Suara tapakan kaki panjang melangkah pelan memasuki perpustakaan. Di telinganya bertengger sebuah earphone berwarna hitam. Lagu-lagu random mengalun lumayan kencang sehingga siapapun yang berada di sebelahnya mungkin ikut mendengar juga apa yang sedang laki-laki itu dengarkan.
Matanya menatap menjelajahi ke seluruh sudut ruang perpustakaan. Kosong. Bahkan penjaga perpustakaan pun tidak ada.
Wajar saja sebenarnya karena ini sudah jam pulang sekolah.
Setelah tadi bel panjang berbunyi gerombolan siswa bergegas kembali ke rumah masing-masing, hanya ada beberapa orang saja yang tersisa.
Laki-laki itu berdecak sebal karena selalu saja ia yang datang lebih dulu daripada partner diskusinya yang ditunjuk sekolah untuk mengikuti kompetisi bulan depan.
Laki-laki itu memilih duduk di pojok, melepas tasnya dan bersandar pada bangku. Sesaat kemudian ia memejamkan mata menikmati alunan melodi yang didengarkannya.
"Ehem!" Perempuan dengan rambut hitam pekat yang di kuncir satu baru saja tiba seraya menarik kursi yang berada tepat di sebelah laki-laki tadi.
Ia sengaja berdehem agar sosok di sampingnya mendengar. Namun nyatanya, laki-laki di sampingnya tidak menyadari kedatangannya.
"Ehem!" Ia berdehem lebih nyaring dari sebelumnya lalu dengan cepat tangannya bergerak melepaskan earphone yang bertengger di telinga laki-laki di sebelahnya.
Sontak laki-laki tersebut membuka mata dan alisnya terangkat sebelah menatap perempuan di hadapannya. "Rese lo An!" Laki-laki tersebut merampas earphonenya dari tangan perempuan yang dipanggilnya dengan sebutan - An. Siapa lagi kalau bukan Anzela, murid teratas di bidang akademik yang menjadi partner-nya.
"Lo sih nggak sadar gue di sini! Dipanggil nggak dengar-dengar, ternyata tidur," omel Anzela.
Laki-laki itu berdecak pelan seraya menegakkan tubuhnya. "Gue ketiduran gini, semua gara-gara lo yang datang telat!” balas laki-laki itu, Tara.
“Ko salah gue?” protes Anzela tak terima.
“Emang salah lo! Gue udah lama nungguin lo di sini! Kemana sih lo?”
"Baru juga lima belas menit,” Anzela melihat ke arah jam yang ada di pergelangan tangannya. “Lo bilang lama?" Protes Anzela menatap Tara dengan tatapan tajam.
"Lo pikir duduk lima belas menit sendirian itu sebentar?" sindir Tara.
"Ya ampun! Cuman lima belas menit Tara!" Anzela benar-benar tidak paham dengan akal sehat Tara, lima belas menit saja sudah marah-marah tidak jelas. "Lo udah marah-marah seakan gue telat satu jam. Wah-wah. Luar biasa," Anzela bertepuk tangan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lima belas menit itu menurut gue lama! Disiplin dong!”
"Ya ampun! Serah lo deh Tar," ujar Anzela pasrah. Ia rasa akan memakan waktu kalo berdebat lebih jauh hari ini. Beberapa saat setelah itu ia menghela nafas pelan. "Oke sorry,” maaf Anzela. “Gue tadi bantuin bu Bayu bawa buku-buku tugas ke kantor," jelas Anzela seraya mengeluarkan buku yang akan dipelajari untuk kompetisi dari dalam tasnya.
"Oh," sahut Tara singkat masih dengan wajah kesal.
Anzela menangkupkan kedua tangan di wajahnya dan tersenyum menghadap Tara. "Ya udah ah. Jangan kebanyakan marah-marahnya ya,” mohon Anzela seraya menyingkut lengan Tara.
“Ngomong-ngomong pak Budi mana nih?" Tanya Anzela lagi dengan kepala yang celingukan ke sana kemari. "Gue kira udah disini," tambahnya.
"Nggak tau," jawab Tara mengendikan kedua bahu.
“Awas aja lo ya kalo nggak marah-marah sama pak Budi seperti lo marahin gue tadi!” ancam Anzela.
“Kenapa emangnya gue harus marahin pak Budi?”
“Kan pak Budi juga telat,” sahut Anzela cepat.
“Itu beda konsepnya!” balas Tara menatap Anzela geram. Mana mungkin ia memarahi guru sendiri.
Tap.. Tap... Suara tapakan kaki terdengar.
"Siang Tara. Anzela. Maaf bapak terlambat, kebetulan kelas bapak baru selesai. Tadi ada satu siswa yang belum menyelesaikan ulangan," jelas pak Budi masih dengan nafas yang memburu akibat cepat-cepat seraya menarik kursi di hadapan mereka berdua.
"Iya pak. Nggak papa, saya juga baru datang," jawab Anzela tersenyum.
"Lo emang baru datang An. Tapi gue sampe pegel bahkan ketiduran karena udah dari tadi," bisik Tara di telinga Anzela.
"Nggak usah diulang lagi omelannya! Makanya marahin juga tuh pak Budi,” balas Anzela juga berbisik.
“Tapi itu orang tua, nggak sopan kalo gue marah. Lagian alasannya juga wajar.”
“Nah itu berarti derita lo sendiri.”
“Tapi... “
Belum sempat Tara menyelesaikan kalimatnya Anzela langsung memotong. “Udah ah. Sssst!" tegur Anzela sambil menyenggol lengan Tara.
"Ada apa Tara, Anzela?" Tanya Pak Budi.
Tara menggeleng. "Nggak ada apa-apa pak."
"Lo bisa jauh-jauh nggak?" Bisik Anzela lalu memberi isyarat dengan matanya agar Tara menggeser kursi menjauh darinya dan Tara hanya menuruti saja.
"Oke kita langsung mulai ya," seru pak Budi sembari mengeluarkan beberapa lembaran catatan.
Kurang lebih sekitar satu jam mereka menghabiskan waktu untuk bimbingan kompetisi yang akan dilaksanakan bulan depan tersebut akhirnya selesai.
"Oke anak-anak. Bimbingan untuk hari ini cukup. Silakan dipelajari lagi apa yang hari ini kita bahas ya."
"Siap pak," jawab mereka bersamaan.
"Kalau begitu bapak pamit. Selamat siang," Pak Budi menutup kelas bimbingan hari ini dan keluar dari perpustakaan.
"Siang pak," sahut kedua orang itu bersamaan.
"Lo langsung pulang An?" Tanya Tara saat selesai membereskan bukunya.
"Gue mampir dulu ke kafe depan jalan," sahut Anzela lalu beranjak berdiri ingin keluar dari perpustakaan.
Tara mengangguk. Mengambil tasnya yang berada di lantai dekat meja lalu menyampirkan ke bahunya. "Ya udah gue ikut lo kesana."
"Hah," sontak Anzela terkejut seraya berbalik badan.
"Kenapa lo kaget ?" Tanya Tara bingung.
"Lo ngapain ngikutin gue ?"
"Ya sekalian. Gue soalnya mau beli juga,"
"Lo beli buat apa?"
"Buat jadi bahan praktek."
"Serius lo?" tanya Anzela memicingkan matanya.
Tara berjalan menyesuaikan langkah Anzela sambil bergeleng kepala. " Ya buat gue konsumsi! Gila lo. Gitu aja percaya."
"Rese lo!" lempar Anzela dengan kertas di tangannya yang akan ia buang seraya berjalan cepat meninggalkan Tara di belakangnya.
Tara memungut kertas yang dilempar Anzela karena jatuh ke lantai seraya berlari kecil mengejar Anzela. “Ko gue yang rese? Pertanyaan lo yang aneh An,” komentar Tara tanpa didengarkan oleh Anzela yang terus berjalan di depannya.
***
Mereka memasuki sebuah kafe yang berada di ujung jalan sekolah. Sebuah kafe yang selalu ramai pengunjung baik di siang hari maupun sore hari. Memang kafe kekinian tersebut didominan dengan pengunjung yang masih pelajar.
"Selamat siang, mau pesan apa ka?" Tanya seorang pelayan kafe saat Anzela tepat berada di depan meja pemesanan.
"Bentar ya mba," sahut Anzela menatap menu yang terpampang di papan.
Jari Anzela menunjuk ke papan menu di atas sana. "Ice hazelnut latte."
"Tumben es?" celutuk Tara yang tiba-tiba sudah ada di sebelahnya.
"Lo nggak liat cuaca?" balas Anzela ketus.
"Liat. Terus ?"
"Ya udah! Berarti lo tau ini lagi panas banget. Masa iya gue minum hot hazelnut latte?" protes Anzela yang tidak terima Tara ikut berkomentar.
Tara mengangguk. "Emm. Oke. Terserah lo."
Sebenarnya wajar Tara menanyakan itu. Sebab Anzela sebelumnya pernah mengeluhkan dadanya sakit setelah minum sesuatu yang dingin saat di kantin sekolah dan Tara melihatnya waktu itu. Namun Anzela adalah orang yang seringkali tidak peduli dengan kesehatannya.
"Sama roti bakar coklat almond satu mba," tambah Anzela lagi.
"Baik. Saya siapkan dulu ya. Silahkan menunggu. Atas nama siapa ?" Tanya pelayan tersebut.
"Anzela."
Pelayan tersebut mencatat nama Anzela pada secarik kertas. "Baik, nanti jika pesanannya sudah siap saya panggil ya ka."
Anzela mengangguk lalu melangkah pergi meninggalkan meja kasir. Pelayan tersebut menoleh ke arah Tara yang masih setia berdiri di depan meja. "Mas Tara mau pesan apa?"
“Ehm. Seperti biasa mba. Ice cappucino aja, satu ya," Tara memutuskan untuk meminum ice cappucino kesukaannya. Di mana pun letak kafe yang Tara kunjungi ice cappucino yang akan selalu menjadi pilihannya.
"Siap. Berarti sekalian dijadiin satu sama pesanan kaka yang tadi ya?" Tanya pelayan tersebut menunjuk Anzela.
"Iya, " sahut Tara mengangguk.
"Silahkan ditunggu ya," balas pelayan tersebut ramah lalu memberi daftar pesanan tadi ke bagian dapur.
Tara meninggalkan meja tempat memesan lalu berjalan menuju tempat yang saat ini di duduki Anzela.
Anzela duduk didekat jendela. Menatap kearah luar yang saat ini sangat panas. Cuaca memang tidak menentu. Kadang hujan kadang panas.
Spot favorit Anzela tiap kali ke kafe ini memang selalu di pojok dekat jendela. Entah memang kebetulan atau keberuntungan. Karena tiap kali ia datang ke kafe, meja di pojok selalu kosong.
"Lo sering ke sini?" Tanya Tara sembari menarik kursi dihadapannya.
"Hampir tiap hari," jawab Anzela.
“Ko gue nggak pernah liat lo?”
“Emang lo sering ke sini ?” Anzela balik bertanya.
“Iya. Hampir tiap malam,” balas Tara
“Yah pantesan. Meskipun gue ke sini hampir tiap hari tapikan datangnya kalo nggak siang ya sore. Nggak pernah malam,” terang Anzela.
"Berarti lo jarang di rumah?" Tanya Tara lagi.
Anzela mengangguk. "Kalo pagi kan udah jelas gue di sekolah sampai siang kadang juga sampai sore seperti sekarang. Kan lo tau sendiri dalam satu minggu kita tiga kali bimbingan buat kompetisi. Apalagi terkadang gue diajak jalan sama Meira juga Melinda,” sahut Anzela sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. “Kecuali malam,” tambah Anzela.
“Sama berarti,” balas Tara.
“Lo juga jarang di rumah?” tanya Anzela
“Iya. Sama kaya lo,” ulang Tara. “Bedanya gue pagi sampai malam ,” tambah Tara.
Anzela tertawa. “Gila lo! Tapi wajar sih lo kan cowok. Kalo gue sih nggak pernah kemana-mana kalo udah malam. Kecuali ada hal yang mendesak," jelas Anzela .
Tara mengangguk. "Oh, baguslah.”
Lima belas menit kemudian pesanan mereka selesai.
"Atas nama Anzela," pelayan yang sama dengan tadi saat Anzela melakukan pemesanan memanggil namanya. Anzela bergerak memundurkan kursinya untuk mengambil pesanan tersebut. Namun belum sempat ia berdiri, Tara beranjak dari kursinya. "Biar gue aja. Sekalian."
"Oke, thanks," balas Anzela tersenyum dan kembali duduk.
Tara meletakan pesanan Anzela dan juga pesanannya sendiri di meja.
"Sejak kapan lo berubah baik sama gue ?" tanya Anzela menatap heran Tara dengan wajah menyengir.
“Nggak usah Ge-er,” tegas Tara. “Gue ngerasa nggak enak aja kalo lo yang ngambil pesanan. Kan ada punya gue juga di satu tray.”
Anzela tertawa pelan. “Nggak ada yang ge-er! Justru gue tadi hampir bilang lo sakit karena tiba-tiba baik,” jawab Anzela yang hanya dibalas Tara dengan wajah datar. Ya, wajah datar yang menjadi idaman kaum perempuan di sekolah. Kata mereka sih bukan datar tapi cool. Entahlah Anzela tidak peduli dengan hal itu.
"Tapi lo harus tau An,” bicara Tara percaya diri seraya mengubah gaya posisi duduknya. “Dari dulu gue itu sebenarnya baik. Cuma orang lain aja yang nggak pernah sadar sama kebaikan gue," lanjutnya sembari menyeruput minuman.
Mendengar ucapan Tara tersebut Anzela tertawa lepas. "Pede banget lo! Di mana-mana orang baik itu nggak pernah bilang dirinya baik."
"Itukan orang lain dan bukan gue. Nggak semua orang itu sama An!” balas Tara masih dengan rasa percaya diri.
Anzela bergeleng-geleng kepala. “Serah lo deh!" balasnya seraya meminum ice hazelnut latte miliknya.