “Tante bilang punya bukti.”
Sarah mendorong map tersebut. Di dalamnya terdapat laporan transaksi, foto Melati bersama Vino, serta salinan dokumen sebuah perusahaan periklanan. Beberapa angka diberi tanda merah.
“Big5 hampir bangkrut dua tahun lalu,” jelas Sarah. “Vino mendapat proyek promosi dari salah satu anak perusahaan kami. Nilainya dibesarkan, lalu sebagian uang dikirim ke rekening lain.”
“Rekening Melati?” tebak Acha.
“Atas nama ibunya. Melati mendekati Dariel tidak lama setelah audit internal dimulai.”
Acha membaca laporan itu lebih teliti. “Ini masih belum membuktikan dia pacaran sama Dariel karena uang.”
“Tante tidak pernah bilang hanya soal uang.” Sarah mengeluarkan foto lain. “Dia masuk ke ruang kerja Dariel dan memotret dokumen penawaran bisnis. Beberapa hari kemudian, informasi yang sama dipakai pesaing kami.”
Wajah dalam rekaman kamera memang menyerupai Melati. Namun sudutnya tidak cukup jelas untuk menjadi bukti yang tak terbantahkan.
“Dariel sudah lihat?”
Sarah menggeleng. “Kalau Tante tunjukkan sekarang, dia akan bilang kami memfitnah kekasihnya. Dariel merasa bertanggung jawab melindungi Melati karena hubungan mereka dirahasiakan.”
“Makanya Tante butuh aku buat memisahkan mereka dulu.”
“Tante butuh Dariel berhenti menutup mata.”
Acha menutup map. “Atau Tante cuma gak suka pilihan anak Tante.”
Sarah terdiam. Ketegangan muncul di wajahnya. “Awalnya mungkin iya. Tante mengakui itu. Tapi setelah uang perusahaan hilang dan informasi bocor, ini bukan lagi masalah suka atau tidak suka.”
Pengakuan tersebut sedikit mengubah penilaian Acha. Setidaknya Sarah tidak berpura-pura menjadi ibu yang selalu benar.
“Apa tugas aku sebenarnya?” tanya Acha. “Membuat Dariel jatuh cinta, atau mencari bukti?”
“Keduanya kalau diperlukan.”
“Aku gak mau tidur sama dia.”
Sarah langsung menggeleng. “Tidak pernah ada perintah seperti itu.”
“Aku perlu dengar Tante bilang.” Acha menunjuk map. “Aku akan mendekati Dariel dan mengawasi Melati. Tapi kalau ternyata Melati bersih, aku berhenti. Dan bukti apa pun harus ditunjukkan pada Dariel. Kita gak boleh cuma mengatur perasaannya dari belakang.”
“Kamu mulai membela Dariel?”
“Aku membela diriku. Aku pelakor bayaran, bukan penipu yang menghancurkan orang tanpa alasan.”
Sarah menatap Ryo, kemudian kembali kepada Acha. “Baik. Tante setuju.”
Pertemuan berakhir setelah Acha mengambil salinan laporan. Ketika ia berjalan menuju lift, Ryo menyusul dan menahan pintu untuknya.
Mereka berada di dalam ruang sempit itu berdua. Angka lantai turun perlahan.
“Soal semalam—” Acha memulai.
“Tidak perlu dibahas kalau Mbak tidak mau.”
“Pak Ryo marah?”
“Saya sedang belajar menerima batas yang Mbak minta.”
Jawaban itu membuat Acha lebih gelisah daripada kemarahan. Pintu lift terbuka. Di luar, Lina menunggu sambil memegang dua gelas kopi.
Sebelum Acha keluar, Ryo berkata, “Hati-hati pada Vino. Dia tahu Bu Sarah sedang menyelidikinya.”
“Pak Ryo dapat informasi dari mana?”
“Orang yang mengikuti Melati melihat Vino menemui mantan staf keuangan perusahaan kami kemarin.”
Acha menatap map di tangannya. “Berarti mereka tahu kita punya bukti.”
“Atau sedang mencari tahu sejauh apa yang kita miliki.”
Siang itu Acha menjalani pemotretan bersama Melati. Untuk pertama kalinya, perempuan yang biasanya menjaga jarak itu menghampirinya saat jeda.
“Kak Acha jadi masuk ke agensi Dariel?” tanya Melati ramah.
“Jadi. Kamu juga, kan?”
“Iya. Berarti kita bakal sering ketemu.”
“Bagus dong. Bisa makin akrab.”
Keduanya tersenyum, sama-sama mengetahui bahwa senyum di hadapan mereka adalah topeng.
Melati kemudian menunjukkan foto Firza dari ponselnya. “Ini ayah angkat Kak Acha?”
Acha menjaga ekspresinya. “Iya. Kenapa?”
“Kayaknya pernah lihat. Dia pebisnis juga?”
“Cuma orang biasa yang kebanyakan jalan-jalan.”
Melati mengembalikan ponselnya ke dalam tas. “Aku penasaran aja. Kak Acha jarang cerita soal keluarga.”
“Kamu juga.”
Tatapan mereka bertemu. Melati tersenyum lebih lebar, lalu dipanggil penata rias.
Acha segera mengirim pesan kepada Firza, menanyakan apakah ia pernah berurusan dengan Big5 atau keluarga Melati. Balasan ayah angkatnya datang sejam kemudian.
‘Jangan bicarakan itu lewat telepon. Ayah pulang lusa.’
Acha membaca pesan itu berulang-ulang. Dadanya berdebar. Firza bukan orang yang mudah dibuat khawatir. Jika pria itu meminta bertemu langsung, berarti hubungan masa lalu tersebut bukan perkara sederhana.
Ia menelepon Firza, tetapi ayah angkatnya menolak membahasnya melalui sambungan telepon. Firza hanya berpesan agar Acha tidak menandatangani dokumen baru dari Vino dan tidak menyerahkan salinan bukti kepada siapa pun.
“Termasuk Tante Sarah?” tanya Acha.
“Termasuk dia, sampai Ayah menjelaskan semuanya.”
Setelah panggilan berakhir, Acha kembali memeriksa map. Sebuah nomor rekening dalam laporan Sarah sama dengan nomor yang tampak samar pada potongan koran dari akun misterius. Nama pemiliknya ditutupi, tetapi rangkaian angka itu menunjukkan kedua kasus saling berhubungan.
Ryo melihat kegelisahannya dan menawarkan mengantar pulang. Acha awalnya menolak, lalu berubah pikiran ketika melihat sebuah mobil hitam terparkir di seberang gedung. Ryo meminta petugas keamanan mencatat pelatnya. Mobil itu pergi sebelum mereka mendekat.
“Mbak masih merasa tidak membutuhkan perlindungan?” tanya Ryo.
“Aku butuh orang yang bisa nyetir sambil lihat spion,” jawab Acha, mencoba bercanda.
Namun sepanjang perjalanan ia tidak tertawa lagi. Seseorang telah mengetahui langkah mereka, dan Acha belum tahu apakah orang itu hendak membantu atau membungkamnya.
Sesampainya di apartemen, Acha meminta Lina mengganti kata sandi pintu dan memeriksa rekaman kamera. Tidak ada orang asing yang masuk, tetapi seorang petugas menerima kiriman bunga tanpa nama pada siang hari. Di antara bunganya terselip kartu bertuliskan, ‘Berhenti sebelum masa lalu ayahmu ikut terbuka.’
Acha memotret kartu itu lalu memasukkannya ke plastik. Ancaman tersebut membuktikan Firza bukan sekadar saksi lama. Vino memiliki sesuatu yang dianggap cukup berbahaya untuk memaksa mereka diam.
“Kita lapor polisi?” tanya Lina.
“Setelah Ayah pulang,” jawab Acha. “Sebelum itu, jangan buka pintu buat siapa pun.”