Stasiun pertama hampir kosong. Kereta terakhir baru saja berangkat ketika Acha, Dariel, dan Lina tiba. Mereka menunjukkan foto Melati kepada petugas, tetapi tidak seorang pun melihat perempuan itu.
Ryo menelepon dari stasiun kedua. Seorang penjaga mengingat perempuan dengan gaun pesta masuk ke toilet, mengganti pakaian, lalu membeli tiket menuju kota sebelah. Keretanya berangkat dua puluh menit lagi.
Mereka kembali ke mobil. Dariel berkali-kali mencoba menelepon Melati. Pada panggilan kelima, perempuan itu menjawab.
“Jangan cari aku,” katanya. Suara pengumuman stasiun terdengar di belakangnya.
“Mel, tunggu. Aku cuma mau bicara.”
“Kamu sudah percaya sama mereka.”
“Aku belum percaya siapa pun. Makanya jelaskan langsung.”
Melati terisak. “Kalau aku cerita, Om Vino akan menghancurkan semuanya.”
“Dia mengancam kamu?”
Sambungan terputus. Dariel mencoba lagi, tetapi ponsel Melati telah dimatikan.
Ketika mereka sampai, Ryo menunggu di pintu masuk bersama dua petugas keamanan. Ia memberikan informasi peron, lalu memperingatkan bahwa seorang pria dari Big5 terlihat memasuki stasiun beberapa menit sebelumnya.
“Vino?” tanya Acha.
“Bukan. Sopir sekaligus pengawalnya.”
Mereka berpencar. Dariel dan Acha menuju peron, Ryo memeriksa pintu keluar, sedangkan Lina meminta petugas mengawasi kamera.
Kereta sudah berada di jalur ketika Acha melihat Melati berdiri di dekat gerbong terakhir dengan jaket menutupi gaun. Pria bertubuh besar berjalan cepat ke arahnya dari sisi lain.
“Melati!” teriak Acha.
Melati menoleh. Wajahnya berubah panik saat menyadari dua pihak datang bersamaan. Pria itu meraih lengannya, tetapi Dariel menerjang dan memisahkan mereka.
“Lepasin dia!” bentak Dariel.
Pria tersebut mengaku hanya diminta Vino mengantar Melati pulang. Melati menggeleng dan bersembunyi di belakang Dariel.
“Dia mau ambil ponselku,” katanya.
Petugas keamanan datang bersama Ryo. Pria suruhan Vino berusaha pergi, tetapi dihentikan karena Melati menuduhnya melakukan pemaksaan. Dari saku jaketnya ditemukan kunci mobil Melati dan amplop berisi uang.
Kereta berangkat tanpa mereka. Di ruang keamanan stasiun, Melati duduk dengan selimut tipis di bahu. Dariel berada di seberangnya, sementara Acha dan Ryo menunggu dekat pintu.
“Ceritakan dari awal,” pinta Dariel.
Melati menatap Acha. “Aku gak mau dia di sini.”
Acha hendak keluar, tetapi Dariel menahannya. “Dia punya sebagian bukti. Kalau ceritamu berbeda, aku perlu tahu.”
Melati mulai menjelaskan. Setelah ibunya meninggal, Vino membiayai hidup dan kariernya. Sebagai gantinya, ia diminta mendekati Dariel untuk mendapatkan informasi mengenai Hardiansyah Group. Awalnya Melati menganggap itu cara membalas perusahaan yang dituduh menghancurkan ibunya.
“Aku gak tahu Om Vino yang memakai rekening Mama,” katanya. “Dia bilang keluarga kamu menjebak Mama supaya proyek mereka gak perlu dibayar.”
“Kapan kamu tahu itu bohong?” tanya Acha.
“Beberapa bulan lalu. Aku menemukan salinan laporan di kantor Om Vino.”
Dariel menatapnya dengan kecewa. “Tapi kamu tetap mengambil dokumen dari ruang kerjaku.”
Air mata Melati jatuh. Ia mengakui memotret proposal bisnis dan memberikannya kepada Vino. Pamannya mengancam akan menyebarkan bukti bahwa ibu Melati terlibat penggelapan serta menghancurkan kariernya jika menolak.
“Kenapa gak bilang ke aku?”
“Karena hubungan kita dimulai dari kebohongan. Aku takut kamu langsung ninggalin aku.”
Dariel tertawa pahit. “Jadi kamu terus bohong supaya aku gak marah karena kebohongan pertama?”
Melati tidak sanggup menjawab.
Acha menyerahkan salinan rekaman suara ibu Melati. Ketika mendengar suara almarhumah memohon kepada Vino, tubuh Melati gemetar. Ia menutup mulut agar tangisnya tidak terdengar keras.
“Om Vino bilang Mama mengkhianati dia,” bisiknya. “Ternyata dia yang mengancam Mama.”
Ryo menyarankan mereka membuat laporan dan meminta perlindungan. Melati takut Vino menyimpan rekaman percakapannya dengan Dariel serta bukti pengambilan dokumen.
“Kalau itu keluar, karierku selesai.”
“Karier bisa dibangun lagi,” kata Acha. “Kalau kamu tetap diam, Vino akan terus pakai ketakutan yang sama.”
Melati menatapnya dengan benci dan malu. “Gampang buat Kak Acha ngomong. Kak Acha juga dibayar buat bohong.”
“Benar. Dan malam ini aku ngaku meski tahu Dariel mungkin gak akan memaafkan aku.”
Dariel mengusap wajah. Ia meminta waktu untuk memikirkan hubungan mereka, tetapi menegaskan Melati tidak boleh kembali kepada Vino. Sarah akan menyediakan tempat aman dan pengacara, bukan sebagai calon mertua, melainkan sebagai pihak yang dirugikan.
Melati akhirnya setuju. Sebelum meninggalkan ruang keamanan, ia menyerahkan ponsel cadangan yang disembunyikan di dalam tas. Di sana terdapat pesan-pesan perintah Vino dan rekaman ancaman terakhir.
Salah satu pesan dikirim kurang dari satu jam lalu.
‘Kalau mereka menemukanmu, bilang Acha dalangnya. Besok seluruh media akan tahu pekerjaan aslinya.’
Acha membaca pesan itu dengan tengkuk dingin. Vino tidak lagi sekadar bertahan. Ia telah mempersiapkan serangan yang dapat menghancurkan nama Acha sebelum mereka sempat menyerahkan bukti kepada polisi.
Petugas meminta Melati menuliskan kronologi pemaksaan di stasiun. Tangannya gemetar sampai Dariel menyodorkan air minum. Ia menerimanya, tetapi Dariel kembali duduk dengan jarak aman. Perhatian itu tidak sama dengan pengampunan, dan Melati tampaknya memahami perbedaannya.
Ryo mengirim salinan pesan Vino kepada pengacara melalui saluran aman. Lina menghubungi Firza dan Sarah, memastikan mereka tidak keluar tanpa pendamping. Sementara itu, Acha meminta petugas menyimpan rekaman kamera stasiun sebelum dapat dihapus.
“Kak Acha biasa menghadapi hal begini?” tanya Melati.
“Enggak. Aku cuma biasa kelihatan yakin.”
Jawaban tersebut membuat Melati menatapnya lama. Ia kemudian mengakui bahwa akun anonim yang mengirim berita lama kepada Acha adalah miliknya. Ia hendak menguji hubungan Acha dengan Sarah sekaligus memberi petunjuk tanpa diketahui Vino.
“Cara kamu berbahaya,” kata Acha.
“Kak Acha juga gak berhak menggurui.”
“Betul. Tapi kita bisa berhenti berlomba menentukan siapa yang paling buruk dan mulai menjaga bukti.”
Untuk pertama kalinya Melati tidak membalas. Ia menyerahkan kata sandi akun itu agar pesan ancaman dapat ikut disimpan. Menjelang fajar mereka meninggalkan stasiun dengan kendaraan berbeda. Tidak ada masalah yang selesai, tetapi kini rahasia tidak lagi hanya berada di tangan orang yang memakainya untuk mengancam.
Dariel meminta Melati mengirim pesan setelah sampai di tempat aman. Perempuan itu mengangguk tanpa mencoba menggenggam tangannya. Batas kecil tersebut menyakitkan, tetapi untuk pertama kalinya hubungan mereka bergerak berdasarkan kenyataan, bukan rahasia.