Kampanye Panggung Baru diluncurkan seminggu kemudian. Foto Acha dan Melati terpasang di beberapa papan iklan kecil serta akun resmi merek. Penjualan meningkat, membuat dua perusahaan lain mulai menghubungi agensi.
Dariel seharusnya gembira. Namun, ia justru semakin sering tidur di kantor. Setiap pulang ke rumah, Sarah berusaha meminta maaf dan menjelaskan alasan menyewa Acha. Dariel belum sanggup mendengar semuanya tanpa kembali marah.
Suatu malam, Acha menemukan Dariel tertidur di sofa ruang rapat. Laptop menyala di dadanya dan makanan di meja belum disentuh.
“Kalau mau mati muda, jangan di kantor. Nanti nama agensi jelek,” katanya sambil menarik tirai.
Dariel membuka mata. “Kamu ngapain masih di sini?”
“Tanda tangan laporan. Lina bilang bos baruku belum pulang tiga hari.”
“Aku mandi di gym.”
“Wah, hidup yang sehat.”
Acha memanaskan makanan. Dariel awalnya menolak, tetapi akhirnya duduk setelah mencium aroma sup. Ia mengaku tidak menghindari Sarah semata. Melati meminta bertemu untuk membahas hubungan mereka setelah selesai memberikan keterangan terakhir.
“Kamu mau balikan?” tanya Acha.
“Gak tahu.”
“Masih cinta?”
“Iya. Itu yang bikin semuanya susah.”
Acha tidak memberi saran. Dariel mengejek karena perempuan yang selalu merasa paling tahu akhirnya memilih diam.
“Kalau aku bilang putus, kamu bakal curiga itu karena kontrak lama,” jawab Acha. “Kalau aku bilang balikan, aku juga gak tahu apa kalian bisa percaya lagi. Jadi putuskan sendiri.”
Dariel mengangguk. Ia kemudian bertanya mengenai Ryo. Acha langsung menuduhnya mengalihkan pembicaraan.
“Aku cuma mau tahu kenapa asisten Mama kirim bunga ke artis agensiku.”
“Karena artis agensimu cantik.”
“Kasihan Pak Ryo.”
Acha melempar tisu ke arahnya. Tawa mereka terdengar seperti dahulu, lalu berhenti saat Dariel menyadari betapa rindunya ia pada pertemanan itu.
“Aku mau mencoba memaafkan kamu,” katanya. “Tapi kalau tiba-tiba aku marah lagi, jangan bilang aku plin-plan.”
“Aku juga gak berharap langsung kembali seperti dulu.”
Mereka membuat batas baru. Acha tidak akan membahas hubungan Dariel dan Melati kepada Sarah. Dariel juga tidak akan menjadikan Acha perantara ketika marah kepada mamanya.
Keesokan hari, Dariel menemui Melati di taman terbuka dengan pendamping keamanan menunggu jauh. Melati menyerahkan sebuah kotak berisi hadiah, foto, dan kunci apartemen Dariel.
“Aku gak datang buat minta balikan,” katanya. “Aku cuma mau berhenti menahan kamu dengan rasa kasihan.”
Dariel duduk di hadapannya. “Aku masih sayang.”
“Aku juga. Tapi selama sama aku, kamu akan terus bertanya mana yang jujur.”
Melati menjelaskan bahwa ia ingin menjalani terapi dan membangun karier tanpa bergantung pada hubungan mereka. Jika suatu hari kepercayaan dapat tumbuh kembali, mereka boleh bertemu sebagai dua orang yang berbeda. Untuk sekarang, ia meminta berpisah.
Dariel menahan air mata. Sebagian dirinya ingin berjanji dapat melupakan semuanya. Namun ia tahu janji itu tidak benar.
“Aku maafin kamu karena terjebak sama Vino,” katanya. “Tapi aku belum bisa memaafkan semua pilihanmu.”
“Aku ngerti.”
Mereka berpelukan untuk terakhir kali sebagai pasangan. Tidak ada pertengkaran atau permintaan menunggu. Melati berjalan pergi lebih dahulu, sementara Dariel tetap duduk sampai taman hampir gelap.
Sarah menunggu di rumah ketika Dariel pulang. Ia sudah menyiapkan banyak kalimat, tetapi mengurungkan semuanya setelah melihat mata putranya.
“Melati sama aku selesai,” kata Dariel.
Sarah hendak mengatakan itu yang terbaik, lalu berhenti. “Mama ikut sedih.”
Dariel menatapnya. “Mama memang gak suka dia.”
“Tapi kamu mencintainya. Kehilangan tetap menyakitkan meski hubungan itu bermasalah.”
Sarah tidak memeluk sebelum Dariel mendekat lebih dahulu. Ketika putranya akhirnya menyandarkan kepala di bahunya, ia hanya mengusap punggungnya.
Mereka kemudian membicarakan kontrak dengan Acha. Sarah mengakui rasa takut membuatnya memperlakukan Dariel seperti anak yang tidak mampu menentukan hidup. Ia berjanji tidak lagi memakai orang lain untuk mengarahkan keputusan putranya.
“Aku butuh waktu buat percaya sama Mama lagi,” kata Dariel.
“Mama akan menunggu sambil memperbaikinya.”
Di tempat lain, Acha menjalani pertemuan keduanya dengan Ryo di toko buku. Ia datang tanpa pakaian mencolok dan tidak membawa Lina. Ryo menunjukkan novel misteri kesukaannya, sedangkan Acha memilih buku tentang psikologi hubungan hanya untuk membuatnya salah tingkah.
Saat minum kopi, Acha bercerita mengenai rasa takutnya menerima kasih sayang tanpa kontrak. Ia khawatir suatu hari akan bosan lalu melukai Ryo.
“Kemungkinan itu ada,” jawab Ryo. “Saya juga bisa melakukan kesalahan dan mengecewakan Mbak.”
“Ini harusnya bagian Pak Ryo meyakinkan aku.”
“Saya tidak mau meyakinkan dengan janji yang tidak bisa dijamin.”
Jawaban tersebut terasa tidak romantis sekaligus sangat menenangkan. Acha meminta agar mereka tetap saling mengenal tanpa tuntutan hubungan resmi.
Ryo setuju, tetapi menetapkan satu batas. Selama proses itu, mereka harus mengatakan jika mulai mendekati orang lain agar tidak ada asumsi tersembunyi.
“Pak Ryo ternyata cerewet juga.”
“Mbak bilang mau mengenal kekurangan saya.”
Mereka berjalan keluar toko ketika hujan turun. Ryo membuka payung, dan Acha memilih berdiri di dekatnya tanpa berpura-pura tersandung atau mencari alasan untuk bersentuhan.
Di bawah payung yang sempit, Acha menggenggam lengan Ryo atas keinginannya sendiri.
Pada malam yang sama, empat orang menghadapi jarak dengan cara berbeda. Dariel dan Melati memilih berpisah agar kebohongan berhenti tumbuh. Sarah memberi ruang kepada putranya untuk marah. Sementara Acha dan Ryo memilih mendekat perlahan tanpa menjanjikan akhir.
Tidak semua cinta harus dipertahankan dengan menggenggam sekuat mungkin. Kadang kejujuran justru terlihat dari keberanian memberi jarak, lalu menerima bahwa orang yang disayangi tetap berhak menentukan ke mana ia akan melangkah.
Dalam perjalanan pulang, Acha menerima pesan dari Dariel yang hanya berisi satu kalimat: ‘Aku dan Melati sudah berpisah.’ Ia tidak menelepon atau memberikan nasihat. Acha membalas bahwa dirinya siap mendengar jika Dariel membutuhkan teman.
Beberapa menit kemudian, Melati mengirim kabar yang sama. Kepadanya, Acha juga tidak mengatakan keputusan itu benar atau salah. Ia hanya mengingatkan agar Melati tidak sendirian malam tersebut.
Ryo memperhatikan Acha menyimpan ponsel. “Dulu Mbak dibayar untuk menghasilkan perpisahan itu.”
“Iya. Tapi sekarang aku gak merasa menang.”
“Mungkin karena Mbak tidak lagi melihat mereka sebagai target.”
Acha mengangguk. Di balik setiap pekerjaan lamanya selalu ada manusia yang harus melanjutkan hidup setelah ia menerima bayaran dan pergi. Kesadaran itu menyakitkan, tetapi ia memilih tidak menyingkirkannya lagi.