Di antara kami berdua, Pangeran Aetherian dan Aku, tidak ada yang berani bergerak sedikit pun. Wajah kami terlalu dekat. Aku merasa wajahku memanas. Aku menarik mundur wajahku dan menutup pipiku dengan rambut ikal merahku. "Terlalu dekat pangeran," lirihku. Jantungku berdegub kencang. Sadarlah, Luelle.
Pangeran menghembuskan nafas lembut. Aku mengintip di antara jemariku. Pangeran Aetherian yang tampan itu tidak bereaksi kecuali ujung kedua telinganya yang memerah. Aku tertawa kecil. Rupanya kami berdua sama-sama tersipu.
Pangeran tersenyum tipis. "Putri" Ia merapihkan rambut hitamnya dengan jemarinya. lalu mengalihkan pandang seolah tertangkap basah melakukan sesuatu di luar kebiasaannya. "Anda berbahaya," gumamnya.
Belum sempat kami melanjutkan 'perbincangan' kami, seekor naga seukuran telapak tangan orang dewasa, bersisik biru laut dan merah muda, berputar di depan balkon ruang kerja pangeran. Naga yang sangat imut itu masuk setelah ‘diizinkan’ oleh pangeran. Melalui pintu kaca balkon yang dibuka, Ia mendarat di bibir meja dan mendengus saat melihat pangeran. Hidungnya mengeluarkan asap merah muda ketika mendengus. Ia membawa sepucuk surat di mulutnya. Naga itu segera melengos pergi seolah tahu apa yang sedang terjadi dan paham keberadaannya tidak diinginkan. Hewan itu mencuit lalu terbang kembali setelah menaruh surat di atas meja kerja Pangeran.
"Apakah dia punya nama?" lirihku, masih menutup wajahku dengan rambut merah ikalku.
Pangeran melempar pandangnya keluar. "Muffin"
Aku mengerjap ngerjap lagi. Tidak menyangka naga pangeran diberi nama makanan manis. Hampir hampir Aku tertawa karenanya, "imut."
Gerakan tangan pangeran berhenti beberapa saat. Telinganya semakin memerah. Diambilnya surat dari Muffin. Surat itu kecil hanya seukuran jari telunjuk dan berisikan simbol dan sihir. Ia menghela nafas setelah membacanya "Kekacauan lainnya"
"Apa ini karena tulisanku?"
Pangeran Aetherian berjalan ke arah balkon. Ia menjetikkan jarinya dan naga yang kemarin kami lihat membawa pangeran muncul dari bawah. Naga itu besar sekali, bersisik hitam pekat dengan mata keemasan. Pangeran segera menaiki naga itu. Ia menjulurkan tangan ke arahku.
Aku menyambutnya. "Pangeran ini kali pertama aku melihat naga sedekat ini, apalagi menungganginya"
Aetherian tersenyum tipis. "Kehormatan bagi saya" Aetherian membawaku naik dengan kekuatan udaranya.
Aku duduk di depan pangeran dan pangeran di belakangku. Aku menengadah melihat Pangeran yang menatap lurus ke depan. Pangeran melingkupi tubuh mungilku dengan tubuhnya, sementara kedua lengannya berada di sisiku. Kami terbang meninggi. Udara semakin dingin dan kencang. Rambut ikalku sampai mengibas (menampar-nampar) wajah Pangeran. Aku berharap Pangeran tidak keberatan. Kami melewati berbagai suku di Arendelle hingga tibalah kami di daerah pegunungan tempat tinggal suku tanah pegunungan Arendelle.
Naga itu menunduk memudahkanku turun. Ketika aku memijakkan kaki ke atas tanah, aku mendengar tawa pangeran yang tertahan. Aku mengernyit dan mengerjap. Astaga, rambutku. Aku meniup niupkan rambutku. Rambut ikalku sampai mengembang seperti balon udara. Aku memanyunkan bibirku, dan segera mengikatnya.
Seorang gadis yang tampak seumuran denganku menyambut kedatangan kami. Ia tampak terkejut melihat ku bersama pangeran. "Selamat datang Pangeran dan..."
Aku melirik pangeran, dia masih berusaha menyembunyikan senyumnya. Dahiku semakin mengernyit. Aku memberi isyarat pada pangeran, apa aku perlu memperkenalkan diri?
Pangeran menambahkan, "Putri Luelle"
Gadis itu cepat menambahkan, "Selamat datang Putri Luelle"
"Antarkan Kami ke Alabaster" ucap Pangeran.
Gadis itu mengangguk. "Ayah sedang kemari, Yang mulia"
Tak lama kemudian Alabaster sendiri tiba. Tampaknya ia berlari-lari agar tidak ketinggalan menyambut kami. Alabaster adalah pria paruh baya, tubuhnya jangkung, berkulit kecoklatan, dan rambut beruban. Alabaster berdehem sembari mengatur nafas. "ma... maafkan atas keterlambatan saya, Yang mulia". Sepertinya Alabaster baru menyadari kehadiranku. Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendapati pangeran bersama perempuan. Alabaster melirik anak gadisnya, memeriksa reaksinya. Wajah gadis itu merah padam.
Aku melirik Pangeran yang tampak tidak terpengaruh.
Alabaster berdehem lagi, "Yang Mulia, beberapa lumbung di sebelas desa kami dirusak oleh hama yang belum pernah kami temui. Kami sudah mendatangkan ahli dan dia menyatakan hama itu belum pernah dijumpai oleh mereka. Mereka sedang meneliti untuk membasminya."
Tangan pangeran mengepal. Ia berdiri tak bergeming. "Putri," panggilnya tanpa menoleh.
"Saya... saya akan antarkan Yang mulia," Gadis itu menyela.
Pangeran mengangguk. Gadis itu dan Ayahnya, Alabaster, melangkah cepat. Pangeran sengaja melangkah lambat agar bisa sejajar dengan kaki pendekku. "Putri," panggilnya lagi.
"ya pangeran?"
"Putri, bertanggungjawablah"
Aku menghentikan langkahku. Apa maksudnya?
Pangeran turut berhenti. "Dengar. Saya sudah memerintahkan semua ahli dari suku tanah di berbagai penjuru wilayah Arendelle untuk mempelajari penyebab bencana ini. Hama hama itu cocok dengan hama dari wilayah kerajaan Helmswood. Anda pernah mempelajari hama itu dan menyebarkan pengetahuan melalui tulisan dan pengajaran Anda." Pangeran menghela nafas dan mengacak rambutnya. "Pekerjaan kami bertambah banyak karena pengetahuan Anda disalahgunakan. Kami sudah sangat berhati-hati dengan informasi yang Immanuel sampaikan. Jadi, berhentilah bersikap seperti Anda tidak tahu apa-apa. Itu memuakkan"
Aku terdiam. "Tapi, Saya benar-benar tidak tahu apa..."
Pangeran menggertakan rahangnya. Ia berusaha mengendalikan amarahnya. Ia menghembuskan nafas perlahan "Pikirkan bagaimana kami bisa membereskan semuanya, Putri"
***
Aku melangkah gemetaran. Pangeran membawaku ke wilayah terdampak paling parah dengan Naga raksasanya. Aku pernah mendatangi suku tanah di belahan dunia lainnya, tetapi suku tanah Arendelle, adalah kali pertama aku mengunjunginya. Segar di ingatan bagaimana ketampakan wilayah suku tanah pada umumnya. Subur dengan berbagai macam tumbuhan. Tidak lupa peternakan dengan ternak-ternak yang gemuk-gemuk, juga bangunan yang dibangun dengan keelokan macam-macam tanah lokal. Tetapi, suku tanah wilayah Arendelle mirip seperti kota mati. Tanahnya kering, tetumbuhan layu, hewan-hewan kurus. Semuanya kering kerontang.
Aku menutupi sebagian mataku dengan tangan agar bisa melihat jauh.
Seorang anak kecil menabrak gaunku. Aku berlutut untuk membantunya berdiri. Anak kecil itu kurus sampai tulangnya menonjol dengan perut membuncit. Dengan bahasa suku tanah, anak itu berbicara, "Ka.. apakah kakak membawa makanan?" Aku mengeluarkan butiran permen dari saku gaunku. "Maaf, Aku hanya ada ini, ambil saja semuanya," lirihku. Anak itu dengan lamban mengambil permen-permenku. "Terima kasih, ka.. akan kuberikan pada teman-temanku," kata anak itu sembari lalu.
"Pangeran, sungguh Aku tidak menyangka apa yang kusampaikan dipergunakan untuk hal lain," Aku menunduk pasrah.
Pangeran menyisir rambutnya frustrasi. "Saya tidak akan memenjarakan Anda, Putri. Anda hanya harus bertanggung jawab atas semua kekacauan yang Anda perbuat akibat kecerobohan Anda." Aku baru membuka mulut dan terkatup lagi. "Bencana ini akan diatasi oleh kekaisaran, Anda bertanggung jawab atas disalahgunakannya tulisan Anda."
Pangeran menengadah ke langit. Sinar mentari seperti menusuk kulit. Matanya menyipit. "bisa-bisanya aku menyukai wanita ceroboh seperti ini," bisiknya, yang jika Aku tidak benar-benar mendengarkan, tidak akan terdengar.
"Pangeran..," cicitku
"hmm?"
"Anda menyukai saya?"
"hmm." Pangeran tidak mengalihkan pandangan. Ia menghela nafas dan menatapku. "Putri, saya akan mengirim seseorang untuk mengantar barang-barang Anda. Anda akan tinggal di istana dan memulai penelitian bersama tim kami. Anda akan bersama saya melihat langsung bencana bencana yang disebabkan oleh Anda dan menyelesaikan semuanya"
Aku menundukkan kepalaku pasrah. "Saya akan berusaha, pangeran"
Pangeran mengalihkan pandangan sembari menutup mulutnya. "imut"
"ya pangeran?"
Pangeran tak menyahut dan memanggil naganya lagi. Ia mengelus kepala naga itu sambil memandangnya lembut. Ia menaikinya dan lagi mengulurkan tangannya kepadaku.
Kami terbang kembali ke ibu kota. Pangeran menurunkanku di balkon ruanganku dan Eve di Istana lalu pergi kembali.
Aku mengetuk pintu kaca balkon.
"LUUUUUUU.... Apakah tadi yang mengantar Pangeran Aetherian? Astaga... Astaga..." Evangelline meluncur dari atas tempat tidur kami ke pintu. "Untung aku tidak mengikuti pikiranku. Aku mau melakukan ini tadi" Eve menempelkan wajahnya ke kaca.
Aku tertawa. "Kemungkinan kamu malah menakuti naga hitam itu, Eve"
Eve menatap wajahku. "Ceritanya nanti saja. Aku membelikanmu gaun cantik. Ayo beres beres, lalu kita cerita tentang hari ini"
Aku tersenyum. Setidaknya ada satu hal yang sama dengan hari biasanya. Yup, bergosip.
*** selesai chapter 03 ***