Anzela mengendarai motornya dengan kecepatan pelan. Ia ingin menikmati jalanan yang sore ini tidak begitu ramai dengan semilir angin senja yang cukup membuat pikirannya teduh.
Lampu merah membuatnya berhenti. Anzela menatap ke arah kanan. Ia mengamati bangunan di sana dengan lekat. Tanpa disadari ia mengingat kenangan-kenangan yang terjadi saat bersama dengan ayah, ibu juga adiknya yang makan bersama di restoran tersebut. Restoran yang sangat disukai adiknya.
Mendadak rasa rindu yang teramat dalam kepada keluarganya merasuki tubuh Anzela. Sebenarnya ia benci rasa ini, rasa yang menyiksa batinnya.
Restoran itu masih ada dan masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Keluarganya selalu pergi ke sana tiap kali ada perayaan. Entah itu kemenangan Anzela dan adiknya dalam perlombaan, juara kelas, atau bahkan ulang tahun.
Meskipun restoran itu masih ada namun setahu Anzela pemiliknya sudah berbeda. Pemilik lama pindah ke kota lain entah karena alasan apa.
Anzela cukup lama menatap restoran itu. Ia masuk dalam pikirannya sendiri. Dua tahun sudah berlalu dan begitu banyak perubahan dalam hidupnya. Tetapi bagaimanapun yang terjadi, perubahan itu membuatnya dewasa dan menjadi mandiri seperti sekarang.
Tit tit tit
Bunyi klakson mobil yang berada di belakang membuat Anzela terkejut dan tersadar dari lamunan. Ternyata traffic light sudah berubah berwarna hijau.
Anzela kembali melanjutkan perjalanan. Meskipun pelan namun sedikit lagi ia sampai ke rumahnya karena kini sudah sampai di pertigaan terakhir menuju rumahnya.
Belum sempat Anzela membelokan motornya ke pertigaan di sebelah kanan, ia mendengar bunyi decitan ban motor yang membuat ngilu. Spontan ia memberhentikan motornya dan menoleh ke belakang.
Di sana Anzela melihat seorang ibu paruh baya yang hendak menyebrang jalan. Kemungkinan ibu tersebut ingin menuju mobilnya yang terparkir di seberang jalan. Alih-alih berhasil menyebrang justru ibu tersebut terserempet motor hingga terjatuh.
Spontan Anzela turun dari motornya dan berlari ke arah ibu tersebut. Sedangkan si pelaku sudah kabur bersama motornya.
"Ibu! Ibu nggak papa?" tanya Anzela panik saat ia sudah berada tepat dihadapan ibu tersebut.
Ibu tersebut hanya merintih pelan. Sementara itu Anzela melihat siku dan lutut ibu tersebut ternyata berdarah akibat gesekan aspal.
Berhubung tidak ada siapapun di sana, akhirnya Anzela berinisiatif untuk mengobati ibu tersebut di jalan. Kebetulan ia memiliki perlengkapan P3K yang selalu ia bawa kemanapun. Kotak P3K itu selalu ia letakan di dalam jok motor.
"Bu? Ibu masih kuat jalan?" Tanya Anzela pelan seraya memapah ibu tersebut untuk berdiri
Ibu tersebut mengangguk.
"Ya udah kita ke pinggir situ dulu aja ya bu. Biar nanti saya obatin lukanya," tunjuk Anzela pada aspal di pinggiran.
"Makasih nak".
Anzela membantu ibu tersebut untuk menselonjorkan kakinya saat sudah duduk di pinggir jalan. Ia duduk di sebelah ibu tersebut setelah membawa kotak P3K, air mineral, serta tisu. Anzela mengernyitkan dahi melihat luka sobekan yang ada di siku dan lutut ibu tersebut. Ia membersihkan luka tersebut perlahan menggunakan air mineral dan dilap menggunakan tisu. Lalu meneteskan obat merah dan menutupnya dengan perban kecil. Untung saja hanya luka ringan, pikir Anzela.
"Makasih ya nak kamu udah nolongin ibu," ucap ibu tersebut menggenggam tangan Anzela.
"Iya sama-sama bu," balas Anzela tersenyum.
"Nama kamu siapa?”
"Anzela bu, panggil aja An," sahutnya. "Kalo ibu sendiri saya panggilnya apa?" Tanya Anzela ramah.
"Panggil aja Tante Lili," sahut ibu tadi dengan suara lembut.
Anzela mengangguk tersenyum. "Oke tan."
"Kamu sekolah di Ardinanta juga ya ?" Tanya tante Lili, mungkin karena Anzela masih memakai seragamnya lengkap.
Anzela mengangguk tersenyum.
"Anak saya juga sekolah disana."
"Oh ya? Kelas berapa tan?"
"Kelas 3, kamu kelas berapa ?"
"Kelas 3 juga tan," balas Anzela.
"Mungkin kamu kenal. Namanya..."
Drtt Drtt Drtt
Ucapan tante Lili terpotong sebab ponselnya bergetar. Tante Lili membaca chat yang ada di ponselnya dan beranjak berdiri dengan pelan.
"An, sekali lagi tante makasih banyak ya. Tante sekarang pamit pulang," ucap Tante Lili memeluk Anzela.
Anzela membalas pelukan itu. "Mau An iring dari belakang tan? Siapa tahu tante masih kesakitan, takutnya ada apa-apa," tawar Anzela.
"Nggak usah An, tante bisa ko. Sakitnya udah nggak seberapa," tolak Tante lili lembut.
Anzela mengangguk. "Ya udah tan, An anterin sampai ke mobil," ucap Anzela menuntun tante Lili berjalan ke mobilnya.
“Ah ya, tante boleh minta nomor kamu?” tanya tante Lili sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil.
Anzela mengangguk. “Boleh tan. Ini nomornya,” sahut Anzela menunjukan nomor di layar ponselnya.
“Sekali lagi makasih ya An, tante pulang,” pamit tante Lili tersenyum.
"Hati-hati tan," ujar Anzela melambaikan tangan.
Tante Lili tersenyum dan membalas lambaian tangan Anzela seraya meninggalkan lokasi tersebut bersama mobil HRV miliknya yang berwarna putih.
***
"Mah darimana aja?" tanya Dion khawatir menghampiri wanita yang ia panggil mamah saat baru masuk ke dalam rumah.
"Tadi mamah kecelakaan kecil, tapi nggak papa ko," sahut mamahnya seraya duduk di kursi ruang tamu.
"Kecelakaan?!" Ulang Dion kaget seraya ikut duduk di sebelah mamahnya.
"Iya. Keserempet motor," jawab mamahnya santai seolah kecelakaan itu bukan apa-apa.
"Ya ampun mah! Padahal tadi Dion kan udah bilang, kalo mamah mau pergi mending dianter sama Dion belanjanya," omel Dion cemas.
"Udah nggak papa. Ini cuma luka kecil," balas mamahnya meyakinkan.
“Tetep aja mah. Tau gitukan Dion nggak usah ke kafe.”
“Kamu baru pulang juga Di?” tanya mamahnya mengalihkan pembicaraan karena melihat Dion masih mengenakan baju yang sama saat tadi pamit berangkat ke kafe.
“Iya. Tadi di sana ngobrol sama Tara dulu,” sahut Dion yang dibalas mamahnya dengan anggukan.
"Tapi mamah tadi ke rumah sakit?" tanya Dion.
"Nggak. Tadi mama ditolongin sama anak SMA," cerita mamahnya semangat.
"Anak SMA? Siapa mah?" Tanya Dion penasaran.
"Namanya Anzela. Dia satu sekolah loh sama kamu!" Ucap mamahnya antusias.
"Anzela?" Ulang Dion dengan mata yang membulat sempurna.
"Kamu kenapa kaget gitu?" tanya mamanya memukul lengan Dion.
"Ehem”. Dion batuk kecil dan menormalkan wajah terkejutnya.
"Hayoo... Jangan-jangan kamu ada apa-apa yaaa sama Anzela?" Goda mamahnya dengan tertawa pelan.
"Nggak ada apa-apa ko mah. Dion kaget aja,” sahut Dion santai. “Syukurlah ternyata masih ada orang baik yang mau nolongin mamah," sambung Dion.
"Iya mama bersyukur Di, untung aja tadi ada dia, coba kalo nggak. Nggak tau deh mamah bakalan nunggu pertolongan dari orang lain di sana berapa lama."
Dion mengangguk-angguk. "Ya udah mah, aku anter mamah ke kamar ya," ajak Dion seraya membantu memapah mamanya ke kamar.
***
Sekarang sudah pukul sembilan malam. Setelah tadi selesai mengganti perban untuk mamahnya Dion beranjak ke kamar.
Kamar tidurnya berada di lantai dua. Dion membuka kamarnya. Aroma diffuser menghampiri indra penciumannya.
Kamar tidur Dion memiliki perabotan yang lengkap. Meskipun kamar tersebut sudah dilengkapi dengan perabotan lengkap namun tetap saja masih terlihat agak kosong karena terlalu luas.
Kamar itu didominasi dengan warna hitam dan abu-abu. Dion memang lebih suka suasana yang gelap dan tenang. Dindingnya tidak ada apa-apa, terkecuali satu lukisan yang merupakan hasil karyanya sendiri.
Dion memang sangat menyukai lukisan. Ia bahkan sudah pandai melukis sejak duduk di bangku SD.
Lalu kenapa ia justru bersekolah di SMA dan mengambil jurusan IPA ? Jawabannya hanya satu. Meneruskan perusahaan ayahnya di bidang kedokteran.
Dion menatap lukisan yang berada di dinding tersebut. Lukisan itu akan terlihat jelas saat Dion berada di kasur karena diletakan di arah barat dari kasurnya.
Lukisan monokrom itu berhasil menarik perhatiannya lagi untuk ke sekian kalinya. Setiap hari Dion memandangi lukisan itu tapi tak pernah kunjung bosan.
Dalam lukisan tersebut terlihat seorang anak laki-laki berseragam putih merah sedang berjalan di taman dengan bantuan tongkat. Lalu di sebelahnya seorang perempuan berseragam putih abu-abu menggandeng tangannya.
Dion menarik napas pelan. Ia duduk di atas kasur melipatkan kedua kakinya lalu bersandar di kepala kasur yang terbuat dari kayu jati. Tangannya diangkat sebagai alas untuk menopang bagian belakang kepalanya agar tidak begitu sakit terkena kayu yang tengah ia sandari.
Bagaimana bisa Dion lupa perihal lukisan itu. Dia tidak akan pernah lupa. Anak laki-laki itu adalah dirinya sendiri. Lalu perempuan yang memegang tangannya adalah kakaknya yang meninggal enam tahun yang lalu akibat kecelakaan. Kekecewaan mendalam atas rasa kehilangan ia rasakan meskipun karena kepergian itu akhirnya Dion bisa melihat betapa indahnya dunia untuk pertama kali.
Seandainya kecelakaan maut itu tidak merenggut nyawa kakaknya, mungkin saja ia masih bisa melanjutkan mimpi menjadi seorang pelukis handal karena sejak awal menjadi seorang dokter itu adalah mimpi kakaknya. Dion ingat betul bahwa ayahnya memang akan memberikan perusahaan itu kepada kakaknya kelak setelah kakaknya menjadi seorang dokter. Namun sayang, takdir berkata lain yang membuatnya harus merelakan mimpi menjadi seorang pelukis.
Dion ingat betul percakapan saat ia duduk di bangku taman bersama kakaknya setelah jalan-jalan di taman seperti yang ada di dalam lukisan tersebut.
“Ka, Dion tadi denger papah bilang sama mamah, kalo kakak udah besar dan jadi dokter kaka yang bakal gantiin papah di perusahaan,” ucap seorang anak laki-laki yang tengah duduk di bangku taman berbaju putih dan celana merah yang menunjukan dengan jelas bahwa ia anak sekolah.
Perempuan berkuncir satu dengan kacamata bulat menatapnya lekat-lekat. Meskipun anak laki-laki itu tidak melihat tatapan tersebut. “Iya emang bener. Papah udah ngomong juga ko ke kaka”.
“kaka seneng gantiin papah?”
“Iya senenglah,” sahut anak perempuan tersebut semangat. “Kan itu mimpi kaka,” lanjutnya lagi.
“Wah, kalo mimpi bisa didapatin, berati Dion juga bisa jadi pelukis ya ka?” tanya anak laki-laki itu antusias.
“Bisa dong, kamu kan hebat,” balas anak perempuan itu seraya mencubit pipi anak laki-laki tersebut.
“Tapi Dionkan buta, nggak bisa liat. Emang nanti ada yang mau beli hasil lukisan Dion?” tanya anak laki-laki itu dengan nada sedih.
“Kamu emang nggak bisa liat. Tapi kamukan melukisnya pakai hati, jadi pasti bagus ko,” balas anak perempuan itu menyemangati.
Anak laki-laki tersebut tersenyum lebar. “Tapi kaka janji ya bakalan nemenin Dion sampai besar dan jadi pelukis hebat,” ucapnya seraya meyodorkan jari kelingking ke samping di mana suara perempuan itu berasal.
“Iya kaka janji bakalan selalu ada buat Dion,” balas anak perempuan tersebut seraya mengaitkan jari kelikingnya.
Entah sudah berapa lama Dion menatap lukisan itu dan hanyut bersama kenangan. Namun sekarang matanya sudah menciut hingga ia menghempaskan kepalanya ke atas bantal dan mencoba memejamkan mata.