Ryan telah tinggal di Amerika Serikat selama beberapa tahun, dan rasa rindu kampung halaman akhirnya mendorongnya untuk mengambil keputusan besar. Ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia, untuk terhubung kembali dengan akar budayanya dan bertemu keluarganya. Dengan penuh antisipasi, ia memesan penerbangan dari New York ke Jakarta, membayangkan perubahan yang mungkin terjadi di negaranya. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa perubahan itu akan jauh melampaui ekspektasinya.
Pada hari keberangkatannya, segalanya tampak berjalan buruk. Bandara kacau, dipenuhi penumpang frustrasi dan antrean panjang di konter. Sebuah badai menghantam pesisir timur, menyebabkan semua penerbangan ke Indonesia dibatalkan.
Ryan duduk di terminal, merasa kecewa dan putus asa. Ia sudah menunggu begitu lama, dan sekarang semuanya terasa tertunda tanpa batas waktu yang jelas.
Saat ia mulai mempertimbangkan untuk menjadwal ulang perjalanannya dan kembali ke apartemennya, ia tanpa sengaja mendengar percakapan dua orang pelancong. Salah satu dari mereka, seorang pria dengan aksen yang kental, menyebutkan tentang penerbangan menit terakhir ke Indonesia. Namun, bukan ke Jakarta, melainkan ke sebuah tempat bernama Saranjana di Kalimantan.
Ryan belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. Ia cukup mengenal Indonesia sebelum pindah ke Amerika, dan ia tahu Kalimantan, tetapi Saranjana? Itu bukan tempat yang familiar baginya. Namun, ia berpikir sejenak. Jika penerbangan itu menuju Kalimantan, ia masih bisa mencari jalan ke Jakarta, bukan? Mungkin hanya sedikit memutar, tetapi ia tidak punya pilihan lain. Dengan cepat, ia mengubah jadwal penerbangannya, hanya ingin segera pulang.
Perjalanan dengan pesawat terasa panjang, tetapi itu bukan apa-apa dibandingkan dengan apa yang menunggunya di sana. Saranjana—atau apa pun tempat itu—sama sekali tidak seperti Indonesia yang ia kenal. Bandara di sana tampak modern, hampir futuristik, dengan desain metalik yang halus dan sistem otomatis yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Saat keluar dari bandara, matanya terbelalak. Gedung pencakar langit menjulang tinggi di sekelilingnya, dengan eksterior kaca yang memantulkan sinar matahari dengan cara yang hampir tidak nyata. Jalan-jalan ramai, tetapi bukan hanya oleh orang-orang berjalan kaki—melainkan oleh mobil-mobil terbang yang melayang dengan tenang di atas tanah. Ryan tertegun, tak mampu memproses apa yang dilihatnya. Apakah ini benar-benar Indonesia? Apakah ini Kalimantan?
Ia menaiki taksi, berharap bisa mencapai bagian kota yang lebih ia kenali, tetapi perjalanan itu hanya membuatnya semakin bingung. Setiap sudut yang mereka lewati terasa lebih maju daripada yang sebelumnya. Bangunan semakin tinggi, kendaraan semakin canggih, dan bahkan cara orang berbicara pun terasa berbeda—bahasa yang fasih, tetapi dengan irama yang tidak ia kenali.
Ketika akhirnya ia tiba di bandara lain untuk melanjutkan penerbangannya ke Jakarta, ia merasa lega. Namun, saat ia mencoba membayar ongkos taksi dengan rupiah yang ia bawa, sopirnya menatapnya dengan bingung.
"Kami tidak memakai ini," kata sang sopir, tertawa kecil.
Ryan mengernyit. Ini uang, bukan? Rupiah Indonesia, seperti yang ia kenal. Tapi sopir itu menolak menerimanya, malah memberinya selembar mata uang lain. Uang itu tampak aneh—berkilauan, dengan simbol-simbol asing yang tidak ia pahami.
Bingung tetapi tak ingin berdebat, Ryan menerima mata uang baru itu. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah bagian dari perubahan yang terjadi di Indonesia selama ia pergi. Namun, ketika akhirnya tiba di rumah orang tuanya di Jakarta, perasaan aneh itu semakin menguat.
Saat ia menunjukkan uang yang diberikan sopir taksi kepadanya, reaksi orang tuanya sangat jauh dari yang ia duga. Mata ibunya melebar ketakutan, dan ayahnya menatap uang itu seolah-olah itu adalah benda dari dunia lain.
"Dari mana kau mendapatkan ini?" suara ayahnya terdengar tegang.
Ryan menjelaskan segalanya—penerbangan yang dibatalkan, kota aneh bernama Saranjana, mobil terbang, teknologi canggih, dan mata uang baru itu. Namun, semakin lama ia berbicara, semakin terlihat ketidaknyamanan di wajah orang tuanya.
"Itu tidak mungkin," bisik ayahnya akhirnya. "Uang ini… ini dari masa awal Indonesia merdeka. Mata uang ini sudah tidak digunakan selama puluhan tahun."
Jantung Ryan berdegup kencang. Ia melihat uang di tangannya sekali lagi. Benar—uang itu tampak berbeda dari yang ia kenal. Lama dan usang, seperti sesuatu yang berasal dari buku sejarah.
"Tapi aku sudah ke Saranjana. Aku melihat kota itu. Kota itu nyata. Aku ada di sana!" serunya, frustrasi.
Orang tuanya saling bertukar pandang. Mereka tidak percaya padanya.
"Nak…" suara ibunya lembut, hampir seperti bisikan. "Tidak ada tempat bernama Saranjana. Itu tidak pernah ada. Itu bukan bagian dari Kalimantan. Itu tidak pernah ada dalam peta."
Dunia Ryan seakan bergeser. Dengan panik, ia mencari Saranjana di Google, berharap menemukan bukti keberadaan kota itu. Namun, yang ia temukan hanyalah referensi samar yang semuanya berujung pada jalan buntu. Bagaimana mungkin? Bagaimana kota yang baru saja ia kunjungi bisa tidak ada?
Di kamarnya, pikirannya dipenuhi pertanyaan tanpa jawaban. Apakah ia benar-benar di tempat yang seharusnya? Apakah ia berhalusinasi? Semakin lama ia berpikir, semakin dunia di sekelilingnya terasa seperti memudar, seolah-olah ia sedang tergelincir melalui celah-celah kenyataan.
Beberapa hari kemudian, saat ia duduk di sebuah kafe, seorang pria asing mendekatinya dan mulai berbicara tentang Saranjana. Dengan percaya diri, pria itu menggambarkan kota itu seolah-olah itu adalah tempat yang paling biasa di dunia.
"Itu salah satu kota paling maju di dunia," kata pria itu sambil tersenyum. "Ke mana lagi kau akan pergi kalau ingin melihat masa depan?"
Darah Ryan berdesir. Keringat dingin mulai mengalir di dahinya. Kata-kata pria itu tidak masuk akal. Jika Saranjana nyata, mengapa ia tak bisa menemukannya di internet? Mengapa orang tuanya belum pernah mendengarnya? Mengapa semua orang bertindak seolah-olah dia gila?
Dengan putus asa, Ryan bertanya, "Apa kau yakin? Karena tempat itu… tidak ada."
Pria itu hanya tertawa. "Tentu saja ada. Itu ada di sana, di Kalimantan, hanya beberapa jam dari sini. Kau sudah ke sana, bukan?"
Saat itu juga, dunia seakan runtuh. Ryan berkedip—dan tiba-tiba, ia kembali berada di bandara Saranjana. Seolah-olah ia tak pernah meninggalkan tempat itu.
Pikirannya kacau. Apakah ia pernah benar-benar pergi? Apakah semua yang ia alami hanyalah ilusi? Apakah keluarganya nyata?
Ataukah… ia tak pernah benar-benar meninggalkan Saranjana?