Safira pun menghembuskan nafas lega, setelah Dokter dan perawat beserta Aldi keluar dari kamarnya.
"Aku harus menyusun rencana dengan cepat, agar aku bisa keluar dari kamar ini, tepatnya dari rumah sakit ini," gumam Safira.
"Aku tidak ingin mereka mengintrogasiku, apa lagi mereka akan memanggil Polisi, aku belum siap dan tidak mau," gumam Safira dengan rasa takut.
"Semoga saja, mas itu cepat pergi dan tidak kembali ke kamar ini lagi," ucap safira berharap.
'Aku ingin cepat-cepat keluar dari sini,sepertinya kamar ini bayarannya mahal,' batinnya dan bergumam sendiri. Karena Safira merasa begitu kaget saat melihat interior kamar yang ia tempati begitu mewah menurutnya, dan agak besar, apa lagi serasa nyaman.
Perabotannya pun lumayan lengkap. 'Ruangannya persis seperti kamar hotel, pasti biayanya mahal,' batin Safira.
Walaupun Safira tidak pernah masuk ataupun menginap di hotel, tapi ia pernah sekali melihat kamar hotel dari Siti sahabatnya.
Saat itu Siti sedang berlibur dengan orang tuanya ke Jakarta, dan kebetulan mereka menginap di sebuah hotel yang mewah dan saat itu pula Siti melakukan video call dengan Safira dan Siti memperlihatkan kamar hotel beserta isinya yang sama persis seperti kamar yang sekarang ia tempati, bedanya Siti menginap di hotel sedangkan Safira di rumah sakit.
'Bagaimana caranya aku membayar kamar ini, jangankan kamarnya, bayar infus yang aku pakai saja aku tidak sanggup,' gumam Safira dalam hati.
Sementara Aldi yang mengantar dokter Bagas keluar segera masuk ke kamar Safira, setelah beberapa menit menelepon asistennya. Aldi berharap Safira sudah sadar dan pulih, agar ia dapat menanyai apa yang sudah terjadi dengan gadis tersebut.
Aldi menekan handle pintu dan membukanya secara perlahan dan setelah itu menutupnya kembali, berjalan melangkah dengan pelan mendekati ranjang pasien.
Safira yang mendengar suara pintu dibuka terkejut dan dengan cepat memejamkan matanya kembali, dan pura-pura tidur, seolah-olah ia belum sadarkan diri dan secara bersamaan ia pun merasa gugup karena takut akan ketahuan.
'Ternyata, mas nya balik lagi, gimana caranya aku keluar dari sini?' gumam Safira memelas dan terus berfikir mencari cara agar dapat keluar dari rumah sakit tersebut.
Safira bertambah gugup, ketika mendengar suara derap sepatu yang melangkah menuju ke ranjang dan
mendekatinya.
Ternyata Aldi benar-benar mendekati ranjang Safira, dan tetiba saja Aldi menyentuh pucuk kepala Safira mengelusnya dengan lembut dan merapikan rambut itu.
Safira bertambah gugup dengan sentuhan dari Aldi.
Aldi pun sempat berucap ketika ia sampai di hadapan Safira. " Cantik." Gumamnya.
Deg ...
Jantung Safira pun kembali berdetak, berdetak bukan karena gugup saat ia merasakan hembusan napas Aldi yang terasa hangat tepat mengenai wajah Safira.
"Cantik, cepat siuman ya, agar aku bisa mengbubungi keluarga kamu," ucap Aldi dengan penuh harap sambil melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.
'Sudah jam segini. Tapi, tidak ada sama sekali nomor asing yang masuk di ponsel gue,' gumam Aldi dalam hati.
"Apa keluarga kamu nggak mengkhawatirkan kamu, ya?" Tanya Aldi dihadapan Safira. Rasanya Safira ingin menjawab pertanyaan Aldi, tapi ia berusaha menahan diri untuk tidak bergerak atau berucap.
"Aku hanya ingin mengenal dan ingin tahu siapa nama kamu, dan apa yang sedang terjadi, sampai kamu seperti ini!?" tanya Aldi sambil memeriksa pergelangan tangan Safira yang masih terlihat kemerahan dan sedikit menggelembung, mungkin karena ditekan dengan kuat.
Tanpa Aldi tahu sebenarnya Safira mendengarkan ucapan nya itu, dan jantung Safira pun bertambah berdetak, dan wajahnya serasa panas karena malu.
Drrrrt ... drrrrt ... drrrrt
Dering ponsel milik Aldi kembali berbunyi, dan mengagetkan Aldi dari keterpanaannya dengan gadis cantik yang ada dihadapannya ini.
Aldi pun segera mengambil ponsel yang berada di saku celana kain yang ia pakai, dan berharap jika si penelepon adalah dari keluarga si gadis. "Semoga yang menelepon aku, dari keluarga kamu, Gril," ucap Aldi berharap.
Aldi pun melirik ke layar ponselnya dan harapannya sirna, ternyata yang menghubunginya adalah anak kesayangannya.
Aldi pun melangkah mundur dan membalikkan badan, melangkah menuju pintu dan keluar dari kamar itu, karena ia tidak ingin mengganggu istirahat si gadis.
Aldi pun memutuskan pergi keluar dari kamar pasien menuju ke lantai dasar dan keluar dari rumah sakit menuju parkiran mobilnya, tanpa mencurigai apapun. Ia membiarkan Safira sendirian di kamar itu, karena Aldi pikir gadis itu belum pulih dan belum siuman, makanya Aldi membiarkan gadis itu sendiri.
"Assalamualaikum." jawab Aldi saat ia mengangkat panggilan telepon dan sudah berada di pelataran rumah sakit.
"Waalaikum salam, Daddy." jawab seseorang diseberang sana.
"Daddy ... lupa ya ngasih kabar kalau daddy sudah sampai di Surabaya," ucap Nayla bernada merengek diseberang sana.
"Daddy ... lupa, kalau di sini memiliki anak yang begitu mengkhawatirkan orang tua satu-satunya, jika berjauhan." Omel Nayla. Ya ternyata yang menghubungi Aldi via telepon adalah anak gadisnya yang bernama Nayla Pramudya.
Aldi yang mendengar suara anaknya yang sedang mengomel hanya diam saja, membiarkan anaknya itu berhenti mengomel dan menyelesaikan bicaranya, karena, kalau disela si anak akan bertambah marah.
"Sudah selesai ngomelnya," seloroh Aldi sambil terkekeh.
"Ngomelnya sudah, tapi marahnya belum." Jawab Nayla ketus.
"Anak gadis jangan marah-marah terus, ntar lekas tua, dan wajahnya lekas mengeriput, mau seperti itu?" seloroh Aldi lagi.
"Nggak mau!!! pekik Nayla.
"Lagian daddy tu duluan yang bikin Nayla marah-marah, beberapa jam pergi nggak ada ngasih kabar sama sekali," sungutnya dengan bibir yang dibuat cemberut, meski Aldi tidak melihatnya.
"Lagian kalau keriput wajahnya bisa di operasi plastik, kok," ucap Nayla sambil terkikik geli karena membayangkan jika ia benar-benar melakukan operasi plastik seperti kebanyakan artis.
"Nggak alami lagi dong cantiknya ...," seloroh Aldi.
"Daddy, serius! jangan bercanda, Nayla mau tanya sama daddy kenapa nggak ngehubungin, Nayla. jangan bilang kalau, daddy sama tante Sarah di sana sedang berduaan, makanya daddy nggak ada nelepon Nayla kasih kabar." tuduh Nayla ke Aldi.
Aldi terkekeh mendengar penuturan dari anak gadisnya, karena anak gadisnya begitu posesif sekali. "Anak daddy curigaan melulu sama, daddy." seloroh Aldi yang tertawa kembali.
"Nggak percaya ya sama, daddy?" tanya Aldi dengan nada pura-pura kecewa. "Daddy sedang berada di rumah sakit, tepatnya sekarang ada di parkiran dan ini masih di dalam mobil," terang Aldi.
"Haaah!!!" pekik Nayla. Daddy ngapain di rumah sakit? daddy nggak apa-apa 'kan?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Daddy nggak apa-apa. Hanya saja, tadi ada kecelakaan sedikit di jalan. Dan sudah Daddy antar ke rumah sakit langsung." Terangnya.
"Orang itu kebetulan pingsan di jalan, karena merasa kasihan daddy pun menolongnya dan langsung membawanya ke rumah sakit. Dan maaf daddy nggak langsung menghubungi kamu tadi, sesampai di bandara daddy langsung ke hotel setelah itu istirahat sebentar, merasa lapar daddy pun nyari camilan ke supermarket terdekat dan saat keluar dari supermarket itulah daddy bertemu orang itu." terang Aldi ke Nayla agar Nayla tidak marah dengannya.
"Syukurlah, nggak terjadi apa-apa sama daddy, trus orang yang daddy tolong keadaannya sekarang gimana?"
"Kemungkinan sudah pulih, daddy tinggal sebentar karena mengangkat telepon dari kamu sekarang."
"Ya sudah, Nayla merasa tenang karena sudah mendengar kabar dari daddy, sekarang daddy kembali aja ke kamar orang itu, siapa tahu orang itu siuman dan mencari orang yang mengantarnya ke rumah sakit." Saran Nayla.
"Hm,, terima kasih sayang atas pengertian kamu, jangan tidur terlalu larut, ntar kamu sakit," nasihat Aldi.
"Siap komandan, laksanakan, bye daddy love you ...."
"Me too."
Sementara di ruangan atas tepatnya ruangan yang ditempati Safira sudah kosong, pasien yang ada di kamar itu sudah berhasil meloloskan diri tanpa ada yang mengetahuinya, perawat pun tak menyadarinya, begitu juga Aldi yang merasa bingung setelah masuk ke kamar tersebut dalam keadaan kosong, tapi Aldi belum menyadarinya jika orang yang dirawat di ruangan itu sudah pergi atau kabur, ia berpikir jika gadis itu sedang berada di kamar mandi.
Aldi yang awalnya gugup masuk ke kamar itu tetiba saja dengan santainya masuk dan duduk di sofa yang sudah tersedia di kamar tersebut dan menyenderkan tubuh lelahnya di sofa panjang berharap bisa beristirahat sebentar, sambil menunggu si gadis keluar dari kamar mandi.
---
Bersambung...
Happy reading...