Dua minggu setelah penangkapan Vino, kantor agensi baru mulai beroperasi meski belum memiliki nama. Dariel mengundang calon staf untuk rapat bersama. Kursi yang disiapkan bagi Acha dan Melati masih kosong ketika rapat dimulai.
Acha berdiri di depan pintu ruang pertemuan selama beberapa menit. Ia mengenakan kemeja panjang untuk menutupi luka dan topi yang ditarik rendah. Ini adalah pertama kalinya ia masuk ke lingkungan kerja sejak skandal.
“Kalau mau pulang, kita bisa pulang,” kata Lina.
“Kalau aku pulang sekarang, besok pintu ini bakal kelihatan makin besar.”
Acha akhirnya masuk. Percakapan di ruangan berhenti sesaat. Beberapa staf tersenyum canggung, yang lain pura-pura membaca dokumen. Dariel menunjuk kursi di sebelahnya tanpa memberikan sambutan berlebihan.
Melati datang sepuluh menit kemudian ditemani pengacara. Wajahnya tanpa riasan dan rambutnya diikat sederhana. Ia memilih kursi paling jauh dari Dariel.
Dariel membuka rapat dengan menjelaskan bahwa agensi tersebut harus memiliki aturan yang berbeda dari Big5. Kontrak artis akan transparan, laporan keuangan dapat diperiksa, dan tidak ada hubungan pribadi yang boleh dipakai untuk menekan keputusan profesional.
“Termasuk hubungan saya dengan Melati dan pertemanan saya dengan Acha,” katanya.
Seorang calon manajer bertanya apakah mempertahankan dua artis yang sedang tersandung skandal tidak terlalu berisiko.
Dariel tidak tersinggung. Ia mempersilakan Acha dan Melati menjawab sendiri.
Melati mengakui tindakannya membocorkan dokumen dan mengatakan proses hukum masih berlangsung. Ia siap menerima masa penangguhan tanpa bayaran serta mengikuti pemeriksaan internal.
Giliran Acha, ia menjelaskan bahwa dirinya telah berhenti menerima pekerjaan sebagai perempuan ketiga. Ia tidak meminta agensi menutupi masa lalu atau membeli berita positif.
“Kalau kalian merasa keberadaanku bikin perusahaan ini gak bisa berjalan, bilang sekarang,” katanya.
Ruangan sunyi sampai seorang staf hubungan masyarakat mengangkat tangan. Menurutnya, mempertahankan Acha dapat berhasil hanya jika semua pihak siap menghadapi pertanyaan publik secara jujur. Mereka tidak boleh menjual kisah pertobatan palsu atau menjadikan Acha korban tunggal.
“Saya setuju,” jawab Acha.
Rapat berlangsung lebih terbuka setelah itu. Mereka membahas program pertama: serial dokumenter tentang sisi gelap kontrak industri hiburan. Acha dan Melati dapat terlibat sebagai narasumber, tetapi tidak diwajibkan.
Pada waktu istirahat, Melati menghampiri Acha di balkon. Bekas permusuhan masih terasa di antara keduanya.
“Kak Acha mau ambil dokumenter itu?” tanyanya.
“Belum tahu. Kamu?”
“Takut dibilang jual penderitaan Mama.”
Acha bersandar pada pagar. “Kalau tujuanmu cuma memperbaiki citra, jangan. Kalau ada sesuatu yang memang mau kamu bongkar, pikirkan.”
Melati tertawa kecil. “Kak Acha selalu ngomong kayak paling tahu, ya.”
“Kebiasaan buruk.”
Kejujuran itu mengurangi ketegangan. Melati kemudian meminta maaf atas tamparan di pesta dan penyebaran informasi kepada Vino. Acha menerima permintaan maafnya, tetapi mengatakan kepercayaan tidak akan pulih hanya dengan satu percakapan.
“Aku juga belum percaya sama Kak Acha,” balas Melati.
“Bagus. Berarti impas.”
Ketika kembali ke ruang rapat, mereka mendapati Sarah membawa kotak-kotak makanan ChicKING's Chicken. Dariel mengeluh mamanya membuat acara resmi terlihat seperti piknik keluarga.
“Karyawan lapar gak bisa bikin keputusan bagus,” jawab Sarah.
Acha mengambil ayam lada hitam dan menyadari semua orang menatapnya. “Apa? Skandal gak bikin aku berhenti suka ayam.”
Tawa kecil akhirnya terdengar. Suasana tidak langsung normal, tetapi setidaknya tidak lagi dipenuhi keheningan yang menghakimi.
Masalah berikutnya adalah nama agensi. Puluhan usulan ditulis di papan. Dariel menginginkan nama yang menggambarkan kesempatan kedua tanpa terdengar seperti tempat rehabilitasi.
Lina yang sedari tadi diam mengusulkan nama Panggung Baru. Menurutnya, seorang artis tidak perlu menjadi manusia baru untuk kembali berdiri. Ia hanya membutuhkan panggung yang memberinya kesempatan tampil dengan lebih jujur.
Semua orang menyukainya. Dariel meminta tim hukum memeriksa ketersediaan nama tersebut.
Setelah rapat, Dariel menahan Acha. Ia menyerahkan kontrak versi akhir dengan klausul yang sama bagi semua artis.
“Aku gak kasih perlakuan khusus,” katanya.
“Aku juga gak minta.”
“Dan kalau kamu bohong lagi soal urusan yang menyangkut agensi, kontrak selesai.”
Acha membaca setiap halaman. Pembagian keuntungan adil, hak memilih pekerjaan terjamin, dan tidak ada denda tersembunyi. Ia menandatanganinya.
“Selamat datang di agensi yang bahkan belum punya papan nama,” ujar Dariel.
“Makasih, Kak Dariel.”
Dariel menatapnya curiga. “Kenapa mendadak sopan?”
“Aku lagi masa evaluasi.”
Sudut bibir Dariel terangkat. “Tetap aja kamu Dek Tua.”
Acha tertawa. Candaan itu tidak berarti seluruh luka telah hilang. Namun, pertemanan mereka menemukan celah kecil untuk tumbuh kembali.
Di luar gedung, beberapa wartawan telah menunggu. Acha hampir menarik topinya lebih rendah, lalu mengurungkan niat. Ia berjalan di samping Melati menuju mobil masing-masing. Mereka tidak bergandengan atau berpura-pura akrab.
Ketika ditanya apakah keduanya kini bersahabat, Acha menjawab, “Kami rekan kerja yang sedang belajar bertanggung jawab.”
Melati mengangguk. Untuk hari itu, jawaban tersebut cukup.
Di dalam mobil, Lina menunjukkan tanggapan awal mengenai kemunculan Acha. Sebagian komentar tetap kasar, tetapi beberapa orang menghargai keputusannya datang tanpa menyembunyikan wajah. Sebuah merek kecil bahkan mengirim pertanyaan mengenai kemungkinan kerja sama.
“Jangan langsung diterima hanya karena mereka berani,” kata Acha. “Periksa kontrak dan produknya.”
Lina tersenyum karena itu adalah instruksi kerja pertama Acha setelah berminggu-minggu. Mereka membuat daftar pertanyaan untuk calon klien dan sepakat tidak menggunakan skandal sebagai bahan promosi murahan.
Sementara itu, Melati mengetuk jendela mobil sebelum mereka pergi. Ia meminta nomor psikolog yang membantu Acha.
“Aku sering kebangun karena suara Mama di rekaman,” akunya.
Acha mengirimkan kontak tersebut, lalu mengingatkan bahwa mencoba satu kali tidak berarti harus cocok. Melati mengangguk dan berterima kasih.
Saat mobil bergerak, Acha melihat gedung agensi dari kaca belakang. Papan namanya belum terpasang, meja-mejanya masih baru, dan orang-orang di dalamnya belum saling percaya sepenuhnya. Namun tempat itu lahir bukan dari janji kesempurnaan. Ia dibangun oleh orang-orang yang mengakui kesalahan dan tetap bersedia melakukan pekerjaan sulit untuk berubah.
Untuk pertama kalinya, Acha tidak merasa dirinya sekadar beban bagi awal baru tersebut. Ia memiliki pengalaman buruk yang dapat dipakai untuk menyusun aturan lebih baik. Masa lalunya masih mengikuti, tetapi tidak harus selalu memimpin.