Ryo mengajak Acha makan malam tiga hari setelah kontrak Panggung Baru ditandatangani. Undangannya dikirim melalui pesan pendek dan tidak disamarkan sebagai rapat atau tugas keamanan.
‘Saya ingin mengajak Mbak makan sebagai Ryo, bukan asisten Bu Sarah. Kalau belum siap, Mbak boleh menolak.’
Acha membaca pesan itu hampir sepuluh kali. Biasanya ia dapat menerima ajakan lelaki tanpa berpikir. Ia tahu cara memilih pakaian, membuat lawan bicara nyaman, dan meninggalkan kesan yang diinginkan. Namun undangan Ryo membuat seluruh kemampuan tersebut seolah tidak berguna.
Ia membalas setuju dengan syarat memilih tempat. Acha menunjuk warung mi kecil yang tidak akan didatangi wartawan. Ryo datang mengenakan kemeja biasa tanpa jas. Untuk pertama kalinya, Acha melihatnya seperti lelaki seusianya, bukan orang yang selalu berdiri satu langkah di belakang Sarah.
“Kenapa tegang?” tanya Acha.
“Saya sedang makan dengan perempuan yang pernah menyuruh saya mundur kalau perasaan saya mengganggu pekerjaan.”
“Masih bisa batal.”
“Saya sudah pesan dua mangkuk.”
Acha tersenyum. Keduanya duduk di meja pojok. Pada beberapa menit pertama, mereka membicarakan makanan dan kemacetan. Tidak ada percakapan menggoda seperti yang biasa Acha gunakan ketika menjalankan tugas.
“Pak Ryo suka aku sejak kapan?” tanyanya akhirnya.
Ryo hampir tersedak. “Langsung begitu?”
“Aku gak jago basa-basi kalau gak dibayar.”
Pria itu mengusap tengkuk. Ia mengaku mulai tertarik ketika melihat Acha diam-diam membayar biaya rumah sakit seorang kru, lalu melarang siapa pun memberi tahu media. Perasaannya tumbuh selama mereka menjalankan rencana Sarah, meski ia tahu kedekatan Acha dengan Dariel hanya sandiwara.
“Makanya cemburu?”
“Mengetahui sesuatu sandiwara tidak selalu membuat perasaan patuh.”
Acha memainkan sumpit. “Aku gak tahu cara pacaran biasa.”
“Saya tidak meminta kita langsung pacaran.”
“Terus ini apa?”
“Makan mi.”
Acha tertawa terlalu keras sampai pengunjung lain menoleh. Ketegangan di bahunya sedikit berkurang.
Ryo kemudian bercerita tentang keluarganya. Ayahnya meninggal ketika ia kuliah, membuatnya bekerja paruh waktu untuk membantu ibu dan adik. Sarah memberinya pekerjaan setelah melihatnya menangani kekacauan sebuah acara perusahaan. Kesetiaannya kepada keluarga Hardiansyah berasal dari rasa hormat, bukan utang yang membuatnya kehilangan pilihan.
“Kalau Tante Sarah menyuruh Pak Ryo menjauh dariku?”
“Saya akan mendengar alasannya, lalu membuat keputusan sendiri.”
Jawaban itu penting bagi Acha. Ia tidak ingin kembali masuk ke hubungan yang arah hidupnya ditentukan orang yang membayar gaji.
Seusai makan, mereka berjalan menuju area parkir. Dua remaja mengenali Acha dan meminta foto. Salah satu dari mereka kemudian bertanya apakah kabar mengenai pekerjaannya sebagai pelakor benar.
Ryo hendak menghentikan pertanyaan, tetapi Acha menjawab sendiri. “Ada keputusan buruk yang pernah Kakak ambil. Kakak sedang bertanggung jawab.”
Remaja itu tampak malu lalu meminta maaf. Acha tetap bersedia berfoto. Setelah mereka pergi, tangannya gemetar.
“Saya bangga,” kata Ryo.
“Jangan. Aku cuma jawab satu pertanyaan.”
“Tetap boleh dihargai.”
Mereka berhenti di samping mobil. Ryo bertanya apakah Acha menyesal datang. Acha menggeleng, lalu berkata belum siap memberi nama pada hubungan mereka.
“Aku suka Pak Ryo ada di dekatku,” akunya. “Tapi aku takut itu cuma karena Pak Ryo bikin aku merasa aman setelah semua masalah.”
“Kita bisa menunggu sampai Mbak tahu bedanya.”
“Kalau ternyata aku gak bisa balas perasaan Pak Ryo?”
“Saya akan kecewa, lalu melanjutkan hidup. Mbak tidak berutang cinta karena saya membantu.”
Mata Acha terasa panas. Selama menjadi pelakor bayaran, ia melihat begitu banyak orang memakai hadiah, bantuan, atau pengorbanan untuk menagih kasih sayang. Ryo justru memberinya jalan keluar sebelum mereka benar-benar memulai.
Acha mengulurkan tangan. “Boleh pegangan?”
Ryo menatapnya untuk memastikan permintaan itu sungguh-sungguh, lalu menyambut jemarinya. Mereka berdiri seperti dua remaja yang baru mengenal rasa gugup.
Ponsel Acha berbunyi. Dariel mengirim undangan pemotretan uji coba untuk kampanye pertama Panggung Baru. Tidak ada merek besar, hanya perusahaan pakaian lokal yang bersedia mengambil risiko memakai Acha dan Melati bersama.
“Aku dapat kerjaan,” ucap Acha, nyaris tidak percaya.
Ryo tersenyum. “Selamat.”
“Kecil, sih.”
“Panggung baru tidak harus langsung besar.”
Acha menyimpan ponsel. Ia tidak tahu apakah publik akan menerimanya lagi atau apakah hubungannya dengan Ryo akan berhasil. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, kedekatan dengan seorang lelaki tidak memiliki target, bayaran, ataupun pihak yang harus dibuat cemburu.
Saat Ryo hendak melepaskan tangan untuk membukakan pintu mobil, Acha menahannya sebentar.
“Ini juga bukan jawaban,” katanya.
“Saya tahu.”
“Tapi bukan bagian dari kontrak.”
Ryo menggenggamnya sedikit lebih erat. “Itu sudah lebih dari cukup untuk malam ini.”
Sebelum berpisah, mereka menyepakati pertemuan berikutnya tanpa menyebutnya kencan. Ryo ingin mengajak Acha ke toko buku, sementara Acha bersikeras memilih pertandingan bola basket agar dapat melihat apakah pria itu tetap tenang saat tim kesayangannya kalah.
“Saya tidak punya tim kesayangan,” kata Ryo.
“Berarti hidup Pak Ryo terlalu rapi. Aku harus cari kekurangannya.”
“Daftarnya panjang. Mbak akan menemukannya kalau bersedia mengenal saya cukup lama.”
Kalimat itu membuat Acha kembali salah tingkah. Ia cepat-cepat masuk ke mobil dan menutup pintu. Dari balik kemudi, Lina menahan senyum.
“Jangan komentar,” ancam Acha.
“Saya belum bicara.”
Dalam perjalanan pulang, Dariel mengirim rincian pemotretan. Konsepnya bukan menjadikan Acha dan Melati sebagai dua perempuan yang berebut lelaki, seperti tawaran yang sering mereka terima. Keduanya akan memerankan dua tokoh yang membongkar kepalsuan dunia gemerlap dari sisi berbeda.
Acha menyukai gagasan itu, tetapi meminta sesi tertutup dan penjagaan tambahan. Ia juga mengusulkan agar hasil kampanye tidak memakai kalimat yang menyebut mereka telah saling memaafkan. Hubungan mereka belum sampai ke sana.
Dariel menerima semua syarat. Ia menambahkan pesan singkat: ‘Jangan terlambat, Dek Tua.’
Acha tertawa membaca panggilan tersebut. Persahabatan mereka belum kembali utuh, namun ada tanda bahwa luka itu sedang dirawat, bukan ditutup dengan kepura-puraan.
Sesampainya di apartemen, Acha menulis tiga hal di buku yang diberikan psikolog: ia takut kembali ke depan kamera, ia senang Ryo menggenggam tangannya, dan ia belum tahu apakah kebahagiaan itu dapat dipercaya.
Di bawahnya ia menambahkan satu kalimat: ketidaktahuan bukan alasan untuk lari. Kali ini ia akan mengenal perasaannya tanpa naskah, tanpa target, dan tanpa bayaran.