Keputusan Ryo menerima penempatan luar kota langsung disetujui Sarah. Ia harus berangkat dalam sepuluh hari, waktu yang menurut Acha terlalu singkat untuk mempersiapkan hubungan jarak jauh yang bahkan baru saja mereka akui.
Acha berusaha bersikap biasa. Ia memenuhi jadwal pemotretan, mengikuti rapat Panggung Baru, dan memberikan pelatihan kepada model baru. Namun setiap kali melihat Ryo di kantor Sarah, ia menghitung berapa hari yang tersisa.
“Mbak bisa bilang sedih,” ujar Lina ketika mendapati Acha menatap kalender.
“Aku gak sedih. Cuma menghitung kapan hidup jadi lebih tenang karena gak ada yang cerewet soal sarapan.”
Lina mengangguk tanpa percaya. “Tinggal tujuh hari.”
Acha menutup kalender. Ia takut menunjukkan kesedihan akan membuat Ryo merasa bersalah dan mengubah keputusannya. Karena itu ia justru menjaga jarak. Pesan Ryo dijawab singkat, ajakan makan ditolak dengan alasan bekerja, dan pertemuan mereka selalu berakhir cepat.
Pada hari keempat, Ryo datang ke studio setelah pemotretan. Ia menunggu sampai kru pulang, lalu berdiri di depan Acha yang sedang menghapus riasan.
“Mbak berubah pikiran soal kita?” tanyanya.
“Enggak.”
“Lalu kenapa menghindar?”
Acha terus membersihkan wajah. “Aku sibuk.”
Ryo mengambil kursi dan duduk dengan jarak aman. “Kalau ini cara Mbak membiasakan diri sebelum saya pergi, bilang terus terang.”
Tangan Acha berhenti. Ia benci karena Ryo mengenali taktik yang bahkan tidak mau ia akui kepada diri sendiri.
“Kalau kita jarang ketemu sekarang, nanti gak terlalu beda,” katanya.
“Menurut Mbak rasa kehilangan bisa dicicil?”
“Setidaknya aku gak mendadak sendirian.”
Ryo mengingatkan bahwa menjauh lebih dahulu tidak menghapus kehilangan. Itu hanya membuat mereka membuang waktu yang masih ada.
“Saya tidak meminta Mbak mengantar sampai bandara atau menelepon setiap malam,” katanya. “Tapi saya ingin kita membuat keputusan bersama, bukan saling menebak.”
Acha akhirnya mengakui takut. Hubungan sebelumnya selalu memiliki akhir yang dapat diperkirakan dari kontrak. Dengan Ryo, tidak ada batas waktu atau aturan tentang apa yang harus terjadi setelah setahun.
“Kalau Pak Ryo ketemu orang lain di sana?”
“Saya sudah sepakat memberi tahu kalau mulai mendekati orang lain.”
“Kalau aku yang bosan?”
“Katakan. Saya akan kecewa, tapi tetap menghormati kejujuran.”
Tidak satu pun jawaban Ryo mengandung janji abadi. Justru karena itulah Acha merasa dapat mempercayainya.
Mereka menghabiskan sisa malam dengan menyusun kesepakatan sederhana. Tidak ada kewajiban panggilan setiap hari. Jika salah satu terlalu sibuk, cukup memberi kabar. Mereka akan bertemu setidaknya dua bulan sekali jika jadwal dan biaya memungkinkan. Yang terpenting, tidak seorang pun boleh menghilang hanya untuk menguji apakah yang lain akan mencari.
“Itu aturan khusus buat Mbak,” kata Ryo.
“Pak Ryo juga suka menghilang di balik pekerjaan.”
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, mereka tertawa bersama.
Menjelang keberangkatan, Sarah mengadakan makan malam kecil. Firza, Lina, Dariel, dan beberapa rekan kerja Ryo hadir. Acha datang paling akhir membawa sebuah kotak berisi jam tangan sederhana.
“Biar Pak Ryo ingat waktu,” katanya.
“Ponsel saya juga ada jam.”
“Kalau gak mau, balikin.”
Ryo cepat-cepat memasangnya. Di bagian belakang terdapat ukiran kecil: pulang bukan berarti gagal.
Acha sengaja memilih kalimat itu karena tahu Ryo sering merasa harus membuktikan dirinya mampu menyelesaikan semua tugas. Jika keadaan di kota baru tidak sesuai, ia ingin Ryo tahu bahwa kembali tetap merupakan pilihan.
Ryo memberinya buku kosong. Halaman pertama berisi daftar tempat makan di kota barunya.
“Supaya kalau Mbak berkunjung, kita gak habiskan waktu cari restoran,” jelasnya.
“Percaya diri banget aku bakal datang.”
“Saya bilang kalau, bukan ketika.”
Hari keberangkatan tiba. Acha tetap datang ke bandara meski sebelumnya mengaku memiliki pemotretan. Ia berdiri bersama Sarah dan keluarga Ryo di depan pintu keberangkatan.
Ketika waktunya berpisah, Acha tidak membuat adegan. Ia membetulkan kerah Ryo dan mengingatkan pria itu mengirim pesan setelah mendarat.
“Saya boleh memeluk?” tanya Ryo.
“Kalau tanya terus, pesawatnya pergi.”
Ryo memeluknya. Acha menahan air mata sampai pria itu melepaskan pelukan.
“Aku bakal kangen,” akunya.
“Saya juga.”
Ryo berjalan menuju pemeriksaan. Ia menoleh sekali dan mengangkat tangan yang memakai jam pemberian Acha.
Dalam perjalanan pulang, Acha menangis diam-diam. Lina tidak menghibur atau menertawakan. Ia hanya memberikan tisu.
Malamnya, pesan dari Ryo datang bersama foto kamar barunya. Tempat itu kecil dan masih dipenuhi kardus.
‘Sudah sampai. Jamnya berfungsi.’
Acha membalas dengan foto buku kosong yang diletakkan di meja samping ranjang.
‘Bukunya juga. Tapi tempat makan pertama nanti aku yang pilih.’
Jarak di antara mereka kini nyata, terukur dalam ratusan kilometer. Namun Acha tidak merasa ditinggalkan. Ryo pergi setelah melibatkannya dalam keputusan, dan mereka sama-sama memilih mencoba. Bagi Acha, itu adalah bentuk hubungan paling jujur yang pernah dimilikinya.
Hari-hari pertama menguji kesepakatan tersebut. Ryo terlalu sibuk mengikuti pengarahan dan baru membalas pesan menjelang tengah malam. Acha hampir mengirim kalimat menyindir, lalu memilih menulis bahwa dirinya kecewa karena menunggu tanpa kabar.
Ryo menelepon dan meminta maaf. Ia mengira pesan setelah sampai sudah cukup sampai jadwalnya stabil. Mereka menyadari istilah “memberi kabar” memiliki arti berbeda. Bagi Acha, itu berarti mengatakan ketika tidak sempat berbicara. Bagi Ryo, itu berarti menghubungi setelah seluruh urusan selesai.
“Kita baru dua hari udah revisi perjanjian,” keluh Acha.
“Untung perjanjian kita tidak punya denda.”
Mereka menyepakati pesan singkat sebelum hari sibuk dimulai. Tidak perlu percakapan panjang, cukup informasi agar yang lain tidak menunggu.
Acha juga menghadapi kebiasaan buruknya sendiri. Ketika Ryo mengunggah foto bersama tim baru yang berisi beberapa perempuan, ia merasakan cemburu dan hampir mencari informasi tentang mereka. Ia menghentikan diri, lalu mengaku kepada Ryo bahwa foto itu mengganggunya.
Ryo menjelaskan konteksnya tanpa mengejek. Ia juga tidak menghapus foto hanya untuk menenangkan Acha. Mereka membicarakan rasa tidak aman tersebut sampai Acha memahami bahwa kedekatan kerja bukan ancaman otomatis.
Jarak tidak membuat hubungan mereka mudah atau romantis setiap saat. Namun setiap kesalahpahaman memberi kesempatan berlatih sesuatu yang tidak pernah dimiliki Acha dalam kontrak rahasianya: bertanya sebelum menyusun kesimpulan dan berkata jujur sebelum ketakutan berubah menjadi permainan.