Fajar sudah hampir menyingsing ketika Raka dan teman-temannya menyelinap ke dalam gedung sekolah mereka.
SMA Mandala sudah berdiri lebih dari 50 tahun dan terkenal sebagai salah satu sekolah terbaik di kota kecil mereka. Namun, yang membuatnya lebih terkenal bukan hanya prestasi akademiknya—melainkan cerita horor yang selalu menyertainya.
Ada satu kisah yang paling terkenal: Tangga ke Dunia Lain.
Konon, di gedung lama sekolah yang sekarang tak lagi digunakan, ada sebuah tangga yang hanya bisa terlihat saat malam hari. Jika seseorang menaikinya, mereka tidak akan pernah kembali.
Itulah sebabnya, Raka dan teman-temannya—Jordi, Sita, dan Wira—memutuskan untuk membuktikan kebenarannya.
“Apa kita benar-benar harus melakukan ini?” tanya Sita dengan gelisah. Ia memeluk lengannya sendiri, mencoba menghalau udara dingin dini hari.
“Takut?” Jordi menyeringai, menyorotkan senter ke wajah Sita.
“Bukan takut, cuma… sekolah ini memang aneh,” gumamnya. “Dulu kakak sepupuku sekolah di sini. Katanya ada anak yang hilang di gedung lama.”
“Aku juga dengar,” tambah Wira, si kutu buku yang biasanya tidak percaya takhayul. “Tapi yang hilang itu katanya kabur dari rumah, bukan karena tangga ini.”
Raka menghela napas. “Sudahlah, kita selesaikan saja. Kalau tidak ada tangga, kita bisa pulang dan tidur nyenyak.”
Mereka berjalan melewati lorong kosong, menuju bagian sekolah yang sudah ditutup selama bertahun-tahun. Pintu kayunya lapuk, dan kaca jendelanya tertutup debu.
Begitu mereka melewati pintu itu, suhu langsung turun drastis.
Dan di sana… mereka melihatnya.
Sebuah tangga kayu berdebu yang tidak pernah ada di siang hari, kini menjulang ke atas.
***
“Kita harus pergi,” bisik Sita, menggenggam erat tangan Raka.
Jordi, yang paling pemberani di antara mereka, justru tersenyum lebar. “Ini gila. Tangga ini benar-benar ada!”
Mereka menatapnya dalam diam. Tangga itu terlihat tua, anak tangganya penuh dengan ukiran aneh, seperti simbol-simbol kuno yang tidak mereka pahami.
“Apa kita benar-benar mau naik?” tanya Wira, suaranya sedikit bergetar.
Jordi sudah menaiki satu anak tangga. “Hanya sebentar, aku mau lihat ke atas.”
“Jordi, jangan—” Raka mencoba menghentikannya, tapi terlambat.
Jordi melangkah ke anak tangga kedua. Lalu yang ketiga.
Saat ia mencapai anak tangga keempat, sesuatu berubah.
Udara menjadi berat, dan suara sekitar mereka mendadak menghilang. Tidak ada lagi suara jangkrik, tidak ada suara angin berdesir. Bahkan nafas mereka terasa tertahan.
Mata Raka membelalak. Jordi masih ada di sana, tapi ia terlihat… berbeda.
Kulitnya tampak lebih pucat, matanya terlihat kosong, dan bibirnya bergerak-gerak seperti sedang berbisik sesuatu yang tidak bisa mereka dengar.
“Jordi, turun sekarang!” teriak Sita, suaranya penuh kepanikan.
Jordi menoleh ke arah mereka—tapi bukan wajahnya yang mereka lihat.
Matanya hitam legam, mulutnya sedikit terbuka, dan dari dalamnya keluar suara-suara aneh.
Lalu, dalam sekejap mata, ia menghilang.
***
Sita menjerit.
Wira terduduk di lantai, tangannya gemetar. “Apa yang barusan terjadi? Jordi… dia—”
Raka menatap tangga itu. Kini tangga itu tampak lebih panjang, seolah-olah membentang ke dimensi lain yang tidak bisa mereka pahami.
“Aku… aku tidak tahu,” bisiknya. “Tapi kita harus cari dia.”
Sita menatapnya dengan mata terbelalak. “Kau gila?! Kau lihat sendiri! Dia… dia menghilang!”
“Justru karena itu.” Raka menelan ludah. “Kita tidak bisa membiarkan dia sendirian di sana.”
Wira menggeleng. “Kalau kita ikut naik, kita mungkin tidak akan bisa kembali.”
Sita menutup wajahnya. “Kita harus cari bantuan…”
Namun, sebelum mereka bisa mengambil keputusan, sesuatu terjadi.
Dari atas tangga, suara langkah kaki terdengar turun.
Tap… tap… tap…
Mereka membeku.
Seseorang—atau sesuatu—sedang turun dari atas.
“Jordi?” suara Sita bergetar.
Langkah itu semakin mendekat.
Dan akhirnya, di ujung tangga, seseorang muncul.
Tapi itu bukan Jordi.
***
Makhluk itu menyerupai Jordi—tinggi, memakai baju yang sama, tetapi wajahnya salah.
Kulitnya terlalu pucat. Matanya terlalu besar, bibirnya terlalu lebar.
Ia tersenyum ke arah mereka, tetapi senyuman itu bukan senyuman manusia.
“Raka… Sita… Wira…” Suaranya terdengar bergema, seperti ada sesuatu yang lain berbicara bersamaan dengannya.
Mereka tidak bisa bergerak. Nafas mereka tercekat di tenggorokan.
Makhluk itu menuruni tangga dengan pelan, lalu berhenti tepat di depan mereka.
“Aku… kembali,” katanya dengan suara yang tidak wajar.
Mata Sita dipenuhi air mata. “Kau bukan Jordi…”
Makhluk itu menyeringai lebih lebar. Mulutnya sobek hingga ke pipi.
“Kalian harus ikut denganku.”
Ia mengulurkan tangannya.
Dan Raka tahu… jika mereka menyentuh tangan itu, mereka tidak akan pernah kembali.
***
“LARI!” Raka menarik tangan Sita dan Wira, berlari sekuat tenaga menjauh dari tangga terkutuk itu.
Dari belakang mereka, terdengar suara jeritan mengerikan.
Langkah kaki itu mengejar mereka.
Raka tidak berani menoleh. Mereka berlari melewati lorong sekolah yang gelap, mendengar suara-suara aneh dari belakang—suara bisikan, suara langkah kaki, suara tertawa yang tidak wajar.
Saat mereka mencapai pintu utama gedung tua itu, Raka mendorongnya dengan sekuat tenaga.
Pintu terbuka.
Mereka berhamburan keluar, dan seketika itu juga, suara-suara mengerikan itu menghilang.
Raka terjatuh di lantai koridor utama, tubuhnya gemetar. Sita menangis tersedu-sedu, sementara Wira duduk terdiam, wajahnya pucat pasi.
Mereka menoleh ke belakang.
Gedung lama itu… kini kosong.
Tidak ada tangga di sana.
Tidak ada tanda-tanda bahwa sesuatu pernah terjadi.
Dan yang lebih mengerikan—tidak ada jejak Jordi di mana pun.
***
Pihak sekolah dan polisi melakukan pencarian selama berhari-hari, tapi tidak ada yang menemukan Jordi.
Ia menghilang tanpa jejak, seolah-olah tidak pernah ada.
Namun, seminggu setelah kejadian itu, sesuatu terjadi.
Ketika Raka datang ke sekolah pagi-pagi, ia mendengar suara gaduh di ruang kepala sekolah.
Ia mengintip ke dalam.
Dan melihat Jordi berdiri di sana.
Wajahnya kembali seperti semula, matanya tidak lagi hitam, senyumannya terlihat normal.
Tetapi…
Raka merasakan sesuatu yang salah.
Sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.
Sampai saat ini, Raka tidak yakin apakah yang kembali benar-benar Jordi.
Atau sesuatu yang lain.