Prolog: Jangan Ganggu yang Tak Terlihat
Palembang, kota yang kaya akan sejarah, memiliki banyak cerita yang tak hanya tertulis dalam buku, tetapi juga tertinggal di tempat-tempat yang jarang dipedulikan. Salah satunya adalah halaman belakang sebuah SMK tua, yang kini dijadikan lahan untuk kegiatan Pramuka.
Dulunya, tanah ini menyimpan sejarah kelam. Pada masa penjajahan, tempat ini adalah lahan eksekusi. Banyak nyawa melayang di sini tanpa kuburan yang layak, hanya tertimbun di bawah tanah yang tak pernah benar-benar diam.
Tapi, tak ada yang tahu pasti apakah arwah mereka telah benar-benar pergi.
Malam ini, lima siswa SMK itu akan mengetahui jawabannya. Dan saat mereka menyadarinya, sudah terlambat.
---
Malam itu adalah hari pertama kemah Pramuka. Setelah hiking sore hari, lima sekawan—Doni, Rama, Ardi, Dinda, dan Sari—berkumpul di belakang area perkemahan.
"Aku bosan," keluh Doni, "kita harus bikin sesuatu yang seru."
Ardi, yang terkenal jahil, tersenyum miring. "Kenapa nggak main jelangkung aja?"
Dinda langsung menoleh tajam. "Jangan macem-macem, Ard!"
Namun Doni justru tertawa. "Ah, kita udah gede. Masa takut?"
Sari menggigit bibir, ragu. Tapi Rama justru tertarik. "Kita bikin boneka dulu?"
Mereka pun mencari bahan-bahan di sekitar mereka. Batok kelapa yang tergeletak di tanah dijadikan kepala, ranting kayu sebagai tangan, dan kain kotor sebagai baju. Boneka itu kini berdiri tegak di tengah lingkaran mereka.
Doni menatap boneka itu dengan mata berbinar. "Udah siap? Kita panggil?"
Tak ada yang menjawab, tapi tak ada yang menolak.
Mereka duduk melingkar, memegang ujung boneka itu, lalu mulai melantunkan lagu pemanggilan dengan suara pelan:
"Jelangkung jelangsat,
Di sini ada pesta,
Pesta kecil-kecilan,
Jelangkung jelangsat,
Datang tak dijemput,
Pulang tak diantar."
Mereka mengulanginya sekali…
Dua kali…
Tiga kali…
Angin tiba-tiba berhembus kencang.
Api unggun di kejauhan berkedip-kedip, seolah sesuatu menghisap cahayanya.
Tiba-tiba…
Batok kelapa itu mulai bergoyang sendiri.
Mereka membeku.
Rama menelan ludah. "Si-siapa yang goyangin?"
Tak ada yang menjawab.
Semua tangan mereka tetap diam di pangkuan masing-masing.
Tapi boneka itu…
Terus bergerak.
---
Doni mencoba menertawakannya, tapi suaranya terdengar gemetar.
"Ah… Pasti ada angin—"
Sebelum ia selesai berbicara, tangannya terasa berat.
Seperti ada sesuatu yang mencengkeramnya.
Dan sebelum ia bisa menarik tangannya…
Batok kelapa itu retak.
Tapi yang lebih mengerikan…
Retakannya membentuk sesuatu yang menyerupai senyuman.
Dinda mulai menangis. "Kita harus berhenti! Sekarang juga!"
Tapi semuanya terlambat.
Terdengar suara langkah kaki menyeret-nyeret dari arah gedung sekolah yang gelap.
Langkah itu berat, tidak wajar.
Dan kemudian…
Sesuatu muncul.
Sosok pria.
Namun wajahnya… hancur.
Mata tidak ada.
Daging di wajahnya seperti terbakar, menyisakan lubang-lubang hitam yang menganga.
Dan yang paling menyeramkan…
Ia tersenyum.
Tapi senyumnya bukan senyum manusia.
Bibirnya terkoyak hingga ke pipi, memperlihatkan deretan gigi yang seharusnya tidak sebanyak itu.
Ia membuka mulutnya…
Dan yang keluar bukan suara manusia.
Tapi suara tangisan anak-anak.
---
Doni berteriak, "LARI!"
Mereka berhamburan, berusaha kabur.
Tapi anehnya…
Mereka tak bisa keluar dari halaman itu.
Mereka berlari dan berlari…
Namun saat mereka menoleh…
Mereka masih berada di tempat yang sama.
Dan di tengah lingkaran tanah itu…
Boneka jelangkung masih ada.
Namun kini, ia tidak sendirian.
Sosok pria itu duduk di sampingnya.
Dan kali ini, ia tertawa.
Tawa yang menggema di kepala mereka, membuat mereka pusing, mual, dan tak bisa berpikir jernih.
Lalu tiba-tiba…
Sari menjerit.
Ia terangkat dari tanah…
Ditarik oleh sesuatu yang tak terlihat.
Tangan-tangannya meraih udara, berusaha berpegangan.
Tapi tak ada yang bisa menolong.
"SAARI!!" teriak Dinda.
Namun kemudian…
Ardi pun terangkat.
Disusul oleh Rama.
Mereka berteriak…
Tapi suara mereka menghilang begitu saja.
Dan dalam sekejap…
Ketiganya lenyap.
Seakan-akan diserap oleh dunia lain.
---
Doni dan Dinda adalah yang tersisa.
Tanpa pikir panjang, mereka lari sekencang mungkin.
Tak peduli ke mana.
Mereka hanya ingin keluar dari tempat terkutuk itu.
Dan entah bagaimana, tiba-tiba mereka sudah berada di tenda mereka.
Udara kembali normal.
Tak ada angin.
Tak ada suara tawa.
Hanya keheningan yang menyesakkan.
---
Saat matahari terbit, perkemahan digemparkan.
Tiga siswa ditemukan tergeletak di tanah di halaman belakang.
Tak ada luka.
Tak ada tanda kekerasan.
Namun wajah mereka…
Membeku dalam ekspresi ketakutan yang luar biasa.
Dan yang lebih mengerikan…
Boneka jelangkung itu masih ada di sana.
Tapi kini, batok kelapanya hancur total.
Pihak sekolah panik, polisi dipanggil.
Namun tak ada yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Doni dan Dinda…
Tidak mengatakan sepatah kata pun.
Mereka hanya menunduk, menggigil ketakutan.
---
Seminggu setelah kejadian itu, Doni dan Dinda mulai terlihat semakin aneh.
Mereka tak banyak bicara.
Mereka sering terlihat menatap kosong ke sudut ruangan.
Seakan ada sesuatu yang mereka lihat… tapi orang lain tidak bisa melihatnya.
Dan pada malam ke-7 setelah kejadian itu…
Doni ditemukan tewas di kamarnya.
Wajahnya…
Membeku dalam ekspresi ketakutan yang sama seperti ketiga temannya.
Dan malam berikutnya…
Dinda pun mengalami hal yang sama.
Kini, semua saksi yang masih hidup telah tiada.
Dan di halaman belakang sekolah…
Saat malam tiba…
Jika kau berani mendekat dan mendengarkan dengan seksama…
Kau akan mendengar…
Suara tawa lirih…
Dan sebuah lagu yang berbisik di udara…
"Jelangkung jelangsat,
Di sini ada pesta…"