Randi tidak pernah menyukai boneka. Baginya, benda itu hanya mainan untuk anak kecil.
Tapi suatu sore, di ujung lorong sekolah yang jarang dilewati, ia menemukan sesuatu yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Gudang tua itu biasanya selalu terkunci. Gembok berkarat menggantung di pintunya, menandakan sudah lama tidak dibuka.
Tapi hari itu, pintu itu sedikit terbuka.
Seharusnya Randi tidak peduli.
Seharusnya ia melangkah pergi.
Tapi suara itu memanggilnya."Masuklah."
Ia menoleh, mencari sumber suara, tetapi lorong itu kosong.
Angin sore berembus pelan, membuat suasana semakin aneh. Didorong rasa penasaran, Randi mendorong pintu gudang.
Bau debu menyengat langsung menyambutnya, membuatnya terbatuk kecil.
Barang-barang tua berserakan di dalamnya—meja kayu patah, lemari berdebu, tumpukan kostum lusuh. Dan di tengah ruangan, berdiri sebuah boneka besar. Ia tidak tahu harus menyebutnya apa.
Bentuknya seperti mannequin, tapi wajahnya terlalu detail, hampir menyerupai manusia. Kulitnya dicat coklat mengilap, dan pakaian adat yang membalut tubuhnya tampak usang. Yang paling aneh adalah tangannya. Salah satu tangannya terangkat dalam pose tarian yang tidak ia kenali.
Bulu kuduk Randi meremang. Ada sesuatu yang salah dengan boneka ini. Tapi ia menggelengkan kepala, mengusir pikiran anehnya. Mungkin ini hanya properti lama untuk festival sekolah.
Tidak ingin berlama-lama, ia segera keluar dan menutup pintu gudang.
Saat ia berjalan menjauh, sesuatu di dalam gudang perlahan bergerak.
---
Malam itu, Randi duduk di sofa, menonton TV sambil memakan camilan. Ia mencoba melupakan perasaan tidak enak yang mengikutinya sejak dari sekolah. Tapi entah kenapa, ia merasa diawasi.Di ujung matanya, ia seperti melihat sesuatu berdiri di sudut ruangan. Saat ia menoleh, tidak ada apa-apa.
Perasaan itu semakin kuat saat ia berada di kamar. Saat ia menatap cermin, ia bisa melihatnya. Bayangan itu. Boneka yang tadi ia lihat di gudang. Berdiri di belakangnya.
Ia berbalik.
Tidak ada siapa-siapa.
Jantungnya berdebar.
Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini hanya bayangan pikiran. Tapi ketika ia menatap cermin lagi, boneka itu semakin dekat. Ia bergegas menarik selimut dan menutup matanya rapat-rapat.
---
Pukul satu dini hari, Randi terbangun dengan keringat dingin. Ia merasa ada sesuatu di kamarnya.
Dengan napas tersengal, ia melihat ke sekeliling.Boneka itu ada di sana.Berdiri di sudut kamar. Lebih dekat dari sebelumnya. Tangannya yang sebelumnya membentuk pose tarian kini berubah posisi.
Randi menahan napas. Tangannya bergetar saat meraih ponsel, mencoba menyalakan lampu.
Boneka itu menghilang. Ia menarik napas lega, mengira ini hanya imajinasinya. Tapi saat ia melihat jam…Pukul dua dini hari. Ia menoleh kembali ke sudut ruangan. Boneka itu kini lebih dekat.
Setiap jam, boneka itu semakin mendekat.
---
Keesokan harinya, Randi menceritakan semuanya kepada Dani dan Fitri. Mereka mendengarkannya dengan raut skeptis.
"Kamu yakin nggak lagi stres?" tanya Dani.
"Aku nggak gila, Dan! Aku lihat boneka itu setiap jam! Semakin dekat! Aku takut kalau nanti dia sampai tepat di depan wajahku!"
Fitri menghela napas. "Kalau memang ada boneka itu, kita cari di rumahmu. Aku yakin kita nggak bakal nemu apa-apa."
Sepulang sekolah, mereka bertiga menuju rumah Randi. Namun, tidak ada boneka di mana pun. Tidak di kamar, tidak di ruang tamu, tidak di luar rumah.
"Enggak mungkin…" gumam Randi. "Semalam dia di sini… Aku lihat…"
Dani menepuk bahunya. "Udahlah, Ran. Mungkin kamu cuma kurang tidur."
Randi mengangguk lemah.
Tapi saat mereka melangkah keluar rumah, Randi melihatnya lagi.
Di ujung jalan.
Hanya dia yang bisa melihatnya.
Boneka itu semakin dekat.
---
Malam itu, Randi tidak bisa tidur. Ia berusaha tetap terjaga, tapi tubuhnya sudah terlalu lelah.
Saat matanya hampir tertutup, ia mendengar suara napas di dekatnya.
Pelan.
Dekat.
Ia membuka matanya perlahan.
Boneka itu ada di atasnya.
Wajah kayunya hanya beberapa inci dari wajah Randi.
Tersenyum.
Tangannya terangkat, menyentuh wajahnya.
Randi ingin menjerit, tapi suaranya menghilang.
Tubuhnya terasa kaku.
Semuanya menjadi gelap.
---
Saat ia membuka mata, semuanya terasa aneh.
Ia tidak bisa bergerak.
Di depannya, ada cermin.
Yang ia lihat di sana bukan dirinya.
Ia melihat tubuhnya berdiri di depan cermin—tetapi bukan dia yang mengendalikannya.
Mulutnya tersenyum, tapi bukan dia yang melakukannya.
Kemudian tubuh itu berbicara padanya.
"Sekarang tubuh ini milikku."
Randi ingin berteriak, ingin menangis.
Tapi ia tidak bisa.I
a menatap ke samping dan melihat boneka kayu di sudut ruangan.
Matanya kini berada di sana.
Ia telah menjadi boneka itu.
Ia hanya bisa melihat tubuhnya sendiri tersenyum, lalu mengangkat boneka yang kini adalah dirinya.
Dengan tenang, tubuhnya berjalan ke sekolah.
Ke gudang tua.
Setelah membuka pintu, "Randi" meletakkan boneka kayu itu di tengah ruangan yang gelap dan berdebu.
Sebelum menutup pintu, ia berbisik:
"Carilah yang bisa mendengarmu… dan ambil tubuh mereka."
Pintu tertutup.
Randi yang terperangkap dalam boneka hanya bisa menunggu.
Menunggu seseorang yang cukup penasaran…
Untuk mendengar panggilannya