Keesokan pagi, Acha terbangun di kamar rumah sakit dengan telapak tangan terbungkus perban. Firza tertidur di sofa, sedangkan Ryo duduk di kursi dekat pintu dengan laptop masih terbuka di pangkuannya. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai dan membuat kejadian di gudang terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata.
Acha bergerak sedikit. Ryo langsung terbangun.
“Sakit?” tanyanya.
“Harga diriku yang sakit. Masa lawan om-om aja aku jatuh kesandung kabel?”
Ryo tidak tertawa. “Kalau Mbak masih bisa bercanda, berarti obatnya bekerja.”
Firza ikut terbangun dan segera memanggil perawat. Dokter mengizinkan Acha pulang siang itu, tetapi ia harus kembali untuk mengganti perban. Luka di tangannya tidak dalam. Bekas memar pada leher diperkirakan menghilang dalam beberapa hari.
“Acara pemotretanku juga udah hilang semua. Gak ada yang bakal protes lihat leher begini,” kata Acha.
Firza menghela napas. “Kamu tidak harus menjadikan setiap kehilangan bahan lelucon.”
Acha memalingkan muka. Diam membuat ketakutannya terdengar lebih jelas. Jika kariernya tidak kembali, ia tidak tahu harus memperkenalkan dirinya sebagai siapa. Selama bertahun-tahun, nama Acha selalu diikuti kata model, artis, atau pelakor bayaran. Ketika semua label itu dicabut, hanya tersisa seorang perempuan yang belum benar-benar ia kenal.
Dariel datang menjelang waktu pulang. Ia membawa pakaian ganti dan sebuah topi besar untuk menyembunyikan wajah Acha dari wartawan. Melati tidak ikut karena sedang menjalani pemeriksaan tambahan bersama polisi.
“Vino ditahan,” kata Dariel. “Polisi menemukan bukti penggelapan, pemerasan, sama rencana kabur. Sopir yang di stasiun juga mau bersaksi.”
“Bagus.”
“Tapi pengacaranya bilang kamu sengaja menjebak dan menyerang dia duluan.”
Acha mengangkat tangan yang diperban. “Iya, kelihatan banget aku jago menyerang.”
Dariel hampir tersenyum, tetapi segera kembali serius. Rekaman dari alat yang dipasang polisi membuktikan Vino lebih dahulu mengancam. Meski demikian, proses hukumnya tidak akan singkat. Semua pihak harus memberikan keterangan berkali-kali.
Saat Firza mengurus administrasi, Dariel membantu memasukkan barang ke tas. Acha memperhatikan wajahnya yang tampak kelelahan.
“Melati gimana?” tanyanya.
“Aman.”
“Aku gak tanya tempatnya.”
Dariel menutup tas lebih keras dari yang diperlukan. Ia mengaku masih mencintai Melati, tetapi tidak tahu apakah cinta itu ditujukan kepada perempuan yang nyata atau sosok yang dibentuk dari kebohongan.
“Dia juga korban Vino,” kata Acha.
“Aku tahu. Tapi jadi korban gak menghapus pilihannya mengambil dokumenku.”
“Benar.”
Dariel menatap Acha. “Kamu aneh. Kemarin berusaha memisahkan kami, sekarang malah mengingatkan aku supaya memahami dia.”
“Kemarin aku kerja berdasarkan kontrak. Sekarang kontraknya udah selesai.”
“Terus uangnya?”
Acha menjelaskan bahwa ia menolak bonus dan meminta sebagian bayaran digunakan untuk biaya hukum. Dariel tampak terkejut, lalu bertanya apakah itu cara Acha membersihkan rasa bersalah.
“Mungkin sebagian,” jawab Acha. “Aku belum jadi orang suci cuma karena sekali jujur.”
Dariel mengangguk. Untuk pertama kalinya setelah pesta, mereka dapat berbicara tanpa saling menyerang. Ia belum memaafkan Acha, tetapi bersedia menjalani proses pemulihan pertemanan mereka secara perlahan.
Di luar rumah sakit, para wartawan benar-benar menunggu. Ryo dan petugas keamanan membuat jalur menuju mobil. Pertanyaan mengenai Vino, Melati, dan pekerjaan rahasia Acha datang bersamaan. Acha tidak menjawab sampai seorang wartawan berteriak apakah dirinya pantas disebut perusak rumah tangga.
Langkahnya sempat berhenti. Ryo berbisik bahwa ia tidak perlu memberi jawaban saat sedang terluka. Acha meneruskan berjalan dan masuk ke mobil.
Di apartemen, puluhan kiriman kebencian telah menunggu di meja keamanan. Ada surat, bunga layu, bahkan mainan ular. Firza memerintahkan semuanya diserahkan kepada polisi. Lina sudah mengganti nomor telepon kerja dan menghapus alamat Acha dari beberapa situs.
Sore itu Sarah datang sendirian. Ia meminta maaf karena pekerjaan yang diberikannya telah membahayakan Acha.
“Tante seharusnya membawa bukti itu ke polisi sejak awal, bukan menyewa kamu memainkan perasaan Dariel,” katanya.
“Saya juga bisa menolak.”
“Kita sama-sama salah, tapi bagian Tante tetap milik Tante.”
Sarah menyerahkan surat penghentian kontrak dan bukti pengalihan sisa dana ke bantuan hukum. Tidak ada tuntutan kerahasiaan lagi. Acha bebas menceritakan seluruh kesepakatan jika dibutuhkan dalam persidangan.
Sebelum pulang, Sarah bertanya apakah Acha masih bersedia bergabung dengan agensi Dariel.
“Itu keputusan dia,” jawab Acha.
“Dan keputusanmu.”
Acha melihat kontrak yang diletakkan Dariel di meja beberapa hari lalu. “Saya masih suka panggung. Tapi mungkin penonton gak mau lihat saya.”
“Penonton bisa berubah. Yang tidak boleh berubah hanya karena mereka adalah pilihanmu sendiri.”
Malam datang. Firza dan Lina pulang setelah memastikan keamanan apartemen, tetapi Ryo tetap menunggu di ruang tamu. Acha memintanya beristirahat. Pria itu mengatakan ia akan pergi setelah petugas pengganti tiba.
“Pak Ryo selalu bekerja sebanyak ini buat semua orang?” tanya Acha.
“Tidak.”
“Berarti aku harus bayar lembur.”
“Saya tidak sedang lembur.”
Jawaban itu membuat Acha kehilangan candaan berikutnya. Ia duduk di sofa seberang dan mengaku takut tidur karena selalu teringat pecahan besi di lehernya.
Ryo tidak menawarkan pelukan. Ia membuat teh, menyalakan lampu lorong, dan duduk menemaninya membicarakan hal-hal biasa sampai rasa kantuk datang.
Ketika Acha akhirnya memejamkan mata, seluruh lampu memang belum padam. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan seseorang melihat ketakutannya tanpa merasa harus mengubahnya menjadi pertunjukan.
Ia terbangun satu jam kemudian karena mimpi buruk. Dalam mimpinya, seluruh orang di gudang memakai wajah tanpa mata dan terus memanggilnya pembohong. Ryo masih berada di kursi yang sama. Ia tidak bertanya tentang isi mimpi, hanya mengingatkan Acha menarik napas perlahan.
“Kalau aku gak bisa tidur berhari-hari gimana?” tanya Acha.
“Besok kita minta bantuan dokter. Malam ini kita lalui satu jam dulu.”
Mereka memainkan kartu untuk mengalihkan pikiran. Acha menuduh Ryo sengaja mengalah, lalu memaksanya bermain serius. Saat petugas keamanan pengganti tiba menjelang dini hari, skor mereka seimbang.
Ryo berdiri untuk pulang. Acha ingin memintanya menetap, tetapi memilih jujur bahwa dirinya takut ditinggal sendirian. Ryo menelepon Lina dan mengatur agar asistennya menginap, sebab ia tidak ingin menggunakan ketakutan Acha sebagai alasan melewati batas.
Sikap tersebut memberi Acha rasa aman yang berbeda. Ryo tidak membuktikan perhatian dengan mengambil alih, melainkan memastikan kebutuhan Acha terpenuhi tanpa membuatnya kehilangan kendali. Sebelum pintu tertutup, Acha mengucapkan terima kasih tanpa lelucon. Ryo membalasnya dengan senyum, lalu pergi setelah Lina benar-benar tiba.