Malam di desa Kertawangi selalu sunyi. Hanya suara angin yang berhembus di antara ladang tebu dan pohon beringin tua di dekat sungai yang sesekali memecah keheningan. Tidak banyak yang berani keluar rumah saat matahari tenggelam, karena cerita-cerita mistis yang sudah menjadi bagian dari kehidupan desa itu.
Aldi tidak terlalu percaya pada hal-hal semacam itu. Baginya, cerita tentang makhluk gaib hanyalah mitos yang dibuat orang-orang tua untuk menakut-nakuti anak-anak.
Namun, semua keyakinannya itu mulai berubah ketika ia menemukan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia bawa pulang.
---
Hari itu, Aldi pergi ke sungai kecil di pinggiran desa untuk mencari ikan. Udara masih terasa lembab setelah hujan deras semalam. Langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu tergeletak di antara akar pohon beringin yang menjulang tinggi.
Sebuah benda kecil, kering, dan mengerikan.
Bentuknya menyerupai manusia, tapi hanya seukuran telapak tangan. Kulitnya tampak menghitam seperti kayu lapuk, rambut panjangnya menjuntai kusut, dan giginya mencuat tajam dari mulutnya yang kaku.
Jantung Aldi berdegup kencang. Ia pernah mendengar cerita tentang makhluk ini. Jenglot.
Orang-orang di desa percaya bahwa jenglot bukan sekadar boneka, melainkan makhluk yang hidup dengan cara menghisap darah pemiliknya. Jika diberi makan secara rutin, jenglot akan membawa keberuntungan. Jika diabaikan, maka hal buruk akan menimpa pemiliknya.
Aldi menelan ludah. Akalnya berkata untuk meninggalkan benda itu di sana. Tapi ada dorongan aneh yang membuatnya tidak bisa berpaling.
Saat tangannya meraih jenglot itu, ia merasa tubuhnya bergetar. Sejenak ia berpikir itu hanyalah sugesti. Dengan cepat, ia memasukkan jenglot ke dalam tasnya dan berjalan pulang, tanpa menyadari bahwa ia telah membuka pintu bagi sesuatu yang mengerikan.
---
Sejak membawa jenglot itu ke rumah, hidup Aldi mulai berubah.
Ayahnya yang sebelumnya sering sakit mendadak pulih dan kembali bekerja seperti biasa. Warung kecil ibunya yang nyaris bangkrut tiba-tiba ramai pelanggan. Bahkan, Aldi yang selama ini kesulitan mendapatkan uang jajan, kini selalu memiliki uang lebih entah dari mana datangnya.
Aldi mulai berpikir bahwa semua ini bukan kebetulan. Ia teringat mitos tentang jenglot yang membawa keberuntungan.
Namun, ada satu hal yang mengganggunya.
Setiap malam, ia mulai mendengar bisikan. Suara itu terdengar samar, seolah berasal dari sudut kamar.
"Beri aku… beri aku lebih banyak…"
Awalnya, Aldi mengabaikannya. Namun, suatu malam, ia terbangun dengan tangan yang terasa perih. Saat ia menyalakan lampu, darah mengalir dari luka kecil di pergelangan tangannya.
Dan yang lebih mengerikan—jenglot yang ia letakkan di meja tampak lebih merah dari sebelumnya.
Jantung Aldi berdegup kencang.
"Jangan-jangan…" gumamnya.
Apakah jenglot itu telah meminum darahnya saat ia tertidur?
Pikirannya berkecamuk. Ia ingin membuangnya, tapi keberuntungan yang datang begitu banyak membuatnya ragu. Jika hanya butuh sedikit darah untuk tetap beruntung, bukankah itu harga yang murah?
Malam berikutnya, ia mengambil silet, menggores sedikit kulitnya, dan meneteskan darah ke jenglot.
Saat itu juga, bisikan yang selalu terdengar setiap malam menghilang.
Namun, ia tidak menyadari bahwa ia baru saja membuat kesepakatan dengan sesuatu yang tidak seharusnya.
---
Hari-hari berlalu, dan Aldi semakin kecanduan.
Setiap malam, ia akan memberikan setetes darahnya. Dan setiap hari, keberuntungan terus menghampirinya.
Namun, tubuhnya mulai melemah.
Wajahnya semakin pucat, lingkar hitam di bawah matanya semakin jelas, dan ia sering merasa pusing. Orang-orang di desa mulai memperhatikan perubahannya.
"Aldi, kamu sakit?" tanya ibunya suatu hari.
"Nggak, Bu. Cuma kurang tidur aja," jawab Aldi, berusaha menutupi kondisinya.
Tapi kenyataannya, setiap malam ia merasa ada sesuatu yang memperhatikan dan semakin mendekatinya.
Lalu suatu malam, ia terbangun dengan tubuh yang tidak bisa digerakkan.
Ia melihat jenglot itu… bergerak.
Awalnya perlahan, tapi kemudian dengan gerakan yang lebih jelas.
Jenglot itu merayap ke dadanya. Matanya yang kosong menatap langsung ke wajah Aldi.
Dan kemudian, ia berbicara.
"Darahmu… tidak cukup lagi… Aku butuh lebih…"
Aldi ingin berteriak, tapi suaranya tidak keluar. Tubuhnya gemetar saat ia merasakan kuku tajam makhluk itu mencakar dadanya, menggali lebih dalam.
Rasa sakit itu luar biasa. Ia ingin bangun, ingin melawan, tapi tubuhnya seolah lumpuh.
Dalam kepanikannya, ia akhirnya mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghempaskan jenglot itu ke lantai. Jenglot itu terjatuh, dan tubuh Aldi kembali bisa digerakkan.
Dengan nafas tersengal, ia bergegas mengambil makhluk itu dan memasukkannya ke dalam kotak kayu.
Ia tahu, ia harus segera menyingkirkan jenglot ini sebelum semuanya terlambat.
---
Keesokan harinya, Aldi pergi ke sungai tempat ia menemukan jenglot itu. Dengan tangan gemetar, ia melempar kotak kayu itu ke dalam air.
"Jangan pernah kembali," bisiknya.
Ia merasa sedikit lega. Ia berharap semua ini akan segera berakhir.
Namun, malamnya, Aldi terbangun lagi.
Dari sudut kamar, ia melihat sesuatu.
Jenglot itu ada di sana.
Meskipun ia sudah membuangnya ke sungai, makhluk itu kembali.
Bibirnya yang kaku menyeringai, dan ia kembali berbicara.
"Kau tidak bisa membuangku… Kau sudah memilihku… Sekarang, saatnya aku memilihmu…"
Aldi berteriak. Tapi kali ini, suaranya benar-benar hilang.
Ia merasakan tubuhnya kaku, kulitnya mengering, dan darahnya mengalir keluar—bukan ke lantai, melainkan terserap langsung ke dalam tubuh jenglot itu.
Perlahan, ia mulai merasakan kesadarannya memudar.
---
Keesokan paginya, desa Kertawangi gempar.
Aldi ditemukan di kamarnya, tubuhnya kering seperti mayat yang telah lama mati.
Yang lebih aneh, tidak ada setetes darah pun tersisa dalam tubuhnya.
Jenglot itu?
Menghilang.
Namun, beberapa hari kemudian, seorang anak kecil di desa lain menemukan sesuatu di tepi sungai.
Sebuah benda kecil, kering, dan mengerikan.
Bentuknya seperti manusia, tapi tidak lebih besar dari telapak tangan.
Dan siklus itu… dimulai kembali.