Fajar tidak pernah percaya pada hantu, apalagi kuyang. Ia lahir dan besar di Jakarta, tempat di mana mitos hanyalah dongeng sebelum tidur, dan horor hanya ada di film. Jadi, ketika bosnya mengirimnya ke sebuah desa terpencil di Kalimantan untuk mengawasi proyek pembangunan, ia menganggapnya sebagai pekerjaan biasa.
Desa itu kecil, dikelilingi hutan lebat dan sungai yang membentang ke arah yang tak diketahui. Penduduknya ramah tetapi menjaga jarak, dengan sorot mata yang sulit ia tafsirkan—kekhawatiran, mungkin? Atau ketakutan? Pada malam pertamanya, kepala desa, seorang pria tua dengan mata tajam, memberinya peringatan.
"Berhati-hatilah saat malam," katanya. "Jika kau mendengar bisikan di luar jendela, jangan melihat."
Fajar hampir tertawa. Tapi demi sopan santun, ia hanya mengangguk.
Tempat tinggalnya adalah rumah kayu kecil di pinggiran desa, terpencil tetapi nyaman. Beberapa malam pertama berlalu tanpa kejadian apa pun, meskipun ia sering merasa seperti sedang diawasi. Para penduduk desa juga tampak gelisah di dekatnya, sering berbisik saat ia lewat. Fajar mengabaikannya sebagai takhayul belaka.
Lalu, pada malam keempat, semuanya dimulai.
Sebuah bisikan.
Lembut, seperti desiran daun, tapi jelas. Sebuah suara—tidak, banyak suara—berbisik di luar jendelanya. Ia membeku di tempat tidur, jantungnya berdegup kencang.
Peringatan kepala desa terngiang di benaknya. Jangan melihat.
Fajar menahan napas. Logikanya mengatakan itu hanya penduduk desa yang lewat, atau mungkin angin yang menipu pendengarannya. Tapi suara itu tak juga menghilang.
Lalu—tok, tok, tok.
Ketukan pelan dan sengaja di dinding kayu dekat jendela.
Fajar menggertakkan giginya. Ia meraih ponselnya dan menyalakan senter, mengarahkannya ke jendela.
Bisikan itu langsung berhenti.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang terjadi. Lalu—
Tok. Tok.
Lebih dekat kali ini.
Bulu kuduknya meremang. Dengan tangan gemetar, ia perlahan meraih tirai. Ia tahu ia tidak seharusnya melakukannya, tetapi sesuatu—rasa ingin tahu, ketakutan, naluri purba—mendorongnya maju.
Ia menarik tirai.
Dan ia melihatnya.
Wajah seorang wanita. Pucat. Mata kosong. Mengambang di luar jendela. Di bawah dagunya, tidak ada tubuh—hanya sekumpulan organ yang melayang dan berdenyut. Jantung, paru-paru, usus, semuanya tergantung di udara seperti mimpi buruk yang menjadi nyata.
Fajar tak bisa berteriak. Tubuhnya terkunci di tempat, napasnya tertahan.
Lalu wanita itu tersenyum.
"Kau melihat."
Dunia menjadi gelap.
---
Fajar terbangun dengan napas terengah-engah.
Cahaya matahari pagi menembus jendela. Ia masih di tempat tidurnya. Pakaian yang dikenakannya basah oleh keringat, tubuhnya gemetar.
Mimpi buruk?
Tapi kemudian ia melihatnya.
Jejak panjang berwarna merah, membentang dari jendela hingga ke tempat tidurnya.
Jantungnya berdebar kencang. Ia meraih ponselnya, mencari jawaban. Ia membaca tentang legenda kuyang, mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya imajinasi. Mitos itu semua menggambarkan makhluk yang sama: seorang wanita yang mempraktikkan ilmu hitam, kepalanya terpisah dari tubuhnya saat malam, berburu darah.
Tapi ada satu bagian cerita yang menarik perhatiannya.
"Jika seorang kuyang terlihat, ia akan kembali menghantui orang yang melihatnya—hingga mereka tidak pernah terlihat lagi."
Fajar mematikan ponselnya, berusaha menepis kegelisahan. Ia memutuskan untuk meninggalkan desa lebih awal. Dengan cepat, ia mengemas barang-barangnya, berjalan ke jalan utama, dan menghentikan sebuah mobil yang melintas menuju kota terdekat.
Saat mobil melaju melewati jalan hutan, Fajar mulai merasa lega. Semuanya sudah berakhir.
Atau itulah yang ia kira.
Sopir mobil, seorang pria tua dengan tangan keriput yang menggenggam kemudi, meliriknya melalui kaca spion.
"Kau kelihatan pucat, Nak. Ada sesuatu yang menakutimu?"
Fajar tertawa kecil. "Mimpi buruk saja."
Pria itu mengangguk, tapi tidak mengatakan apa-apa untuk beberapa saat. Lalu, saat mereka mendekati tikungan jalan, ia kembali berbicara.
"Aneh, ya. Kau orang kedua yang aku jemput dari desa itu minggu ini. Orang pertama... yah, dia juga terus bicara soal melihat sesuatu di luar jendelanya."
Fajar merasakan sesuatu yang dingin menjalar di dadanya.
"Apa yang terjadi padanya?"
Sopir itu diam sesaat. Lalu ia menghela napas.
"Tak pernah sampai ke kota. Esok harinya, penduduk desa menemukan rumahnya kosong. Tidak ada jejaknya di mana pun."
Mobil melambat.
Fajar menoleh ke luar jendela.
Pohon-pohon tampak... aneh. Jalanan terasa seperti tak berujung, pemandangan yang sama berulang seperti dalam lingkaran. Rasa panik mulai merayap.
"Pak... berapa lama lagi kita sampai di kota?"
Sopir itu tidak menjawab.
Fajar menoleh kembali ke arahnya—
Dan membeku.
Wajah sopir itu hilang. Bukan terhapus—hanya... datar. Tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut. Hanya kulit, tertarik rata tanpa ekspresi.
Lalu suara bisikan memenuhi mobil.
"Kau melihat."
Kegelapan menelannya sepenuhnya.
---
Penduduk desa tak pernah melihat Fajar lagi.
Kamarnya tetap tak tersentuh, barang-barangnya masih berada di tempatnya. Ada yang mengatakan ia pergi tanpa sepatah kata pun. Ada juga yang berbisik bahwa ia telah diambil.
Tapi pada malam-malam tertentu, ketika angin berhenti dan bulan penuh bersinar, suara itu terdengar di luar jendela desa.
Sebuah suara yang terdengar seperti Fajar.
Berbisik.
Mengetuk.
Menunggu seseorang untuk melihat.