Bayu pun meluncur menuju ke rumah Juna dengan menggunakan motor sportnya, karena takut dengan ancaman Juna ia menjalankan motor itu dengan kecepatan penuh, tak perduli jalanan yang sedang ramai karena malam minggu.
Sementara Juna, setelah mematikan sambungan teleponnya dengan Bayu, Juna pun masih terlihat kesal. "Arrrrgh" teriak Juna frustasi sambil mengacak-acak rambutnya, dan membanting ponsel mahalnya ke arah sofa yang berukuran kecil di hadapannya.
Juna frustasi karena tidak bisa mendapatkan Safira, ditambah tadi ia mendengar suara desahan dari Bayu dan wanitanya membuat Juna tambah pusing dan tersiksa.
Apa lagi si junior miliknya yang minta di keluarkan karena ingin muntah, dan dengan terpaksa Juna bermain solo di kamar mandi yang ada di ruangan ayahnya.
Sementara di luaran sana Safira terus melanjutkan larinya keluar dari komplek perumahan elit itu. Sesekali Safira berhenti dari larinya untuk mengatur nafasnya yang ngos-ngossan "hah hah hah".
"Semoga ... Juna tidak mengejarku," doanya Safira.
Dan ia terus melanjutkan larinya karena ia takut kalau Juna mengejarnya dengan menggunakan mobil.
Karena paniknya berlari dan saat kepalanya menoleh kebelakang tanpa sengaja Safira menubruk badan seseorang, karena kondisi badan Safira yang lemah dan tidak bisa menahan tubuhnya, Safira hendak terjatuh.Untungnya dengan sigap seseorang yang bertabrakan dengan Safira, langsung menahan pinggang Safira agar tidak jatuh.
Deg deg deg deg. Degub jantung milik Safira terus berdetak, begitu juga dengan si pria.
Safira terkejut dan menjadi salah tingkah, karena tanpa sengaja orang itu memeluknya, sepintas Safira bisa memandang dan melihat wajah orang itu dan ternyata seorang pemuda yang sangat tampan.
Sebelum pandangan Safira mengabur ia sempat berucap ke orang itu dengan terbata-bata. "To-lo-ng ... sa-ya ma-s." setelah mengatakan itu Safira pingsan dipelukan si pria tersebut.
Karena melihat si gadis yang pingsan, si pria pun berusaha membangunkannya.
Dengan pelan si pria menepuk-nepuk pipi si gadis agar bisa terbangun tetapi nihil. "Hei ... hei. Dik bangun ... bangun," lirih si pria yang terus berusaha membangunkannya.
'Sepertinya ni cewek benar-benar pingsan, gue perhatikan wajahnya begitu pucat," gumam si pria dalam hati dengan wajah kebingungan menatap si gadis yang ada di pelukannya.
Si pria pun merasa kasihan dan langsung mengangkat tubuh si gadis ala bridal menuju ke dalam mobil miliknya, si pria merasa kesusahan untuk membuka pintu mobilnya dan akhirnya memanggil security yang sedang berjaga di supermarket tempat si pria belanja tadi.
"Pak security ," teriak si pria.
Merasa terpanggil security itu berlari mendekati si pria.
"Ada apa? tuan." Tanya security yang sudah ada disamping si pria dan kebingungan melihat si pria yang sedang menggendong seorang gadis.
"Tolong bantu saya membukakan pintu mobil ini, pak." ucap si pria dengan sedikit memohon karena si pria sudah menekan kunci mobil, otomatis mobil sudah bisa dibuka, tetapi si pria kesusahan membuka lebar pintu mobil itu.
"Oh baik, tuan!" sambil membukakan pintu mobil depan, security pun bertanya. "Memangnya siapa gadis ini, tuan? saya melihat, gadis ini keluar dari perumahan elit yang ada di sebelah sana," dengan menunjuk bagian sebelah kanan security itu menjelaskan. "Dan saya lihat gadis ini berlari dengan tergesa-gesa," ujar security lagi.
"Entahlah, pak! saya juga tidak tahu," sambil mendudukkan tubuh si gadis dengan perlahan di bangku penumpang bagian depan dan menyenderkan badan itu dengan posisi senyaman mungkin.
"Tetiba saja, gadis ini menabrak badan saya dan hampir terjatuh untung saya sigap menangkapnya, tetapi yang terjadi malah ia pingsan," terang si pria yang kembali berdiri setelah membungkuk meletakkan si gadis kedalam mobilnya.
Setelah itu si pria menutup mobilnya kembali. "Saya akan mengantarnya ke rumah sakit terdekat, pak!" ucap si pria memberitahu pak security tersebut.
"Terima kasih, pak atas bantuannya!" ucap si pria dengan menganggukkan kepala.
"Sama-sama, tuan!" balas security.
Dan si pria pun melangkah mengitari mobil menuju pintu sebelah kemudi, sebelum si pria membuka pintu kemudi si pria berpesan kepada security. "Tolong, pak. Jika ada yang mencari gadis ini bilang saja di antar ke rumah sakit terdekat, biar keluarganya bisa menyusul."
"Siap, tuan." ucap pak security dengan menganggukkan kepala dan berlalu melangkah ingin menuju pos jaga supermarket.
"Tunggu sebentar, pak." panggil si pria lagi sebelum ia masuk ke dalam mobil.
Pak security menoleh dan berhenti sebentar. "Ya, tuan apa masih ada yang bisa saya bantu lagi, tuan?"
"Iya, ada yang kelupaan dan ini penting," si pria melangkah mendekati security, dan membiarkan pintu mobil terbuka.
Sambil mengeluarkan dompetnya dari saku celana di bagian belakang si pria berucap. "Sebentar," sambil membuka dompetnya dan mengeluarkan kartu nama miliknya. "Tolong, bapak simpan kartu nama saya, siapa tahu ada orang yang bertanya atau mencari gadis itu, bapak bisa kasih kartu nama saya ini ke orang itu, biar orang itu bisa langsung menghubungi kontak saya."
Security pun menerima kartu nama itu. Dan sekilas membaca nama si pemilik kartu nama 'Aldiansyah Pramudya, jabatan sebagai Direktur utama di PT MEGA JAYA ABADI,' security tercengang dengan nama itu'wah inikan perusahaan kontraktor terbesar di Indonesia' gumam pak security dalam hati.
Setelah memberi kartu nama, Aldi pun mengeluarkan beberapa lembar uang yang ada di dompetnya, beruntung ia masih menyimpan uang tunai di dalam dompetnya.
"Dan ini untuk bapak karena sudah membantu saya, anggap saja sebagai rasa terima kasih saya ke bapak." ucap si pria dengan menyerahkan uang itu ketangan security. Dan security itu pun menerimanya dengan senang hati.
"Sekali lagi terima kasih pak Danu," ucap Aldi yang mengetahui nama security itu dari nametag yang tertera di atas saku baju yang security itu gunakan. Dengan membungkukkan badannya sebentar tanda permisi. Setelah itu Aldi melangkah ke mobilnya kembali.
Aldi mendudukkan pantatnya ke bangku kemudi, sebelum ia menjalankan mobilnya terlebih dahulu ia memakaikan sabuk pengaman ke badan lemah si gadis, setelah itu memakaikan ke badannya juga, dan melanjutkan menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobil fortuna hitam miliknya ke jalan raya menuju rumah sakit.
Dan dengan kecepatan sedang Aldi menjalankan mobilnya di jalan raya, sebenarnya Aldi ingin melaju dengan kecepatan kencang agar segera sampai kerumah sakit yang dituju, tapi sayangnya berhubung malam minggu jadi suasana jalan begitu ramai dan agak sedikit macet.
Sambil mengemudikan mobilnya,sesekali Aldi menoleh kearah wajah si gadis yang ada di sampingnya tersebut.
'wajahnya terlihat begitu pucat, bajunya pun terlihat begitu kusut, dan rambutnya pun terlihat acak-acakan, apa ... yang sudah terjadi dengan gadis ini?' lirih Aldi dalam hati.
"Tapi ..." Aldi menegakkan tubuhnya yang awalnya bersender santai di bangku kemudi mobil, kebetulan mobil berhenti saat lampu lalu lintas menyala berwarna merah, Aldi memandang lekat pakaian yang di pakai si gadis dan sedikit kaget 'inikan seragam sekolah!' batinnya dan fokus kembali melihat kedepan memajukan mobilnya secara perlahan, karena jalan terlihat masih macet.
'Jangan-jangan gadis ini masih pelajar, tapi kenapa sudah malam begini masih berkeliaran di jalan, masih menggunakan seragam sekolah lagi harusnya, kan pulang kerumah dulu untuk mengganti pakaiannya?" gumam Aldi dalam hati dan merasa bingung dengan kondisi gadis yang ada di sampingnya.
Dan kembali fokus menjalankan mobilnya setelah lampu berwarna hijau menyala.
Setelah kurang lebih satu jam perjalanan akhirnya mobil Aldi memasuki kawasan rumah sakit, Aldi melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil dan turun, setelah itu ia melangkah menuju pintu mobil sebelah penumpang, dan membukanya, dan tidak lupa melepas sabuk pengaman dari badan Safira, setelah itu Aldi membopong badan Safira menuju brankar yang kebetulan ada di lobby rumah sakit, dan Aldi langsung membaringkan Safira ke brankar itu.
Dua orang perawat membantu Aldi mendorong brankar tersebut, sedangkan Aldi menghubungi dokter yang sudah ia kenal di rumah sakit tersebut, dokter yang biasa menangani masalah kesehatan dan kecelakaan para pekerja yang ada di lapangan, yang mengerjakan sebuah proyek dari perusahaan milik Aldi yang ada di Surabaya.
Setelah Aldi menelepon dokter tersebut, selang berapa menit dokter itu datang dan mendekati Aldi.
Dokter Bagas tiba dan menjabat tangan Aldi. "Apa kabar tuan, Aldi?"
"Baik, dok." Aldi membalas jabatan tangan dokter Bagas.
"Siapa yang sakit?" dokter Bagas bertanya setelah melirik ke arah brankar sambil mengikuti langkah para perawat yang membawa pasien naik menggunakan tangga khusus pasien yang menggunakan brankar menuju lantai 2 begitu juga dengan Aldi yang berjalan bersisian dengan dokter Bagas.
"Siapa gadis ini?" tanyanya lagi dan menoleh kearah Aldi, saat mereka sudah sampai keruangan yang sudah di sediakan pihak rumah sakit khusus untuk karyawan dari perusahaan milik Aldi.
Sambil mengikuti perawat mendorong brankar masuk, si dokter terus bertanya. "Sepertinya bukan karyawan anda!" seru dokter Bagas. Sedangkan pasien sudah di pindahkan ke atas ranjang yang ada di kamar tersebut, kamar yang cukup mewah yang mana di ruangan itu terdapat 2 ranjang, 1 untuk ranjang pasien dan yang 1 nya lagi untuk keluarga atau saudara yang menginap di situ, dan ruangan itu berisi barang-barang mewah seperti televisi yang ukurannya besar yang di pajang di dinding dan lemari pendingin, yang mana berisi bermacam minuman dingin untuk tamu dan beberapa macam buah segar, dan ada sebuah sofa panjang untuk tamu yang berkunjung.
"Entah lah, dok? saya juga tidak mengenalnya, tiba-tiba saja gadis ini berlari dan menabrak badan saya dan langsung pingsan dihadapan saya," jelas Aldi.
Setelah sampainya keruangan itu dan Safira sudah dipindahkan ke atas ranjang pasien, lalu 2 perawat tadi mengganti baju seragam milik Safira menjadi baju pasien khusus rumah sakit, setelah itu dokter Bagas memeriksa kondisi Safira.
"Gadis ini cuma dehidrasi dan sepertinya belum makan apa-apa terlihat dari kondisi badannya yang lemah dan wajahnya yang pucat, karena itulah gadis ini pingsan," ucap dokter Bagas menjelaskan.
"Dan tuan Aldi tidak perlu khawatir, setelah infus ini habis," menunjuk infus yang dipasangkan perawat ke tangan Safira. "Pasien akan sadar kembali." ucap dokter Bagas dengan serius sambil memeriksa pergelangan tangan Safira.
---
Bersambung...
Happy reading...