Lina menekan pedal gas setelah mobil Dariel menghilang di tikungan. Acha duduk di sebelahnya sambil terus menelepon, tetapi panggilannya berkali-kali ditolak. Pesan yang dikirimnya hanya dibaca tanpa balasan.
“Jangan terlalu dekat,” kata Acha ketika mereka melihat lampu belakang mobil Dariel. “Dia lagi emosi. Kalau tahu kita ngikutin, dia malah makin ngebut.”
Dariel melaju menuju jalan di pinggir kota. Hujan tipis mulai turun dan membuat aspal berkilau. Acha mencengkeram sabuk pengaman setiap kali mobil di depan berpindah jalur secara mendadak.
Setelah hampir setengah jam, Dariel berhenti di sebuah lapangan basket terbuka. Tempat itu sepi karena hujan. Ia turun dan duduk di tribun tanpa memedulikan pakaiannya yang basah.
Acha meminta Lina menunggu di mobil. Ia mengambil payung, lalu menghampiri Dariel dengan langkah perlahan. Pria itu mengetahui kehadirannya, tetapi tidak menoleh.
“Pulang,” katanya.
“Aku cuma mau jelasin.”
“Aku gak butuh penjelasan dari pembohong.”
Acha berdiri beberapa anak tangga di bawahnya. Payung melindungi tubuh Dariel lebih banyak daripada dirinya sendiri.
“Aku memang dibayar Tante Sarah,” akunya. “Tugas awalku bikin kamu jatuh cinta dan memisahkan kamu dari Melati.”
Dariel tertawa hambar. “Bagus. Sekarang aku tahu semuanya memang palsu.”
“Enggak semuanya.”
“Cheese cake, tangisan kamu, datang ke rumah, bahkan panggilan kakak-adik itu bagian pekerjaan, kan?”
Acha tidak dapat menyangkal bahwa banyak kedekatan mereka dimulai dari rencana. Namun, tawa saat saling mengejek dan rasa nyaman ketika bertukar pesan tidak pernah tercantum dalam kontrak.
“Awalnya iya,” jawabnya jujur. “Tapi aku beneran menganggap kamu teman.”
Dariel akhirnya menatapnya. “Teman gak dibayar buat menghancurkan hubungan temannya.”
Kalimat itu membuat Acha tidak mampu membela diri. Ia duduk dengan jarak dua kursi dan meletakkan payung di antara mereka.
“Kamu berhak marah. Aku cuma minta kamu lihat bukti soal Vino dan Melati sebelum memutuskan siapa yang bisa dipercaya.”
“Bukti dari Mama?”
“Sebagian. Ada juga dari ayahku.”
Acha menceritakan penggelapan dana, keterlibatan ibu Melati, dan dugaan kebocoran dokumen perusahaan. Dariel mendengarkan dengan wajah kaku. Ketika Acha menyebut rekaman kamera dari ruang kerjanya, tangan pria itu mengepal.
“Melati tahu kode pintunya karena aku yang kasih,” katanya. “Aku percaya dia.”
“Bisa jadi Vino memaksanya.”
“Kamu sekarang membela dia?”
“Aku gak membela siapa pun. Aku cuma gak mau kita memutuskan berdasarkan setengah kebenaran lagi.”
Dariel berdiri. “Kamu sama Mama sudah memutuskan semuanya tanpa aku. Melati mungkin juga melakukannya. Semua orang merasa berhak mengatur hidupku karena menganggap aku terlalu bodoh buat tahu kebenaran.”
“Kamu gak bodoh.”
“Tapi gampang ditipu?”
Acha ikut berdiri. “Kamu percaya orang karena kamu tulus. Yang salah orang yang menyalahgunakan kepercayaan itu, termasuk aku.”
Hujan bertambah deras. Dariel mengambil payung dari tangan Acha dan memayunginya, kebiasaan baik yang tetap muncul meski ia sedang marah.
“Kenapa kamu mengaku di restoran?” tanyanya. “Kamu bisa aja bohong.”
“Karena aku capek. Dan karena aku gak mau lihat kamu makin jauh terjebak dalam permainan yang bahkan gak kamu tahu.”
Dariel memalingkan wajah. Ia meminta seluruh bukti dikirim kepadanya malam itu juga. Ia juga ingin berbicara dengan Melati tanpa kehadiran Sarah atau Acha.
“Jangan sendiri,” peringat Acha. “Vino mungkin tahu bukti itu sudah keluar.”
“Aku bisa jaga diri.”
“Aku juga selalu bilang begitu. Ternyata kadang cuma alasan supaya gak perlu percaya orang.”
Dariel tidak menjawab. Ia berjalan kembali menuju mobil. Sebelum masuk, ia menyuruh Acha pulang bersama Lina dan berjanji tidak melakukan tindakan gegabah.
Acha baru merasa sedikit lega sampai ponselnya berdering. Ryo memberi tahu bahwa Melati telah meninggalkan restoran lewat pintu dapur ketika Sarah sedang berbicara dengan petugas keamanan. Lokasi ponselnya tidak dapat dilacak.
Acha segera memperingatkan Dariel. Pria itu membaca pesan, lalu menelepon Melati. Panggilan tersebut tersambung, tetapi hanya berlangsung beberapa detik.
Dariel mendekati mobil Acha dengan wajah pucat. “Dia bilang Vino tahu semua bukti ada di kalian. Dia minta aku gak percaya siapa pun.”
“Dia di mana?”
“Gak bilang. Aku dengar suara kereta.”
Lina membuka peta jalur kereta di sekitar lokasi mereka. Ada dua stasiun yang mungkin dijangkau dalam waktu singkat. Acha menghubungi Ryo dan membagi pencarian.
Dariel menolak ditinggalkan. Ia masuk ke mobil Acha agar mereka tidak terpisah. Sepanjang perjalanan, ia diam sambil menggenggam ponsel.
“Kalau sesuatu terjadi sama Melati...” ucapnya tanpa menyelesaikan kalimat.
Acha memahami ketakutan itu. Apa pun kebohongan Melati, perasaan Dariel tidak dapat dimatikan dalam satu malam.
“Kita temukan dia dulu,” kata Acha. “Setelah itu, kalian bisa saling marah sepuasnya.”
Dariel menatapnya sesaat. Kepercayaan di antara mereka telah rusak, tetapi untuk malam itu ia tidak memiliki pilihan selain menerima bantuan perempuan yang ikut mengkhianatinya.
Di dalam mobil, Lina meminta Dariel mengirim lokasi berjalan kepada Ryo. Dariel sempat menolak karena merasa seluruh orang kembali mengawasinya. Acha menjelaskan bahwa berbagi lokasi bukan usaha mengendalikan, melainkan tindakan pengamanan setelah Vino mengetahui penyelidikan mereka.
“Kamu bebas matiin setelah Melati ditemukan,” katanya.
Dariel akhirnya menurut. Ia juga mengirim pesan suara kepada Sarah, mengatakan dirinya aman tetapi belum sanggup kembali ke restoran. Sarah membalas dengan permintaan maaf tanpa mencoba membenarkan tindakannya.
“Mama kamu takut kehilangan kamu,” ujar Acha.
“Semua orang pakai rasa takut buat alasan bohong.”
“Benar. Makanya rasa takut tetap harus bertanggung jawab.”
Dariel memandang jalan. Ia mengaku selama ini sengaja tidak melihat pertentangan antara Sarah dan Melati karena berharap keduanya akan berdamai sendiri. Sikap diamnya justru memberi ruang bagi rahasia berkembang.
Acha tidak menghiburnya dengan mengatakan ia tidak bersalah. Mereka semua membuat pilihan yang membawa mereka ke malam tersebut. Yang dapat dilakukan sekarang hanyalah menghentikan kebohongan berikutnya.
Lina membelokkan mobil menuju stasiun kedua setelah Ryo mengirim kabar baru. Dariel merapikan napas dan meminta Acha berjanji tidak menyembunyikan informasi lagi.
“Malam ini, semua yang aku tahu akan aku kasih,” jawab Acha. “Setelah itu kamu boleh memutuskan gak mau ketemu aku lagi.”
Dariel tidak menjawab, tetapi ia tidak lagi menolak ketika Acha menyerahkan salinan laporan ke tangannya.