Firza tiba dua hari kemudian. Acha menjemputnya di bandara bersama Lina, meski pria itu sudah mengatakan dapat pulang sendiri. Sepanjang perjalanan, Firza membicarakan cuaca dan pekerjaan seolah tidak pernah mengirim pesan misterius.
Kesabaran Acha habis begitu mereka tiba di apartemen.
“Ayah kenal Vino sama keluarga Melati, kan?” tanyanya tanpa basa-basi.
Firza meletakkan koper dan meminta Lina menunggu di ruang lain. Acha menolak.
“Lina tahu hampir semua urusanku. Dia tetap di sini.”
Firza akhirnya duduk. “Ayah pernah menjadi pemegang saham Big5.”
Acha merasa salah dengar. Selama lima tahun berada di agensi itu, ia tidak pernah mengetahui hubungan Firza dengan perusahaan yang menaunginya.
“Sejak kapan?”
“Sebelum kamu bergabung. Ayah menjual saham setelah mengetahui Vino memalsukan laporan keuangan.”
“Kenapa Ayah gak pernah bilang?”
“Karena waktu itu kamu menolak bantuan Ayah. Kamu ingin membangun karier dengan usaha sendiri. Saat Vino menawarkan kontrak, kamu sudah menandatanganinya sebelum Ayah sempat memeriksa.”
Acha berdiri dengan marah. “Tapi Ayah tetap bisa kasih tahu siapa dia!”
“Ayah mencoba. Kamu bilang Ayah terlalu mengatur hidupmu.”
Kenangan itu perlahan kembali. Lima tahun lalu, ia memang sedang berusaha membuktikan bahwa hidupnya tidak bergantung pada Firza. Setiap peringatan dianggap sebagai keraguan terhadap kemampuannya.
“Terus hubungannya sama Melati?” tanya Acha.
Firza mengeluarkan sebuah penyimpan data kecil dari dompet. “Ibu Melati dulu mengurus pembukuan pribadi Vino. Dia memindahkan dana perusahaan atas perintah Vino. Ketika audit dimulai, namanya dijadikan pihak yang bertanggung jawab.”
“Jadi Melati mau balas dendam?”
“Ayah tidak tahu. Ibunya meninggal tidak lama setelah kasus itu ditutup. Melati mungkin menyalahkan banyak orang, termasuk Hardiansyah Group yang memutus proyek Big5.”
Acha menerima penyimpan data tersebut. Di dalamnya, menurut Firza, terdapat salinan laporan keuangan sebelum Vino mengubah angka. Bukti itu cukup menunjukkan bahwa Vino adalah pelaku utama, tetapi belum membuktikan keterlibatan Melati saat ini.
“Kenapa Ayah simpan selama ini?”
“Ayah pernah ingin membawanya ke pengadilan. Ibu Melati memohon agar kasus tidak dilanjutkan karena Vino mengancam akan menyeretnya. Setelah dia meninggal, Ayah merasa sudah terlambat.”
Acha duduk kembali. Cerita yang awalnya tampak sederhana berubah menjadi jaring kebohongan antargenerasi. Melati mungkin bersalah karena membocorkan dokumen Dariel, tetapi ia juga bisa menjadi korban Vino sejak kecil.
“Aku sedang bekerja buat Tante Sarah,” ujar Acha kemudian. “Dia bayar aku untuk memisahkan Dariel dan Melati.”
Firza tidak terlihat terkejut. “Ayah sudah menduga pekerjaanmu kali ini melibatkan mereka.”
“Ayah marah?”
“Ayah tidak menyukai pekerjaanmu, tetapi melarangmu tidak pernah berhasil.” Firza tersenyum sedih. “Ayah hanya ingin kamu tahu kapan harus berhenti sebelum kebohongan orang lain membuatmu kehilangan dirimu sendiri.”
Ucapan itu hampir sama dengan peringatan Ryo. Acha mendengus dan menutupi kegelisahannya dengan mengambil minuman.
Malam itu ia meminta Ryo datang untuk menyalin isi penyimpan data. Ryo tiba dengan laptop dan sikap formal yang sama. Firza memperhatikannya cukup lama sebelum mengajak Lina membeli makan malam, sengaja meninggalkan mereka berdua.
“Ayahku aneh,” keluh Acha.
“Menurut saya, beliau memberi kita ruang bicara.”
“Gak ada yang perlu dibicarakan.”
Ryo memasang penyimpan data, lalu membuka sejumlah berkas. “Baik.”
Keheningan terasa menyiksa. Acha akhirnya menarik kursi ke samping Ryo. Mereka memeriksa laporan transaksi satu demi satu. Nama ibu Melati muncul sebagai penerima dana, tetapi tanda persetujuan digital mengarah kepada komputer Vino.
Di antara berkas, ada rekaman suara lama. Suara seorang perempuan memohon kepada Vino agar berhenti memakai rekeningnya. Vino mengancam akan membuat anak perempuan itu kehilangan sekolah jika ia membuka mulut.
Acha menekan tombol jeda.
“Melati pasti tahu soal ini,” katanya.
“Belum tentu semuanya.”
“Kalau dia tahu Vino menghancurkan ibunya, kenapa masih kerja sama?”
“Takut, utang budi, atau karena punya tujuan sendiri.” Ryo menutup laptop. “Kita perlu mendengar dari Melati.”
Acha menatapnya. “Kita?”
“Saya masih bagian dari pekerjaan ini.”
“Dan perasaan Pak Ryo?”
Ryo terdiam beberapa detik. “Itu tanggung jawab saya, bukan beban yang harus Mbak selesaikan.”
Acha tidak terbiasa menerima pengakuan tanpa tuntutan. Ia ingin menjauh, tetapi untuk pertama kalinya juga ingin meminta Ryo tetap tinggal.
Firza dan Lina kembali membawa makanan, memutus percakapan mereka. Saat makan, Firza beberapa kali mengamati Ryo dan menanyakan latar belakang pekerjaannya dengan nada seorang ayah yang sedang melakukan wawancara. Ryo menjawab tenang, meski Acha berkali-kali memotong karena malu.
“Ayah gak usah interogasi asisten orang,” protesnya.
“Ayah cuma ingin tahu siapa yang akan mendampingi kamu menghadapi Vino.”
“Aku bisa mendampingi diri sendiri.”
Firza tersenyum. “Orang mandiri tetap boleh punya kawan.”
Mereka sepakat membuat tiga salinan bukti dan menyimpannya di tempat berbeda. Firza memegang satu, Ryo akan menyerahkan satu kepada pengacara, sementara Acha menyimpan satu di brankas apartemen. Jika Vino berusaha mengambil bukti itu, mereka tidak akan kehilangan semuanya.
Lina kemudian memperlihatkan rekaman kamera basement. Mobil hitam yang mengikuti Acha sempat masuk, tetapi pengemudinya menutupi wajah. Nomor pelatnya terdaftar atas nama perusahaan penyewaan yang sering digunakan Big5.
“Berarti Vino tahu kita menyelidiki dia,” kata Acha.
Ryo mengangguk. “Acara besok bisa menjadi jebakan.”
“Atau kesempatan membuat dia panik dan melakukan kesalahan.”
Firza melarang Acha menjadikan dirinya umpan. Acha menjawab bahwa Vino telah lebih dahulu menyeretnya sejak mengambil sebagian besar hasil kerjanya selama lima tahun. Ia tidak ingin terus bersembunyi hanya karena lelaki itu menyimpan rahasia.
“Berani bukan berarti berjalan tanpa rencana,” kata Firza.
Akhirnya mereka menyepakati tanda darurat. Lina akan berada dekat Acha sepanjang acara, Ryo memantau pintu keluar, dan Firza menunggu kabar dari apartemen. Jika Acha tidak mengirim pesan setiap satu jam, Firza akan menghubungi keamanan serta pengacaranya.
Ponselnya berdering sebelum ia memilih. Dariel mengajaknya menghadiri acara perkenalan calon tim agensi esok malam. Melati juga akan datang.
Acha memperlihatkan pesan itu kepada Ryo. “Kesempatan bagus buat lihat mereka bersama.”
Ryo mengangguk. “Tapi jangan hadapi Melati sendiri. Vino pasti sedang mengawasi.”
Acha tersenyum tipis. “Pak Ryo takut aku kenapa-napa?”
“Sangat.”
Jawaban jujur itu kembali membuat senyum Acha menghilang. Malam tersebut, rahasia lama telah terbuka, tetapi justru perasaan yang selama ini mereka sembunyikan menjadi hal paling sulit untuk dihadapi.