Dion tidak pernah menyangka bahwa pekerjaannya sebagai staf gudang di pusat perbelanjaan akan membawanya ke sesuatu yang lebih dari sekadar menyusun barang. Ia baru bekerja selama dua minggu di Mal Graha Sentosa, sebuah pusat perbelanjaan tua di Palembang yang pernah berjaya di era 90-an tetapi kini semakin sepi. Sebagian besar toko di sana tutup lebih awal karena pengunjung semakin sedikit.
Namun, ada satu toko yang selalu membuatnya merinding setiap kali melewatinya—Toko No. 304.
Toko itu selalu gelap, pintunya tertutup, dan etalasenya ditutupi debu tebal. Tidak ada tanda-tanda bahwa tempat itu masih beroperasi. Namun, yang membuatnya tidak nyaman adalah manekin di balik kaca toko. Setiap kali Dion melewati lorong itu, ia merasa bahwa posisi manekin tersebut berubah.
Awalnya, ia berpikir itu hanya imajinasinya saja. Mungkin staf kebersihan atau satpam yang iseng memindahkan posisi manekin agar tampak berbeda setiap hari. Tapi ada satu hal yang aneh—tidak ada satupun pegawai yang pernah terlihat keluar masuk toko itu.
Suatu malam, saat ia lembur untuk merapikan stok barang di gudang, ia melewati toko itu lagi. Kali ini, ia berhenti dan memperhatikan manekin di dalamnya.
Manekin itu berbentuk wanita dengan gaun merah. Kulitnya pucat mengkilap, matanya kosong, tetapi bibirnya merah menyala seperti baru saja dipoles lipstik. Namun, yang paling mengganggunya adalah tangan manekin itu.
Posisi tangannya selalu berbeda setiap malam. Kadang di sisi tubuh, kadang satu tangan terangkat, kadang seperti hendak melambai.
Dion menelan ludahnya dan mencoba mengabaikannya. Ia terus berjalan menuju gudang. Tetapi malam itu, perasaannya semakin buruk. Setiap kali ia melewati toko itu, ia merasa seperti ada sesuatu yang mengawasi dari dalam.
Dan yang lebih aneh, malam itu, manekin itu tidak ada di tempatnya.
***
Esok harinya, Dion tidak bisa mengabaikan perasaannya. Saat istirahat makan siang, ia bertanya pada Rudi, salah satu satpam senior di mal itu.
“Bang, toko No. 304 itu masih ada yang punya nggak?” tanyanya sambil menyeruput kopi.
Rudi, yang sedang menggulung rokok, meliriknya sekilas sebelum tertawa kecil. “Heh, kamu baru nyadar? Udah bertahun-tahun toko itu kosong.”
Dion mengernyit. “Tapi di dalamnya ada manekin, Bang.”
Wajah Rudi berubah sedikit serius. Ia menurunkan rokoknya. “Iya. Dan jangan coba-coba penasaran sama manekin itu.”
Dion mengernyitkan dahi. “Kenapa?”
Rudi menghela napas sebelum bersandar di kursinya. “Toko itu dulu toko baju. Pemiliknya, Bu Lina, meninggal secara misterius di dalam toko sekitar 15 tahun lalu. Katanya dia dikunci dari dalam dan baru ditemukan beberapa hari kemudian. Yang bikin orang-orang takut, waktu jasadnya ditemukan, dia dalam posisi duduk di kursi manekin, tangannya kaku seperti manekin. Matanya terbuka, tapi kosong. Seolah… rohnya masih terperangkap di sana.”
Dion merasa bulu kuduknya meremang. “Terus, kenapa manekinnya masih di sana?”
Rudi melirik ke kiri dan kanan sebelum berbisik, “Kata orang-orang, setiap kali manekin itu dipindahkan, dia selalu kembali ke tempatnya. Pernah ada yang membuangnya, tapi besoknya, dia ada di dalam toko lagi.”
Dion meneguk ludahnya. Malam ini, ia bersumpah untuk tidak melewati toko itu lagi.
***
Tapi takdir berkata lain.
Malam itu, Dion harus lembur lagi. Kali ini, ia harus membawa beberapa barang dari gudang di lantai atas ke bagian bawah. Saat ia selesai dan berjalan kembali ke kantin karyawan, ia melewati toko itu lagi.
Langkahnya terhenti.
Manekin itu ada di luar etalase, berdiri di depan pintu kaca.
Dion terbelalak. Dadanya berdegup kencang. Tadi siang, manekin itu masih di dalam. Sekarang, ia berdiri lebih dekat.
Dion menelan ludah. Ia mempercepat langkahnya, mencoba mengabaikan pemandangan itu. Namun, saat melewati toko itu, ia mendengar sesuatu.
Ketukan di kaca.
Jantungnya hampir copot. Ia berhenti dan menoleh dengan perlahan.
Di balik kaca, manekin itu masih berdiri. Tapi ada sesuatu yang berubah.
Tangan manekin itu sekarang terangkat, seperti mengetuk kaca.
Dion langsung berlari. Ia tidak peduli lagi. Ia tidak ingin tahu lebih lanjut. Yang ia tahu, ia tidak akan pernah melewati lorong itu sendirian lagi.
***
Namun, ketakutan Dion tidak berhenti di situ.
Keesokan harinya, saat ia sedang bekerja di gudang, ia mendengar bisikan.
“Dioooon…”
Ia menoleh, tapi tidak ada siapa-siapa. Hanya rak-rak penuh barang dan suara AC tua yang berderak.
Ia mencoba mengabaikannya. Mungkin hanya pikirannya yang lelah. Tapi suara itu terus terdengar sepanjang hari.
Saat ia melewati toko itu pada sore hari, ia melihat sesuatu yang membuatnya hampir pingsan.
Manekin itu tersenyum.
Dion tidak salah lihat. Bibir merah itu kini sedikit melengkung ke atas, seolah mengejeknya.
Ia mundur perlahan. Namun sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, sesuatu di dalam toko bergerak.
Tangan manekin itu melambai.
Dion berlari sekencang-kencangnya.
***
Dion tidak tidur malam itu. Ia terus mengingat kejadian di mal. Apakah ini hanya halusinasinya? Atau memang ada sesuatu yang salah dengan manekin itu?
Ia memutuskan untuk mengambil cuti keesokan harinya. Ia tidak ingin kembali ke mal itu. Tapi saat ia terbangun pagi-pagi, sesuatu membuatnya hampir mati ketakutan.
Manekin itu ada di kamarnya.
Berdiri di sudut, menghadap ke tempat tidurnya.
Dion melompat dari tempat tidur dan berteriak. Ia mencoba membuka pintu kamar, tapi terkunci dari luar.
Sementara itu, manekin itu perlahan-lahan bergerak.
Tangannya mulai terangkat…
Dion berusaha menjerit, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Kakinya melemas. Ia mundur ke dinding, keringat dingin membasahi tubuhnya.
“Dioooon…” suara bisikan itu kembali terdengar, kini lebih dekat.
Ia memejamkan matanya. Ini pasti mimpi. Ini pasti mimpi.
Namun saat ia membuka mata, manekin itu sudah ada di depannya.
Tangan kaku itu menyentuh wajahnya.
Lalu semuanya menjadi hitam.
***
Esok paginya, ketika Rudi datang ke mal, ia mendengar laporan dari rekan-rekannya.
“Ada staf baru yang hilang,” kata salah satu satpam.
Rudi merasa jantungnya mencelos. “Siapa?”
“Dion.”
Rudi menelan ludah. “Apa sudah dicari di dalam?”
“Sudah. Kami cek CCTV, terakhir dia terlihat keluar mal malam kemarin. Tapi setelah itu, tidak ada yang tahu ke mana dia pergi.”
Rudi merasa perutnya mual. Ia berjalan menuju lorong tempat toko No. 304 berada.
Lalu ia berhenti.
Matanya membelalak.
Di dalam toko itu, di balik kaca berdebu, kini ada dua manekin.
Yang satu adalah wanita dengan gaun merah.
Yang lainnya… adalah seorang pria dengan seragam staf gudang.
Mata kosongnya menatap lurus ke depan, dan bibirnya melengkung membentuk senyuman mengerikan.
Rudi mundur perlahan, lalu berbalik dan pergi.
Ia tidak ingin tahu lebih lanjut.