Vino menghilang pada malam sebelum pemeriksaan keduanya. Polisi menemukan rumahnya kosong dan telepon utama tertinggal di meja. Dugaan bahwa ia akan melarikan diri membuat pengawasan terhadap para saksi diperketat.
Acha sedang berada di kantor pengacara ketika Lina menerima pesan dari nomor Firza. Pesan itu mengatakan Firza mengalami kecelakaan kecil dan meminta Lina datang ke sebuah klinik.
Lina hampir pergi sendiri. Untungnya, ia menelepon Acha lebih dahulu. Acha langsung menghubungi Firza dan mendapati ayahnya sedang berada di rumah dalam keadaan sehat.
Mereka menyadari pesan tersebut adalah jebakan. Ryo meminta Lina tidak keluar dari gedung, lalu melacak nomor pengirim bersama petugas keamanan. Sinyalnya berasal dari gudang lama milik Big5.
Polisi diberi tahu, tetapi Acha menerima panggilan lain sebelum mereka bergerak. Suara Vino terdengar tenang.
“Kamu pintar juga,” katanya. “Sayang sekali asistenmu gak jadi datang.”
“Mau apa kamu?”
“Bawa data asli Firza. Datang sendiri, atau video yang menghancurkan Melati akan tersebar.”
Vino mengirim potongan rekaman. Di sana Melati tampak mengambil dokumen dari ruang Dariel dan mengatakan akan membuat keluarga Hardiansyah membayar kematian ibunya. Jika disebarkan tanpa konteks, rekaman itu dapat membuat Melati terlihat sebagai dalang tunggal.
Acha menyalakan perekam dan berusaha membuat Vino terus bicara. “Kalau aku kasih data itu, kamu hapus videonya?”
“Aku akan meninggalkan kalian semua.”
“Aku gak percaya.”
Vino tertawa. “Kamu bukan orang yang pantas bicara soal percaya.”
Panggilan berakhir setelah ia memberi waktu satu jam. Polisi melarang Acha datang, tetapi ingin memakai kesempatan itu untuk menangkap Vino. Mereka menyiapkan salinan data palsu dan alat pelacak. Ryo bersikeras ikut dalam tim pemantau.
“Saya yang seharusnya membawa data,” katanya.
“Dia minta aku,” jawab Acha. “Kalau lihat orang lain, dia kabur.”
Firza menolak rencana itu. Perdebatan berlangsung sampai Acha mengingatkan bahwa polisi akan berada di sekitar lokasi dan ia mengenal tata letak gudang karena pernah menjalani pemotretan di sana.
“Aku gak datang buat jadi pahlawan,” katanya. “Aku cuma perlu bikin dia tetap di tempat sampai polisi masuk.”
Menjelang malam, Acha memasuki gudang dengan tas berisi penyimpan data palsu. Bangunan itu gelap dan hanya diterangi lampu di ruang tengah. Vino muncul dari balik tumpukan properti panggung sambil memegang ponsel.
“Letakkan tasnya,” perintahnya.
Acha menaruh tas di lantai. Vino memeriksa isinya melalui laptop. Data palsu dirancang menyerupai berkas asli sehingga membutuhkan waktu untuk mengetahui perbedaannya.
“Kenapa memakai Melati?” tanya Acha untuk mengulur waktu. “Dia keponakanmu sendiri.”
“Ibunya berutang pada saya. Saya cuma mengambil kembali yang menjadi hak saya.”
“Dengan menghancurkan hidup anaknya?”
“Jangan sok bermoral. Kamu menjual wajah dan rayuanmu kepada istri-istri yang ketakutan.”
Acha tidak menyangkal. “Bedanya, aku berhenti ketika sadar sudah terlalu jauh. Kamu justru menyalahkan semua orang.”
Vino menemukan folder yang tidak dapat dibuka. Ia sadar telah ditipu dan langsung meraih Acha. Perempuan itu mundur, tetapi kakinya tersandung kabel. Vino merebut tas dan menyeretnya menuju pintu belakang.
Sirene terdengar dari luar. Vino menempelkan pecahan besi ke leher Acha dan menjadikannya pelindung ketika polisi masuk.
“Mundur!” teriaknya.
Ryo terlihat di antara petugas. Wajahnya pucat, tetapi ia tidak bergerak gegabah. Ia berbicara kepada Vino dengan nada tenang, mengatakan jalan keluar telah ditutup dan bukti asli sudah berada di tangan polisi.
“Kalau menyakiti Mbak Acha, keadaan Anda akan lebih buruk,” katanya.
Vino mencengkeram bahu Acha semakin keras. Acha menginjak kakinya dan menunduk pada saat yang sama. Ryo menerjang, sementara polisi menjatuhkan Vino serta merebut pecahan besi.
Acha terduduk di lantai. Telapak tangannya terluka, tetapi ia tidak mengalami cedera berat. Ryo berlutut di depannya dan memeriksa keadaan tanpa langsung memeluk.
“Saya boleh menyentuh Mbak?” tanyanya dengan napas terengah.
Acha mengangguk. Ryo memeluknya erat. Untuk sekali ini, Acha tidak membuat candaan atau menjaga jarak. Ia membiarkan tubuhnya gemetar di dalam pelukan seseorang yang datang bukan karena dibayar.
Vino dibawa keluar dengan tangan terborgol. Dalam mobil ambulans, Acha melihat Melati dan Dariel tiba bersama Sarah. Melati menangis lega ketika mengetahui rekaman belum disebarkan.
Dariel berdiri di pintu ambulans. “Kamu benar-benar gila.”
“Aku sering dengar itu,” jawab Acha lemah.
Dariel mengulurkan tangan. Setelah ragu sesaat, Acha menyambutnya.
“Aku masih marah,” kata Dariel. “Tapi terima kasih.”
Acha menggenggam tangannya sebentar. Penangkapan Vino tidak langsung memperbaiki segala sesuatu. Reputasinya belum pulih, hubungan Dariel dan Melati belum jelas, dan perasaannya kepada Ryo masih menakutkan.
Namun malam itu, musuh yang selama ini bersembunyi di balik kebohongan akhirnya berhenti berlari. Kini mereka harus menghadapi akibat pilihan masing-masing, termasuk Acha sendiri.
Di rumah sakit, dokter membersihkan luka pada telapak tangan Acha. Ryo menunggu di balik tirai dan baru masuk setelah dipanggil. Firza datang beberapa menit kemudian dengan kemarahan yang bercampur lega. Ia memeluk Acha, lalu menegurnya karena mengambil risiko meski operasi polisi telah disiapkan.
“Aku gak akan lakukan lagi,” janji Acha.
“Ayah sudah terlalu sering dengar kalimat itu.”
Kali ini Acha tidak membantah. Ia mengakui ketakutannya ketika besi menyentuh leher. Keberanian yang tadi tampak hebat sebenarnya dipenuhi penyesalan dan keinginan pulang.
Penyidik datang meminta keterangan singkat. Mereka mengatakan laptop serta ponsel Vino telah disita. Di dalam gudang juga ditemukan dokumen asli Big5, beberapa paspor, dan uang tunai yang diduga disiapkan untuk melarikan diri.
Melati bersedia mengidentifikasi rekaman ancaman. Ia meminta maaf kepada Acha karena awalnya hendak membiarkan Vino menjadikannya kambing hitam.
“Aku juga pernah menjadikan kamu target tanpa mengenalmu,” jawab Acha. “Kita gak harus langsung saling suka. Cukup jangan bohong lagi.”
Dariel mendengar percakapan itu dari pintu. Ia menawarkan mengantar Melati kembali ke tempat aman, lalu berjanji menghubungi Acha setelah emosinya lebih tenang.
Saat ruangan kembali sepi, Ryo memberikan jaketnya kepada Acha. Perempuan itu menyandarkan kepala sebentar di bahunya. Tidak ada pengakuan cinta malam itu. Mereka hanya duduk, bersyukur karena masih memiliki waktu untuk mencari jawaban.