Acha tiba di studio empat puluh menit sebelum jadwal. Ia mengatakan kepada Lina bahwa kedatangannya yang terlalu awal disebabkan jalanan sepi, bukan kegugupan. Alasan itu langsung terbantahkan ketika Lina menunjukkan bekas kuku pada telapak tangannya.
“Aku cuma mau semuanya siap,” kilah Acha.
Studio yang dipilih Panggung Baru lebih kecil daripada tempat pemotretan Acha biasanya. Tidak ada ruang ganti pribadi atau puluhan kru. Dariel berdiri di tengah ruangan sambil memeriksa susunan lampu bersama fotografer. Ketika melihat Acha, ia mengangkat jam tangannya.
“Ajaib. Dek Tua datang lebih pagi.”
“Aku bisa pulang terus datang terlambat kalau kamu kangen kebiasaan lama.”
Dariel menyuruhnya duduk di meja rias. Candaan mereka terdengar biasa, tetapi keduanya masih berhati-hati. Tidak ada lagi sentuhan spontan atau cerita pribadi yang dibagikan tanpa berpikir.
Melati datang tepat waktu. Ia menyapa semua orang, lalu memilih kursi rias di samping Acha. Penata busana menunjukkan konsep dua set pakaian: gaun mewah yang indah tetapi membatasi gerak, kemudian setelan sederhana yang dapat mereka ubah sendiri di depan kamera.
“Pesannya tentang kebebasan menentukan citra,” jelas Dariel. “Bukan soal siapa yang lebih baik di antara kalian.”
Fotografer meminta Acha dan Melati berdiri saling membelakangi pada sesi pertama. Musik dinyalakan. Biasanya Acha mampu mengubah ekspresi dalam hitungan detik, tetapi kali ini kilatan pertama membuat tubuhnya kaku. Ia teringat puluhan foto yang dipakai Vino untuk menghancurkan namanya.
“Berhenti dulu,” kata Dariel.
“Aku bisa lanjut.”
“Tangan kamu gemetar.”
Acha melihat jemarinya sendiri. Seluruh kru menunggu, membuat rasa malu semakin besar. Ia hampir memaksa diri kembali berpose sampai Melati meminta semua lampu dimatikan kecuali satu.
“Kita mulai dari tes tanpa kamera,” usulnya. “Aku juga belum nyaman.”
Fotografer menyetujui. Acha dan Melati menjalani gerakan seperti latihan. Tanpa suara rana, napas Acha perlahan teratur. Melati beberapa kali salah langkah karena gaunnya terlalu panjang, membuat keduanya tertawa.
“Kalau aku jatuh, Kak Acha jangan unggah videonya,” pesan Melati.
“Tergantung. Kalau lucu, tetap aku simpan.”
Ketika kamera kembali digunakan, Acha tidak lagi merasa harus membuktikan dirinya masih menjadi model terbaik. Ia hanya mengikuti cahaya dan gerak tubuh yang telah dikenalnya bertahun-tahun.
Pada sesi kedua, mereka merobek lapisan luar gaun untuk memperlihatkan setelan di dalamnya. Konsep itu terasa dekat dengan perjalanan keduanya. Namun Acha menghentikan pemotretan saat fotografer meminta Melati berlutut di kakinya.
“Kenapa?” tanya fotografer. “Secara visual bagus.”
“Karena nanti fotonya terlihat seperti dia kalah sama aku. Itu bukan cerita yang kita sepakati.”
Melati tampak terkejut. Dariel mendukung keberatan Acha dan meminta pose diganti. Mereka akhirnya berdiri sejajar sambil memegang potongan kain masing-masing.
Saat istirahat, Melati mengucapkan terima kasih.
“Aku bukan membela kamu,” kata Acha. “Aku membela konsepnya.”
“Tetap aja. Dulu aku pasti diam kalau diminta pose begitu.”
Acha mengetahui alasannya. Artis Big5 dibiasakan menganggap semua perintah sebagai kesempatan yang tidak boleh ditolak. Mereka kemudian berdiskusi dengan fotografer tentang pose akhir dan menemukan gagasan yang disukai semua pihak.
Pemotretan selesai menjelang malam. Dariel memperlihatkan beberapa hasil mentah. Salah satunya menampilkan Acha dan Melati menatap kamera tanpa senyum, berdiri sejajar di antara kain mewah yang jatuh di lantai.
“Bagus,” kata Acha.
“Karena modelnya,” sahut Melati.
“Baru sehari kerja bareng udah ketularan narsis.”
Di luar studio, sejumlah wartawan menunggu. Dariel memberi pilihan untuk keluar melalui pintu belakang. Acha dan Melati berdiskusi, lalu memilih pintu depan dengan didampingi tim keamanan.
Pertanyaan pertama langsung membahas persaingan mereka mendapatkan Dariel. Acha mengingatkan bahwa kampanye tersebut sama sekali tidak bercerita mengenai lelaki. Melati menambahkan bahwa hubungan pribadinya dengan Dariel sedang diberi jarak dan bukan bahan promosi.
Seorang wartawan bertanya apakah Melati memaafkan Acha karena mencoba merebut kekasihnya.
“Acha tidak pernah benar-benar memiliki hubungan romantis dengan Dariel,” jawab Melati. “Kami berdua membuat kesalahan berbeda. Kami sedang bertanggung jawab atas kesalahan masing-masing.”
Jawaban itu menghentikan usaha mengadu mereka. Setelah beberapa pertanyaan, tim keamanan membawa keduanya ke mobil.
Dariel menghampiri Acha sebelum ia pergi. “Terima kasih tadi soal pose Melati.”
“Aku pikir kamu gak kasih perlakuan khusus.”
“Mengucapkan terima kasih bukan perlakuan khusus.”
Dariel kemudian mengakui bahwa melihat Acha dan Melati bekerja bersama terasa aneh. Ia masih marah kepada keduanya, tetapi juga mulai memahami bahwa pengampunan tidak harus diberikan sekaligus.
“Aku kangen teman yang suka kirim pesan gak penting tengah malam,” katanya.
“Aku bisa mulai lagi malam ini.”
“Jangan banyak-banyak.”
Acha tersenyum. “Siap, Kak Dariel.”
Dalam perjalanan pulang, foto bocoran pemotretan mulai beredar. Tanggapan publik terbelah. Sebagian menuduh kampanye itu sebagai cara mencuci citra, tetapi banyak yang memuji konsep dan sikap mereka terhadap wartawan.
Lina bertanya apakah Acha ingin membaca semua komentar.
“Enggak,” jawabnya. “Kirim yang berkaitan sama kerjaan aja.”
Keputusan kecil itu terasa seperti kemenangan. Acha tidak dapat mengendalikan penilaian semua orang. Ia hanya dapat memastikan pekerjaan hari ini dilakukan dengan jujur.
Di apartemen, sebuah buket bunga menunggu. Acha sempat panik sebelum membaca kartu bertuliskan nama Ryo. Isinya bukan pujian berlebihan, hanya ucapan selamat karena berani kembali bekerja.
Acha memotret bunga itu dan mengirimkannya kepada Ryo.
‘Kalau aku bilang senang, ini dianggap jawaban?’
Balasan datang cepat.
‘Tidak. Itu hanya berarti Mbak senang menerima bunga.’
Acha tertawa. Hari pertamanya kembali ke depan kamera tidak menghapus masa lalu. Namun ia pulang tanpa memainkan karakter siapa pun, dan itu membuat dirinya merasa lebih ringan daripada setelah pemotretan terbesar dalam kariernya.
Sebelum tidur, ia melihat lagi hasil mentah yang dikirim Dariel. Pada foto favoritnya, bekas luka di telapak tangannya sedikit terlihat. Editor menawarkan menghapusnya, tetapi Acha meminta luka itu dibiarkan selama tidak mengganggu desain.
“Yakin?” tanya Dariel lewat pesan.
‘Yakin. Gak semua yang gak sempurna harus disembunyikan.’
Dariel membalas dengan tanda setuju. Acha mematikan ponsel dan untuk pertama kalinya menunggu peluncuran sebuah kampanye tanpa bertanya apakah dirinya tampak cukup cantik. Ia hanya berharap karya itu menyampaikan sesuatu yang benar.