Keesokan paginya, foto Acha menerima amplop dari Sarah tersebar di berbagai akun berita hiburan. Judulnya menuduh model terkenal itu sebagai perempuan bayaran yang sengaja merusak hubungan para selebritas.
Beberapa mantan klien disebut tanpa nama. Potongan foto Acha bersama lelaki beristri disusun seolah membuktikan semua tuduhan. Dalam hitungan jam, tagar yang menghina Acha menduduki daftar teratas.
Lina mematikan notifikasi ponsel, tetapi telepon dari merek dan stasiun televisi terus masuk. Dua kontrak pemotretan dibatalkan. Produser sinetron meminta Acha tidak datang sampai keadaan jelas.
Firza mendesak Acha membuat laporan, sedangkan pengacara Sarah menyarankan mereka tidak terburu-buru memberi pernyataan. Setiap kata dapat dipakai Vino untuk mengalihkan perhatian dari penggelapan dana.
Acha duduk di ruang keluarga apartemennya dengan pakaian tidur. Untuk pertama kalinya sejak terkenal, ia takut membuka tirai.
“Mereka gak sepenuhnya bohong,” katanya. “Aku memang dibayar.”
Ryo yang baru datang meletakkan sarapan di meja. “Tapi berita itu menghilangkan alasan, batas pekerjaan, dan siapa yang memakai jasa Mbak.”
“Kalau semuanya dibuka, aku tetap kelihatan jahat.”
“Mungkin. Mengakui perbuatan bukan berarti membiarkan Vino membuat cerita sesukanya.”
Acha memandang pria itu. “Pak Ryo masih mau dekat sama aku setelah tahu begini?”
“Saya sudah tahu pekerjaan Mbak sejak awal.”
“Mengetahui gak sama dengan melihat semua orang membicarakannya.”
Ryo duduk di kursi seberang. “Kalau Mbak meminta saya pergi karena tidak memiliki perasaan yang sama, saya akan pergi. Tapi jangan mengusir saya hanya karena merasa tidak pantas ditemani.”
Acha menunduk. Di layar televisi tanpa suara, seorang pembawa acara menampilkan fotonya dengan tulisan ‘Antagonis di Dunia Nyata’. Julukan itu seharusnya menyakitkan. Anehnya, Acha justru merasa lelah terus menyangkal sisi hidup yang selama ini dipilihnya sendiri.
Dariel datang bersama Melati dan Sarah menjelang siang. Wajah Dariel masih dingin, tetapi ia membawa rekaman kamera restoran yang menunjukkan Melati menampar lebih dahulu. Ia bersedia membuat pernyataan bahwa Acha tidak pernah menjadi selingkuhannya.
“Aku gak melakukan ini karena sudah memaafkan kamu,” tegasnya. “Aku cuma gak mau Vino menang dengan kebohongan.”
Acha mengangguk. “Itu cukup.”
Melati juga menawarkan memberikan kesaksian. Ia telah mengirim seluruh pesan Vino kepada polisi dan bersedia mengakui perannya mengambil dokumen.
“Kalau aku bicara, hubungan kita benar-benar selesai,” katanya kepada Dariel.
“Hubungan kita sudah rusak waktu kamu memilih terus berbohong,” jawab Dariel. “Tapi aku tetap gak mau kamu menghadapi Vino sendirian.”
Melati menangis, namun kali ini tidak meminta kepastian cinta. Ia duduk di samping Sarah untuk menyusun urutan peristiwa bersama pengacara.
Mereka memutuskan mengadakan konferensi pers. Sarah akan mengakui bahwa ia menyewa Acha dan menjelaskan alasannya. Acha menolak jika seluruh kesalahan dilemparkan kepada Sarah.
“Aku menerima kontraknya dengan sadar,” kata Acha. “Aku harus bertanggung jawab atas bagianku.”
Firza mengingatkan bahwa pengakuan itu bisa mengakhiri kariernya.
“Karierku sudah dibangun di atas banyak rahasia. Kalau harus mulai lagi, setidaknya kali ini aku tahu fondasinya.”
Sebelum konferensi dimulai, Vino menelepon. Ia menawarkan menarik berita jika Acha menyerahkan penyimpan data milik Firza dan membuat pernyataan bahwa Sarah memaksanya.
Acha menyalakan pengeras suara agar pengacara merekam percakapan.
“Kalau aku menolak?” tanyanya.
“Semua mantan pekerjaanmu akan keluar. Orang-orang akan melihat kamu sebagai pelacur yang dibayar merusak rumah tangga.”
Acha menarik napas. “Mereka boleh menilai. Tapi kali ini mereka juga akan dengar siapa yang membayar, siapa yang memeras, dan siapa yang mencuri uang lewat rekening perempuan yang sudah meninggal.”
Vino terdiam sesaat, lalu mengancam Firza dan Lina. Ryo memberi tanda agar Acha terus membuatnya bicara. Namun Vino menyadari percakapan direkam dan menutup sambungan.
Rekaman itu langsung diserahkan kepada penyidik.
Di depan puluhan kamera, Sarah membuka konferensi dengan mengakui kesalahannya. Ia mengatakan rasa takut sebagai ibu membuatnya memilih cara manipulatif. Setelah itu Melati menjelaskan ancaman Vino dan menyerahkan bukti pesan tanpa meminta dirinya dianggap tidak bersalah.
Giliran Acha tiba. Ia berdiri di podium, melihat namanya berkedip di layar ponsel para wartawan.
“Benar, saya pernah menerima pekerjaan untuk mendekati lelaki yang sudah memiliki pasangan,” katanya. “Saya menyebutnya pekerjaan profesional supaya tidak perlu memikirkan orang-orang yang terluka. Itu pilihan saya, dan saya bertanggung jawab.”
Ruangan gaduh oleh pertanyaan. Acha melanjutkan bahwa dalam kasus Dariel, tidak pernah terjadi hubungan romantis. Ia juga menjelaskan keterlibatannya dalam mengumpulkan bukti kejahatan Vino.
Seorang wartawan bertanya apakah ia menyesal karena rahasianya terbongkar.
“Saya menyesal karena pernah menganggap perasaan orang lain sebagai permainan,” jawab Acha. “Bukan karena akhirnya wajah saya terlihat tanpa topeng.”
Konferensi berakhir tanpa tepuk tangan. Di luar gedung, komentar buruk masih terus mengalir. Namun untuk pertama kalinya, Acha tidak bersembunyi dari sebutan antagonis. Ia telah berdiri di depan cerita buruknya sendiri dan memilih menentukan apa yang akan dilakukan setelahnya.
Di ruang belakang, kaki Acha akhirnya kehilangan tenaga. Ia duduk di lantai sebelum Lina sempat membawakan kursi. Semua keberanian yang tadi ditunjukkannya di depan kamera runtuh begitu pintu tertutup.
“Mbak menyesal?” tanya Lina.
“Aku takut,” jawab Acha. “Besok mungkin gak ada orang yang mau kerja sama aku.”
Firza berjongkok di hadapannya. Ia tidak menjanjikan dapat membeli kembali reputasi putrinya. Ia hanya memastikan rumah dan dukungannya tidak bergantung pada ketenaran Acha.
Sarah masuk dan menawarkan membayar sisa kontrak tujuh miliar meski tugas mereka berakhir berantakan. Acha menolak bonus, lalu meminta pembayaran yang sudah diterimanya dipotong biaya hukum para korban Vino.
“Kamu sudah melakukan pekerjaanmu,” kata Sarah.
“Enggak. Aku mengubah caranya karena sadar perjanjiannya salah. Tante juga harus berhenti menganggap uang bisa membereskan perasaan Dariel.”
Sarah menerima teguran itu. Ia berniat meminta maaf kepada putranya tanpa menuntut jawaban cepat.
Di lorong, Ryo menunggu Acha. Ia menawarkan tangan, tetapi membiarkan Acha memilih bangkit sendiri. Acha akhirnya meraih tangan itu. Puluhan wartawan masih menunggu di pintu depan. Bersama-sama mereka memilih keluar melalui pintu yang sama, tanpa bersembunyi di bagasi atau jalan belakang.