Acara perkenalan agensi baru diadakan di sebuah restoran milik Hardiansyah Group. Dariel hanya mengundang tim inti, beberapa calon artis, dan keluarga. Belum ada wartawan karena perusahaan itu bahkan belum memiliki nama resmi.
Acha datang mengenakan gaun hitam sederhana. Lina berjalan di belakangnya, sementara Ryo sudah lebih dahulu berada di lokasi bersama Sarah. Tatapan Ryo mengikuti Acha sejak ia masuk, tetapi pria itu segera memusatkan perhatian pada pekerjaannya.
Dariel menyambut Acha di pintu. “Akhirnya datang juga, Dek Tua.”
“Kalau manggil aku begitu terus, aku batal gabung.”
“Jangan! Kontraknya sudah disiapkan.” Dariel tertawa dan mengulurkan tangan untuk membawanya ke meja utama.
Acha menerima tangan itu karena melihat Melati sedang berdiri tidak jauh dari mereka. Senyum Melati tidak berubah, tetapi genggamannya pada gelas terlihat mengencang.
Sandiwara dimulai.
Dariel memperkenalkan Acha kepada beberapa calon staf. Ia sering meminta pendapat Acha mengenai konsep agensi, membuat Melati semakin tersisih. Acha tidak menikmatinya. Setiap kali melihat wajah Melati, ia teringat suara ibu perempuan itu dalam rekaman.
“Kak Acha cepat sekali cocok sama semua orang,” kata Melati ketika mereka akhirnya berhadapan.
“Aku cuma suka ngobrol.”
“Termasuk sama pacar orang?”
Kalimat itu diucapkan sambil tersenyum agar tamu lain mengira mereka sedang bercanda.
Acha ikut tersenyum. “Kalau pacarnya gak keberatan, kenapa enggak?”
“Dariel memang terlalu baik. Kadang dia gak sadar sedang dimanfaatkan.”
“Kamu sadar?”
Mata Melati menajam. Sebelum ia menjawab, Sarah datang dan menggandeng lengan Acha.
“Cha, kenalan sama teman Tante dulu,” ajaknya.
Melati ditinggalkan sendirian. Acha dapat merasakan kemarahan perempuan itu tanpa perlu menoleh.
Setelah acara makan dimulai, Dariel menyampaikan rencananya. Agensi tersebut akan memberi ruang kepada artis untuk memiliki kendali lebih besar atas karya dan citra mereka. Acha terkejut mendengar beberapa gagasan Dariel berasal dari keluhannya selama ini.
“Dua artis pertama yang saya harap bersedia bergabung adalah Melati dan Acha,” kata Dariel.
Semua orang bertepuk tangan. Melati bangkit dan memeluk Dariel. Ia melakukannya cukup lama, seolah ingin menandai kepemilikannya di hadapan Acha dan Sarah.
Sarah memalingkan wajah. Acha melihat ibu itu menahan diri agar tidak merusak acara putranya.
Ketika Dariel dipanggil staf lain, Melati mengikuti Acha ke balkon.
“Berapa Tante Sarah bayar Kak Acha?” tanyanya langsung.
Acha berhenti berjalan, tetapi tidak berbalik. “Bayar apa?”
“Gak perlu pura-pura. Kak Acha gak mungkin tiba-tiba tertarik sama Dariel.”
Acha menghadapnya. “Kamu cemburu?”
“Aku kasihan sama Kak Acha. Sudah terkenal tapi masih menerima pekerjaan kotor.”
“Setidaknya aku tahu pekerjaanku kotor.” Acha mendekat satu langkah. “Kamu tahu pekerjaan Vino juga kotor?”
Wajah Melati memucat. Reaksi singkat itu cukup memberi jawaban.
“Aku gak tahu apa maksud Kak Acha.”
“Tanyakan sama pamanmu soal uang yang dikirim lewat rekening ibumu.”
Melati menampar Acha.
Suara tamparan membuat beberapa orang di dalam restoran menoleh. Dariel berlari ke balkon dan berdiri di antara mereka.
“Apa-apaan ini?” tanyanya.
Melati langsung menangis. “Acha menghina Mama aku.”
Dariel menatap Acha, menunggu penjelasan. Rencana Acha seharusnya sederhana: membiarkan Dariel membela Melati, lalu memakai kejadian itu untuk membuat hubungan mereka retak perlahan. Namun, melihat kebingungan di wajah pria tersebut membuat Acha muak pada sandiwaranya sendiri.
“Aku memang membicarakan ibunya,” aku Acha. “Tapi bukan menghina.”
“Dia bohong!” seru Melati. “Dia dibayar Tante Sarah buat merebut kamu!”
Ruangan mendadak sunyi.
Wajah Dariel berubah. Ia melihat mamanya, kemudian Acha. Sarah bangkit dari kursi, tetapi tidak sempat berkata apa-apa.
“Itu benar?” tanya Dariel kepada Acha.
Acha bisa menyangkal. Tidak ada kontrak yang dibawa Melati, dan Sarah pasti akan mendukung kebohongannya. Namun ucapan Firza terngiang: berhenti sebelum kebohongan orang lain membuatmu kehilangan dirimu sendiri.
“Benar,” jawab Acha.
Dariel mundur seolah baru saja dipukul. “Jadi semua yang kamu lakukan cuma pekerjaan?”
Acha menelan sesak di tenggorokannya. “Awalnya iya.”
“Awalnya?”
“Aku datang untuk membuat kamu menjauh dari Melati. Tapi ada alasan lain yang harus kamu tahu.”
Melati menyela sebelum Acha menjelaskan. “Alasan apa pun gak mengubah kenyataan kalau dia menipu kamu. Tante Sarah memperlakukannya seperti keluarga cuma supaya dia bisa mengambil tempatku.”
“Cukup, Mel,” kata Dariel. Suaranya tidak lagi selembut biasanya.
Sarah meminta para tamu kembali ke ruang makan agar persoalan pribadi tidak menjadi tontonan. Beberapa orang menurut, sedangkan staf agensi berdiri kebingungan. Acara yang dirancang sebagai awal baru telah berubah menjadi pembongkaran rahasia di depan banyak saksi.
Acha mengeluarkan ponsel untuk menunjukkan laporan transaksi. Melati mencoba merebutnya, tetapi Ryo menahan pergelangan tangannya sebelum perangkat itu jatuh.
“Jangan sentuh saya!” bentak Melati.
Dariel melihat nama Vino pada dokumen yang terbuka di layar. “Apa hubungan semua ini sama Om Vino?”
Melati tidak menjawab. Matanya bergerak mencari jalan keluar, sementara Sarah meminta petugas menjaga pintu tanpa menyentuh siapa pun.
“Aku kasih kamu kesempatan buat bicara,” ujar Dariel kepada kekasihnya. “Sekali aja, jangan sembunyikan apa pun.”
Air mata Melati kali ini tampak sungguhan. Namun sebelum ia membuka mulut, ponselnya berdering. Nama Vino terpampang jelas. Melati menolak panggilan itu, dan tindakan kecil tersebut membuat kecurigaan di wajah Dariel semakin dalam.
Dariel menggeleng. “Aku gak mau dengar.” Ia menatap Sarah dengan luka yang sama besar. “Mama bayar orang buat mempermainkan aku?”
“Dariel, Mama berusaha melindungi kamu.”
“Dengan bohong?”
Dariel mengambil kunci mobil dan meninggalkan restoran. Ryo bergerak hendak menyusul, tetapi Acha menahannya.
“Biar aku,” katanya.
Melati mencoba mengikuti. Sarah menghadang dan meminta petugas keamanan menutup pintu depan. Untuk pertama kalinya, topeng ramah di wajah ibu itu menghilang sepenuhnya.
“Kita semua akan bicara,” kata Sarah kepada Melati. “Tidak ada lagi yang pergi sebelum kebenarannya dibuka.”
Acha berlari keluar. Mobil Dariel sudah melaju meninggalkan halaman. Ia segera masuk ke mobil Lina dan meminta asistennya mengejar.
Permainan yang mereka bangun akhirnya pecah lebih cepat dari rencana. Kini Acha tidak lagi mengejar uang tujuh miliar atau keberhasilan tugasnya. Ia hanya ingin menemukan Dariel sebelum rasa dikhianati membawa pria itu melakukan sesuatu yang berbahaya.