Hari persidangan pertama Vino dipenuhi wartawan. Acha tiba bersama Firza, Lina, dan pengacara. Ryo tidak berjalan di sampingnya karena harus membantu Sarah menyiapkan dokumen Hardiansyah Group, tetapi pria itu telah mengirim pesan agar Acha sarapan dan tidak membaca komentar publik.
“Dia pikir aku anak kecil?” gerutu Acha.
Lina menunjukkan kotak makanan yang masih utuh. “Tapi Mbak memang belum sarapan.”
Acha akhirnya memakan roti sebelum masuk. Di lorong pengadilan, ia bertemu Melati. Keduanya mengenakan pakaian sederhana dan hampir tanpa riasan. Mereka akan memberikan kesaksian pada waktu berbeda agar tidak saling memengaruhi.
“Gugup?” tanya Acha.
“Banget. Kak Acha?”
“Aku pengin kabur lewat toilet.”
Melati tersenyum singkat. Tidak ada pelukan atau kalimat bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mereka hanya saling mengangguk sebelum petugas membawa Melati ke ruang tunggu lain.
Di ruang sidang, Vino duduk bersama pengacaranya. Ia tampak rapi dan tenang, jauh berbeda dari lelaki yang menahan Acha di gudang. Ketika tatapan mereka bertemu, Vino tersenyum tipis seolah masih memegang kendali.
Acha dipanggil sebagai saksi. Jaksa menanyakan hubungannya dengan Big5, kontrak rahasianya bersama Sarah, dan peristiwa di gudang. Ia menjawab setepat mungkin tanpa mengurangi kesalahannya sendiri.
Pengacara Vino kemudian berdiri. Ia menggambarkan Acha sebagai pembohong profesional yang dibayar memainkan perasaan orang. Menurutnya, kesaksian perempuan seperti itu tidak dapat dipercaya.
“Benar Anda pernah menyamar sebagai perempuan ketiga?” tanyanya.
“Benar.”
“Benar Anda menerima uang dari Sarah Hardiansyah untuk mendekati Dariel?”
“Benar.”
“Jadi berbohong adalah keahlian Anda?”
Acha menarik napas sebelum menjawab. “Saya pernah berbohong dalam pekerjaan. Karena itu saya tidak meminta pengadilan percaya hanya pada kata-kata saya. Ada rekaman, pesan, dan operasi polisi yang mendukung kesaksian saya.”
Pengacara itu mencoba memancing emosinya dengan menyebut Firza membeli jalan karier Acha. Ia juga menuduh Acha menyerahkan data palsu untuk memeras Vino.
“Kalau saya berniat memeras, saya akan meminta uang,” jawab Acha. “Saya datang berdasarkan arahan polisi untuk mempertahankan terdakwa di lokasi sampai ditangkap.”
Hakim beberapa kali meminta pengacara berhenti mengulang pertanyaan. Meski demikian, Acha keluar dari ruang sidang dengan lutut lemas. Begitu pintu tertutup, ia masuk ke toilet dan muntah.
Ryo menunggunya di lorong setelah persidangan diskors. Ia tidak bertanya apakah Acha menang atau kalah. Ia memberikan air dan berdiri menjaga jarak sampai napas perempuan itu tenang.
“Aku benci mereka pakai semua kesalahanku buat bilang aku gak mungkin jujur,” kata Acha.
“Mereka sedang melakukan pekerjaannya membela terdakwa.”
“Aku tahu. Tetap aja sakit.”
Ryo mengangguk. “Sesuatu bisa dimengerti dan tetap menyakitkan.”
Firza datang membawa tas Acha dan mengajaknya pulang, tetapi Acha ingin menunggu kesaksian Melati selesai. Ia merasa perempuan itu mungkin membutuhkan wajah yang dikenal ketika keluar.
Beberapa jam kemudian, Melati muncul dengan mata bengkak. Pengacara Vino menuduhnya membalas dendam karena cintanya ditolak Dariel. Melati tetap mengakui bahwa ia pernah mengambil dokumen, tetapi menjelaskan ancaman yang dilakukan Vino.
Acha menyerahkan sebotol air. “Mau duduk dulu?”
Melati mengangguk. Mereka duduk di ujung lorong tanpa berbicara. Dariel datang beberapa menit kemudian sebagai pemilik dokumen yang dicuri. Ia menanyakan keadaan Melati, tetapi tidak menyentuhnya.
Melati mengatakan dirinya baik-baik saja. Dariel membalas bahwa ia tidak harus terlihat kuat di depan mereka. Kalimat itu membuat air mata Melati kembali turun.
Pada akhir sidang, hakim menetapkan Vino tetap ditahan. Pemeriksaan bukti keuangan akan dilanjutkan beberapa minggu lagi. Tidak ada kemenangan dramatis, hanya jadwal panjang dan tumpukan dokumen.
Di luar gedung, wartawan meminta komentar. Acha mengatakan ia menghormati proses hukum dan tidak akan membahas isi kesaksian. Seorang reporter menanyakan apakah kedekatannya dengan Ryo merupakan sandiwara baru.
Acha menatap Ryo yang berdiri beberapa langkah di belakang. “Tidak semua orang dalam hidup saya adalah bagian pekerjaan,” jawabnya. “Tapi hubungan pribadi saya bukan alat pembuktian bahwa saya sudah berubah.”
Di mobil, Acha meminta maaf karena menyebut Ryo. Pria itu tidak keberatan, selama Acha memang nyaman dengan jawabannya.
“Aku nyaman,” katanya. “Cuma belum terbiasa ada orang yang gak bisa aku jelaskan pakai kontrak.”
Ryo mengingatkan bahwa mereka tidak perlu menjelaskan semuanya hari itu. Ia mengajak Acha makan, tetapi perempuan itu memilih pulang dan tidur.
Sebelum berpisah, Acha menggenggam tangan Ryo. “Makasih udah datang.”
“Sama-sama.”
“Ini bukan karena aku takut.”
“Kalau pun karena takut, tidak apa-apa.”
Acha menyadari Ryo tidak menuntut alasan yang sempurna untuk kedekatan mereka. Di hadapan pengadilan, masa lalunya dipakai untuk meragukan setiap kata. Di samping Ryo, ia boleh menjadi seseorang yang sedang belajar jujur tanpa harus membuktikan bahwa dirinya telah sepenuhnya berubah.
Sore itu psikolog Acha menelepon untuk memastikan keadaannya. Acha menceritakan bagaimana pertanyaan pengacara membuatnya ingin menyangkal seluruh masa lalu. Ia merasa pengakuannya justru memberikan senjata kepada orang lain.
“Kejujuran tidak selalu langsung menghadirkan rasa lega,” kata psikolog. “Kadang ia lebih dahulu menghadirkan akibat.”
Acha mencatat kalimat tersebut. Ia kemudian membuka kembali dokumen kesaksiannya dan menandai bagian yang membuatnya ragu. Bersama pengacara, ia memeriksa apakah ada jawaban yang perlu dijelaskan pada sidang berikutnya. Tindakan nyata itu membuat ketakutannya lebih mudah ditanggung.
Malam hari, Dariel mengirim pesan bahwa kesaksiannya dijadwalkan pekan depan. Ia takut kemarahannya kepada Melati akan terlihat seperti dendam. Acha menyarankan Dariel berpegang pada fakta dan tidak mencoba melindungi maupun menghukum siapa pun melalui keterangannya.
“Kamu sekarang bijak banget,” balas Dariel.
“Bayarannya mahal.”
Dariel mengirim gambar wajah kesal. Candaan kecil itu membuat Acha tersenyum. Ia sadar pemulihan tidak terjadi sendirian. Mereka semua sedang menghadapi akibat dari kebohongan yang sama melalui jalan berbeda.
Sebelum tidur, Acha mengirim pesan kepada Melati bahwa dirinya bersedia menemani pada sidang berikutnya jika diperlukan. Melati menjawab singkat, tetapi tidak menolak. Tidak ada persahabatan mendadak di antara mereka. Hanya dua saksi yang memilih tidak membiarkan Vino memisahkan mereka dengan rasa malu.