Sebelum dokter Bagas menyelesaikan pemeriksaannya di badan gadis itu, beliau terdiam sesaat memperhatikan keadaan si gadis.
"Sepertinya saya mencurigai sesuatu, tuan Aldi!" ucap dokter Bagas serius.
"Apa itu, dok?" tanya Aldi penasaran.
"Saya curiga sepertinya gadis ini hampir di lecehkan seseorang," ungkap dokter Bagas yakin dan beliau merasa iba dengan gadis yang ada dihadapannya ini.
"Darimana anda mengetahuinya, dok?" tanya Aldi bingung.
"Anda bisa melihat sendiri pakaian yang ia gunakan. Terlihat begitu kusut, dan rambutnya pun terlihat begitu berantakkan, dan ini." Dokter Bagas menunjuk kedua pergelangan tangan milik Safira. "Coba anda lihat secara langsung di kedua pergelangan tangannya ada tanda lingkaran merah, seperti cap dari jari-jari seseorang yang sedang menekannya," tukas dokter Bagas.
Aldi pun mendekati dokter Bagas dan melihat secara langsung keadaan pergelangan tangan Safira.
"Ini, Anda lihat saja sendiri masih terlihat kemerah-merahan, sepertinya gadis ini berusaha meronta-ronta ingin melepaskan diri dari orang itu, tapi orang itu memegang kuat pergelangan tangan gadis ini." Dokter Bagas dengan begitu yakinnya menerangkan kondisi si gadis ke Aldi.
Tanpa Dokter dan Aldi tahu ternyata Safira sudah sadar dari pingsannya, karena masuknya cairan Infus dari pergelangan tangannya dan membuat tenaganya sedikit memulih, tetapi Safira berpura-pura masih pingsan, dan dengan sengaja Safira mendengarkan perbincangan Dokter Bagas dan Aldi.
"Bagaimana? tuan Aldi. Apakah? tuan akan melaporkan kejadian ini ke pihak yang berwajib." Saran Dokter Bagas.
"Baiknya menunggu gadis ini siuman dulu, dok. Takutnya apa yang kita lihat salah."
"Baiklah, jika itu keputusan dari, tuan Aldi. Dan saran saya anda harus segera menghubungi keluarga pasien, siapa tahu keluarganya mencari gadis ini dan mengkhawatirkan gadis ini," ujar dokter Bagas sambil menepuk-nepuk pundak Aldi.
Safira yang mendengar ucapan dokter Bagas, tetiba di dalam hati bersedih tetapi berusaha menahan air matanya agar tidak keluar. 'Keluarga dari mana? saya tidak memiliki keluarga lagi, dok!" batin Safira dengan mempertahankan air matanya agar tidak mengalir. Orang tua saya sudah tiada sebulan yang lalu, dok!' gumam Safira dalam hati. Ingin rasanya Safira bangun dan mengungkapkan kesedihannya kepada kedua orang pria yang ada disamping ranjangnya ini, dan ingin Safira menceritakan kejadian yang di alaminya malam ini, tapi ia takut.
'Andai kalian tahu betapa menderitanya hidup, aku. Orang tua keluarga satu-satunya yang aku miliki sudah pergi dari dunia ini, dan hari ini hampir diperkosa oleh teman satu kelas ku di sekolah.' Jerit Safira yang bisa ia sampaikan hanya dalam hatinya saja.
"Tunggu gadis ini bangun dulu, dok." Sahut Aldi.
"Loh, kenapa harus menunggu? anda, kan bisa mencari identitas diri gadis ini di dalam tas atau dompet yang ia bawa, siapa tahu di dalam tasnya ada kartu pelajar atau KTP milik gadis ini, atau dengan ponselnya cari saja nomor kontak keluarganya atau teman-temannya, cari aja satu persatu siapa tahu ada?" saran dokter Bagas.
Aldi menggaruk kepalanya bingung. "Mmm itu, dok. Sewaktu gadis ini bertemu dengan, saya. Gadis ini tidak ada membawa barang apapun, jangankan tas, kakinya saja tidak memakai apa-apa, dok. Tunjuk Aldi kearah kaki Safira dan melihat kaki itu belum sepenuhnya bersih, tepatnya yang belum dibersihkan oleh perawat.
"Tolong, suster. Bisa ambilkan saya kain bersih dan air bersih, saya ingin membersihkan telapak kaki gadis ini," ucap Aldi meminta tolong dengan perawat yang ada.
Perawat pun dengan sigap mengambil air bersih menggunakan bak kecil yang terbuat dari aluminium yang sudah tersedia di ruangan VIP itu, dan mengambil handuk bersih yang tersimpan di lemari yang ada di kamar itu juga dan meletakkan ke atas meja dorong bekas membawa makanan untuk pasien, sedangkan makanan tersebut sudah diletakkan di nakas samping ranjang pasien.
"Silahkan, tuan. Atau biar saya saja, tuan. Yang membersihkan kaki nona ini," saran perawat meminta izin.
"Tidak usah, Sus. Biar saya saja yang melakukannya. Dan Aldi pun duduk disamping kaki Safira. Dan dengan lembut Aldi mengusap kaki Safira. Sedangkan Safira yang merasakan usapan itu berusaha menahan diri untuk tidak bergerak dengan sentuhan Aldi,Safira merasa sungkan dan malu, tapi bagaimana lagi dengan terpaksa ia membiarkan Aldi melakukannya. 'Maafkan aku, tuan. karena sudah membuat anda kesusahan dan sudah membuat, anda melakukan ini,' batin Safira.
"Tapi, saya sudah berpesan dengan security yang ada di supermarket tempat nona ini pingsan tadi, jikalau ada yang mencari seorang perempuan dengan ciri seperti gadis ini mereka bisa langsung menghubungi, saya. Dan, saya sudah meninggalkan kartu nama, saya ke security itu, semoga saja ada yang mencarinya." Jawab Aldi dengan wajah penuh harap.
"Semoga saja," sahut dokter Bagas.
Sementara Safira terus berusaha menahan sentuhan lembut dari Aldi di kakinya, ingin ia bangun tapi malu dan takut akan pertanyaan yang akan mereka tanyakan ke Safira, terpaksa Safira pun melanjutkan pura-pura tidurnya.
Dengan lembutnya Aldi terus mencuci kaki Safira dengan handuk.'Kaki ini begitu mulus dan putih,' batin Aldi.
Deg...deg ... deg
Aldi menghentikan usapannya, karena merasa salah tingkah dengan bayangan kaki mulus dan putih milik Safira. Dadanya berdegub kencang dan rona wajahnya berubah kemerah-merahan dan sekujur tubuhnya terasa panas.
"Tolong, sus. kamu lanjutkan membersihkan kaki nona ini," mohon Aldi dan perawat pun menganggukkan kepala tanda setuju.
Aldi pun beralih dari duduknya dan berdiri mundur mendekati dokter Bagas, sedangkan dokter Bagas masih mendengar cerita dari Aldi dan masih berpikir dengan kondisi yang terjadi dengan Safira.
'Aku yakin ... gadis ini hampir dilecehkan,' lirih dokter Bagas dalam hati dengan kedua tangan bersedekap di dadaa dengan penuh keyakinan menatap wajah cantik Safira yang sudah dibersihkan oleh perawat.
"Coba, Sus. Periksa saku baju seragam milik nona ini, siapa tahu ada petunjuk berupa ponsel atau kartu pengenalnya di saku baju tersebut," ucap dokter Bagas sambil berharap barang yang beliau sebut ada.
Perawat yang sudah selesai membersihkan kaki Safira, beralih menuju lemari tempat penyimpanan baju seragam milik Safira yang sudah dimasukkan kedalam plastik, dan perawatpun mengeluarkan plastik itu dan mengeluarkan baju seragam milik Safira dari dalam plastik. Perawat memeriksanya disaku baju dan saku rok tersebut, tetapi perawat tidak menemukan apa-apa.
"Maaf, dok. tidak ada apa-apa, hanya ada uang ini," ucap Perawat sambil memperlihatkan uang dua puluh ribu yang ada di saku rok Safira.
"Ngapain, kamu. ngeluarin uang itu!" Bentak dokter Bagas dengan mata melotot kearah perawat.
Si perawat, bukannya takut dengan bentakan dan pelototan itu, yang ada malah si perawat membalas dengan cengirannya dan memasukkan kembali uang itu kesaku rok Safira dan memasukkan kembali baju seragam itu kedalam plastik dan mengikatnya trus meletakkannya kembali kedalam lemari.
"Haaaaaaa," dokter pun menghela nafas beratnya karena tidak ada sama sekali petunjuk tentang gadis ini, begitu juga dengan Aldi, mereka hanya bisa menunggu saat Safira siuman nanti dan mereka akan mempertanyakan kebenarannya.
"Baiklah, kalau begitu tunggu 15 menit lagi, biarkan gadis ini istirahat dulu dan tunggu gadis ini siuman, baru kita cari tahu apa yang terjadi, setelah cairan infus ini habis barulah gadis ini bisa pulih lagi," jelas dokter Bagas ke Aldi.
"Ya sudah, aku keluar dulu ada pasien yang masih aku kontrol," pamit dokter Bagas sambil menepuk pundak Aldi.
"Dan jangan lupa, setelah ia bangung beri ia makanan yang ada di nakas itu," ucap dokter dan menunjuk makanan yang sudah tersedia di nakas samping ranjang pasien.
"Baik, dok. sekali lagi terima kasih," ucap Aldi sambil menjabat tangan dokter Bagas, dan mengantar dokter Bagas keluar dari kamar pasien.
Safira yang mendengar suara pintu dibuka dan ditutup kembali mencoba membuka matanya sedikit, setelah dilihat tidak ada siapa pun lagi di ruangannya, Safira pun menghembuskan nafas lega. "Huuuu, untuk sementara aku harus menyusun rencana agar aku bisa keluar dari sini dengan cepat tanpa ada yang tahu," ucap Safira yang bicara dengan dirinya sendiri.
---
Bersambung...
Happy reading...