Jalanan kota pagi ini mulai dipadati oleh kendaraan yang berlalu lalang. Semua orang sibuk ingin cepat-cepat melawan kemacetan ini. Pada akhirnya mereka saling mendahului agar bisa cepat sampai tujuan. Bahkan suara klakson terdengar bersahutan dan terdengar jelas rentetan gerutu dari para pengendara lainnya.
Sesekali Anzela melihat ke arloji hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam masih menunjukan pukul enam lewat lima menit. Ia sengaja hari ini berangkat lebih pagi dari biasanya di karenakan ada hal yang perlu dikerjakan. Lebih pagi dari biasanya saja jalanan sudah padat, bagaimana hari-hari sebelumnya saat ia berangkat lebih siang dari hari ini? Ah sudahlah.
Setelah tadi Tara berangkat ke sekolah duluan, sampai saat ini Anzela tidak melihat sosok laki-laki itu di jalan. Entahlah, Anzela tidak tahu bagaimana cara Tara bisa menghilang bersama motornya dengan cepat. Namun yang pasti jarak waktu mereka berangkat tadi tidak begitu berjauhan, harusnya mereka bertemu di jalan. Tapi nyatanya batang hidung Tara tidak terlihat sama sekali. Anzela bahkan membuat opsi dalam pikirannya sendiri. Opsi pertama, mungkin Tara lewat jalan tikus yang Anzela tidak tahu atau opsi kedua, mungkin Tara melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, tapi untuk opsi kedua rasanya sedikit sulit di percaya sebab jalanan macet seperti sekarang terlalu sulit untuk membawa motor dengan kecepatan tinggi.
Beberapa kali Anzela melihat sebal ke sekelilingnya terutama ketika kendaraan harus berhenti sebab traffic light. Bahkan ketika sebuah kendaraan bermotor yang berada tepat di depannya mengeluarkan asap berwarna abu-abu bercampur coklat yang membuat udara pagi ini bergerak tanpa menyisakan angin segar.
Untung saja ini masih satu jam sebelum jam pelajaran sekolah masuk, jadi Anzela tidak begitu khawatir jika harus menunggu kemacetan ini berakhir meskipun napasnya sudah terasa sesak akibat polusi.
***
Anzela berjalan santai di lorong sekolah. Ia tiba di sekolah tepat lima belas menit sebelum bel sekolah berbunyi.
Kali ini lagi-lagi Anzela berdecak sebal, setiap hari selalu saja pagi cerahnya dihapuskan oleh pemandangan membosankan di depannya.
Pemandangan itu apalagi jika bukan tentang Tara dan segerombolan orang-orang. Tara berdiri di sudut koridor bersama dengan empat orang siswi perempuan yang terus menerus mengajaknya bicara.
Ternyata Tara baru sampai juga ke sekolah setelah tadi meninggalkan Anzela di halaman rumah. Hal itu terlihat dari tasnya yang masih tersampir di bahu kiri. Tara setiap hari memang berangkat ke sekolah jauh lebih pagi darinya. Anzela juga tidak akan bertemu dengannya kalau saja ia tadi berangkat siang.
Sebenarnya Anzela sendiri heran kenapa banyak sekali perempuan yang tidak berhenti memujanya bak dewa. Anzela bahkan bingung mengapa mereka tidak bosan mendekati Tara yang padahal sepenerawangannya selama ini mereka seringkali tidak dihiraukan oleh Tara.
Di balik keheranan itu, Anzela sendiri sebenarnya tahu bahwa Tara memang bukan dari keluarga yang biasa saja. Ayahnya adalah pemilik yayasan yang saat ini ia pijak sekaligus salah satu pebisnis terkaya di negara ini. Ibunya? Sama. Seorang pebisnis di bidang fashion yang namanya sudah terkenal di seluruh Indonesia. Soal tampang? Jangan ditanya. Sebab semua orang tahu bahwa ketampanan Tara memang berada di atas rata-rata.
Anzela memilih untuk tidak menyapa Tara. Pertama karena ia masih kesal dengan kejadian tadi pagi di rumah yaitu sikap percaya diri Tara yang terlalu berlebihan, kedua karena ia terlalu malas untuk berurusan dengan para gadis-gadis tersebut.
Baru beberapa langkah Anzela berjalan melewati kerumunan dihadapannya tersebut, seseorang memanggilnya. "An."
Panggilan itu memang terdengar samar-samar. Sebenarnya Anzela mendengar, namun ia pura-pura tidak mendengar dan malah justru melanjutkan langkahnya dengan lebih cepat.
Belum terlalu jauh Anzela berjalan, tiba-tiba ia terkejut karena tangannya dicekal. Ia memasang wajah sebal dan bersiap untuk berbalik badan serta mengomel pada orang yang berani-beraninya mencekal tangannya.
Anzela menengok ke bekalang. "Eh Gilang,” ucapnya dengan nada menurun tanpa wajah emosi saat menyadari orang yang tadi mencekal tangannya. “Gue kira siapa," lanjutnya dengan wajah yang tadi ingin marah namun sudah berubah menjadi santai.
"Lo kenapa An?" Tanya laki-laki yang dipanggil Anzela dengan nama Gilang - teman satu kelasnya yang super banyak bicara.
"Kenapa apanya ?" Anzela justru bertanya balik.
"Itu! Tangan lo kenapa siap-siap ngepal ?" Tunjuk Gilang ke arah lengan Anzela. "Mau ngehajar orang lo?"
Anzela berdehem dan tertawa kecil. "Oh. Ini?” Anzela melihat ke arah tangannya dan langsung menormalkan kembali tangan yang tadi hendak ia kepal. “Tenang aja, gue nggak mau ngehajar ko, sorry-sorry, gue nggak tau kalo lo yang manggil,” maaf Anzela. “Gue kira tadi makhluk astral," lanjutnya sambil terkekeh dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hah! Makhluk astral? Siapa?" Tanya Gilang penasaran sambil memutar kepala melihat ke sekeliling.
"Adalah pokoknya. Lo nggak perlu tau. Yu ke kelas," ajak Anzela lalu mereka berjalan menuju kelas.
***
Satu jam sudah berlalu dan ulangan matematika akhirnya selesai. Hari ini ulangan mendadak yang membuat semua siswa di kelas IPA satu bergumam kesal. Terkecuali Anzela. Mau ulangan mendadak ataupun tidak itu bukan masalah baginya. Tidak perlu belajar dia juga sudah bisa menyelesaikan matematika dengan mudah. Satu hal yang selalu ia syukuri bahwa ia terlahir dengan otak yang terbilang cerdas.
"Gila tu pak Andi. Pake acara ulangan dadakan!" umpat Erga saat Pak Andi, guru matematika mereka keluar kelas.
"Iya. Kan kaget gue. Untung aja gue nggak punya penyakit jantung. Kalo iya, udah hilang nih jantung gue karena ulangan matematika,” timpal Gilang yang duduk bersebrangan dengan Erga.
"Berisik lo pada!" ucap Edo dari bangkunya.
"Makanya kalo belajar jangan satu hari sebelum ulangan. Apalagi satu jam sebelum ulangan dimulai," ejek Rio yang duduk disebelah Erga karena tidak tahan dengan keributan dua sahabatnya itu dan dibalas tawa oleh kawanannya yang lain.
“Kan tadi ulangannya mendadak Rio! Kalo tau gue juga belajar,” sahut Gilang kesal.
“Iya justru itu permasalahannya. Harusnya lo jangan nunggu mau ulangan baru belajar!” balas Rio.
Gilang menggaruk tekuknya yang tidak gatal. “Iya juga sih,” sahut Gilang seraya tertawa
Seisi kelas termasuk Anzela juga ikut tertawa melihat pertikaian tersebut.
"Kantin yuk," ajak Anzela pada dua sahabatnya yang duduk tepat di belakangnya.
"Ayo," sahut dua sahabatnya serempak seraya beranjak berdiri dari kursi setelah membereskan beberapa alat tulis mereka.
"Eitss, mau pada kantin nih?” Gilang bergerak cepat ke meja Anzela di susuk dengan ketiga temannya. “Ya udah bareng yu," ajak Gilang.
Anzela dan kedua sahabatnya yang bernama Melinda dan Meira mengangguk tidak keberatan. Karena memang hampir setiap hari mereka selalu ke kantin bersamaan. " Ya udah yu," ajak Anzela.
Mereka keluar kelas dengan berjalan beriringan. Sampai di kantin, Anzela dan teman-temannya berpapasan dengan Tara dan satu sahabatnya yang bernama Dion.
Seperti biasa, suara riuh memenuhi lingkungan kantin tersebut yang sudah ramai pembeli bahkan penjualnya pun terlihat kewalahan dengan antrian para siswa yang terlihat tidak sabaran. Mungkin karena para siswa tersebut sudah terlalu lapar dan haus. Banyak juga di antara mereka yang sudah duduk manis seraya menikmati makanan disertai dengan obrolan sambil tertawa. Kantin Ardinanta High School terbilang cukup luas dengan jumlah bangku dan meja yang cukup banyak. Kantin tersebut di desain ala kafe yang didominan dengan warna putih biru dan menghadap ke lapangan basket. Jadi kantin tersebut memang berada di tempat terbuka bukan di dalam gedung. Tujuannya saat pertama kali dibuat adalah untuk menghilangkan rasa suntuk dan penat siswa yang lelah belajar di dalam kelas.
Menu yang dijual di kantin pun tidak sedikit. Mungkin karena banyaknya siswa di Ardinanta High School maka kantin tersebut membuka banyak tempat untuk berjualan. Dalam kantin tersebut terdapat sekitar sepuluh penjual dengan tempat yang berbeda dan menu yang berbeda pula.
Lagi-lagi hari ini semua orang di kantin menatap kedatangan Anzela, dua sahabatnya serta Tara dan kawanannya dengan tatapan kagum bahkan iri.
Bagaimana tidak?
Pertama Anzela. Gadis itu terkenal seantero sekolah. Seperti yang semua orang tahu bahwa ia berparas cantik meskipun tidak begitu tinggi dan berada di posisi teratas bidang akademik.
Melinda. Gadis yang tidak kalah cantik. Melinda berkulit putih, rambutnya hitam panjang digerai, badannya sedikit lebih tinggi dari Anzela dan ia merupakan ketua cheers di sekolah.
Meira. Ia memiliki tinggi yang sama seperti Anzela. Berkulit putih, berambut sebahu dan juga memiliki senyum yang manis.
Lalu empat orang laki-laki yang bersama Anzela dari kelas tadi yaitu terdiri dari Edo, Gilang, Rio dan Erga. Mereka memang merupakan tipikal orang yang selalu humoris. Tapi soal paras jangan ditanya, semua di atas rata-rata.
Apalagi mereka juga muncul di kantin bersamaan dengan Tara sang ketua famous yang menjabat sebagai ketua osis di sekolah serta Dion sang kapten basket, yang datang bersamaan dengan Tara sebab mereka satu kelas. Hal itu membuat semua orang seisi kantin menatap mereka dengan kagum bahkan iri. Beberapa orang juga terlihat memotret mereka.
Entahlah sejak kapan dua kelompok itu pergi ke kantin dengan bersamaan. Anzela sendiri bahkan lupa persisnya bulan berapa, yang jelas saat berada di semester dua di kelas sebelas mereka bersembilan menjadi lebih dekat meskipun lebih banyak berdebat.
"Ya udah An, kita berdua pesan makan langsung ya. Lo mau pesen apa?" Tanya Meira pada Anzela saat mereka sudah berdiri di dekat meja.
"Emmm, gue mie ayam sama air putih aja deh hari ini, " jawab Anzela seraya duduk di kursi.
"Ya udah lo tunggu di sini aja. Biar hari ini kita berdua yang pesen," usul Melinda merangkul bahu Meira.
"Kalian nggak nawarin kita?" Protes Gilang yang tiba-tiba menarik kursi dan duduk bersebrangan dengan Anzela.
"Iya nih, lo nggak nganggap kita ada apa Mel? " gerutu Erga.
"Lo juga Mei, iya-iya aja!" timpal Erga dengan wajah masam.
Diantara enam orang, Gilang dan Erga adalah orang yang paling ribut alias ribet kalau sudah berkumpul.
Anzela tertawa menanggapi mereka. "Apaan sih! Biasanya kalian berdua langsung pesen aja. Jangan-jangan di antara kalian cuma mau cari perhatian Meira sama Melinda ya?" goda Anzela sambil terkekeh.
Erga menggeleng cepat. "Gilang tuh An, gue cuma ngebantu," sahut Erga cepat sembari menyenggol lengan Gilang.
"Nggaklah!" bantah Gilang. "Ngarang aja lo An," tambah Gilang salah tingkah.
Sementara temannya yang lain hanya tertawa melihat mereka.
Memang dari cara berteman mereka, Gilang terlihat jelas bahwa ia menyukai Melinda. Sementara Melinda sendiri hanya selalu tertawa melihat tingkah Gilang yang salah tingkah. Entah ia sudah tau mengenai perasaan Gilang atau ia memang tidak peka dan menganggap Gilang hanya bercanda.
***
Setelah tadi mereka sibuk dengan pesanan masing-masing akhirnya dihadapan mereka sudah siap makanan yang dipesan dan mulai melahap makanannya masing-masing.
Mereka bersembilan berada di meja yang sama.
Sebenarnya satu meja kantin itu hanya cukup untuk empat orang, tapi karena penjaga sekaligus yang bersih-bersih di kantin sudah tahu dengan kelakuan mereka yang setiap hari sibuk menarik meja dan kursi demi menggabungkannya menjadi satu, itu sebabnya meja yang saat ini mereka tempati tidak lagi dipisahkan dan sudah resmi berada di pojok kantin. Bahkan orang lain yang lebih dulu sampai di kantin tidak ada yang berani untuk duduk di sana.