Membuka mata di setiap pagi menyongsong sebenarnya hal yang paling ditakutkan Anzela. Ia harus kembali berhadapan dengan dunia nyata yang sejak dua tahun lalu menjadi seperti mimpi buruk baginya. Ia harus berpura-pura terlihat bahagia di depan orang lain. Berpura-pura tertawa, berpura-pura tegar, intinya berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Padahal tidak sama sekali. Sebab, sejak keluarganya berantakan sayapnya sudah sepenuhnya patah dan tidak mampu untuk terbang lagi.
Anzela membuka gorden kamarnya lalu mengarahkan netranya pada pemandangan matahari terbit dibalik kaca jendela. Sekitar lima menit ia terpaku menatap matahari. Sangat mengagumkan, sebenarnya.
Anzela adalah perempuan pencinta matahari dan senja. Sebelum keadaan buruk menimpa keluarganya, setiap pagi dan sore ia selalu datang ke taman komplek. Karena dari sana terlihat jelas saat matahari terbit maupun terbenam. Namun entah semenjak kapan, mungkin dua tahun yang lalu? Matahari dan senja itu terlihat sama saja dan tidak menarik perhatiannya lagi.
Cahaya matahari itu kian terasa hangat menerpa kulit saat menelusup masuk lewat celah jendela akibat tirai yang ia buka. Bahkan suara burung terdengar nyaring menandakan bahwa pagi benar-benar sudah tiba.
Setelah tadi Anzela menatap matahari dan bergegas menutup gorden ia langsung mandi dan bersiap ke sekolah.
Ia berdiri di depan cermin. Menatap dirinya sekali lagi. Rambut hitamnya diikat menjadi satu seperti biasa lalu ia tersenyum pada dirinya sendiri. “Lo bisa An. Jangan ngeluh dan coba jalanin aja!” ucapnya menyemangati diri sendiri. Ya menyemangati diri sendiri. Sebab, siapa lagi yang akan memberinya semangat? Ibunya? Ah tidak mungkin. Ayahnya ? Apalagi. Memang benar, bahwa ayahnya yang membiayai sekolah bahkan kebutuhannya. Namun hanya dalam materi, tidak pernah dalam bentuk kasih sayang. Dalam satu bulan pun terkadang ayahnya menanyakan kabarnya hanya satu kali. Seolah lebih tepat diartikan seperti, “kamu masih hidupkan An?” ya, seperti itu.
Anzela memasukkan buku-bukunya ke dalam tas lalu bersiap keluar dari kamarnya yang di dominan dengan warna putih tersebut. Ia menuruni anak tangga satu persatu dengan suara kaki yang hampir tidak terdengar sebab ia menduga kemungkinan bahwa ibunya masih tidur.
Dilihatnya ruang tamu yang masih sepi. Itu artinya memang benar ibunya masih belum bangun sebab mabuk tadi malam.
Anzela berjalan ke kamar ibunya yang berada di pojok kanan lantai satu. Rumah besar yang ia tinggali adalah peninggalan kakeknya. Rumah tersebut memiliki dua tingkat. Di mana lantai dasar terdiri dari ruang tamu, dua kamar tidur, dapur, satu toilet dan kamar mandi. Sedangkan di lantai dua terdiri dari dua kamar dengan balkon, satu kamar mandi, juga toilet. Rumah besar yang ia tinggali itupun terlihat sedikit berantakan sebab hanya dirinya yang membersihkan, itupun hanya satu minggu sekali.
Anzela membuka kenop pintu kamar ibunya. Jelas terlihat bahwa ibunya masih tidur. Ia menutup lagi pintu tersebut dan memutuskan untuk langsung berangkat ke sekolah.
Berhubung ibunya masih tidur jadi Anzela mengunci rumahnya dari luar. Hampir setiap hari ia melakukan hal yang sama karena kunci rumah tersebut sengaja dibuat dua, satu untuk dirinya, satu lagi untuk ibunya. Dulu sebenarnya kunci rumah tersebut hanya satu, namun Anzela berpikir jika ibunya tertidur sampai pagi dan ia pergi ke sekolah, tidak mungkin jika pintu rumahnya tidak dikunci. Takutnya terjadi hal-hal yang buruk pada ibunya. Dari pemikiran tersebut akhirnya ia berinisiatif untuk membuat kunci duplikat.
"Pagi Tara," sapa Anzela lantang dari halaman rumahnya menuju pagar pembatas rumahnya dan Tara dengan wajah ceria yang selalu ia coba tunjukkan pada orang-orang.
Bukannya membalas sapaan tersebut sosok yang dipanggilnya malah justru memasang wajah datar. Menoleh sebentar lalu beralih melanjutkan aktivitasnya, mengikat tali sepatu.
"Pagi Tara," melihat tak digubris, kali ini sapaan Anzela terdengar lebih nyaring dan ia sudah berdiri tepat di hadapan Tara yang tengah duduk di kursi halaman rumah.
Mendengar suara sapaan Anzela yang semakin memekakkan telinga Tara mendongakan kepalanya. Ia melihat ke arah Anzela dengan raut malas lalu beralih melanjutkan mengikat tali sepatunya yang belum selesai. "Apaan An? Pagi-pagi udah ribut. Nggak usah nyapa-nyapa gue," protes Tara yang masih setengah mengantuk sembari beranjak berdiri karena tali sepatunya sudah terikat sempurna.
"Idih! Sombong banget lo," ujar Anzela menyingkut siku Tara. "Baru juga tadi malam lo bersikap baik, eh sekarang udah balik aja ke watak asli," cibir Anzela tak terima karena niat baiknya untuk menyapa lebih dulu malah justru ditolak.
"Kesurupan kali gue tadi malam!" singkat Tara meninggalkan Anzela yang masih setia berdiri di depan kursi yang tadi diduduki oleh Tara.
Anzela mendengus kesal mendengar jawaban Tara. Padahal dia sudah biasa menghadapi hal itu tapi tetap saja bagi Anzela menyebalkan sapaannya tidak dibalas.
Ah sudahlah, memang sejak kapan status mereka berubah menjadi sahabat. Mereka hanya dua anak remaja yang selalu ribut kapan pun dan di mana pun berada.
Tara menghampiri motornya yang sudah terparkir rapi di depan rumah. Ia memasang helm dan sudah bersiap untuk menjalankan motornya.
Sementara Anzela, ia masih di posisi yang sama. Hanya kepalanya saja yang dimiringkan untuk mengikuti ke mana langkah tetangga barunya itu berjalan.
Tit. Tit. Tit. Klakson motor Tara mengagetkan Anzela. Anzela mengernyitkan keningnya melihat Tara dari kejauhan. Tidak cukup jauh sebenarnya, hanya berjarak beberapa meter.
"Lu ngapain bengong?" tanya Tara lantang dari motornya.
Anzela tersentak kaget lalu menggeleng. "Bukan urusan lo!" balas Anzela, kali ini nadanya tidak seramah saat ia menyapa.
Anzela berlari kecil kembali ke rumahnya dan menuju garasi. Ia bersiap untuk mengambil motor.
Sebuah hal yang tadi ia pikirkan saat masih di depan rumah Tara dan sempat terputus oleh suara klakson kembali terlintas dalam benak Anzela yang membuat langkahnya terhenti.
Kalo dipikir-pikir orang tua Tara masih ada, tapi kenapa rumah itu sepi kaya nggak ada orang sejak awal pindahan? Gumamnya pelan seraya memutar arah kepala menatap pada rumah tetangganya itu.
"Nah kan bengong lagi. Lama-lama kesambet lo, baru tau rasa!" Tara kali ini tidak lagi berada di atas motor. Ia sudah turun dan menjentikan jarinya di depan wajah Anzela.
Anzela tidak menjawab, ia hanya membalas dengan sorot mata tajam ke arah Tara.
"Lo kalo mau bareng sama gue bilang An,” kata Tara berjalan maju mendekat pada Anzela yang sedang memanaskan motornya.
“Biar sekalian tuh gue kasih tumpangan,” tunjuk Tara pada motornya.
Tinggi badan yang berbeda membuat Anzela mendongakan kepalanya melihat Tara. Secara tinggi badan Anzela hanya sebahu Tara. “Nggak perlu.”
“Yakin nggak mau bareng lo ?” tanya Tara memastikan.
“Nggak.”
“Nggak usah sok malu-malu An, " kata Tara dengan senyum menyengir seraya memasukan tangannya ke dalam saku celana.
Anzela mendelik. "Idih! Siapa juga yang malu-malu?" protes Anzela tidak terima. "Terus siapa juga yang mau nebeng lo sih?" Lanjutnya lagi mendumel.
"Itu buktinya lo bengong aja dari tadi."
"Gue lagi mikir."
" Bohong lo."
"Jangan ngomong Tara! Gue lagi mikir nih!" kesal Anzela pada Tara sambil menepuk lengan Tara dengan keras.
"Eh sakit An!" Tara menatap sengit.
"Lo sih gangguin gue mikir! Makanya jangan ganggu." Anzela melotot tajam ke wajah Tara.
"Mikir apa ? Mikir gimana caranya ngomong ke gue buat berangkat bareng ?" Celetuk Tara asal.
"Lo bisa diam dulu nggak ?" Protes Anzela yang sudah siap untuk melempar Tara dengan kunci motornya.
Spontan, Tara bergerak mundur. “Oke. Oke,” balas Tara mengangkat kedua tangan
Anzela terkekeh geli melihat wajah Tara yang tersentak kaget sebelum laki-laki itu berhasil menormalkan kembali raut wajah datarnya.
"Udahlah An. Kalo mau bareng ya bareng aja. Nggak usah kebanyakan mikir. Gue kasih tumpangan ko."
Sekali lagi, Anzela memberikan sorot mata tajam ke Tara. Bisa-bisanya Tara dengan percaya diri berpikiran seperti itu, pikirnya.
"Biasanya lo kalo ngomong sama gue langsung blak-blakan. Tumben sekarang banyak mikir?" ketus Tara.
Anzela menghela napas dan menghembuskannya dengan nyaring. Sengaja agar lawan bicaranya itu mendengar. Lalu ia memelototkan mata sekali lagi dan berharap itu menjadi pelototan yang terakhir kali untuk pagi ini. "Gue nggak mau nebeng lo Tara!” ucap Anzela lantang. “Nih! Nggak liat lo gue udah siap sama kunci motor?" sebal Anzela sambil mengangkat kunci motornya ke hadapan Tara.
Tara mengangguk-angguk sembari menyingkirkan lengan Anzela dari hadapannya. Lalu ia berjalan mundur menjauh dari Anzela. "Kejadian tadi malam nggak usah dipikirin An. Gue nggak bakalan nyebarin rahasia lo. Jadi, nggak usah kebanyakan mikir dan tiba-tiba bersikap ramah seperti tadi kalo tujuan lo cuma minta biar gue nggak nyebarin rahasia lo," kata Tara yang sejak awal menduga bahwa Anzela sedari tadi bengong karena berpikir bagaimana cara meminta padanya untuk merahasiakan tentang masalah yang diceritakan tadi malam.
Anzela berdehem. "Emang kapan gue bersikap ramah?" tanya Anzela. Kali ini nada bicaranya merendah.
"Barusan. Buktinya lo nyapa gue," sahut Tara cepat.
Lagi-lagi Anzela berdehem pelan dan mengangguk kikuk. "Yah, gue sih sebenarnya cuma mau nyapa tetangga baru. Nggak lebih ko," sanggah Anzela.
Tara masih menatap Anzela yang terdiam, hanya kunci motor yang berada dalam genggaman Anzela yang berbunyi karena berputar-putar di jemarinya.
Akhirnya Anzela kembali bicara. "Jujur sebenarnya gue emang mikirin itu sih Tar. Cuman masalah gue nyapa lo tadi itu..." Anzela menjeda kalimatnya dan memutar bola matanya seolah memikirkan sesuatu. "Yah hitung-hitung usaha gue mencoba berdamai sama lo, capek soalnya gue ribut terus,” lanjut Anzela berbohong.
"Hah? Berdamai lo bilang?" Tara mengulang ucapan Anzela lalu ia tertawa mencibir. "Gue tau ko lo pura-pura. Nggak cocok An kalo lo bersikap ramah sama gue. Beneran! Nggak cocok sama muka lo yang keliatan banget bohongnya," timpal Tara lagi sambil geleng-geleng kepala terkekeh.
Anzela mendengus kesal bahkan ia sudah siap ingin menerkam Tara. Untung saja ia masih bisa menahan diri. "Benar-benar lo ya, mulut kaya cabe! Jadi cowok nggak pake perasaan kalo ngomong!"geram Anzela memukul lengan Tara lagi. Entah sudah pukulan yang keberapa kalinya.
Tara tertawa puas, "Tuh kan keluar sifat aslinya. Ngomong emang nggak pake perasaan, tapi pake mulut."
Anzela memanyunkan bibirnya kesal seraya memasang helm.
"Lo tenang aja An, nggak bakalan gue sebarin. Lo sendiri juga taukan kalo gue nggak suka ikut campur urusan orang lain."
Anzela mengangguk paham. “Oke. Gue pegang omongan lo.”
"Jadi mau bareng atau nggak?” tanya Tara. “Nggak usah sibuk mikir deh! Lo emang beneran nggak cocok kalo bersikap ramah!'
Anzela menggeleng. "Nggak usah Tara! Gue bisa sendiri," tolaknya ketus.
"Ya udah kalo nggak mau,” ucap Tara seraya membalikan badan. "Gue duluan,” lanjut Tara sembari berjalan menuju motor meninggalkan Anzela yang juga bersiap untuk berangkat.