Dampak konferensi pers tidak berhenti dalam sehari. Acha kehilangan hampir seluruh pekerjaan selama minggu berikutnya. Beberapa merek mengirim surat pemutusan kontrak, sementara acara televisi membatalkan undangan karena takut mendapat protes.
Big5 mengumumkan bahwa tindakan Acha dilakukan tanpa sepengetahuan agensi. Vino bahkan menyebutnya artis bermasalah yang selama bertahun-tahun sulit diarahkan. Pernyataan tersebut terbit beberapa jam sebelum polisi memanggil Vino untuk diperiksa.
Acha membaca berita itu sambil tertawa getir. “Lima tahun aku jadi sapi perah. Sekarang dia pura-pura gak kenal.”
Firza menyarankan Acha beristirahat dari media sosial. Namun Acha memilih tidak menghapus akunnya. Ia menutup kolom komentar untuk sementara dan mengunggah dokumen pemutusan kontraknya dari Big5 setelah pengacara memastikan hal tersebut diperbolehkan.
“Saya tidak lagi berada di bawah manajemen Big5,” tulisnya. “Saya akan menyelesaikan tanggung jawab hukum atas pilihan saya dan tidak menerima pekerjaan serupa lagi.”
Kalimat terakhir mengakhiri karier rahasia yang memberinya banyak uang sekaligus kehampaan. Acha mengira akan merasa kehilangan. Yang datang justru kelegaan.
Dariel tetap melanjutkan pendirian agensi, tetapi menunda pengumuman artis pertamanya. Ia belum memberi kepastian apakah tawaran untuk Acha dan Melati masih berlaku.
Melati tinggal sementara di rumah aman yang disiapkan pengacara. Setelah memberikan kesaksian, ia jarang menghubungi siapa pun. Dariel pun menjaga jarak meski terus memastikan keamanannya.
Suatu sore, Dariel datang ke apartemen Acha untuk mengambil salinan dokumen. Percakapan mereka terasa kaku. Tidak ada panggilan Dek Tua atau candaan mengenai makanan.
“Polisi menemukan aliran uang ke dua perusahaan Vino,” katanya. “Bukti dari Om Firza cocok sama pembukuan internal kami.”
“Bagus.”
Dariel memasukkan dokumen ke tas, tetapi tidak segera pergi. “Aku baca semua pesan kamu sama Mama.”
Acha menegang. Sarah rupanya menyerahkan seluruh percakapan mereka sebagai bagian pemeriksaan.
“Kamu beberapa kali minta Mama berhenti dan bicara jujur sama aku,” lanjut Dariel. “Kenapa tetap lanjut?”
“Karena uang. Karena aku terlalu yakin bisa mengendalikan semuanya. Dan mungkin karena aku takut kalau berhenti, Tante Sarah akan cari orang yang lebih jahat.”
“Itu alasan yang buruk.”
“Iya.”
Dariel menatapnya, seolah menunggu pembelaan. Acha tidak memberikannya.
“Aku belum bisa percaya sama kamu,” katanya akhirnya. “Tapi aku juga gak bisa bilang semua pertemanan kita palsu.”
“Aku gak minta kamu memaafkan sekarang.”
“Bagus. Soalnya aku belum siap.”
Sebelum pergi, Dariel meninggalkan rancangan kontrak agensi di meja. Tawaran itu masih ada, tetapi keputusan akhir akan dibuat setelah kasus selesai. Acha diminta membaca klausul moral yang baru ditambahkan.
“Kamu masih mau menerima aku?” tanya Acha.
“Aku sedang membangun agensi yang memberi orang kesempatan mengatur ulang hidupnya. Kalau langsung membuang orang saat masa lalunya muncul, berarti semua pidatoku cuma omong kosong.”
Dariel menegaskan kesempatan tidak sama dengan melupakan akibat. Acha harus menjalani masa evaluasi, terbuka mengenai pekerjaan terdahulu, dan tidak memakai agensi untuk membersihkan citra secara palsu.
“Adil,” jawab Acha.
Setelah Dariel pergi, Ryo datang membawa kabar bahwa Vino dilepaskan sementara karena penyidik masih mengumpulkan bukti. Acha khawatir lelaki itu akan menghilang atau menyerang saksi.
Ryo mengatakan keamanan Firza, Lina, dan Melati telah ditambah. Lalu ia melihat kontrak di meja.
“Mbak akan menandatanganinya?”
“Belum tahu. Mungkin dunia hiburan udah gak mau lihat mukaku.”
“Mbak ingin berhenti karena itu, atau karena memang tidak mencintai pekerjaannya lagi?”
Acha terdiam. Selama ini ia menjadi model karena menyukai panggung, pakaian, dan kebebasan menciptakan berbagai karakter. Skandal tidak menghapus kecintaan tersebut.
“Aku masih mau kerja,” jawabnya.
“Kalau begitu, jangan biarkan komentar orang membuat keputusan untuk Mbak.”
Acha menatap Ryo. Pria itu tidak pernah mengatakan bahwa semua orang akan segera memaafkan atau kariernya pasti kembali. Ia hanya mengingatkan bahwa Acha masih memiliki pilihan.
“Soal yang Pak Ryo bilang di basement...” Acha memulai.
Ryo menunggu.
“Aku belum bisa jawab. Hidupku lagi berantakan.”
“Saya tahu.”
“Tapi aku juga gak mau Pak Ryo pergi.”
Untuk pertama kalinya sejak malam pesta, ekspresi Ryo melunak. “Saya bisa tinggal tanpa memaksa Mbak memberi jawaban.”
Acha mengulurkan kartu akses yang sempat dikembalikan pria itu. Ryo tidak langsung mengambilnya.
“Ini untuk keadaan darurat,” kata Acha. “Bukan jawaban.”
“Saya mengerti.”
Ryo menerima kartu tersebut. Gerakan itu sederhana, tetapi bagi Acha terasa lebih jujur daripada seluruh adegan romantis yang pernah ia mainkan demi bayaran.
Hari-hari berikutnya dipakai Acha untuk menemui pengacara dan mantan klien yang mungkin terseret pemberitaan. Ia meminta maaf kepada beberapa perempuan yang dahulu menyewanya. Sebagian menolak bicara, seorang memakinya, dan yang lain mengaku jasa Acha pernah menyelamatkannya dari pernikahan penuh kekerasan. Jawaban mereka tidak seragam, membuat Acha sadar ia tidak dapat menyederhanakan akibat pekerjaannya menjadi baik atau buruk semata.
Ia juga menemui psikolog atas saran Firza. Dalam pertemuan pertama, Acha terus bercanda setiap pertanyaan menyentuh rasa takut ditinggalkan. Psikolog itu tidak tertawa dan menanyakan mengapa Acha harus mengubah semua kesedihan menjadi hiburan.
Pertanyaan tersebut dibawanya pulang. Ia teringat bagaimana dahulu menerima pekerjaan sebagai pelakor bayaran karena merasa lebih aman memainkan cinta daripada mengalaminya. Selama perasaan hanya bagian kontrak, tidak ada orang yang benar-benar dapat menolaknya.
Ryo tidak mencoba menjadi obat. Ia tetap bekerja, mengirim kabar keamanan, dan pulang ketika tugasnya selesai. Justru jarak yang dihormatinya membuat Acha perlahan percaya bahwa kedekatan tidak selalu berakhir dengan kepemilikan.
Pada malam sebelum Vino menghilang, Acha menandatangani halaman awal kontrak Dariel. Bukan kontrak kerja resmi, hanya pernyataan niat bahwa ia masih ingin kembali berkarya setelah urusan hukumnya selesai.
Ia memotret halaman itu, tetapi tidak mengunggahnya. Dahulu hampir setiap keputusan hidupnya harus terlihat oleh publik agar terasa nyata. Sekarang Acha memilih menyimpan satu harapan hanya untuk dirinya sendiri.
Lina ikut menandatangani sebagai saksi, lalu bertanya apakah ia masih dibutuhkan jika Acha belum memiliki pekerjaan.
“Kamu pikir aku cuma butuh kamu buat pegang jadwal?” tanya Acha.
Lina tersenyum malu. Acha memberinya pilihan mencari pekerjaan tambahan sampai kegiatan mereka kembali normal. Lina memilih bertahan.
Kesetiaan itu membuat Acha sadar bahwa dirinya tidak kehilangan seluruh kehidupan. Kontrak dapat hilang dan popularitas dapat surut, tetapi hubungan yang dibangun dengan jujur masih dapat bertahan setelah sorot kamera padam.