Prolog
Bandung, kota yang indah dengan pesona alam dan sejarahnya, juga menyimpan kisah-kisah kelam dari masa lalu. Salah satu tempat yang sering dibicarakan dalam bisik-bisik masyarakat adalah Jembatan Tua Dayeuhkolot.
Jembatan ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan menjadi saksi pertempuran sengit antara pejuang Indonesia melawan pasukan kolonial. Konon, darah pernah mengalir deras ke sungai di bawahnya, dan nyawa berguguran tanpa sempat dikebumikan dengan layak.
Hingga kini, banyak yang mengaku mendengar tangisan dari masa lalu, jeritan pilu yang merobek kesunyian malam. Bahkan ada yang mengatakan bahwa di saat tertentu, orang-orang modern bisa terperangkap di zaman itu, menyaksikan sendiri horor yang terjadi di jembatan tersebut.
Dimas tidak percaya hal seperti itu. Sampai ia mengalaminya sendiri.
---
Dimas baru saja selesai menghadiri acara kampus. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.47 ketika ia memutuskan untuk pulang. Jalan utama terasa terlalu panjang dan macet, jadi ia memilih jalur alternatif yang lebih cepat—melewati Jembatan Tua Dayeuhkolot.
Ia tidak berpikir macam-macam saat memutar stang motornya ke jalanan kecil yang menuju ke sana. Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya, menusuk kulit meski jaketnya cukup tebal.
Ketika motornya mendekati jembatan, ia mulai merasa ada sesuatu yang janggal. Jalan yang tadi terlihat normal, kini tampak lebih gelap dari seharusnya.
Tidak ada lampu jalan yang menyala.
Tidak ada suara jangkrik atau binatang malam.
Hanya kesunyian yang mencekam.
Jembatan tua itu membentang di hadapannya, gelap dan dingin, seakan-akan ia baru saja memasuki tempat yang tidak seharusnya.
Lalu, ia mendengar sesuatu.
Tangisan.
---
Tangisan itu terdengar lirih pada awalnya, hampir seperti bisikan di tengah angin malam. Tapi semakin Dimas melajukan motornya, suara itu makin jelas—bukan hanya satu, tetapi banyak.
Jeritan kesakitan, suara orang menangis tersedu-sedu, bahkan ada yang berteriak meminta tolong.
Jantung Dimas berdegup lebih cepat. Ia menoleh ke kanan dan kiri, tetapi yang ada hanya kegelapan dan bayangan pepohonan di tepi jembatan.
Ia mencoba mengabaikannya.
Mungkin ini hanya sugesti.
Namun, begitu ia menatap spion motornya, matanya melebar.
Di kaca spion, ia melihat bayangan-bayangan samar berkelebat di belakangnya. Puluhan, bahkan ratusan. Mereka bergerak dalam kegelapan, tubuh mereka remang-remang seperti kabut, tapi wajah mereka—pucat, hampa, dan penuh luka.
Dimas menahan napas. Keringat dingin mulai membasahi tengkuknya.
Ia mempercepat motornya.
Namun, tepat ketika roda depan mencapai tengah jembatan, dunia di sekelilingnya berubah.
---
Dimas mengerem mendadak dan hampir terjatuh dari motornya.
Jembatan yang tadi kosong kini dipenuhi puluhan tentara berseragam pejuang kemerdekaan. Mereka berlari dengan senapan di tangan, wajah mereka penuh debu dan darah. Di sisi lain, pasukan Belanda dengan seragam abu-abu muncul, menembakkan senjata mereka tanpa ampun.
Suara tembakan bergema di udara.
Dimas terpaku. Ia tidak bisa bergerak. Napasnya tercekat melihat salah satu pejuang tertembak di d**a, darah menyembur dari tubuhnya, dan ia jatuh tepat di depan Dimas.
"Lari! Mereka datang!" pria itu berteriak sebelum napasnya terhenti.
Dimas mundur selangkah, tubuhnya gemetar.
Ini… ini tidak mungkin nyata.
Namun, rasa sakit yang menjalar dari tangannya saat ia terjatuh ke aspal membuktikan bahwa ini terasa sangat nyata.
Tiba-tiba, seseorang menarik lengannya.
Seorang pria tua dengan pakaian compang-camping menariknya ke belakang bangunan tua di dekat jembatan.
"Jangan diam di sini! Kau akan mati!" bisik pria itu dengan suara serak.
Dimas ingin bertanya, tetapi sebelum ia sempat berbicara, sesuatu menghantam udara di dekat mereka.
Peluru.
Bangunan tempat mereka bersembunyi bergetar, dan Dimas bisa mendengar suara langkah kaki mendekat.
"Diam. Jangan bernapas terlalu keras." pria tua itu memperingatkan.
Dimas mengangguk, meski tubuhnya bergetar hebat.
---
Ketika langkah kaki itu akhirnya menjauh, pria tua itu menoleh ke arah Dimas.
"Apa yang kau lakukan di sini? Seharusnya kau tidak ada di sini," katanya, matanya tajam dan penuh kekhawatiran.
Dimas membuka mulut, tetapi sebelum ia bisa menjawab, sesuatu menarik perhatiannya.
Di belakang pria tua itu, sosok-sosok gelap mulai bermunculan.
Wajah mereka rusak, tubuh mereka compang-camping, dan mata mereka kosong.
Dan mereka semua menatap Dimas.
Dimas merinding. Ia mencoba mundur, tetapi pria tua itu menggenggam lengannya dengan erat.
"Kau harus keluar dari sini sebelum mereka menyadari kau bukan bagian dari masa ini."
Dimas menelan ludah. "Bagaimana caranya?"
Pria itu menatapnya dalam-dalam, lalu berkata, "Ketika perang mencapai puncaknya, dunia ini akan kembali kacau. Itu saatnya kau bisa melarikan diri."
Dimas tidak mengerti maksudnya, tetapi ia tidak punya pilihan lain selain percaya.
Dan benar saja, beberapa detik kemudian, suasana berubah semakin kacau.
Granat meledak di dekat jembatan. Asap dan debu memenuhi udara. Jeritan semakin keras, darah mengalir di mana-mana.
Dimas melihat kesempatan itu. Ia berlari secepat mungkin, menerobos medan perang yang penuh dengan peluru berdesing.
Namun, sebelum ia berhasil mencapai ujung jembatan, sesuatu mencengkeram kakinya.
Dimas menjerit.
Ia menoleh ke bawah, dan matanya membelalak ketakutan.
Tangan-tangan berlumuran darah mencengkram kakinya, menariknya ke dalam kegelapan.
Puluhan wajah tanpa mata menatapnya dari bayang-bayang.
Dimas meronta. "LEPASKAN!"
Dunia di sekelilingnya kembali berputar.
Dan dalam sekejap…
Semuanya menghilang.
---
Kembali ke Dunia Nyata
Dimas tersentak.
Ia masih berada di atas motornya. Jembatan di hadapannya kembali sunyi.
Tidak ada tentara. Tidak ada medan perang.
Tapi jantungnya masih berdetak kencang. Nafasnya masih berat.
Ia menoleh ke tanah di samping motornya.
Di sana, bekas tapak sepatu berlumuran darah masih tertinggal.
Dan dari jauh, samar-samar, suara tangisan kembali terdengar.
Tangisan dari masa lalu.
Dimas tidak menunggu lebih lama. Ia menyalakan motornya dan melaju sekencang mungkin, meninggalkan jembatan tua itu di belakang.
Namun, sebelum ia benar-benar menjauh…
Ia sempat melihat sesuatu di kaca spionnya.
Di tengah jembatan, seorang pria tua dengan pakaian compang-camping berdiri diam, menatap ke arahnya.
Tersenyum.
Seakan baru saja mengantarnya pulang.