Dua hari setelah persidangan, sebuah portal berita menerbitkan kutipan palsu yang menyebut Acha bangga pernah menjadi pelakor bayaran. Potongan video konferensi pers diedit sehingga kalimat penyesalannya hilang.
Panggung Baru langsung mengadakan rapat. Tim hubungan masyarakat ingin mengirim ancaman hukum dan meminta semua artis membela Acha di media sosial. Acha menolak mengerahkan orang lain sebelum mereka mengetahui sumber video.
“Kalau semua orang menyerang portal itu, ceritanya malah makin besar,” katanya.
Dariel setuju mengirim hak jawab resmi dan meminta video lengkap dipasang di situs agensi. Mereka hanya akan menempuh hukum jika portal tersebut menolak memperbaiki berita.
Melati menawarkan membuat unggahan pribadi. “Aku ada di konferensi itu. Aku tahu Kak Acha gak bilang begitu.”
“Kamu gak perlu masuk setiap ada orang yang serang aku.”
“Aku bukan membayar utang. Aku saksi.”
Acha akhirnya menyetujui selama Melati menulis dengan kata-katanya sendiri. Unggahan Melati tidak membela seluruh masa lalu Acha. Ia hanya menyatakan kutipan tersebut tidak benar dan menyertakan rekaman lengkap.
Portal itu mengubah judul beberapa jam kemudian, tetapi tidak meminta maaf. Dariel kesal dan ingin tetap menggugat. Acha mengingatkan bahwa energi tim dibutuhkan untuk menyiapkan proyek baru.
“Jadi kita diam?” tanya Dariel.
“Kita simpan bukti dan beri peringatan resmi. Kalau diulang, baru lanjut. Memilih pertempuran bukan berarti takut.”
Keputusan tersebut diuji ketika seorang pembawa acara mengundang Acha untuk wawancara eksklusif. Bayarannya tinggi dan acara itu menjanjikan kesempatan membersihkan nama. Tim menemukan daftar pertanyaan bocor yang penuh jebakan mengenai lelaki-lelaki dari pekerjaan lamanya.
Acha menolak.
“Kesempatan tampil sebesar ini belum tentu datang lagi,” kata manajer barunya.
“Kalau mereka mau bahas pekerjaanku sekarang, aku datang. Kalau cuma mau bikin aku menangis soal masa lalu, biar kursinya kosong.”
Dariel mendukung keputusan tersebut, meski pendapatan agensi masih terbatas. Sebagai pengganti, mereka membuat wawancara tertulis dengan seorang jurnalis yang bersedia membahas transparansi kontrak artis dan kasus Big5 secara seimbang.
Saat naskah wawancara diperiksa, Acha menemukan pertanyaan tentang alasan ia menjadi pelakor bayaran. Ia hampir meminta pertanyaan itu dihapus, lalu berubah pikiran.
Dalam jawabannya, Acha menjelaskan bahwa pekerjaan tersebut memberinya rasa kuasa. Ia dapat masuk dan keluar dari hubungan tanpa mempertaruhkan perasaan sendiri. Uang hanyalah alasan yang paling mudah diakui.
“Apa Anda menganggap semua klien dan target sebagai korban?” tanya jurnalis.
“Saya tidak bisa memberi satu label kepada semuanya,” jawab Acha. “Ada klien yang ingin keluar dari hubungan berbahaya, ada yang cuma ingin menguji pasangan, dan ada yang memakai saya untuk balas dendam. Saya seharusnya memahami bahwa setiap permainan tetap melibatkan manusia.”
Wawancara itu terbit tanpa judul sensasional. Pembacanya tidak sebanyak portal gosip, tetapi beberapa tanggapan membuat Acha merasa didengar sebagai manusia, bukan tokoh jahat dalam cerita singkat.
Sementara itu, kampanye pakaian mereka berhasil. Perusahaan memperpanjang kerja sama dan meminta Acha menjadi konsultan konsep. Ia akan membantu model baru memahami hak mereka di lokasi pemotretan.
Pada sesi pertama, seorang model remaja takut menolak pakaian yang terlalu terbuka. Acha mengajak penata busana mencari alternatif dan memastikan penolakan itu tidak memengaruhi bayaran.
“Mbak dulu selalu berani nolak?” tanya model tersebut.
Acha tersenyum. “Enggak. Dulu aku sering takut diganti. Makanya sekarang kita bikin aturan supaya kamu gak harus menunggu jadi terkenal dulu buat punya suara.”
Setelah pekerjaan selesai, Acha bertemu Ryo di kantin gedung. Pria itu sedang memeriksa jadwal Sarah dan hanya memiliki waktu dua puluh menit.
“Hubungan kita menyedihkan,” keluh Acha. “Kencannya makan nasi kotak di kantor.”
“Kita belum menyebutnya hubungan atau kencan.”
“Pak Ryo dendam banget sama aturan itu, ya?”
Ryo tertawa. Ia kemudian memberi tahu bahwa Sarah menawarkan memindahkannya ke cabang luar kota dengan jabatan lebih tinggi. Kesempatan itu sudah lama ditunggu Ryo, tetapi berarti ia akan pergi selama setahun.
Acha kehilangan selera bercanda. “Pak Ryo mau ambil?”
“Saya belum memutuskan.”
“Karena aku?”
“Sebagian.”
Acha langsung merasa bersalah. Ia tidak ingin menjadi alasan Ryo menolak masa depan, tetapi juga tidak siap membayangkan pria itu pergi saat hubungan mereka baru mulai tumbuh.
“Jangan putuskan berdasarkan aku,” katanya.
“Kenapa? Perasaan saya juga bagian hidup saya.”
“Karena aku belum kasih kepastian.”
“Kepastian bukan satu-satunya hal yang boleh dipertimbangkan.”
Percakapan mereka terhenti ketika Ryo harus kembali bekerja. Ia berjanji keputusan baru diperlukan dua minggu lagi dan meminta Acha tidak merasa harus menjawab perasaannya hanya agar ia bertahan.
Malamnya, Acha membaca ulang wawancara yang baru terbit. Ia mampu menjelaskan kesalahan masa lalu kepada ribuan orang, tetapi satu kemungkinan kehilangan Ryo membuatnya kembali ingin bersembunyi.
Ia membuka ruang pesan dan mengetik banyak kalimat, lalu menghapus semuanya. Pada akhirnya, Acha hanya mengirim satu pertanyaan.
‘Besok kita bisa bicara tanpa status asisten dan artis?’
Ryo menjawab beberapa menit kemudian.
‘Bisa. Sebagai Acha dan Ryo.’
Acha menatap balasan itu. Kesalahan dalam berita dapat diperbaiki dengan bukti dan hak jawab. Namun, kesalahan dalam hubungan sering terjadi karena orang terlalu takut mengatakan apa yang sebenarnya mereka inginkan. Kali ini, sebelum jarak memilihkan akhir bagi mereka, Acha akan mencoba berbicara dengan jujur.
Pertemuan mereka berlangsung keesokan sore di taman tempat Dariel dan Melati berpisah. Acha memilih lokasi itu tanpa mengetahui sejarahnya. Ryo baru memberitahunya setelah mereka duduk.
“Berarti tempat ini spesialis percakapan sulit,” kata Acha.
Ia langsung bertanya apa arti penempatan tersebut bagi karier Ryo. Pria itu menjelaskan bahwa jabatan baru akan memberinya pengalaman memimpin, kenaikan gaji, dan kesempatan membantu keluarganya. Namun pekerjaan itu juga menuntut waktu panjang jauh dari semua orang yang dikenalnya.
“Kalau aku gak ada, Pak Ryo tetap mau pergi?” tanya Acha.
Ryo berpikir sebelum menjawab. “Kemungkinan besar iya, meski saya tetap takut.”
Acha menahan kecewa dan mengatakan ia tidak ingin Ryo menolak hanya demi hubungan yang belum bernama. Ia juga tidak ingin berjanji menunggu jika mereka belum memahami perasaan masing-masing.
“Tapi aku mau mencoba,” katanya. “Bukan mencoba menahan Pak Ryo. Mencoba punya hubungan jujur, meski nanti harus jarak jauh.”
Ryo memandangnya lama. “Apakah itu jawaban?”
“Itu jawaban bahwa aku suka sama Ryo. Bukan Pak Ryo asisten Tante Sarah, bukan orang yang menyelamatkan aku. Aku suka lelaki yang cerewet soal sarapan dan selalu minta izin sebelum menyentuh.”
Senyum Ryo muncul perlahan. Ia menerima penempatan tersebut, tetapi meminta Acha tidak menjadikan kepergiannya alasan menunda hidup. Mereka akan mencoba berkomunikasi tanpa jadwal yang mengekang dan menilai kembali hubungan setelah beberapa bulan.
Acha mengulurkan tangan. Kali ini ia tidak mengatakan genggaman itu bukan jawaban. Ryo menyambutnya, dan keduanya duduk menghadapi kemungkinan berpisah sementara tanpa menjadikan ketakutan sebagai alasan untuk berbohong.