Anzela mengangkat roti bakar dari piringnya. Ia menggigit roti itu dengan sangat menikmati bahkan sampai kelopak matanya ikut terpejam akibat rotinya sangat lembut dan memberi rasa lumer yang sangat manis.
Setelah menyelesaikan gigitan pertama Anzela membuka matanya. Sontak ia terkejut dan tersedak seraya buru-buru menyeruput minumannya. “Ehem, ehem!” batuknya menepuk d**a. Anzela mengayunkan tangannya seolah memukul ke arah wajah Tara dengan raut kesal. "Muka lo santai aja kali!" kesal Anzela pada Tara yang kini tengah bergeleng kepala sambil menatapnya. Tatapan itu memang seperti melihat orang yang sedang kelaparan.
Tara masih menggelengkan kepala menatap Anzela. "Lo lagi laper banget atau emang nggak pernah makan tu roti An?" komentarnya.
Anzela kembali meletakan potongan rotinya yang baru ia makan satu gigitan saja ke atas piring. "Lo tu ya! Protesssss aja sama apa yang gue lakuin. Nyesel gue tadi ngasih tau kalo gue mau ke sini!" Sungut Anzela kesal.
"Yah, mau gimana lagi, gue sebenarnya nggak mau protes,” balas Tara seraya menyandarkan punggungnya di kursi. “Tapi jujur, gue tu kaya ngeliatin orang yang emang nggak pernah makan An," sahut Tara yang menambah kekesalan Anzela.
"Diem! Mulut lo gue colok juga nih lama-lama pakai garpu!" Anzela menatap Tara dengan tatapan membunuh.
"Gampang! Tinggal gue cabut garpunya. Selesai," balas Tara terkekeh yang makin membuat Anzela kesal.
Anzela segera mengambil garpu yang ada di piringnya dan mengarahkan pada Tara.
Tara berdecak pelan dan menurunkan garpu tersebut dari hadapannya secara perlahan.
"Oke-oke. Gue nggak ngomong lagi," ujar Tara mengangkat kedua tangan menyerah sambil mengulum senyum karena ingin mentertawakan Anzela yang masih terlihat sangat kesal.
Setelah roti bakar milik Anzela habis bahkan ice hazelnut late miliknya tidak tersisa sedikitpun Anzela beranjak dari duduknya dan begitupun Tara yang ikut menyusul Anzela ke meja kasir.
“Ini mba,” ucap Anzela menyerahkan uang selembaran senilai lima puluh ribu.
Kasir kafe tersebut mengulurkan tangannya untuk menerima uang tersebut. Namun ditahan oleh Tara. “Gue aja yang bayarin An,” tawarnya.
“Serius?” tanya Anzela senang. “Boleh deh sekalian kalo lo mau bayarin,” setuju Anzela seraya memasukan kembali uangnya ke dalam tas.
Tara berdehem sambil menatap Anzela heran. “Lo emang beda An,” ucap Tara seraya bergeleng kepala.
“Apanya yang beda?” tanya Anzela
“Beda karena di mana- mana cewek yang pernah jalan sama gue kalo dibayarin pasti nolak. Bilangnya nggak usah dibayarin sampai gue paksa baru di iya-in.”
Anzela memicingkan matanya menatap Tara. “Terus kenapa sama gue?”
“Nggak kenapa-kenapa sih. Cuma gue...”
“Udah! Bayar aja dulu, lanjutin nanti kalo mau ngomel. Tuh mba kasirnya udah nungguin,” potong Anzela seraya menyenggol lengan Tara.
Tara mengangguk seraya menyerahkan uang selembaran senilai seratus ribu. “Ini mba.”
Kasir kafe tersebut menginput di mesin lalu menyerahkan kembaliannya pada Tara.
Mereka berjalan bersamaan keluar meninggalkan kafe tersebut.
“Lo tadi mau ngomong apa?” tanya Anzela saat mereka berada di luar kafe dan berjalan menuju parkiran.
“Gue tadi tu heran aja sih, kenapa lo jadi orang nggak ada jaim-jaimnya. Minimal pertama kali di saat gue nawarin buat bayar nolak dulu kek gitu."
“Kan lo nawarin, masa gue nolak kebaikan orang lain?”
“Tapi minimal lo nolak dulu sampai gue nawarin lagi buat kedua kalinya,” komentar Tara.
Anzela tertawa nyaring. “Kelamaan kalo lo harus nawarin dua kali, gue nggak mau seribet itu orangnya. Lagian lo ikhlas kan?” tanya Anzela
Tara mengangguk .“Kalo gue nawarin berarti ikhlas.”
Anzela menghentikan langkahnya dan menoleh pada Tara. “Nah berarti aman,” sahutnya tersenyum. “Oh ya gue mau ke dalam bentar. Lo pulang aja duluan,” suruh Anzela.
“Lo mau ngapain?” balas Tara.
“Mau ke toilet!” balas Anzela seraya berlari kecil kembali ke dalam kafe.
Kurang lebih lima menit Anzela sudah selesai dari toilet dan bergegas untuk pulang.
Namun saat berada di depan kafe tersebut,
Buggggh.
Anzela menabrak seseorang yang baru saja hendak masuk ke kafe hingga keduanya jatuh bersamaan.
Orang itu langsung beranjak berdiri dengan cepat seraya menepuk-nepuk celananya yang sedikit berdebu. Ia mengulurkan tangannya pada Anzela yang masih terduduk di lantai.
"Eh. Maaf-maaf," ucap Anzela seraya berdiri menyambut uluran tangan seseorang yang ditabraknya.
"Its okay. Tapi lo nggak papa An?" balas laki-laki di hadapannya.
Anzela mendongakan kepalanya supaya bisa berbicara dengan laki-laki dihadapannya. Sebenarnya ia bingung, apakah tinggi badannya yang salah? Atau memang orang di sekitarnya yang terlalu tinggi?
“Gue nggak papa Di,” balas Anzela tersenyum. "Tapi ini lo mau ketemuan sama Tara?” sambung Anzela.
Dion menggeleng. "Nggak, kenapa emang An?"
"Nggak kenapa-kenapa sih. Nanya aja,” kekeh Anzela. “Gue kirain lo mau ketemuan sama dia. Soalnya barusan dia pulang,"lanjut Anzela.
“Dia tadi kesini ?” tanya Dion
“Iya bareng gue. Habis latihan buat kompetisi bulan depan," jawab Anzela cepat.
Laki-laki di hadapannya mengangguk. “Ooh ...”
“Btw sekali lagi gue minta maaf ya Di," maaf Anzela.
Dion yang masih berdiri di hadapannya tersenyum. "No problem. Gue tau lo nggak sengaja. Lagian gue cuma jatuh biasa."
Anzela tersenyum. "Ya udah kalo gitu gue duluan ya, bye," pamit Anzela dan berlalu meninggalkan laki-laki tersebut yang merupakan temannya sekaligus sahabat Tara.
Dion membalas Anzela dengan tersenyum seraya ikut menoleh ke belakang sebentar melihat Anzela yang berjalan ke arah parkiran lalu membalikan badan lagi dan masuk ke dalam kafe.
"Lama banget lo! Ngapain?" Protes Tara saat Anzela sudah sampai di parkiran. Rupanya sejak tadi Tara masih di sini. Padahal Anzela sudah memintanya untuk pulang duluan.
"Tadi ada insiden kecil di depan kafe," sahut Anzela sembari menaiki motor bebeknya. "Lagian lo ngapain nungguin gue? Kan udah gue bilang, duluan aja, Resky Tara Ardinanta!" cetus Anzela penuh penekanan sambil menghadap ke arah Tara yang berada di sebelahnya.
Tara melangkah maju mendekati Anzela. "Nih, buku lo masih di gue," ucap Tara seraya menyodorkan buku yang tadi sempat Anzela pinjam dari Tara.
"Ko di lo?" Tanya Anzela bingung. Karena seingatnya tadi ia sudah memasukan ke dalam tas.
"Makanya An, jangan teledor jadi orang. Udah untung gue pinjemin nih buku. Tapi malah lo tinggalin tadi di meja. Untung aja gue baik masih mau bawain," gerutu Tara panjang lebar.
"Iya-iya sorry, gue lupa. Efek kenyang kali," balas Anzela santai. " Ya udah, thanks udah bawain buku gue.”
“Buku lo?” tanya Tara menaikan kedua alisnya.
“Ups salah,” balas Anzela sambil terkekeh pelan menutup mulutnya secara spontan. “Maksudnya buku lo yang gue pinjam," sambung Anzela seraya memasukan buku tersebut ke dalam tas.
Tara mengangguk.
"Oh iya. Gue tadi ketemu sama Dion loh di dalam,” kata Anzela seraya mengarahkan pandangannya ke kafe.
“Dia baru dateng?”
Anzela kembali menoleh ke arah Tara lagi. “Kayanya sih iya, soalnya kan baru masuk.”
“Ooh gue kira dia nggak ke sini,” balas Tara seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
“Kalian emang nggak janjian?” tanya Anzela.
“Nggak,” jawab Tara singkat sembari mematikan lagi layar handphonenya.
“Terus kenapa lo nungguin dia?” tanya Anzela penasaran.
“Kepo lo!” balas Tara.
Anzela merenggut sebal.
“Ya udah gue mau masuk lagi ke kafe. Lo mau pulang kan?”tanya Tara yang sekarang berdiri di depan motor Anzela.
“Iya! Ngapain juga gue disini?” balas Anzela dengan nada nyolot.
“Ya udah pulang sana,” suruh Tara pelan. Sebenarnya lebih terdengar seperti mengusir.
“Nggak usah lo suruh! Gue emang mau pulang ko,” sahut Anzela seraya melepas ikat rambutnya. Ia membiarkan rambutnya tergerai dan memasang helm hitam polos kesayangannya.
Anzela menggas-gas motornya, memberi isyarat pada Tara yang memang berada di depan motornya untuk menjauh. “Minggir! Jangan ngalangin jalan orang, gue tabrak nih!”
Tara memasang wajah geregetan. “Iya. Iya!" balasnya seraya menjauh dari motor Anzela lalu berjalan masuk lagi ke dalam kafe tanpa memperhatikan Anzela lagi. Sementara Anzela sudah berlalu melaju bersama motornya.
***
“Di!” panggil Tara saat ia sudah berada di dalam kafe.
“Eh Tar,” balas Dion sembari menghentikan gerakannya menuang kopi ke gelas dan menghampiri Tara yang berdiri tak jauh dari tempat Dion.
“Gue kira lo nggak jadi ke sini,” ujar Tara.
“Awalnya gue nggak mau ke sini karena rencana mau nemenin nyokap belanja. Tapi nggak jadi, soalnya nyokap gue bilang bisa ke sana sendirian,” jelas Dion.
Tara mengangguk paham.
“Duduk di situ aja Tar. Gue nyelesaikan ini bentar,” suruh Dion menunjuk pada sebuah kursi yang tak jauh dari tempat Tara berdiri.
Dion meletakkan dua gelas kopi di meja. Satu untuk dirinya sendiri dan satu lagi untuk Tara. “Nih minum dulu”.
“Thanks bro,” balas Tara.
“Mas Dion,” panggil seorang pelayan kafe tersebut.
Dion menoleh. “Iya, kenapa?”
“Saya boleh izin pulang duluan? Soalnya mau ngantar kaka saya ke bandara hari ini. Kebetulan jam kerja saya hanya sisa tiga puluh menit lagi?” tanya pelayan kafe tersebut hati-hati.
Dion mengangguk. “Oke, nggak masalah. Tapi kerjaan kamu sudah selesai semua?”
“Sudah saya selesaikan semua mas,” jawab pelayan tersebut dengan cepat.
“Ya udah kamu boleh izin”.
“Makasih mas,” ucap pelayan tadi tersenyum seraya kembali ke belakang, tempat khusus untuk karyawan.
“Wah, bos yang baik hati,” ejek Tara sambil bertepuk tangan yang dibalas dengan tawa dari Dion.
“Lo tadi kesini bareng Anzela Tar?” tanya Dion setelah menyesap minumannya.
“Iya," sahut Tara singkat.
“Terus sekarang dia di mana?"
“Pulang”.
“Nggak nungguin lo?”
Tara menggeleng. “Dia bawa motor sendiri”.
Dion mengangguk lalu menyeruput minumannya.
“Lo kenapa nanyain dia?” tanya Tara curiga.
“Nggak kenapa-napa,” balas Dion seraya menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Yakin?” tanya Tara ragu.
“Iya nggak ada apa-apa. Gue cuma ngerasa dia..." Dion menjeda kalimatnya. Sementara di Tara sudah siap mendengarkan dengan seksama.
"Nggak jadi deh," potong Dion cepat yang membuat Tara berdecak.
"Kebiasaan lo!” cetus Tara seraya melempar kertas struk yang berisi pesanan miliknya dan Anzela sedari tadi yang masih ia pegang.
Dion tertawa memungut kertas yang mengenainya tersebut.
“Bingung gue sama lo Di. Setiap ngomong pasti ada aja yang nggak dilanjutin," gerutu Tara bergeleng kepala. Sementara Dion hanya terkekeh pelan mendapat omelan dari sahabatnya itu.